Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Ciuman Pertama Sang Pengawal


__ADS_3

Mendengar ucapan Carlo yang seakan menolak dirinya, Miabella pun segera membuka mata. Gadis itu menatap aneh kepada si pria yang segera membalikkan badan dan terlihat merasa bersalah. Miabella pun tak mengatakan apa-apa. Dia juga tak harus kecewa, ketika Carlo tak jadi mencium dirinya.


"Ini sudah terlalu malam, Nona. Sebaiknya kau segera kembali ke kamar," saran Carlo. Dia lalu beranjak dari sana dengan membawa piring yang masih menyisakan beberapa sendok lagi makanan di dalamnya. Tak berselang lama, pria itu kembali dengan membawa segelas air yang segera dia sodorkan kepada Miabella.


Miabella menerimanya. Namun, dia tak mengucap sepatah kata pun. Gadis itu meneguk air putih yang dibawakan oleh Carlo, hingga tersisa setengahnya lagi.


"Mari kuantar ke kamarmu," ajak Carlo seraya mengulurkan tangan. Dia bermaksud hendak membantu Miabella berdiri.


Akan tetapi, gadis cantik berambut panjang itu menggeleng perlahan. "Aku masih ingin di sini," tolaknya pelan. Lesu, Miabella kembali mengarahkan pandangan ke arah perkebunan.


Sementara Carlo pun hanya berdiri menatapnya. "Ayo," ajaknya lagi. Tak putus asa, dia kembali mengulurkan tangan kepada gadis cantik itu.


"Kau pergi saja, Carlo. Jangan khawatir," ucap Miabella pelan. Tersirat sebuah kekecewaan dalam nada bicaranya.


"Aku tak akan membiarkanmu sendiri di sini," tolak Carlo.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan? Melihatku termenung? Pergilah!" usir Miabella tanpa menoleh kepada pria itu. "Aku ingin sendiri," ucapnya lagi.


"Nona ...."


"Biarkan aku sendiri!" tegas Miabella lagi.


Jika sudah seperti itu, Carlo tak dapat membantah lagi. Dia pun terpaksa beranjak dari sana dan meninggalkan Miabella seorang diri.


Sepeninggal Carlo, Miabella kemudian bangkit. Untuk beberapa saat, gadis itu hanya terpaku memandang ke arah perkebunan. Sebenarnya, tak ada apapun yang dapat dia lihat selain pekatnya malam dan juga suasana sepi. Setelah merasa bosan, Miabella kemudian memilih untuk duduk di sofa. Gadis itu meletakkan kepala pada sandaran tempat duduk dengan posisi mendongak. Ditatapnya langit-langit ruang tamu dengan kayu yang dibiarkan terekspos, khas rumah bergaya tuscany.


Beberapa saat kemudian, Miabella lalu memejamkan mata. Dia mulai meresapi perasaan aneh yang kini mengusik nuraninya. Itu adalah sesuatu yang tidak pernah ada selama ini. Ya, perasaan aneh dan tak menentu tersebut membuat dirinya ingin menangis. Akan tetapi, Miabella sadar bahwa tak ada alasan logis yang membuatnya harus meneteskan air mata, seperti saat meratapi kematian Damiano.


Sementara Carlo yang tidak benar-benar pergi dari ruangan tadi, berdiri memperhatikan nona muda yang kini terlihat tak biasa. Itulah Miabella Conchetta. Dia selalu saja melakukan hal-hal yang tak bisa dimengerti oleh orang lain. Karena merasa tak tega melihat gadis cantik itu seorang diri, Carlo pun memutuskan untuk kembali menghampirinya. Tanpa permisi, dia memilih duduk di sebelah putri sulung Mia tersebut setelah meletakkan ponsel di atas meja.


Sontak saja Miabella segera membuka mata. Dia lalu menoleh kepada pria yang duduk tenang di sebelahnya. "Kau? Kenapa masih di sini?"

__ADS_1


Carlo mengarahkan pandangan kepada gadis yang seakan hendak melayangkan protes terhadap dirinya. Pria itu tersenyum kalem. "Aku tak akan pernah membiarkanmu sendiri," jawab Carlo tenang. "Kemarilah." Dia meraih pundak Miabella, kemudian mengarahkan gadis itu agar merebahkan kepala di atas pangkuannya. Miabella pun menurut saja, padahal tadi dia merasa kesal bahkan sampai menyuruh Carlo agar menjauh darinya.


"Jika kau ingin tetap di sini, maka akan kutemani," ucap Carlo lagi seraya meletakkan kepalanya di atas sandaran sofa dengan posisi menengadah. Pria itu kemudian memejamkan mata. Bagaimanapun juga, dia harus memaksakan diri untuk tidur meski hanya beberapa jam.


......................


Suara ponsel yang bergetar di atas meja, membuat Miabella terbangun dari tidur. Gadis itu mengucek mata dan berusaha untuk sepenuhnya tersadar dari alam mimpi, terlebih saat itu langit mulai terang. Matahari telah menyingsing di ufuk timur, menyingkirkan pekat yang menyelimuti Casa de Luca.


Sementara, ponsel milik Carlo terus saja bergetar. Merasa penasaran, Miabella pun memeriksanya. Nama Delana tertera jelas di layar, membuat Miabella segera meletakkan ponsel tadi. Dia pun beranjak meninggalkan pria yang masih tertidur dalam posisi duduk.


"Bella. Dari mana?" sapa Francesca yang kebetulan berpapasan dengan Miabella.


"Aku akan ke kamar," jawab Miabella tak sesuai dengan apa yang Francesca tanyakan. Jelas sudah bahwa gadis itu sedang tidak fokus pada dirinya.


"Bella, apa kau baik-baik saja?" tegur Francesca lagi yang merasa aneh dengan sikap keponakannya.


"Ya, Bibi. Jangan khawatir," sahut Miabella bermaksud untuk melanjutkan langkah. Namun, dia harus kembali mengurungkan niat itu, ketika Francesca kembali berbicara pada dirinya.


"Semalam Ricci menghubungiku. Dia berpesan agar hari ini kau memantau ke perkebunan. Kau tahu bukan bahwa akhir musim panas ini anggur-anggur itu akan dipanen?"


Seusai sarapan, Miabella telah bersiap untuk pergi ke perkebunan. Gadis itu terlihat sangat cantik dan juga modis. Miabella mengikat rambut panjangnya dengan model ekor kuda. Dia mengenakan singlet putih yang dilapisi kemeja sebagai luaran. Skinny jeans dan sepasang sepatu boots pun turut menyertai penampilannya kala itu.


Gadis cantik tersebut menggunakan kuda untuk berkeliling perkebunan. Dia pergi seorang diri, meskipun Carlo telah berniat untuk menemaninya. Miabella langsung menolak dengan alasan yang tidak jelas.


Perasaan gadis itu sedang tak karuan. Dia merasa bingung dan juga tak tahu harus bagaimana untuk menafsirkan sesuatu yang membuat dirinya merasa terusik. Miabella lebih memilih menghindar daripada harus terus memikirkan hal itu. Dia memulai hari pertamanya di antara lautan pohon anggur beribu hektar milik keluarga de Luca.


Ternyata, pekerjaan yang kini Miabella jalani terasa begitu menyenangkan. Gadis cantik tersebut bahkan hingga lupa waktu, karena terlalu asyik berada di perkebunan. Hal itu tentu saja membuat Carlo merasa khawatir, terlebih karena Miabella juga sepertinya tak membawa ponsel ke sana.


Carlo yang merasa cemas tak bisa hanya berdiam diri. Dia segera pergi ke perkebunan. Pria itu berniat untuk mencari Miabella dengan berjalan kaki saja.


Siang yang teramat panas akan segera berganti. Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Entah apa yang Miabella lakukan, sehingga dia bisa begitu lama di perkebunan. Carlo pun tak mengurungkan niat untuk tetap mencarinya.

__ADS_1


Ketika Carlo sudah berada sekitar seperempat jalan memasuki area perkebunan, dari kejauhan tampak gadis itu menunggangi kudanya dengan lihai. Pria tampan tersebut menghentikan langkah dan menunggu hingga si gadis mendekat.


"Nona!' seru Carlo nyaring.


Dalam jarak beberapa langkah, Miabella menghentikan laju kudanya. Namun, gadis itu tak juga turun. Dia hanya menatap pria yang berdiri gagah di hadapannya sambil terus mengendalikan kuda agar diam. "Ada apa, Carlo?" tanya Miabella biasa saja.


"Aku mencemaskanmu," jawab Carlo seraya berjalan mendekat. Dia berdiri tepat di sebelah kaki Miabella.


"Aku baik-baik saja," sahut Miabella tak acuh.


"Katakan kau kenapa? Jika sikapmu seperti ini terus, maka sebaiknya aku kembali ke Monaco saja," ancam Carlo.


"Aku tidak peduli meski kau akan Monaco atau Milan sekalipun!" sahut Miabella ketus membuat Carlo seketika tertegun mendengarnya.


"Begitukah? Baiklah." Carlo membalikkan badan dan berlalu dari hadapan Miabella. Sambil melangkah, pria berambut gelap itu terus bergumam, "Tiga ... dua ... satu ... ayolah!"


"Carlo!" seru Miabella yang mencoba untuk menghentikan laju pria itu.


Carlo tertegun. Sebuah senyuman muncul di bibirnya. Pria itu berbalik, dan melihat Miabella kembali melajukan kuda yang dia tunggangi ke arahnya. Gadis itu kemudian berhenti tepat di depan Carlo. Tanpa diminta, sang pengawal pribadi tadi membantu putri tuannya untuk turun.


"Kau benar-benar akan pergi?" Miabella terlihat memasang raut yang amat serius.


"Itu yang kau mau? Untuk apa aku tetap berada di dekatmu, jika diriku sudah tak bisa mengerti dengan apa yang kau inginkan," ujar Carlo menatap lekat Miabella. Sementara gadis itu hanya tertunduk. Tak berselang lama. Carlo pun berjalan semakin mendekat. "Kenapa?" Suara pria itu terdengar sangat dalam.


"Aku tidak tahu," jawab Miabella pelan. Sedangkan Carlo tak segera bicara. Dia terus saja memperhatikan gadis cantik tadi. Perlahan dia bergerak maju sehingga mereka kian dekat. Miabella pun dapat mendengar helaaan napas pria tampan tersebut dengan jelas. "Carlo," desahnya pelan sambil terus tertunduk.


"Aku di hadapanmu," sahut Carlo pelan dan dalam. Suaranya berbaur dengan angin perkebunan di sore hari. Begitu lembut, tetapi mampu menerbangkan segala ragu yang selama ini menghantui perasaan Carlo. Pria tampan bertubuh tegap tersebut kini memberanikan diri, untuk mendobrak dinding pemisah antara dirinya dengan gadis cantik yang selama ini dia kawal ke manapun. "Nona ...." Carlo menyentuh dagu Miabella, lalu mengangkatnya perlahan.


Sepasang mata biru itu pun beradu dengan mata abu-abu Miabella. Makin lama semakin dalam, dan akhirnya tiba pada sebuah dasar yang membuat keduanya terjatuh. Miabella tersentak, tapi dengan segera lengan kokoh Carlo menahannya. Pria itu mendekap erat tubuh ramping nona muda tersebut. Dia mengalah, menundukkan dirinya agar dapat menggapai senyuman berbalut warna peach yang selama ini hanya dapat dipandang dari kejauhan.


Miabella mendongakkan wajah demi menyambut sentuhan lembut yang membuat dia terpejam. Gadis itu seakan kembali melayang dari dasar terdalam angannya, tatkala Carlo melu•mat bibirnya dengan semakin dalam.

__ADS_1


"Tuan Adriano akan membunuhku karena ini," ucap Carlo sesaat setelah melepaskan ciuman tadi. Dia membelai wajah cantik Miabella yang masih terlihat tak percaya karena pria itu menciumnya.


"Daddy zio tidak ada di sini," balas Miabella pelan, sebagai isyarat bahwa dia ingin agar Carlo mengulanginya.


__ADS_2