Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Healing Kiss


__ADS_3

Mia menutupi mulut dengan telapak tangan. Sepasang mata cokelat madunya yang indah, menatap dengan tak beraturan pada setiap sudut ruangan yang tidak terlalu luas itu. Pada dinding ruangan tersebut, Mia melihat lukisan dirinya terpajang dengan pigura berlapis emas dan bukan hanya satu buah, melainkan ada beberapa.


Perlahan wanita itu melangkahkan kaki, dan mencoba untuk meneliti satu per satu wajah cantiknya dalam setiap lukisan berukuran cukup besar yang tertempel di dinding. Mia terlihat cukup gelisah. Dia melihat lukisan itu sambil sesekali menggigit kuku jari telunjuknya. Itu sesuatu yang sangat luar biasa. Lukisan yang terpajang di sana begitu indah dan sangat nyata. Detailnya amat sempurna, bahkan untuk setiap pakaian yang pernah dia kenakan dulu semasa masih menjadi istri dari Matteo de Luca.


Mia lalu mendekat pada salah satu lukisan yang membuatnya merasa tertarik. Di sana tergambar dirinya dengan rambut acak-acakan dan wajah lusuh, sambil duduk di atas tempat tidur. Dia ingat betul dengan hal tersebut. Itu terjadi pada saat dirinya dalam masa awal kehamilan Miabella. Mia semakin mendekat kepada lukisan tadi. Dia lalu membaca tulisan yang ada di bagian bawahnya.


Sii sempre la più bella (Selalu menjadi yang paling cantik).


“Ya Tuhan ….” gumam Mia dengan setengah mende•sah. Adriano dapat menggambarkan dirinya dengan begitu detail. Sekarang Mia baru menyadari, mungkin karena itulah pria itu kerap memperhatikannya dengan begitu lekat dulu, sehingga selalu membuat Matteo cemburu buta terhadapnya.


Pandangan Mia, kemudian tertuju pada lukisan lain. Ada beberapa pula yang tidak dipajang di dinding, dan hanya dibiarkan berderet dengan rapi di lantai. Selain itu, ada juga sebuah lukisan yang sepertinya sengaja ditutupi menggunakan selembar kain putih. Mia bermaksud untuk membukanya. Namun sayang, alat pemanggil yang terhubung ke kamar Miabella bergetar. Gadis kecil itu rupanya terbangun. Mia pun mengurungkan niatnya, dan bergegas keluar dari ruangan tersebut. Dia juga meninggalkan ruang kerja Adriano dengan pintu yang kembali tertutup secara otomatis. Mia melangkah agak terburu-buru menuju kamar Miabella. Karena luasnya mansion itu, dia harus dapat menghapal setiap koridor yang menghubungkan satu ruangan ke ruangan lainnya.


......................


"Daddy Zio!" sorak sorai Miabella menyambut kepulangan Adriano bersama Marco, dan Coco dari Sicilia. Mereka tidak memberi kabar terlebih dahulu, jika ketiganya akan kembali pada hari itu. Gadis kecil berambut cokelat tersebut terlihat begitu riang dan terus memamerkan tawa lebarnya. Kurang lebih dua hari, dirinya tidak mendapat peluk cium dari pria yang menjadi ayah sambungnya itu.


Sambil tersenyum lebar, Adriano menggendong Miabella di lengannya. Sesekali pria itu mencium putri kesayangan, meskipun bukanlah darah dagingnya sendiri. "Come stai, Principessa? (Apa kabar, Tuan Putri?)" sapa Adriano sambil terus melangkah. Sedangkan Marco segera disambut kedua buah hatinya, Romeo dan Tobia. Sementara Coco lagi-lagi, hanya menggaruk kepala. Keinginan pria itu untuk segera berumah tangga, terasa semakin kuat. Bagaimanapun caranya, dia harus dapat meyakinkan Francesca untuk hal tersebut.


"Sayang!" Daniella menyambut Marco dengan sebuah ciuman hangat. "Aku senang akhirnya kalian kembali," ucapnya lega. Sementara Adriano langsung berpamitan menuju kamar. Namun, kondisi wajahnya yang penuh luka lebam seketika menjadi perhatian Daniella. "Apa yang terjadi pada adik iparku yang tampan?" tanyanya.


"Tidak apa-apa. Dia hanya sedikit berselisih dengan seseorang," jawab Marco. "Dua hari tidak melihat kalian bertiga, aku benar-benar merasa rindu," Marco kembali mengalihkan pembicaraan. Sekali lagi, dia mencium Daniella, dan membuat Coco hanya termangu.

__ADS_1


"Kau tidak menanyakan kabarku, Dani?" tanyanya.


"Tidak perlu. Aku lihat kau baik-baik saja," jawab Daniella tak acuh. "Segera temui Francy. Adikku sangat mengkhawatirkanmu. Siapkan diri untuk menerima kekesalannya, karena kalian bertiga tidak bisa dihubungi sama sekali," ujar wanita bertubuh sintal itu lagi terdengar cukup jengkel. Sedangkan Marco hanya menanggapi dengan tawa pelan.


Coco kemudian memutuskan untuk menemui Francesca. Gadis itu tak menyambut kedatangannya. Apa yang Daniella katakan tadi mungkin benar. Francesca sedang merajuk. Coco segera menghubungi gadis yang teramat dia cintai. Panggilannya pun segera terjawab. "Apa kau sudah kembali dan puas membuatku merasa khawatir?" kekesalan Francesca langsung menyambutnya, tanpa basa-basi sama sekali.


"Astaga, Francy. Apakah kau tidak ingin memberiku sebuah pelukan hangat dan ciuman mesra?" rayu Coco tetap tenang. Ditatapnya gadis cantik dengan tubuh semampai yang saat itu berdiri tak seberapa jauh dari dirinya.


Francesca yang saat itu masih menempelkan ponsel di dekat telinga, kembali berkata, "Kalau begitu kemari! Kenapa kau hanya berdiri di sana dan menatapku?" ujarnya kesal bercampur gemas menjadi satu. Gadis bermata hazel tersebut segera mengakhiri sambungan teleponnya, ketika melihat Coco yang berjalan dengan setengah berlari menuju ke arahnya. Saat itu, mereka tengah berada di halaman samping mansion.


Tawa lebar menyambut Coco yang segera memeluk dan mencium mesra sang kekasih. Dia juga mengangkat tubuh semampai Francesca hingga lebih tinggi darinya. "Kau sungguh menyebalkan," ucap Francesca seraya menepuk gemas pipi Coco. Sedangkan pria berambut ikal itu hanya menanggapinya dengan sebuah tawa.


Lain halnya dengan sambutan yang diterima oleh Adriano, saat dirinya sudah berhadapan langsung dengan Mia. Ibu dari Miabella tersebut terlihat sangat terkejut karena melihat sang suami kembali dengan beberapa luka di wajah. Mia menatap tajam kepada pria bertubuh tegap yang baru saja menurunkan Miabella dari gendongannya.


"Olivia, tolong ajak Miabella ke kamarnya. Ini sudah waktunya untuk tidur siang," suruh Mia kepada gadis muda itu, tanpa mengalihkan pandangan dari sosok Adriano.


"Aku masih ingin bersama daddy zio, Bu," tolak Miabella setengah merengek. Dia memeluk paha ayah sambungnya.


"Turuti ibumu, Sayang. Nanti kita akan membeli boneka baru dan juga gaun Cinderella yang kau inginkan," bujuk Adriano seraya menurunkan tubuhnya hingga berada sejajar dengan Miabella.


Jika Adriano yang sudah berkata, maka Miabella tak pernah bisa membantah. "Baiklah, Daddy Zio. Akan tetapi, kau harus berjanji padaku untuk segera membelikan itu," ucapnya polos. Adriano tersenyum seraya mengangguk. Tak lupa dia juga mengecup kening gadis kecil berambut cokelat tersebut. Sementara Olivia pun terpaksa harus pergi mengantar Miabella untuk tidur siang, tanpa mendapatkan sebuah penjelasan dari Adriano.

__ADS_1


Sepeninggal Miabella dan Olivia, Mia segera meraih tangan Adriano dan membawanya ke kamar mereka. Tanpa banyak bicara, wanita itu mendudukan Adriano pada ujung tempat tidur. Sementara dirinya mengambil kotak P3K. Dengan cekatan dan hati-hati, Mia mengobati wajah lebam dan luka robek di wajah sang suami.


"Kau tidak ingin mengatakan apa-apa padaku, Mia?" Adriano membuka suara, menyibakan kebisuan di antara mereka berdua.


Mia yang saat itu tengah mengobati luka di wajah sang suami, menghentikan apa yang dilakukannya untuk sejenak. "Kau ingin aku berkata apa? Ada banyak sekali yang ingin kukatakan sehingga aku bingung harus memulainya dari mana. Kau itu benar-benar keterlaluan! Apa kau senang karena sudah membuatku kesal? Miabella terus merajuk dan memintaku agar mengantarkannya ke Sicilia untuk menyusulmu! Aku mencoba menghubungimu, tapi tak sekalipun kau menjawab panggilan dariku! Sementara Ricci dan Marco pun sama saja! Kalian para pria sungguh keterlaluan! Apa yang ada dalam otak kalian sehingga terpikir melakukan hal bodoh seperti itu? Lalu, lihat keadaanmu sekarang! Kau pulang dengan membawa luka lebam seperti ini! Apa yang terjadi padamu di sana, sehingga kau bisa sampai terluka?" jengkel, Mia mengeluarkan semua unek-uneknya. Dia berbicara tanpa jeda sama sekali. Sementara tangannya masih sibuk dengan cream yang dioleskan di beberapa luka lebam Adriano, yang hanya bisa terdiam menatapnya dengan mata berbinar.


Beberapa saat kemudian, Mia sudah selesai dengan cream oles. Dia kembali menyimpan kotak P3K ke tempat semula. Sementara Adriano beranjak dari duduknya dan menghampiri Mia yang saat itu berdiri di pintu menuju balkon yang dibiarkan terbuka lebar. Pria bermata biru itu menempatkan dirinya di sebelah Mia, meskipun agak ke belakang. "Terima kasih, Mia," bisiknya.


"Terima kasih untuk apa?" Mia melipat kedua tangannya di dada dan masih membelakangi sang suami.


"Terima kasih karena telah memarahiku," jawab Adriano masih dengan bisikan lembut. Perlahan, dia membalikan tubuh Mia sehingga jadi menghadap padanya. "Aku senang karena ternyata kau mengkhawatirkanku. Apa yang telah kulakukan selama ini, tak terasa sia-sia atau tidak berarti sama sekali," ucap pria itu lagi dengan dalam. Dielusnya pipi mulus Mia menggunakan punggung tangan. Perlahan jemarinya menelusup ke balik rambut panjang sang istri, menahan leher bagian belakang wanita itu agar tak ke mana-mana, ketika Adriano kembali menikmati bibir manisnya.


Entah sudah berapa kali Adriano melakukan hal seperti itu terhadap Mia. Berawal dari ciuman yang berbalas ketika di Malibu, pria itu kini sudah berani untuk mengulangi hal yang sama tanpa harus meminta izin terlebih dahulu. Benar saja, kali ini pun Mia tak mampu menolak adegan menghanyutkan tersebut, sambil memegangi kemeja bagian depan Adriano.


🍒


🍒


🍒


Kembali ceuceu bawakan rekomendasi novel yang keren untuk dimasukan rak. Jangan lupa mampir dan ramaikan.

__ADS_1



__ADS_2