Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
The Agreement


__ADS_3

Setelah melakukan perjalanan udara selama lebih dari satu jam menggunakan pesawat pribadi Adriano, mereka akhirnya tiba di bandara Catania. Marco turun terlebih dahulu, diikuti oleh Coco lalu Adriano. Sebagai penunjuk jalan, Marco telah mempersiapkan dua buah kendaraan untuknya, dan juga beberapa anak buah yang mengawal mereka.


“Bar itu kira-kira dua puluh menit perjalanan dari sini. Kita harus bergerak cepat, karena sebentar lagi tengah hari,” ujar Marco yang memilih untuk duduk di kursi depan, samping pengemudi. Sedangkan Adriano dan Coco menempati kursi belakang.


“Memangnya kenapa jika kita datang lebih dari tengah hari?” tanya Adriano.


“Kegiatan mafia di pulau Sicilia selalu dimulai setelah tengah hari,” jawab Marco sembari menyeringai. “Jika itu terjadi, maka gerak kita akan terhambat. Apalagi kebanyakan dari mereka sudah mengenaliku sebagai ketua Klan de Luca yang baru. Aku tak mau penyelidikan kita diketahui oleh banyak orang,” jelasnya lagi. Dia kembali mengarahkan pandangan ke depan.


Adriano mengangguk tanda mengerti. Setelah itu, dia lalu memalingkan wajahnya ke jendela. Coco yang duduk di sebelahnya sempat melirik kepada suami baru Mia tersebut dan menatapnya tanpa berpaling sedikitpun. Matanya lekat memperhatikan Adriano dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Coco terus mengamati pria di sebelahnya. Mulai dari kemeja hitam yang terlihat mahal, dilengkapi celana bahan dengan warna senada. Perhatian Coco lalu berpindah pada rambut gelap Adriano yang tersisir rapi ke belakang, lalu pada sepatu pantofel mengkilap yang menghiasi kakinya.


Setelah itu, Coco kemudian melihat dirinya sendiri yang hanya memakai kemeja bercorak bunga-bunga cerah berlapis t-shirt putih, dan dipadukan dengan celana jeans yang telah sobek di beberapa bagian. Dia sempat menggeleng perlahan.


“Kau tidak terlihat seperti seorang mafia, Adriano,” celetuk Coco kemudian.


“Katakanlah aku seorang pengusaha yang menyamar sebagai mafia,” sahut Adriano tanpa menoleh pada Coco, dia lebih tertarik memperhatikan pemandangan di luar melalui jendela mobil yang terus melaju. Nada bicara Adriano pun terdengar asal-asalan.


Coco terkekeh pelan menanggapi jawaban pria itu. “Apa kata-katamu tidak terbalik, Amico? Kau mafia pesolek yang menyamar sebagai pengusaha,” ledeknya yang dengan segera mendapat lemparan botol air mineral dari Marco.


“Jangan mulai, Coco! Jika Mia mengetahui hal ini, maka dia pasti akan melarang Francy untuk menikah denganmu. Ingat itu!” ancam Marco dengan mata melotot.


“Oh, jadi begitu rupanya,” Adriano menutup mulutnya untuk menahan tawa. Dia sempat melirik Coco untuk sesaat.


“Brengsek kau, Marco! Sekarang Adriano jadi tahu, dan dia bisa menyerangku dengan hal itu,” gerutu Coco sambil mendengus kesal. Dia lalu berpaling.


Percakapan seru itu akhirnya terhenti saat mobil Marco berhenti di depan bangunan berlantai dua yang dipenuhi oleh garis polisi.


“Bruno! Beritahu teman-temanmu untuk berjaga di sekeliling bar. Aku dan teman-temanku akan masuk ke dalam. Segera telepon aku jika kau melihat sesuatu yang mencurigakan,” titah Marco pada sopirnya.


“Baik, Bos,” jawab pria tinggi besar itu.


Marco menepuk pundak pria itu sebelum keluar dari dalam mobil. Ketiga pria tersebut mengoyak salah satu bagian garis polisi dan menyelinap masuk ke dalam bar. Suasana di dalam masih terlihat sangat berantakan. Pecahan botol dan kaca berhamburan di mana-mana. Meja dan kursi terbalik dengan beberapa noda darah di atasnya.

__ADS_1


Marco dan Coco langsung menuju ke lantai dua, sementara Adriano melangkah mendekati meja bar dan melongok ke baliknya. Sisa-sisa darah masih jelas terlihat, mengotori lantai dan dinding kaca tempat pajangan botol-botol. Dengan satu gerakan lincah, pria rupawan itu melompat begitu saja ke bagian dalam meja bar. Dia lalu berjongkok dan memperhatikan satu barang bukti yang sepertinya ditinggalkan dengan sengaja oleh pihak kepolisian.


Adriano memungut benda itu dan mengamatinya dengan teliti. Adalah sebuah selongsong peluru yang biasanya digunakan untuk senapan berjenis laras panjang.


Dia hendak memanggil Marco dan Coco untuk menunjukkan temuannya tersebut. Akan tetapi, Marco lebih dulu berseru memanggil nama Adriano. Setengah berlari, pria bertubuh jangkung itu menaiki tangga hingga sampai ke lantai dua.


Tampak di depannya seorang pria muda dengan taksiran umur yang sama dengan dirinya. Pria muda itu duduk dengan santai di salah satu sofa yang tersisa.


Pria itu memakai jaket polisi. Satu tangannya tengah memegang rokok, sementara tangan lainnya memegang pistol. “Selamat datang, Tuan-tuan. Apa kabar kalian?” sapanya sambil tersenyum penuh arti.


“Siapa kau?” tanya Adriano dengan tenang dan datar.


“Apakah Anda tidak bisa menebak, Tuan Adriano? Lihatlah wajahku. Adakah kemiripan dengan seseorang?” pria asing itu balik bertanya.


“Kami tidak punya waktu untuk bermain-main, Tuan,” sela Marco.


“Ah, sayang sekali. Pria-pria setampan kalian tidak memiliki selera humor,” canda pria itu.


“Baiklah, kalau begitu. Langsung saja, namaku Ignazio Ranieri. Apakah nama Ranieri mengingatkan kalian kepada seseorang?” pria asing yang mengaku bernama Ignazio itu memberi teka-teki seraya berdiri, kemudian berjalan mendekati Adriano. Dia menodongkan senjata yang dipegangnya tepat di kepala pria bermata biru itu sembari menarik pelatuknya.


“Tenanglah, Marco,” cegah Adriano sambil merentangkan tangan ke arah Marco. Gayanya masih tetap terlihat tenang luar biasa, walaupun moncong pistol kini melekat di keningnya.


“Adriano D’Angelo. Apa jadinya jika aku melubangi kepalamu? Tentu saja istrimu yang cantik akan menjadi janda untuk ketiga kalinya,” Ignazio mencoba memancing amarah Adriano.


“Ranieri, Ranieri,” gumam Coco pelan. Dia berpikir keras hingga keninnya berkerut. Sesekali pria itu menggaruk kepala dan mengacak-acak rambut ikalnya. “Ranieri!” ulangnya lagi dengan suara lebih nyaring. “Apa kau memiliki hubungan dengan detektif Ranieri?” tebak Coco.


“Akhirnya, salah satu dari kalian berhasil mengingat ayahku,” seringai Ignazio.


“Detektif Ranieri?” Adriano memiringkan kepalanya, mencoba membongkar kembali memori masa lalu ketika dia mendapati seorang detektif polisi hendak menyelidiki kasus kematian kedua orang tua Matteo. “Oh, jadi, kau putra detektif Ranieri? Apa kabarnya sekarang?” sebuah senyuman hangat tersungging dari bibir Adriano.


“Kabar buruk, Tuan Adriano. Ayahku meninggal saat mencoba mengungkap kasus Tangan Setan. Dia ditembak dari jarak jauh oleh orang tak dikenal,” Ignazio menurunkan pistol yang dia todongkan kepada Adriano, lalu menyimpannya di balik jaket. Wajah pria itu berubah murung.


“Kalian tahu? Peluru yang digunakan untuk membunuh ayahku, sama dengan salah satu peluru yang bersarang di tubuh Matteo de Luca,” terang pria muda itu lagi.

__ADS_1


Sontak, Adriano, Marco dan juga Coco sangat terkejut mendengarnya.


“Apa yang terjadi? Bagaimana awalnya?” tanya Marco penasaran.


“Semenjak kematian Matteo de Luca, wilayah pesisir Italia sangatlah tidak aman. Tangan Setan sudah mengoyak kedamaian di negara ini. Mereka main hakim sendiri, memporakporandakan setiap tempat secara acak. Entah apa yang mereka cari, yang jelas kami sangat putus asa. Pihak kepolisian tak dapat berbuat banyak untuk mengungkapnya,” tutur Ignazio penuh sesal.


“Lalu, dari mana kau tahu bahwa kami akan mengunjungi bar ini? Dari mana pula kau mengetahui namaku?” selidik Adriano dengan sebelah alisnya yang terangkat.


“Sejak kematian Matteo de Luca, aku terus mengawasi kalian semua. Tak terkecuali Marco de Luca yang kini tinggal di Palermo. Dari awal, polisi tak berani menyelidiki keluarga besar de Luca dengan jauh lebih dalam. Selain karena marga mereka adalah salah satu marga yang tertua di Italia, Klan de Luca juga telah membantu banyak dalam kehidupan sosial masyarakat Italia sejak masa revolusi,” jelas Ignazio panjang lebar.


“Namun, tidak dengan diriku. Anggap saja hanya aku yang berani memasuki kehidupan hitam kalian, termasuk bisnis besar terselubung yang tersembunyi di balik label sebagai produsen anggur terbesar di negara ini,” lanjut pria itu, cukup untuk membuat Marco dan Coco sangat tertegun.


“Sementara kau, Adriano D’Angelo! Kau baru saja menikahi janda Matteo. Tak kusangka, rupanya kekuasaanmu dalam dunia mafia jauh lebih besar dari klan de Luca. Luar biasa, di usia semuda ini .…”


“Apa maumu, Tuan Ranieri?” potong Adriano dengan segera. Mata birunya menyorot tajam ke arah pria berjaket polisi itu.


“Kau bertanya apa mauku? Mauku adalah ….” Ignazio mengusap dagunya yang licin, lalu berjalan mondar-mandir di depan Adriano. “Mauku adalah agar kalian membantuku menghancurkan Tangan Setan dan mengembalikan wibawa kepolisian. Anggap saja, ini adalah kerja sama rahasia kita,” tawarnya.


“Lucu sekali. Kau meminta kami bekerja sama dengan polisi?” Adriano tertawa meremehkan. “Kau pikir aku bodoh, Tuan Ranieri? Kalian pasti akan menghancurkan kami segera setelah kami tak berguna lagi untuk kalian,” tegasnya berapi-api.


“Kalian bisa memegang kata-kataku, Tuan-tuan. Sekali lagi, ini adalah kerja sama rahasia. Itu artinya hanya aku dan kalian yang tahu. Kita bisa saling menguntungkan dalam hal ini. Percayalah,” bujuk Ignazio berusaha meyakinkan.


“Lalu?" tanya Adriano.


“Bantu aku menemukan pembunuh ayahku, sekaligus menghentikan gerak Tangan Setan. Sebagai gantinya, aku akan selalu melindungi organisasi kalian. Ini janjiku! Jika kalian berhasil, maka namakulah yang akan dipromosikan di jajaran kepolisian. Posisiku akan naik dan kekuasaanku akan bertambah. Kalian akan tetap menjadi organisasi bawah tanah yang tersembunyi dan aman dari jangkauan hukum,” terang Ignazio dengan enteng dan terlihat sangat meyakinkan.


🍒


🍒


🍒


Sambil menunggu Adriano kembali beraksi, ada baiknya mampir dulu ke novel keren yang satu ini.

__ADS_1



__ADS_2