Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Mr. Chef


__ADS_3

Perbincangan antara Carlo dan Romeo, harus terhenti ketika pintu kamar Miabella terbuka. Dari baliknya, gadis itu muncul dengan raut wajah yang dipenuhi rasa jengkel. "Kenapa kalian berisik di depan kamarku!" bentak gadis cantik tersebut dengan nada bicara yang teramat kesal.


Carlo dan Romeo tak segera menjawab. Mereka saling pandang untuk sesaat, sebelum kembali mengarahkan pandangan kepada Miabella yang berdiri di ambang pintu sambil berkacak pinggang.


"Apa kau kurang tidur, Bella?" tanya Romeo. "Matamu merah," ucap pemuda itu lagi.


"Merah atau tidak itu bukan urusanmu! Sekarang menyingkirlah dari depan kamarku!" sentak Miabella lagi sambil membanting pintu, membuat kedua pria lintas usia itu tersentak kaget.


"Kenapa dia?" pikir Romeo. "Aku sama sekali tidak tahu, pria seperti apa yang akan tahan dengan gadis seperti itu. Astaga, keras kepala dan juga galak." Romeo mendengus kesal. Dia pun berlalu begitu saja, tanpa bicara apapun lagi kepada Carlo.


Sementara Carlo sendiri masih berada di depan kamar Miabella. Dia juga tak begitu memahami apa yang sang nona inginkan kali ini. Sebelum memutuskan untuk beranjak dari sana, Carlo kembali mendekat pada pintu. "Nona, aku ada di kamar jika kau butuh sesuatu. Kau bisa menelepon atau mengirim pesan jika malas untuk keluar," seru pria itu dengan cukup nyaring. Barulah Carlo beranjak pergi. Dia berjalan dengan tenang menuju kamar yang ditempatinya.


"Hei, Carlo. Kupikir kau belum kembali. Di mana Miabella?" tanya Francesca yang tengah sibuk menata meja makan.


"Nona ada di kamarnya, Nyonya," jawab Carlo sopan. "Di mana tuan Ricci?" Carlo balik bertanya.


"Suamiku mendadak harus kembali ke Roma. Lagi pula, ketiga anakku juga hanya bersama pelayan di sana," jelas adik bungsu Mia tersebut.


"Apa Nyonya akan tinggal lama di sini?" tanya Carlo lagi seraya mendekat ke arah meja makan. Dia berdiri sambil memegangi sandaran salah satu kursinya.


"Tidak. Aku hanya membereskan sisa barang-barang kami yang belum sempat dibawa," jawab Francesca. Dia lalu terdiam sejenak seraya menatap kepada Carlo. "Bangunan megah ini akan menjadi semakin sepi, meskipun pada akhirnya kembali pada tangan ahli waris yang sesungguhnya. Kuharap kau bisa selalu menjaga serta menemani Miabella di sini. Kasihan, karena gadis itu pasti akan merasa sangat kesepian." Francesca tersenyum getir seraya menggeleng pelan.


"Ini sama seperti cerita puluhan tahun yang lalu, ketika ibu kami tiada. Setelah itu, menyusul ayah juga pergi untuk selamanya. Aku, Mia, dan juga Daniella meninggalkan tempat tinggal yang telah kami huni selama bertahun-tahun di Venice. Kami ingin melupakan sejenak kesedihan atas kehilangan orang-orang tercinta." Francesca kembali pada pekerjaannya.


"Anda tidak perlu khawatir, Nyonya. Aku tidak akan membiarkan nona Miabella merasa kesepian, mekipun tak ada siapa pun di sini. Lagi pula, nona sudah bertekad untuk memfokuskan diri pada perkebunan." Carlo tersenyum kalem, sebelum dirinya berpamitan ke kamar. Dia ingin menenangkan diri, sampai waktu makan malam tiba. Namun, pada kenyataannya di meja makan saat itu hanya ada tiga orang saja. Miabella tak ikut bergabung untuk makan bersama.


Malam telah larut. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas lebih, ketika Miabella keluar dari kamar. Rupanya, gadis itu tertidur karena terlalu kenyang setelah menghabiskan beberapa cup gelato. Namun, kini dia merasa lapar.

__ADS_1


Gadis yang terbiasa menggerai rambut panjangnya itu kemudian berjalan dengan tenang menyusuri koridor. Suasana di dalam bangunan Casa de Luca pun sudah sangat sepi. Lampu-lampu utama bahkan telah dimatikan, dan hanya menyisakan lampu tempel dengan warna kuning temaram.


Dalam keremangan itulah, Miabella melangkah ke dekat bukaan ruang tamu. Dia berdiri di sana untuk beberapa saat. Sorot mata abu-abunya menerawang jauh, menembus kegelapan malam yang begitu pekat, sehingga mengaburkan segala pikiran yang tadinya terus berputar di dalam kepala gadis itu.


Usianya kini telah dua puluh dua tahun. Tanggung jawab sebagai penerus dari perkebunan anggur dengan merk dagang yang kini sudah tersebar ke sebagian besar negara di Eropa, berada dalam genggamannya. Sudah tiba waktu bagi gadis cantik tersebut untuk mulai berbenah diri.


Miabella kemudian mengalihkan pandangan pada pigura besar yang menghiasi paras tampan sang ayah. Gadis itu pun beranjak ke sana, lalu berdiri dan menatap dengan lekat. "Ayah," desahnya pelan. "Begitu banyak orang yang mengenal dirimu dengan baik, sehingga mereka dapat mengenang serta mengabadikan segala momen yang tak terlupakan. Namun, kenapa kau pergi sebelum aku dapat menyimpan sebuah kenangan dalam memoriku?"


Setitik air mata menetes di sudut bibir Miabella. Beberapa saat gadis cantik dengan singlet putih tersebut berdiri di hadapan foto mendiang Matteo de Luca. Namun, tak lama kemudian Miabella segera menyekanya. Sayup-sayup dia mendengar suara seorang pria yang tengah berbicara. Miabella sangat mengenal suara itu. "Carlo?" gumamnya pelan.


Miabella berjalan tanpa menimbulkan suara. Dia lalu berdiri di bukaan nomor dua, yang posisinya langsung menuju ke halaman depan. Samar, Miabella melihat sosok sang pengawal pribadi tengah berdiri di dekat tembok pembatas setinggi perut orang dewasa, dan menghadap langsung ke perkebunan. Carlo tampak sedang berbincang dengan seseorang di telepon.


"Aku sudah bertemu dengan Cedro kemarin-kemarin. Jika kau mau, atur saja rencana pertemuannya," ucap Carlo entah pada siapa. Sementara Miabella masih berdiri memperhatikan dari jarak yang tidak terlalu jauh. Sesekali, pria tampan dengan postur yang lebih tinggi dari Adriano itu tertawa pelan sambil mengusap-usap tengkuk kepalanya. Hal itu membuat Miabella semakin penasaran. Dia lalu berjalan agak maju. "Ayolah, Delana. Jangan begitu," ujar Carlo dengan nada bicara yang terdengar begitu hangat.


Mendengar nama Delana, Miabella pun bergegas pergi dari sana. Dia kembali masuk. Bukan hanya lapar yang membuat suasana hatinya kacau kali ini. Dengan wajah merengut, putri sulung Mia tersebut berjalan menuju dapur.


Masih dengan langkah yang sangat hati-hati, Carlo menuju ke sana. Tak sulit baginya untuk melihat seisi ruangan itu, karena lampu di dalam dapur telah menyala. Carlo berdiri di ambang pintu sambil menyandarkan lengan kirinya. Dia asyik memperhatikan seseorang yang tengah sibuk mencari sesuatu di dalam kitchen set bagian atas.


"Sedang apa, Nona?" tanya Carlo yang merasa penasaran. Sejak tadi, dia hanya memperhatikan tanpa berbuat apapun.


Miabella yang terkejut segera menoleh. Akan tetapi, dia sama sekali tak menjawab. Gadis itu mengambil pisang dari dalam keranjang buah, lalu berjalan ke arah Carlo yang berada di ambang pintu. "Minggir!" suruhnya ketus.


Namun, Carlo tak mengindahkan ucapan Miabella. Pria itu bergeming. Miabella pun bergeser pada bagian yang kosong. Akan tetapi, dengan segera Carlo pun ikut menggeser tubuh tegapnya sehingga celah kosong tadi menjadi tertutupi.


"Apa maumu?" tanya Miabella dengan tatapan yang terlihat sangat tajam kepada pria di hadapannya.


"Kenapa kau tidak ikut makan malam?" Carlo balik bertanya.

__ADS_1


"Aku baru bangun," sahut Miabella ketus seraya membuang muka.


"Lalu, apa yang kau lakukan di sini pada jam seperti ini?" selidik Carlo, meskipun sebenarnya dia sudah dapat menebak.


"Aku lapar, jadi aku mencari makanan. Namun, sayangnya tak ada yang tersisa sama sekali," jawab Miabella dengan senyum sinis yang teramat dibuat-buat.


"Oh, dan kau memilih pisang," ucap Carlo sambil manggut-manggut.


"Memangnya kenapa? Apa masalahmu?" protes Miabella.


"Ayolah, Nona. Bukankah sejak dulu pisang merupakan musuh terbesarmu," jawab Carlo dengan tenang. Dia bersikap seperti seorang guru Taman Kanak-kanak yang sedang menghadapi sikap manja murid-muridnya.


Mendengar jawaban dari Carlo, Miabella sontak tertawa. Namun, tetap saja terlihat bahwa itu merupakan tawa yang dipaksakan. Tanpa berkata apa-apa, Miabella mengangkat pisang tadi tepat ke hadapan wajah Carlo. Gadis itu kemudian melepas kulitnya menjadi empat bagian. Tanpa rasa takut, Miabella melahap pisang itu dengan gigitan yang cukup besar. Dia lalu tersenyum puas sambil terus menyimpan pisang tadi di dalam mulut.


Sementara Carlo melipat kedua tangan di dada sambil menyandarkan lengan. Dia terus memperhatikan Miabella dengan tenang. Pria itu mulai senyum-senyum, saat melihat perubahan raut wajah Miabella yang memerah karena rasa tidak nyaman. "Tiga, dua, ...." Belum sempat dia menyelesaikan hitungan mundur, Miabella sudah berlari ke arah bak cuci piring. Gadis itu memuntahkan semua isi perutnya di sana. Tak hanya pisang, tapi juga semua makanan yang tadi sempat dia konsumsi.


Dengan langkah yang sangat tenang, Carlo berjalan menghampiri Miabella. Dia lalu memijit lembut leher belakang gadis itu, hingga Miabella akhirnya berhenti muntah-muntah. "Kau masih saja keras kepala," ujarnya. "Ayo duduklah. Akan kubuatkan kau sesuatu." Carlo kemudian memapah putri sulung Mia tersebut, lalu mendudukkannya pada kursi kayu di dekat kitchen counter.


"Kau mau apa?" tanya Miabella sebelum Carlo beranjak ke dekat meja kompor.


"Akan kubuatkan makanan. Kau tahu sendiri bahwa aku adalah koki yang sangat andal," ucap Carlo sambil tersenyum kalem. Dia lalu mengambil beberapa bahan dari dalam kulkas dan mulai mengolahnya. Sementara Miabella hanya duduk memperhatikan.


Bayangan gadis cantik itu kembali pada masa-masa ketika dia masih menjalani masa perkuliahan di Inggris. Carlo kerap memasakan sesuatu untuknya. Sedangkan dia hanya duduk manis sambil menunggu hidangan siap di atas meja. Miabella tak pernah menyangka bahwa hal seperti itu akan terulang kembali. Dia pun menyunggingkan senyuman dengan tanpa disadari.


Beberapa saat berlalu, seporsi caponata telah tersaji di hadapan Miabella. "Makanlah," suruh Carlo. Dia lalu membalikkan badan hendak berlalu.


"Kau mau ke mana?" cegah Miabella seraya memegangi pergelangan Carlo.

__ADS_1


__ADS_2