
“Siapa Imelda Jones? Jangan katakan jika itu wanita sama seperti yang pernah kau beritahukan padaku dulu,” tatapan penuh selidik Mia layangkan kepada Adriano, yang seketika terlihat gelagapan. Sementara Coco menahan tawa sembari menutup mulutnya. Rasanya dia bahagia sekali ketika melihat Adriano dalam kebingungan seperti saat itu.
“Adriano, siapa Imelda Jones yang dimaksud Ricci? Apakah memang yang itu?” cecar Mia yang mulai tak sabar. Dia kembali mengalihkan pandangan kepada Coco.
“Bukan siapa-siapa, Mia. Dia hanya seorang kenalan. Kami tidak begitu akrab. Matteo dan Tuan Ricci yang baik hati ini jauh lebih mengenalnya,” jawab Adriano seraya menggaruk kening.
“Oh, ya? Itu berarti memang wanita yang sama," cibir Mia. "Aku tidak menyangka karena kau juga mengenalnya. Kalian para pria sama saja!" dengus Mia. Sikap manis yang tadi dia tunjukan kepada Adriano kini menguap seketika. "Apa kau juga pergi ke Las Vegas dengannya?" Mia melipat tangan di dada seraya memalingkan wajah.
“Bella, bagaimana jika kita melihat danau itu. Di sana pasti banyak ikannya,” ajak Coco yang segera membelokkan arah pembicaraan. Dia mencoba merengkuh tubuh mungil Miabella yang sedari tadi bergelayut manja di kaki Adriano. Namun, gadis kecil itu malah menggeleng dan memeluk paha ayah sambungnya dengan semakin erat.
“Principessa, kau pasti lelah,” Adriano kembali berjongkok dan menyejajarkan wajahnya dengan Miabella. Beberapa hari tak bertemu putri kecilnya, membuat Adriano teramat rindu kepada gadis imut bermata abu-abu itu. Berkali-kali dia mencium gemas pipi gembul Miabella.
“Adriano, saatnya untuk minum obat,” terdengar suara yang tiba-tiba muncul dari dalam pondok kayu. Tak berselang lama, keluarlah seorang pemuda yang membawa nampan berisi sepiring makanan dan segelas air.
Adriano pun menoleh dan tersenyum.
“Terima kasih, Russell. Akan kuminum sebentar lagi. Akan tetapi, sebelumnya kuperkenalkan dulu kau kepada istri dan putriku," dia mengalihkan tatapan kepada Mia yang masih sedikit cemberut. "Mia, perkenalkan ini adalah Russell. Orang yang merawatku hingga bisa kembali pulih," ujar Adriano. Dia kemudian merengkuh pinggang Mia dan menggendong Miabella. Adriano sepertinya lupa bahwa luka yang dia alami belum sembuh benar. Seketika, pria itu meringis dan segera menurunkan Miabella kembali. “Maafkan aku, Principessa. Aku belum bisa menggendongmu,” sesal Adriano sambil mengusap puncak kepala putri sambungnya.
“Jangan dipaksakan, Adriano,” tutur Mia tampak cemas. Dia tak bisa marah lagi saat melihat kondisi sang suami.
“Ya. Jangan dipaksakan atau jahitanmu akan kembal terbuka,” timpal Russell. Dia kemudian menoleh kepada Mia dan mengulurkan tangannya setelah meletakkan nampan yang dia pegang, di atas meja teras. “Hai, Nyonya. Apa kabar? Senang bertemu dengan Anda. Anda juga, Tuan .…” Russell mengarahkan pandangan kepada Coco yang berdiri tak jauh darinya.
“Panggil saja Ricci,” sahut Coco seraya menyambut jabat tangan Russell.
“Baiklah, Ricci," balas Russell ramah. "Hai, gadis cantik,” pria muda itu kini beralih pada Miabella yang segera bersembunyi di balik kaki Adriano. Namun, hal itu tak berlangsung lama. Wajah ramah Russell yang penuh senyuman, sedikit banyak membuat Miabella merasa penasaran dengan pemuda itu, walaupun posisi tubuhnya masih belum berubah. Gadis kecil tersebut memiringkan kepalanya dan menatap Russell dengan diam-diam.
“Apa itu?” tanya Miabella pelan. Telunjuk mungilnya terarah pada bahu Russell.
__ADS_1
“Ah, ini Iguana, salah satu binatang peliharaanku. Namanya Chester. Kau mau menyentuhnya?” tawar Russell bermaksud menyodorkan iguana berukuran besar itu.
Namun, Miabella segera menggeleng kuat-kuat. Dia merasa geli ketika melihat hewan itu menjulurkan lidahnya. Hal tersebut membuat Russell tertawa pelan.
“Kau takut? Tidak apa," bujuknya. "Aku masih punya banyak binatang peliharaan lainnya di dalam. Masuklah,” ajak pemuda itu pada semua yang ada di sana. Dia kembali membawa nampan berisi makanan dan obat untuk Adriano. “Anggap saja rumah sendiri,” ujarnya ketika mereka sudah memasuki ruang tamu.
Mia mengedarkan pandangan pada setiap sudut ruangan yang cukup luas itu. Akan tetapi, di sana terlihat sangat berantakan. Banyak makanan anjing dan kucing yang berserakan di lantai. Coco bahkan menginjak wadah minum kucing sampai sepatunya basah. Pria berambut ikal itu meringis lucu dan melirik Mia. Sedangakan Mia hanya menggeleng pelan saat menanggapi sikap calon adik iparnya. Dia lalu memegang lengan Adriano. “Apa kau ingin duduk? Biar kubantu,” bisiknya.
“Tidak, Sayang,” Adriano menggeleng pelan. Senyuman yang begitu lembut, dia tujukan pada Mia. “Russell sepertinya ingin mengatakan sesuatu,” Adriano menunjuk pemuda baik hati itu dengan mengangkat dagunya.
Russell berdiri kaku di ambang pintu besar yang menghubungkan ruang tamu dengan ruang tengah. “Ah, iya. Aku hendak menawarkan sarapan pada kalian, tapi sepertinya sekarang sudah mulai siang. Jadi, aku ingin menyuguhkan minuman saja,” ujarnya. “Adriano, kau makanlah dulu. Bubur akan terasa tak enak bila dingin,” perhatian Russell kembali berpindah kepada pria bermata biru itu. Dia menyodorkan nampan yang terus dibawanya sejak tadi.
“Biar kusuapi,” Mia segera meraih nampan tersebut dan membawanya ke dekat sang suami. “Duduklah,” titahnya lembut. Sedangkan Russell memutuskan untuk masuk ke ruangan lain pondok tersebut.
Adriano menurut. Dia lalu duduk di sofa, diikuti oleh Miabella dan juga Coco. Posisi ketiganya saat itu berjejer dengan Miabella yang berada di tengah-tengah. “Aku bisa makan sendiri, Mia,” ucap Adriano malu-malu ketika Mia mulai menyendokkan bubur. Rasa hatinya tak nyaman karena saat itu Coco serta Miabella terus memperhatikan dirinya. Adriano memang tidak terbiasa mempertontonkan kemesraan dengan wanita manapun, termasuk Mia meski dia telah menjadi istrinya.
“Tidak apa-apa, Daddy Zio. Ibu juga selalu menyuapiku,” celoteh Miabella.
“Astaga,” Mia menggeleng pelan menanggapi tingkah konyol Coco dan sikap menggemaskan Miabella. “Jangan hiraukan mereka, Sayang,” Mia mengarahkan suapannya, membuat Adriano mau tak mau membuka mulut lebar-lebar. Dia terus memaksa pria itu untuk makan, hingga sepiring bubur itu pun akhirnya habis tak tersisa. Tanpa disuruh, Miabella segera mengambilkan segelas air dan menyodorkannya tepat di depan mulut Adriano. “Minumlah, Daddy Zio,” suruhnya.
Hati Adriano begitu tersentuh mendapatkan perhatian sebesar itu dari Miabella. Diusapnya lagi puncak kepala gadis kecil yang terlihat begitu cantik bak boneka. Mata abu-abunya yang amat mirip dengan Matteo, memandang Adriano penuh kasih sayang. “Terima kasih, malaikat kecil,” bibir tipis pria itu mengecup kening Miabella begitu dalam. "Kau adalah gadis manis kesayanganku," ucapnya lagi seraya mengelus lembut pipi putri sambungnya.
Seketika Coco terdiam. Rasa hangat sekaligus pilu bercampur menjadi satu. Jauh di lubuk hatinya, dia berharap agar Matteo lah yang mencium kening Miabella. Matteo yang seharusnya merawat dan menjaga putri satu-satunya itu hingga dia dewasa. Namun, apa mau dikata. Takdir sudah menentukan jalannya sendiri.
“Hei, apa kalian suka jus? Aku membuat banyak jus jeruk di belakang. Aku memetiknya langsung dari kebun,” suara Russell yang tiba-tiba muncul, telah berhasil membuyarkan lamunan Coco.
“Aku suka,” sahut Miabella pelan sembari menarik celana Adriano.
__ADS_1
“Kau suka? Ikutlah dengan paman Russell. Ayo, kutemani,” Mia mengulurkan tangannya dan segera disambut oleh Miabella. Gadis itu berdiri dan melangkah riang mengikuti Russell. Mia sempat menoleh dan tersenyum pada Adriano sebelum tubuh ramping itu menghilang ke bagian belakang rumah bersama pemuda tersebut.
Kini hanya ada Adriano berdua dengan Coco. Suasana canggung sempat terasa. Terlebih saat Coco melayangkan tatapan yang sedikit aneh pada Adriano. “Ada apa?” tanya pria itu keheranan.
“Tidak. Tidak ada,” Coco menggeleng sambil tertawa lirih. Adriano lalu mengangguk dan kembali terdiam. Hening menyerang untuk beberapa saat lamanya.
“Mia … dia terlihat sangat perhatian padamu. Dia ….” Coco tak melanjutkan kata-katanya. Dia malah merogoh ponsel dari balik saku jaket dan mengusap layarnya. “Berkat alat pelacak yang kau pasang, aku dan anak buah detektif Ranieri telah berhasil melumpuhkan Thomas Bolton,” terang Coco sambil menunduk.
“Apa kau juga berhasil mengungkap jaringan pria itu?” tanya Adriano.
“Tidak. Aku tak menemukan petunjuk apapun,” jawab Coco, masih dengan posisi tubuh yang sama.
“Jadi, apakah Don Vargas juga ikut terlibat, mengingat pria itu yang bekerja sama dengan Thomas Bolton?” tanya Adriano lagi.
“Oh, tidak. Tidak,” sahut Coco cepat. “Kolegamu itu tidak mengetahui apapun. Aku sudah bertemu dengan Timothy Dixon yang asli. Pria itu menceritakan semuanya padaku. Nanti, jika kau sudah pulih benar, akan kuajak bertemu dengannya,” sambung Coco. "Kediaman pria itu tak seberapa jauh dari rumah sewaan yang kita tempati," terang Coco.
“Lalu, apa hubungannya Timothy dengan John Dixon? Nama belakang mereka sama. Kupikir hal itu bukan merupakan suatu kebetulan," pikir Adriano.
Coco tersenyum. Dalam hati dia memuji insting pria itu. “Kau benar. Mereka memang kakak beradik. Akan tetapi, sang adiklah yang sepertinya bermasalah,” tuturnya.
“Bermasalah? Maksudmu?” ulang Adriano seraya menautkan alisnya.
“Sudahlah. Untuk saat ini, sebaiknya kau sembuhkan dulu luka-lukamu. Baru setelah itu kita kembali bergerak dan menginterogasi Timothy dengan lebih detail tentang adiknya. Nikmati dulu pelayanan Mia,” Coco menepuk pundak Adriano sedikit keras, membuat pria bermata biru itu meringis.
“Kau sengaja, ya!” protes Adriano seraya mengusap lengan yang terbalut perban.
Coco menjawabnya dengan senyuman. “Berbahagialah karena Mia sudah menganggapmu sebagai pria terpenting dalam hidupnya. Sepertinya kau berhasil menggantikan Matteo,” selesai berkata demikian, Coco beranjak keluar menuju teras. Dia meninggalkan Adriano yang hanya termangu saat mendengar ucapan pria berambut ikal tersebut.
__ADS_1
Perasaan Coco masih terasa aneh. Ditatapnya danau luas berair jernih yang terhampar luas. Bentangan alam yang indah dengan pohon pinus di sekeliling tempat tersebut, menjadi sebuah daya tarik tersendiri bagi siapa pun yang melihatnya. Andai Coco datang ke sana bersama Francesca, mungkin keindahan itu akan terasa semakin lengkap. Namun, yang menemaninya kini hanyalah sebatang rokok.
Sementara itu, Miabella berlari ke arah Adriano. "Aku ingin menginap di sini," rengeknya manja.