
Adriano melihat jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan kirinya. Sudah lewat dari waktu yang Emiliano tentukan untuk pertemuan pada hari itu. Sementara, pria yang merupakan ayah kandungnya tersebut tak juga kelihatan batang hidungnya. Adriano pun mengedarkan pandangan ke sekeliling taman kota. Tempat di mana dirinya dulu pernah diajak bermain oleh sang ayah. Adriano masih mengingat papan jungkat-jungkit dan ayunan yang terletak di tengah-tengah taman. Sampai sekarang area bermain itu masih terlihat bagus dan juga terawat.
Adriano merasa beruntung, karena dia masih memiliki segelintir kenangan indah bersama sang ayah. Senyuman kecil tersungging di sudut bibirnya, saat mengingat bahwa dulu sang ayah pernah menggendongnya. Dia meminta maaf ketika Adriano terjatuh dari ayunan, karena ayahnya mendorong terlalu kencang. Bekas luka itu masih ada di lutut Adriano.
Adriano kemudian mengela napas panjang. Dia lalu menoleh ketika merasakan bahunya disentuh oleh seseorang. Pria bermata biru itu tertegun sejenak, saat melihat seorang pria tua yang berambut agak panjang sebatas telinga yang tiba-tiba telah berdiri di sampingnya. Seluruh rambut pria tersebut sudah memutih. Begitu pula dengan kumis dan janggutnya yang tumbuh cukup lebat, pada wajah yang mulai keriput.
“Adriano? Betul ‘kan kau Adriano?” sapa pria yang tak lain adalah Emiliano. “Astaga, kau sudah sebesar dan setinggi ini. Kau tampan sekali, Nak,” mata Emiliano berkaca-kaca melihat Adriano yang berdiri dengan gagahnya.
“Apa kabar, Padre?” Adriano tersenyum samar sambil mengulurkan tangan.
“Beginilah aku, Nak,” Emiliano tak menyambut uluran tangan Adriano. Dia segera memeluk tubuh atletis itu. Sayang, Adriano tak sedikitpun berniat membalas pelukan Emiliano.
“Kalau kau? Bagaimana kabarmu?” tanya sang ayah kemudian.
“Kau lihat sendiri, bukan? Aku terlihat jauh lebih baik dan bahagia sejak istrimu mengusirku,” jawab Adriano datar, tapi terdengar begitu menusuk hati dan telinga Emiliano.
“Maafkan aku, Adriano. Aku tidak pernah bermaksud untuk melukaimu. Aku benar-benar tak punya pilihan. Ayahmu ini sudah banyak menyakiti hati wanita yang telah mengusirmu itu. Semuanya terjadi sejak aku mengkhianatinya lewat perselingkuhan dengan ibumu. Aku tak ingin menambah sakit hatinya ....”
“Dengan cara membiarkan dia menyiksaku?” potong Adriano. “Dengar, Padre. Seharusnya kau merasa beruntung sekarang ini, karena aku masih bersedia menemuimu. Apalagi tujuanmu semata-mata bukan karena ingin mengetahui keadaanku. Aku masih dapat mengingat dengan jelas, semenjak diriku diusir dari rumah, tak sekalipun kau menjenguk atau hanya sekadar menanyakan keadaanku,” tegasnya.
“Itu tidak benar, Nak! Aku selalu menanyakan perkembanganmu pada Alessandro. Ketika Alessandro wafat, aku berniat untuk menjemputmu kembali. Akan tetapi, Vincenzo mengatakan bahwa kau telah pindah ke luar negeri,” sanggah Emiliano.
“Ya, itu benar. Paman Alessandro benar-benar menjadi sosok seorang ayah bagiku. Aku sangat kehilangan dirinya saat itu, sampai-sampai aku tak sanggup menghadapi kenyataan bahwa paman telah tiada. Aku memilih untuk pergi menjauh,” tutur Adriano sembari membuang muka.
Emiliano terdiam, membuat suasana di antara mereka menjadi hening. Beberapa saat lamanya, ayah dan anak tersebut hanya memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di sekitar tempat itu.
“Aku mempunyai banyak utang yang harus kulunasi,” Emiliano akhirnya kembali bersuara. “Aku ingin meminta izinmu untuk menjual rumah peninggalan Alessandro,” sambungnya.
Adriano terkekeh pelan, lalu berdiri. “Kenapa kau tidak menjual rumah tempat tinggalmu sendiri? Rumah paman sudah menjadi milikku. Paman Alessandro mewariskannya padaku dan ada bukti hitam di atas putih untuk hal itu. Kau tidak bisa seenaknya mengambil apa yang bukan menjadi hakmu!” ujarnya dengan begitu dingin.
“Aku tahu itu, Adriano. Aku hanya ... aku hanya meminta sedikit pengertianmu,” ujarl Emiliano dengan nada pilu. “Aku bingung dan begitu kalut, karena tak punya jalan keluar selain rumah itu,” pria dengan rambut yang telah memutih tersebut memalingkan muka. Dia mencoba menyembunyikan air matanya dari sang anak.
“Lalu, rumahmu sendiri?” tanya pria bermata biru itu dingin.
“A-aku sudah menjaminkannya pada bank,” jawab Emiliano lesu.
Adriano kembali mengela napas panjang. Diliriknya raut wajah kacau sang ayah. “Untuk apa utang sebanyak itu?” celetuknya.
“Untuk menyelamatkan perusahaanku yang sudah di ambang kebangkrutan,” Emiliano meraup mukanya kasar.
__ADS_1
“Itu mudah saja, bukan? Kau tinggal mengajukan pada pengadilan bahwa perusahaanmu pailit, jadi kau tidak harus membayar semua utang-utang itu, Padre,” saran Adriano.
“Tidak semudah itu, Nak. Ada pihak-pihak yang tidak mau mengerti dan terus menuntutku untuk mengembalikan modal mereka,” terang Emiliano seraya membungkuk dan menopang kepala dengan kedua tangan.
“Itulah risiko pengusaha,” Adriano berdiri seraya memasukkan kedua tangannya di saku. “Ayo, kuantar kau pulang,” ajaknya kemudian. Emiliano menoleh dan menatap lekat-lekat pada putranya itu. Dia tak kunjung menjawab ajakan Adriano.
“Akan kulihat separah apa kondisi keuangan perusahaanmu. Dari situ aku akan mempertimbangkan untuk membantumu atau tidak,” ucap Adriano yang diiringi sorot tak percaya oleh mata tua Emiliano.
“Benarkah itu, Nak?” api semangat yang semula redup, kini menyala kembali dalam diri pria tua itu.
“Ya, dengan syarat jangan pernah sedikitpun menyentuh rumah peninggalan paman Alessandro!” tegas Adriano.
“Tentu saja, Adriano! Tentu!” Emiliano berseru gembira.
“Apa kalian masih tetap tinggal di alamat yang sama?” tanya Adriano seraya mengajak Emiliano berjalan menuju mobil yang dia parkir tak jauh dari taman.
“Kau masih ingat?” Emiliano balik bertanya.
“Aku tidak mudah lupa akan salah satu kenangan paling buruk dalam hidupku,” jawab Adriano dengan enteng dan datar. Dia berujar demikian seraya membuka pintu mobilnya. “Masuklah,” suruh Adriano pada sang ayah. Mobil mewah itu pun mulai melaju meninggalkan taman kota, menuju Lacchiarella.
Adalah sebuah komune atau kota kecil di dalam kota metropolitan, berjarak sekitar dua puluh dua kilometer jauhnya dari pusat kota Milan. Adriano kembali teringat saat dirinya harus berjalan kaki sejauh itu demi mencari rumah sang paman, Alessandro Moriarty.
Lamunan pria tampan itu akhirnya membawa dia kembali pada rumah bergaya Victoria tiga lantai dengan pagar besi menjulang berwarna hitam yang sudah terbuka lebar. Luwes, Adriano membelokkan kemudi memasuki halaman rumah yang seakan tak terawat. Rerumputan di halaman itu telah meninggi hingga melebihi mata kaki.
“Aku memberhentikan tiga di antara lima pembantu yang bekerja di sini untuk mengirit pengeluaran,” jelas Emiliano sambil membuka pintu rumah lebar-lebar. “Masuklah, Nak,” ajaknya.
Adriano mengangguk dan mengikuti langkah Emiliano menuju ruang kerja sang ayah. Sebelumnya, mereka harus melewati ruang keluarga, di mana terdapat beberapa orang wanita yang tengah asyik berbincang di sana. Mereka menghentikan percakapan saat Adriano melintas. Salah satu dari mereka berdiri dengan tatapan terpana. Adriano mengingat wanita itu dengan jelas, lalu tersenyum sinis. “Apa kabar, Matrigna (ibu tiri)?” sapanya.
“Adriano?” bukannya menjawab, wanita paruh baya itu malah berjalan mendekat. Dia masih terlihat cantik di usianya yang sudah tak lagi muda. “Kau ... terlihat sangat berbeda,” desisnya.
“Dia telah menjadi penguasa klub malam dan kasino di daratan Eropa, Claudia,” ujar Emiliano bangga.
“Apa kau juga mengikuti jejak Alessandro dan kedua anaknya?” tanya Claudia ragu.
“Kudengar dia juga menjadi ketua klan besar,” Emiliano menjawab pertanyaan istrinya, sedangkan Adriano memilih untuk diam sambil menatap ibu tirinya itu tajam.
“Aah,” mata Claudia seketika membola. Raut bahagia jelas terlihat dari wajahnya. “Kau berubah menjadi pangeran yang sangat tampan. Kebetulan, aku kedatangan beberapa teman dari putriku. Mungkin kau tertarik dan mau berkenalan dengan mereka,” Claudia meraih tangan Adriano begitu saja, tetapi segera ditampik oleh pria tampan itu.
“Aku sudah menikah,” Adriano mengangkat telapak tangan dan menunjukkan cincin pernikahannya pada Claudia, sebuah cincin polos berwarna hitam berbahan titanium.
__ADS_1
“Ka-kau sudah menikah?” wanita itu tampak sedikit terkejut, begitu juga dengan Emiliano.
“Sayang sekali. Kenapa aku tak mendengar kabar itu, Nak?" sesal Emiliano. Dia terlihat sangat kecewa.
“Ah, tapi bukankah para pria dari dunia seperti kalian sudah terbiasa memiliki pasangan lebih dari satu? Kalian mudah saja menjalin hubungan dengan siapa pun yang kalian suka,” kelakar Claudia seraya tertawa pelan.
“Aku bukan Tuan Emiliano,” jawab Adriano singkat dan cukup menohok hati ayah juga ibu tirinya. “Lagi pula, aku kemari untuk berbicara masalah keuangan suamimu yang sedikit bermasalah," lanjutnya.
“Tak apa. Jika hanya untuk sekadar berkenalan, tentu tidak masalah bukan, Adriano?” celetuk salah seorang di antara para wanita yang duduk di sofa ruang keluarga.
Adriano segera mengarahkan pandangannya ke arah suara. Dia mengenali gadis itu sebagai Gianna, saudari tiri yang usianya hanya terpaut beberapa bulan dengan dirinya. Akan tetapi, bukan itu yang menjadi perhatian Adriano saat ini, melainkan wanita yang duduk di samping Gianna dan tengah tersenyum manis kepadanya.
“Carina?” sebutnya.
“Come stai, Adriano? Lama kita tidak bertemu,” balas wanita itu dengan senyuman yang menawan.
“Kau mengenalnya?” bisik Gianna.
“Kami sempat dekat dan akrab semasa SMA dulu, sebelum akhirnya dia pindah ke luar negeri,” jawab Carina, lalu berdiri dan menghampiri Adriano. Gadis bertubuh semampai itu berdiri di hadapan pria bermata biru itu.
“Aku yakin kau tidak akan bisa menolak pesona Carina. Apalagi kini kariernya sebagai aktris tengah menanjak,” sahut Claudia yang masih berdiri di dekat anak tirinya itu.
“Oh, benarkah? Aku turut bangga padamu, Carina. Akhirnya cita-citamu dulu bisa tercapai,” ucap Adriano seraya menjabat hangat tangan wanita cantik itu.
Carina de Rossi, gadis cantik yang berprofesi sebagai seorang aktris dan juga penyanyi terkenal di Italia. Akan tetapi, Adriano tak mengetahui jika teman masa remajanya itu telah menjadi seorang artis ternama. Selain karena lebih sering berada di luar negeri, Adriano pun terlalu sibuk dengan bisnis dan organisasi yang dipimpinnya.
Carina dulu merupakan adik kelas Adriano. Kecantikan yang sudah terpancar sejak remaja, membuat dia digilai oleh para siswa laki-laki di sekolahnya. Namun, ternyata Carina justru memilih untuk berdekatan dengan Adriano yang lebih banyak diam, meskipun selalu bersikap ramah pada siapa pun. Mereka berteman dekat dan terkadang saling berbagi cerita. Bagi Adriano yang jarang sekali terbuka tentang masalah pribadinya, Carina adalah seorang pendengar yang baik. Itulah yang membuat Adriano merasa nyaman dengan gadis
tersebut.
“Apa kau benar-benar sudah menikah, Adriano?” Carina ingin meyakinkan dirinya
dengan apa yang tadi dia dengar.
“Seperti yang tadi kau dengar,” jawab Adriano dengan tenang.
“Oh, aku benar-benar penasaran seperti apa wanita pilihanmu. Aku harap kau tak keberatan untuk memperkenalkannya padaku. Apa dia berasal dari luar negeri?” Carina begitu penasaran dengan kehidupan pribadi sahabat lamanya.
“Tidak. Dia wanita asli Italia. Kebetulan kami akan menghabiskan waktu beberapa hari di sini sebelum kembali ke Monaco,” terang Adriano. “Sebenarnya aku masih ingin berbincang denganmu, tapi masih ada masalah yang harus kuselesaikan,” Adriano tersenyum simpul, lalu melirik sang ayah yang saat itu berdiri di sebelahnya.
__ADS_1
Emiliano pun mengangguk. Dia lalu mengajak Adriano menuju ke ruang kerjanya. Akan tetapi, baru berjalan sekitar dua langkah saja, terdengar Carina memanggil Adriano. Pria bermata biru itukemudian menoleh. Sementara Claudia dan Gianna yang juga menyimak obrolan mereka berdua, terlihat senang ketika Adriano bersikap ramah kepada Carina. Itu merupakan sebuah awal yang baik. Sekuat apapun seorang pria, dia akan selalu takluk di hadapan wanita cantik dan seksi. Claudia tersenyum puas seraya melirik putrinya
Gadis dengan postur tak jauh berbeda dengan Mia itu berjalan menghampiri Adriano. Carina kembali berdiri di hadapan pria yang kini kembali menatapnya. ”Di pusat kota ada sebuah cafetaria bernama Malena Del Rey. Tempat itu milik seorang temanku dan akan merayakan hari jadinya besok. Kebetulan aku diundang untuk membawakan tiga buah lagu di sana. Aku harap kau datang dengan bawa serta istrimu. Jangan sampai lupa, jam empat sore,” ujar Carina dengan senyumannya.