Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Penebar Ancaman


__ADS_3

Hari sudah beranjak gelap, ketika Gianna melangkah sendiri menyusuri jalanan menuju apartemennya. Kebetulan, Juan Pablo tak bisa mengantarkan dia pulang dengan alasan karena harus mengambil sesuatu dari villa miliknya. Dengan terpaksa, Gianna pun kembali ke apartemen seorang diri. Namun, saat gadis itu tengah berjalan, tiba-tiba ada seorang pria yang menyenggol lengannya dengan cukup keras.


"Oh. Mi dispiace, Signorina (Oh. Maafkan aku, Nona)," ucap pria tadi dengan bahasa Italianya yang terdengar cukup kaku. Tampak jelas jika pria itu bukan warga asli di sana.


"Tak masalah," jawab Gianna seraya tersenyum kecil. Dia bermaksud untuk melanjutkan langkah, sebelum si pria memanggilnya.


"Can you speak English well?" tanya pria bertubuh jangkung tadi.


"No. I can't," jawab Gianna dengan raut yang kurang nyaman. Sebisa mungkin dirinya menghindari pria asing yang terlihat mencurigakan itu.


"Oh, sayang sekali," gumam si pria lagi dalam Bahasa Inggris.


Akan tetapi, Gianna tak berniat untuk terus menanggapinya. Gadis itu lebih memilih untuk berlalu begitu saja. Tergesa-gesa, Gianna melangkahkan kaki. Dia pergi meninggalkan pria tadi. Namun, tak lama kemudian dirinya harus tertegun, setelah mendengar pria asing yang hendak dihindarinya kembali mengatakan sesuatu.


"Herrera." Gianna pun menoleh.


"Excuse me?" Gianna mengernyitkan keningnya karena tak mengerti.


"Juan Pablo Herrera," ucap pria itu lagi dengan seringai kecil di wajahnya, yang berhasil membuat Gianna memilih segera bergerak mundur. Gadis itu membalikkan badan, kemudian bermaksud untuk berlari. "Jangan lari!" cegah si pria. "Tenang saja, aku adalah pria sejati. Pantang bagiku untuk menyakiti seseorang yang bukan lawan seimbang, apalagi jika orang itu adalah perempuan," ucapnya.


“Apa maumu!” sentak Gianna.


Akan tetapi, Jacob tak menjawab. Dia malah meraih pergelangan Gianna dan memeriksa nadinya. “Luar biasa, sebentar lagi pewaris klan Herrera akan bangkit,” celetuk Jacob membuat Gianna terbelalak.


“A-apa maksudmu?” Gadis itu berusaha menarik pergelangan tangannya, sedangkan Jacob berusaha menahannya. “Lepaskan!” sentak Gianna dengan setengah panik.

__ADS_1


“Apa kau tahu siapa Juan Pablo Herrera yang sebenarnya, Nona Moriarty?” Jacob tetap mencengkeram tangan Gianna dengan sikap tenang.


“Aku akan menanyakan sendiri padanya nanti. Kau tak perlu repot-repot memberitahuku!” tolak Gianna tegas. “Sekarang lepaskan!” sentak gadis itu lagi.


“Kau dengar bukan apa kata kekasihku? Lepaskan tangannya,” desis seseorang dari belakang Jacob yang tak lain adalah Juan Pablo.


“Oh, yang kutunggu sudah datang juga rupanya.” Jacob berbalik seraya menyeringai lebar. “Apa kabar, Elang Rimba?” tanya pria itu sambil melirik Gianna yang tampak kebingungan.


“Jangan ganggu dia!” tegas Juan Pablo sambil melangkah gagah, lalu berdiri di depan Gianna. Satu tangan pria tersebut menggeser tubuh gadis itu ke belakang, agar Gianna berlindung di balik tubuh tegapnya.


“Aku setuju dengan apa yang kau lakukan. Kau harus menjaganya baik-baik. Oh, ya, apakah nona Moriarty tahu bahwa kau adalah salah satu pesaing bisnis hitam Adriano D’Angelo? Dalam senyap, organisasimu bergerak menghimpun kekuatan untuk menggulingkan kekuasaan klan de Luca dan seluruh organisasi pendukungnya,” celoteh Jacob sambil terus mengamati mimik muka Gianna yang terkejut. “Katakan padaku, Juanito. Kenapa kau begitu mendendam pada semua orang yang menyandang nama de Luca?” pancing Jacob lagi.


“Hentikan omong kosongmu!” hardik Juan Pablo. Satu telunjuknya lurus terarah ke hadapan Jacob.


“Kubilang hentikan!” sergah Juan Pablo. Dengan gerakan cepat, dia menarik pistol dari balik pinggang dan berusaha menembak Jacob. Akan tetapi, pentolan Killer X itu lebih dulu mengelak, sehingga peluru yang melesat dari moncong senjata hanya bisa melubangi tembok bangunan yang berada di sisi trotoar.


Jacob melawan serangan Juan Pablo dengan mengeluarkan belati kecilnya dan berusaha menggores tangan Juan Pablo yang tengah memegang senjata. Sementara Juan Pablo sendiri sudah dapat memperkirakan gerakan Jacob tersebut. Dia menepis belati tadi dengan menggunakan pistolnya. Harapan Juan Pablo saat itu adalah supaya belati tadi dapat terlepas dari genggaman. Namun, Jacob sama cerdiknya. Satu tangan pria tersebut bergerak bebas merebut pistol Juan Pablo. Sedangkan pria Meksiko itu juga berhasil mengambil alih belati milik Jacob.


Jacob tertawa lepas sambil mengarahkan moncong pistol tadi pada kening Juan Pablo. Dia tak peduli meskipun belati kesayangannya yang kini berada di tangan sang Elang Rimba, sudah menempel di urat lehernya. “Setelah kau berhasil menggulingkan Marco de Luca, apa kau juga akan membunuh Miabella de Luca, Juanito? Kau tahu bukan, dia adalah darah daging Matteo yang juga merupakan salah satu penerus klan,” tanya Jacob seraya memiringkan kepalanya. Sekilas dirinya memandang ke arah Gianna yang ketakutan.


“Hentikan ocehanmu sekarang juga atau belati ini akan menebas lehermu, sebelum kau melanjutkan kalimat berikutnya!” ancam Juan Pablo dengan nada datar dan dingin serta penuh penekanan.


“Sebelum itu terjadi, aku pasti sudah melubangi kepalamu.” Jacob terkekeh, lalu berhenti tertawa tiba-tiba, “tapi, tentu saja itu tidak akan kulakukan, karena aku membutuhkanmu untuk memberitahukan di mana flashdisk itu berada.”


“Benda sialan itu tidak ada padaku! Berapa kali harus kukatakan padamu!” sahut Juan pablo seraya bergerak cepat menggores leher Jacob, lalu bergerak miring menghindari tembakan musuhnya. Letusan pistol terdengar nyaring di jalanan yang lengang. Pelurunya mengenai salah satu dahan pohon yang tumbuh di pinggir jalan hingga patah.

__ADS_1


Dengan gesit pula, Juan Pablo menumbuk ulu hati Jacob menggunakan kepalanya sambil berusaha menyarangkan belati kecil itu ke perut lawan. Pria asal Swedia tadi mundur beberapa langkah untuk menghindar dan berusaha menembak Juan Pablo. Namun, kekasih Gianna tersebut lebih dulu menikam lengannya, sampai pistol milik Juan Pablo terlepas.


Senjata itu meluncur ke permukaan paving trotoar dan ditangkap oleh Juan Pablo yang telah merunduk. Setelah meraih pistol tersebut, dia mengarahkannya ke dada Jacob. Sedangkan Jacob berusaha menghalangi laju peluru agar tidak menembus jantung. Dia menghalangi dengan kaki kanan yang terangkat tepat di depan moncong. Peluru itu melesat dan menembus tulang tumit, lalu bergerak hingga ke tulang betis.


Jacob tersungkur, ketika merasakan nyeri yang teramat hebat merayap menembus kaki. Pandangan matanya berkunang-kunang. Dia hanya dapat melihat samar ketika Juan kembali menarik pelatuk pistol yang kini sudah mengarah ke kepalanya.


“Hentikan, Juan!” seru Gianna. Suara gadis itu menggema, memecah keheningan. Beruntung, tak ada seorang pun yang lewat di jalanan yang tak seberapa besar dan memang tertutup pada malam hari.


Kesadaran Juan Pablo langsung kembali. Dirinya segera terfokus pada Gianna yang tengah terduduk ketakutan di sudut trotoar.


“Bice!” Juan Pablo membuang pistolnya begitu saja, kemudian menghampiri Gianna. Tak disangka, gadis bermata biru yang teramat dicintainya itu malah bergerak mundur dan menjauh.


Juan Pablo tak dapat menyembunyikan sorot kecewa, tatkala Gianna ketakutan melihatnya. “Berdirilah. Kuantar kau pulang,” ucapnya lembut. Dia mengulurkan tangan kanan, bermaksud untuk menyentuh lengan dan membantu sang kekasih.


Akan tetapi, Gianna menggeleng dan menampiknya. “Jangan sakiti aku,” pintanya lirih.


“Kau tahu bahwa aku tidak mungkin melukaimu, Bice. Aku tidak akan sanggup,” sanggah Juan Pablo masih dengan nada bicaranya yang lembut. “Berdirilah. Kuantar kau pulang,” ajaknya lagi.


Ragu-ragu, Gianna menerima uluran tangan Juan Pablo. Gadis itu kemudian berdiri dan pasrah ketika Juan melingkarkan tangan di pinggang rampingnya. Dia bahkan menyambut pelukan Juan Pablo dengan lebih erat sambil melangkah pelan di sisi kekasih yang teramat dia cintai. Untuk sesaat, Juan Pablo menoleh ke tempat di mana Jacob tergeletak tak berdaya. Namun, dia tak menemukan sosok itu. Di sana hanya ada tetesan darah yang mengotori paving. Tak ingin ambil pusing, Juan Pablo kembali mengalihkan perhatiannya hanya kepada Gianna.


🍒 🍒 🍒


Hai. Satu lagi rekomendasi novel keren ceuceu persembahkan untuk semuanya.


__ADS_1


__ADS_2