Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Confession


__ADS_3

Gianna sudah siap dengan tas jinjing berisi beberapa pakaian ganti serta barang-barang pribadinya. Sesuai rencana, dia akan menemani Juan Pablo berangkat ke Inggris hari itu. Seperti biasa, Gianna masih selalu tampil chic dengan gaya casualnya. Walaupun tampak sederhana dan juga sangat simpel, tapi itulah yang terlihat menarik bagi Juan Pablo. Gianna tampak sangat berbeda bagi pria tiga puluh lima tahun tersebut.


"Kita berangkat sekarang?" tanya pria bermata cokelat madu itu seraya menghampiri gadisnya. Dia telah menunggu sejak tadi di ruang tamu apartemen.


"Iya," sahut Gianna dengan lesu. Gadis itu seperti tanpa semangat sama sekali. Dia hanya berdiri mematung, bahkan ketika Juan Pablo menciumnya dengan mesra.


"Apa kau yakin baik-baik saja, Bice?" Pertanyaan yang sama seperti kemarin, kembali meluncur dari bibir pria asal Amerika Latin itu. Meski tak diungkapkan secara terang-terangan, tapi raut wajah Juan Pablo menyiratkan rasa khawatir yang besar atas diri kekasihnya. Sementara Gianna tidak menjawab. Gadis itu hanya menanggapi dengan sebuah anggukan.


"Kau terlihat ...." Juan Pablo tak melanjutkan kata-katanya. Dia memperhatikan Gianna yang tampak lain. Kulit wajahnya yang putih seperti bertambah pucat. Juan Pablo mencium gadis itu sekali lagi, sebelum keluar meninggalkan ruang apartemen.


Juan Pablo melangkah dengan gagah menuju lantai bawah. Tangan kirinya menjinjing tas berisi perlengkapan milik Gianna, sedangkan tangan kanan menuntun gadis yang berada sedikit di belakangnya. Gadis cantik berkulit putih itu masih saja terlihat lesu.


"Kita sarapan di bandara saja," ucap pria asal Meksiko itu tanpa melepas genggaman tangannya, hingga mereka keluar dari lift dan menuju tempat parkir.


"Iya," sahut Gianna pelan. Entah bagaimana awalnya, karena tiba-tiba gadis itu merasakan kepalanya mulai pusing dengan pandangan berkunang-kunang. Gianna tertegun sejenak, sebelum akhirnya ambruk di atas lantai berlapis paving block.


Apa yang terjadi, tentu saja membuat Juan Pablo terkejut bukan main. Dia segera merengkuh tubuh sang kekasih dan membopongnya ke dalam mobil. Pria itu membaringkan Gianna di jok belakang. Dia bahkan meletakkan kepala gadis muda itu di atas pangkuannya. "Ke rumah sakit terdekat. Cepat!" Titah Juan Pablo setengah membentak kepada pria yang berada di balik kemudi. Pria itu merupakan salah satu anak buah yang sengaja dia panggil dari Artiglio Di Corvo. Juan Pablo merasa kesal karena si sopir hanya diam seakan menunggu perintah darinya.


Tanpa berlama-lama, sedan hitam itu segera melaju meninggalkan area parkir apartemen. Raut cemas tak bisa ditutup-tutupi lagi oleh sang Elang Rimba. Berkali-kali dia mengelus paras cantik kekasihnya yang masih dalam keadaan pingsan. Juan Pablo juga terus menggenggam jemari gadis itu dengan erat. Dia tak melepaskan pandangannya sedikit pun, hingga mereka tiba di rumah sakit terdekat.


Setelah mobil berhenti, si sopir segera membukakan pintu untuk bos besarnya. Juan Pablo pun bergegas keluar sambil membopong tubuh Gianna. Setibanya di dalam, beberapa petugas medis datang membantu. Juan Pablo lalu membaringkan gadis itu di atas brankar. Dia mengikuti para petugas medis tadi hingga tiba di depan ruang pemeriksaan.


"Maaf, Anda tunggu saja di luar," cegah salah satu dari petugas medis, saat Juan Pablo hendak ikut masuk bersama mereka.


"Kenapa aku tidak boleh masuk?" protes Juan Pablo dingin.


"Ini prosedurnya, Tuan. Biarkan kami melakukan tugas dengan baik. Mohon kerja samanya," jelas si petugas dengan sopan. Selesai berkata demikian, wanita itu masuk kemudian menutup pintu. Tak berselang lama, seorang pria paruh baya yang sepertinya merupakan seorang dokter, masuk ke ruang periksa. Sementara Juan Pablo menunggu sendiri di luar ruangan tadi.


Duduk dengan posisi setengah membungkuk, Juan Pablo berkali-kali menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya demi mengurangi rasa cemas dan gugup dalam hati. Pria tampan dengan tatapan tajam itu, terus berusaha menahan dirinya agar tetap terkendali. Bagaimanapun juga, dia tak bisa menutupi perasaan gelisah yang tak juga mereda, hingga dokter tadi keluar dari ruang pemeriksaan.

__ADS_1


Juan Pablo segera beranjak dari duduknya. Dia menghampiri sang dokter. "Bagaimana keadaannya?" tanya pria bermata cokelat madu itu dengan harap-harap cemas.


"Istri Anda tidak apa-apa. Dia hanya membutuhkan lebih banyak istirahat. Pemberian vitamin dan pola makan yang sehat juga akan sangat membantu untuk wanita yang tengah hamil muda," terang dokter itu singkat. "Silakan masuk. Istri Anda sudah siuman. Dia juga sudah boleh pulang. Permisi."


Sepeninggal dokter itu, Juan Pablo tertegun untuk beberapa saat. Namun, pada akhirnya dia kembali tersadar. Dilangkahkannya kaki memasuki ruang pemeriksaan. Di dalam sana, Juan Pablo mendapati Gianna yang sedang terduduk di atas ranjang periksa. Dia menatap kepada pria tersebut dengan sayu.


Perlahan, Juan Pablo mendekat kemudian berdiri di hadapan gadis yang ternyata tengah mengandung benihnya. Pria itu memandang si gadis untuk sejenak. "Bagaimana keadaanmu?" tanyanya sembari mengulurkan tangan, lalu menyentuh pipi Gianna. Juan Pablo membelainya dengan lembut.


"Juan, aku ...." Gianna tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena Juan Pablo lebih dulu mendekap dia dengan erat.


"Aku senang kau baik-baik saja, Bice," ucap pria itu pelan. Dia lalu mengecup kening Gianna. "Ayo kita pulang," ajaknya seraya membantu wanita muda tersebut untuk turun. Setelah melunasi segala biaya administrasi, Juan Pablo pun membawa Gianna pulang. "Ke villa," perintah pria Latin itu datar, setelah mereka berdua duduk di dalam kendaraan dengan nyaman.


"Apa kita tidak jadi ke bandara?" tanya Gianna. "Oh, astaga. Maafkan aku, Juan. Gara-gara diriku kau pasti jadi terlambat dan ketinggalan pesawat," sesal gadis itu. Dia tertunduk dan tak bicara lagi, terlebih karena Juan Pablo pun tak menanggapinya. Pria tampan berambut gelap tadi tengah larut dalam pikiran, yang tiba-tiba mengusik dan membuat dia merasa serba salah.


Hingga sedan hitam itu berhenti di depan villa milik Juan Pablo, pria tersebut masih belum banyak bicara. Namun, dia tetap memperlakukan Gianna dengan sangat baik. Juan Pablo bahkan bermaksud untuk menggendong gadis berambut pirang itu andai si gadis tak menolak. Akhirnya, dia hanya menuntun Gianna hingga berada di dalam kamar.


"Apa kau tidak jadi berangkat ke Inggris?" tanya Gianna merasa tak enak.


"Jangan pikirkan hal itu. Aku masih bisa mengaturnya dengan baik." Juan Pablo kemudian tersenyum kecil. Dia kembali membelai pipi Gianna dengan lembut. Tatap matanya intens tertuju pada seraut wajah cantik yang masih terlihat pucat. "Apa kau sudah mengetahui kondisimu saat ini?" tanyanya.


"Tidak. Aku baru tahu tadi setelah diperiksa. Aku ...." Gianna tertunduk.


"Kenapa kau tak respect dengan tubuhmu sendiri?" tegur Juan Pablo.


"Aku tidak tahu, Juan." Gianna membela diri. "Kau juga tidak memperkirakan hal ini?"


Juan Pablo mengempaskan napas pelan. Pria itu terdiam untuk sejenak. "Kita sudah sering bercinta. Sementara aku tak pernah memakai pengaman ...."


"Apa itu salahku?" sela Gianna.

__ADS_1


"Oh, Bice," keluh Juan Pablo pelan. "Entahlah, aku hanya tak ingin ada jarak denganmu," kilahnya. Dia lalu menangkup paras cantik Gianna, kemudian mengecup bibir kekasihnya dengan lembut. "Aku sangat mencintaimu," ungkap Juan Pablo dengan setengah berbisik. Hangat napasnya menerpa wajah adik tiri Adriano tersebut.


"Kalau begitu, perlihatkan padaku siapa kau sebenarnya? Siapa pria yang semalam menyerangmu dan apa maksud dari semua kata-kata yang dia ucapkan?" tantang Gianna, membuat Juan Pablo seketika tertegun. Perlahan kedua tangannya turun dari wajah sang kekasih. Ada keraguan besar dan tampak jelas dalam sorot mata yang biasa terlihat tajam serta dingin itu. "Kau tak ingin bercerita apapun padaku?" tanya Gianna lagi dengan nada yang terdengar kecewa.


"Aku tidak yakin kau bisa menerimanya, Bice," jawab Juan Pablo ragu.


"Kenapa? Seburuk apa dirimu, Juan?" tanya gadis itu lagi. Nada bicaranya terkesan mendesak putra dari Mattea tersebut untuk bersikap terbuka.


"Sangat buruk, Bice," sahut Juan Pablo. Dia lalu beranjak dari duduknya. "Sebaiknya kau beristirahat. Aku akan memanggil pelayan agar datang kemari supaya bisa melayanimu dengan baik," ucapnya mencari alasan. Juan Pablo pun membalikkan badan.


"Aku sedang mengandung benihmu sekarang. Apa kau masih takut untuk menunjukkan siapa kau yang sebenarnya?" desak Gianna, membuat Juan Pablo tertegun. Pria asal Meksiko itu menoleh.


"Kau tidak akan menyukainya, Bice," bantah Juan Pablo membuat Gianna harus menelan rasa kecewa. Terlebih, saat itu pria tersebut lebih memilih untuk keluar dari kamar.


Gianna terdiam. Perasaannya menjadi begitu sensitif. Setelah termenung cukup lama, gadis itu pun memutuskan untuk berbaring dengan posisi menyamping. Sementara Juan Pablo tak lagi masuk ke kamar, hingga beberapa saat lamanya. Setelah lebih dari satu jam, barulah terdengar suara pintu yang terbuka. Namun, Gianna tak menoleh. Dia memilih tidur, memejamkan mata dengan erat bahkan ketika dirasakannya ada seseorang yang duduk di belakang.


Sebuah belaian lembut Gianna rasakan di kepalanya. "Apa kau tidur, Bice?" tanya suara berat yang tak lain milik Juan Pablo. Akan tetapi, Gianna tak menjawab. "Selama ini, tak ada siapa pun yang dekat denganku selain ibu dan el tio. Namun, el tio tewas terbunuh oleh seseorang bernama Melker. Dia adalah sahabat dari Jacob, pria yang semalam berkelahi denganku," tuturnya sebelum terdiam sejenak.


"Jika kau bertanya ada masalah apa antara aku dan Adriano, maka kujawab tak ada. Sebelumnya, kami tak saling mengenal dan tidak pernah bersinggungan satu sama lain. Namun, akhir-akhir ini Adriano telah mengusik ketenanganku. Dia juga sepertinya bekerja sama dengan Jacob. Kenapa aku bisa mengatakan hal ini? Karena aku yakin bahwa Adriano yang telah menggiring el tio untuk pergi ke Serbia. Di sanalah pamanku dihabisi dengan sangat keji, Bice," tutur Juan Pablo lagi.


"Diriku juga bukan orang yang baik. Di usia yang baru menginjak tujuh belas tahun, aku sudah tergabung dalam sebuah organisasi pembunuh bayaran di Amerika yang bernama Killer X. Entah berapa banyak nyawa yang telah hilang di tanganku. Namun, dari sanalah aku bisa menjadi seseorang yang kau kenal saat ini. Juan Pablo Herrera, sang Elang Rimba."


"Satu lagi yang harus kau tahu. Aku adalah ketua dari Artiglio Di Corvo. Kelompok mafia yang telah menculik tuan Emiliano Moriarty dulu. Selain itu, mereka juga sudah menghabisi kakakmu Ilario. Namun, aku berani bersumpah itu semua bukanlah perintah dariku. Ada orang lain yang kutunjuk sebagai kepala dan bertugas menjalankan kelompok tersebut."


🍒 🍒 🍒


Hai, ceuceu datang lagi mempersembahkan satu novel keren untuk semua.


__ADS_1


__ADS_2