Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Ilario's Presence


__ADS_3

"Mafia?" ulang Juan Pablo seraya mengernyitkan kening.


"Ah, sudahlah. Itu hanya sekadar perkiraan," sela Emiliano. Dia merasa tak nyaman karena harus membahas masalah seperti itu, dengan seseorang yang belum dikenalnya. "Claudia, apa makan malam sudah siap?" Ayah dari Gianna tersebut mengalihkan topik pembicaraan.


"Aku tidak memasak banyak makanan hari ini. Siapa yang tahu bahwa Gianna akan datang membawa kekasihnya," jawab Claudia dengan nada bicaranya yang selalu terdengar sinis dan ketus. Hal itu membuat Gianna merasa tidak nyaman dan tentu saja tak enak terhadap Juan Pablo. Gadis itu terdengar mengeluh pelan dengan wajah tertunduk.


Juan Pablo dapat memahami makna dari bahasa tubuh sang kekasih. Dia kembali meraih jemari lentik gadis itu. "Tidak usah repot-repot. Aku menginap di hotel tidak jauh dari sini," ucapnya. Dia lalu berdiri dan bermaksud hendak berpamitan. Melihat Juan Pablo beranjak dari duduknya, Emiliano pun segera mengikuti. "Senang bisa bertemu dengan Anda berdua, tapi aku tidak bisa berlama-lama di sini," pamitnya. Dia lalu menyalami Emiliano serta Claudia.


"Maaf untuk penyambutan yang kurang nyaman ini, Nak," ucap Emiliano penuh sesal.


"Tidak apa-apa, Tuan Moriarty. Lagi pula, niatku adalah ingin bertemu langsung dengan orang tua Bice," balas Juan Pablo seraya melirik Gianna yang segera menoleh ke arahnya. Gadis itu memaksakan diri untuk tersenyum.


"Aku ikut denganmu," ucap Gianna pelan.


"Tentu," sahut Juan Pablo.


"Kau tidak akan menginap di sini, Gia?" tanya Emiliano dengan raut kecewa.


"Tidak, Ayah. Besok aku akan mampir lagi kemari sebelum kembali ke Roma," jawab Gianna.


"Oh, ya tentu. Berapa anak haram itu menggajimu per bulannya?" tanya Claudia.


"Claudia sudahlah!" tegur Emiliano dengan cukup tegas. "Kenapa kau tidak bisa ...." Emiliano tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Rasa tak enak itu semakin menjadi dan terus bertambah besar. Dia lalu mengalihkan perhatian kepada Juan Pablo yang tak banyak bicara. "Sekali lagi maaf untuk ketidaknyamanan ini, Nak," sesalnya.


"Tidak apa-apa, Tuan. Anda tidak perlu khawatir," jawab Juan Pablo tenang dan datar. "Ayo, Bice," ajaknya. Pria berambut gelap tadi segera menuntun Gianna menuju pintu keluar dengan diantar oleh Emiliano. Sementara Claudia yang masih menyimpan kekesalan terhadap Gianna karena dulu lebih memilih pergi dengan Adriano, kembali duduk dan tak peduli sama sekali.


"Kami permisi dulu, Tuan Moriarty. Jangan khawatir. Putri Anda akan baik-baik saja selama bersamaku," pamit Juan Pablo sebelum keluar dari rumah itu.


"Aku pergi dulu, Padre. Jaga diri dan juga kesehatanmu," pesan Gianna seraya memeluk sang ayah.


"Kau juga, Nak. Jaga dirimu baik-baik," balas Emiliano. "Kudengar Adriano ada di Casa de Luca? Sudah beberapa hari ini aku tidak ke sana, karena kondisi badan yang sedang kurang fit," tutur pria paruh baya tersebut.


"Aku juga belum bertemu lagi dengannya, setelah kemarin di Monaco. Akan kuminta dia agar menengokmu kemari," balas Gianna seraya tersenyum lembut. "Jaga selalu kesehatanmu, Padre," pesan gadis itu kembali memeluk sang ayah. Sementara Juan Pablo hanya berdiri terpaku menyaksikan adegan tersebut.


Sesaat kemudian, Gianna dan Juan Pablo akhirnya benar-benar pergi. Sedangkan Emiliano masih berdiri di ambang pintu, hingga mobil sedan hitam yang dikendarai Juan Pablo tak tampak lagi dari pandangannya, barulah pria itu masuk. Dia kembali menghampiri Claudia yang masih terduduk di sofa sambil menopang kepala serta memijit kening. "Haruskah kau bersikap seperti itu, Claudia?" tegur Emiliano yang tak suka dengan sikap sang istri.

__ADS_1


"Kau memusuhi anak gadismu sendiri," ucapnya lagi.


"Segala yang berkaitan dengan anak harammu akan menjadi musuhku," jawab Claudia dengan ketus.


"Astaga. Kau sudah cukup melampiaskan segala kemarahan, dengan semua yang telah dirimu lakukan terhadap Adriano dulu. Apakah semua itu masih kurang?" Emiliano tampak sangat menyesalkan tindakan Claudia.


"Aku tak akan pernah merasa puas, Emiliano! Kau ... kau tidak tahu seperti apa sakitnya perasaan ini. Selalu terbayang dalam ingatanku saat dirimu dan pelacur sialan bernama Domenica itu ... kalian bercinta ...." geram Claudia menahan kemarahannya.


"Astaga. Kau sudah menghukumku dengan mengusir Adriano dari sini. Apa lagi yang kau inginkan? Gianna pun bahkan seperti tak nyaman lagi berada di rumahnya sendiri."


"Aku tidak peduli! Gadis itu sudah memilih jalan hidupnya! Aku tak akan pernah mau tahu lagi terhadap segala hal yang berhubungan dengan dia. Terserah apa yang akan dirinya lakukan. Dia sudah menggantungkan hidup pada anak harammu yang sangat kubenci!" sentak Claudia dengan kasar.


Emiliano yang sedang sakit, pada akhirnya lebih memilih untuk tak menanggapi segala kekesalan sang istri. Hingga saat ini, dirinya tak juga dapat mendamaikan hati Claudia yang dipenuhi kebencian atas segala kesalahan yang telah dia lakukan di masa lalu. Emiliano pun belum bisa meraih kembali rasa simpatik dari Adriano.


Sementara itu, Juan Pablo dan Gianna telah berada di sebuah kamar hotel yang sudah pria itu pesan sebelumnya. Gianna masih tak banyak bicara. Perasaannya tak karuan setelah melihat sikap Claudia.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Juan Pablo yang saat itu berdiri di hadapan Gianna. Dia menangkup paras cantik gadis pujaannya.


"Maafkan sikap ibuku, Juan. Dia sangat jauh berbeda dengan ibumu yang lemah lembut," sesal Gianna. Gadis itu begitu malu terhadap Juan Pablo.


Gianna tak segera menjawab. Dia memilih untuk berlalu dari hadapan Juan Pablo. Gadis itu lalu duduk di sofa. Juan Pablo segera mengikutinya. Dia duduk di dekat Gianna. "Aku tidak tahu tentang itu. Semuanya berawal dari keadaan ekonomi keluarga kami yang kacau," terang Gianna pelan.


"Kenapa?" tanya Juan Pablo lagi.


"Perusahaan milik ayahku gulung tikar dan meninggalkan banyak sekali utang yang harus dilunasi. Itu adalah saat-saat tersulit dalam kehidupan kami. Sejak saat itu, Ilario kerap pergi dari rumah. Pada akhirnya, suatu hari ada beberapa orang tak dikenal yang menculik ayahku. Aku pun meminta bantuan kepada Adriano. Dia berhasil menemukan ayah yang berada dalam sekapan sebuah geng," tutur Gianna menceritakan kronologis penculikan terhadap Emiliano dulu.


"Geng apa?" Juan Pablo kembali bertanya. Dia terlihat begitu penasaran.


"Aku tidak tahu apa nama geng itu, tapi Adriano mengenal salah satu dari anggotanya. Mereka bermarkas di dekat pelabuhan Genova," terang Gianna lagi.


"Apa? Pelabuhan Genova?" ulang Juan Pablo. Dia mengempaskan napas panjang, kemudian membalikkan badan yang tadinya menghadap kepada Gianna. Juan Pablo saat itu duduk menghadap ke depan dengan posisi setengah membungkuk. Dia tampak merekatkan kedua telapak tangan, lalu menggosok-gosokkannya perlahan.


"Kenapa mereka menculik ayahmu?" tanya Juan Pablo lagi.


"Adriano menemukan bungkusan heroin di dalam kamar Ilario. Entahlah, aku juga tidak terlalu memahami permasalahannya. Satu yang pasti mereka mencari Ilario. Akan tetapi, karena Ilario tidak ada maka mereka membawa ayah untuk memancingnya agar datang," jelas Gianna lagi.

__ADS_1


"Begitu rupanya," gumam Juan Pablo. Pria asal Meksiko itu kemudian menegakkan badan dan kembali menghadap kepada Gianna. "Kau pasti lelah. Sebaiknya dirimu segera istirahat. Besok kita akan kembali ke Roma," ucapnya lagi. Dia lalu berdiri dan mengajak Gianna menuju ke tempat tidur.


Juan Pablo menata bantal dan mempersilakan gadis itu untuk merebahkan diri di atas kasur.


Gianna tersenyum atas sikap manis Juan Pablo terhadapnya. "Apa kau juga akan tidur sekarang, Juan?" tanyanya.


"Tentu," jawab Juan Pablo. Dia melepas t-shirt panjang yang dikenakannya. Pria itu kembali memamerkan tubuh atletis dengan beberapa tato. Juan Pablo lalu berdiri di hadapan Gianna. Dia membantu sang kekasih melepas cardigan rajut yang gadis itu kenakan. Setelahnya, pria bermata cokelat madu tadi melepas t-shirt pendek Gianna, dan hanya menyisakan bra berwarna hitam yang menutupi dada gadis tersebut.


Keduanya saling melempar senyuman, sebelum berciuman dengan mesra. Pada akhirnya, Juan Pablo merebahkan tubuh indah Gianna di atas kasur. Sebuah ritual sebelum tidur pun berlangsung, hingga Gianna benar-benar kelelahan dan tertidur pulas.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, ketika Juan Pablo turun dari tempat tidur. Dia mengenakan seluruh pakaian lengkap, sekaligus mantel trench coat hitam sebatas lutut. Pria latin itu lalu meraih kunci mobilnya. Sebelum keluar dari kamar, Juan Pablo sempat mengecup kening Gianna yang sudah terlelap. Pria itu juga membetulkan letak selimut yang menutupi tubuh polos sang kekasih.


Dengan hati-hati, Juan Pablo melangkah keluar kamar. Dia menuju tempat parkir. Setelah itu, pria tadi lalu mengemudikan kendaraannya keluar dari area hotel. Tujuannya tiada lain adalah pelabuhan. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sehingga tak membutuhkan waktu yang lama bagi dirinya untuk tiba di tempat tujuan.


Setelah memarkirkan sedan hitamnya, Juan Pablo lalu keluar dan berjalan sebentar. Dia menghentikan langkah tegapnya di depan sebuah bangunan bertuliskan La Angela dell'acqua. "Stefano!" panggil Juan Pablo dengan cukup nyaring. Suaranya terdengar sangat jelas dalam suasana sepi di sekitar tempat tersebut.


Tak membutuhkan waktu lama, seseorang membuka pintu bangunan tadi. Dia begitu terkejut saat melihat keberadaan Juan Pablo di sana. "Bos," sapanya dengan sopan dan penuh hormat. "Stefano, Bos Besar datang!" serunya.


"Di mana Stefano?" tanya Juan Pablo seraya berjalan masuk.


"Bos," sapa pria yang dicari oleh Juan Pablo itu segera menghadap. "Kenapa Anda datang malam-malam begini dan terkesan mendadak?" tanya Stefano heran.


Juan Pablo menatap pria itu dengan tajam dan dingin. "Ada masalah apa antara kalian dengan Ilario Moriarty?" tanyanya tanpa berbasa-basi.


"Ilario?" ulang Stefano. "Dari mana Anda tahu itu?" Dia malah balik bertanya.


"Jawab saja yang tadi kutanyakan!" Nada bicara Juan Pablo terdengar sangat tegas dan penuh penekanan.


Stefano terdiam sejenak. Sesaat kemudian, dia pun kembali berkata, "Ilario telah berbuat curang," jawabnya.


"Jelaskan!" titah Juan Pablo.


"Dia mengambil barang dari kami dan mengatakan akan menjualkannya. Namun, setelah kami selidiki ternyata barang itu dijual sendiri. Sementara uang hasil penjualannya entah ke mana. Kami tak menerima sepeser pun," jelas Setefano.


"Lalu, ke mana Ilario? Keluarganya mengatakan jika dia telah lama menghilang," selidik Juan Pablo dengan tatapan tajam kepada Stefano, membuat pria itu tampak gentar.

__ADS_1


"Ilario?" Stefano terdiam sejenak. "Kami sudah menghabisi bajingan itu," jawabnya.


__ADS_2