
Malam itu, Mia sudah selesai mengemas semua perlengkapan yang akan dibawa ke Inggris. Dua koper miliknya dan Adriano, telah siap dia letakan di sudut kamar. Sebelum merapikan tempat tidur, Mia memutuskan untuk keluar dan memeriksa keadaan Miabella. Gadis kecil itu rupanya baru saja tertidur. Olivia yang telah menemaninya hingga dia terlelap. Melihat kehadiran Mia di sana, gadis itu segera beranjak dari tempat tidur Miabella. Dia bermaksud untuk segera keluar dari kamar. Wajah Olivia pun tak seramah biasanya.
“Terima kasih, Olivia,” ucap Mia. Meskipun saat itu dia merasa aneh dengan sikap dari gadis tersebut, tetapi Mia berusaha untuk tetap berpikir positif. Namun, Olivia tak menjawab sama sekali. Dia justru menatap Mia dengan tajam dan penuh kemarahan. “Apa kau ada masalah denganku?” tanya Mia tak mengerti.
“Katakan padaku, Nyonya. Apa yang menjadi alasan mendasar Anda menikahi tuan D’Angelo? Jika memang Anda tidak pernah mencintainya, kenapa harus melakukan sebuah sandiwara seperti itu!” Olivia tiba-tiba berkata dengan cukup tegas kepada Mia, membuat ibu dari Miabella tersebut semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan gadis itu.
“Apa maksudmu?” Mia kembali bertanya. Dia berjalan mendekat hingga akhirnya berdiri di hadapan Olivia. “Siapa yang mengizinkanmu untuk mencampuri urusan pribadiku?” nada bicara Mia mulai terdengar penuh penekanan terhadap Olivia yang seakan tak gentar menghadapinya. Mia tak menyukai kelancangan sikap Olivia terhadapnya.
“Aku tahu semuanya, Nyonya. Aku tahu jika Anda masih sangat mencintai mendiang tuan de Luca dan belum bisa melupakannya. Aku bisa mentolerir hal itu. Namun, tidak dengan yang satu ini, Nyonya!” ucapan Olivia semakin tidak dapat Mia pahami.
“Apa yang kau bicarakan? Aku sama sekali tidak mengerti,” Mia meminta penjelasan kepada gadis muda itu. Akan tetapi, Olivia tidak segera menjawab. Sedangkan Mia masih menunggunya bicara dengan tatap mata tegas penuh intimidasi. “Bicaralah!” desaknya.
Olivia segera memalingkan wajah dari sang nyonya. Dia merasa begitu jijik terhadap Mia. “Dengarkan aku, Nyonya. Seandainya Anda mengetahui bagaimana kondisi tuan D’Angelo saat aku menemukannya terdampar. Dia begitu mengkhawatirkan dan tampak sangat mengenaskan. Ada serentetan operasi besar yang harus dijalaninya waktu itu. Lalu, ketika dirinya sadar, dia harus menahan rasa sakit akibat semua luka tembak yang dialaminya!” Olivia berkata dengan penuh kemarahan terhadap Mia.
“Kenapa tiba-tiba kau membahas hal itu denganku?”
“Karena sekarang aku tahu, bahwa kaulah yang telah membuatnya berada dalam kondisi seperti itu, Nyonya!” tunjuk Olivia dengan nada bicara cukup kencang, sehingga membuat Miabella menggeliat pelan, tetapi untungnya tak sampai terbangun.
“Pelankan suaramu, Olivia!” protes Mia. Sebisa mungkin dia tidak terbawa amarah. Lagi pula, Mia bukanlah tipe wanita seperti itu. Untung saja karena Olivia tidak sedang berbicara kepada Daniella, karena wanita itu pasti tak akan bisa sesabar Mia. Tatapan Mia tajam tertuju kepada gadis berambut hitam tersebut. “Bagaimana kau bisa mengetahuinya?” makin lama, sorot mata cokelat istri dari Adriano itu semakin melunak.
“Kenapa Anda tega sekali, Nyonya? Aku memang belum mengenal tuan D’Angelo dengan baik saat itu, tapi aku tahu jika dia bukanlah pria biasa. Dia terlihat sangat istimewa, karena itulah aku ....” Olivia tak berani melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
“Apa? Kau jatuh cinta padanya?” selidik Mia. Olivia memilih untuk tidak menjawab. Gadis manis itu hanya tertunduk lesu. “Kau pikir aku tidak mengetahui dan tak dapat merasakan gelagat itu darimu?”
Olivia masih tidak menjawab. Terdengar isakan pelan darinya saat itu. Gadis manis tersebut sepertinya merasa amat tersakiti. “Hampir dua tahun lamanya aku memberikan perhatian istimewa untuk tuan D’Angelo, dari semenjak dia membawaku kemari. Namun, tuan justru malah memilih untuk pergi dan tinggal di Yunani. Itu pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta, tapi nahas bagiku. Cinta pertama yang kupersembahkan untuknya, ternyata tak berbalas. Sementara itu, tiba-tiba tuan kembali dengan membawa dan mengenalkanmu sebagai istrinya. Anda tidak tahu betapa hancurnya perasaanku, Nyonya,” pada akhirnya, Olivia mengungkapkan semua perasaannya terhadap Adriano di hadapan Mia.
“Apa kau masih memiliki perasaan istimewa itu hingga saat ini?” tanya Mia datar. “Jika jawabanmu adalah iya, maka maafkan aku. Sebagai istri dari Adriano D’Angelo, aku tidak akan pernah mengizinkannya sama sekali! Entah seberapa besar Miabella menyukai dan menyayangimu, Olivia. Akan tetapi, aku tidak ingin ada wanita manapun yang berani mendekati dan menatap suamiku dengan perasaan istimewa. Kuizinkan jika kau hanya sekadar mengaguminya, tapi jangan berharap untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dari itu,” tegas kata-kata Mia penuh dengan penekanan yang dalam terhadap Olivia.
Sedangkan Olivia lagi-lagi tidak menjawab. Gadis berambut hitam tersebut masih merasa bimbang dengan perasaannya sendiri, karena jujur saja bahwa dia juga mulai teringat kepada Arsen yang telah mencuri ciuman pertamanya. “Bagaimana bisa, Nyonya?” gumamnya kemudian, masih dengan kepala tertunduk.
“Apa?” Mia tak dapat mendengar jelas, sehingga dia harus maju mendekati Olivia.
“Bagaimana Anda bisa menikahi orang yang tidak Anda cintai?” Olivia mendongak dan menatap Mia dengan mata berkaca-kaca.
Awalnya, Mia terkejut atas pertanyaan yang diutarakan oleh Olivia. Akan tetapi, tak lama kemudian dia mampu menguasai dirinya. Mia lalu tersenyum. “Dulu, aku memang menikahi Adriano untuk sebuah alasan, tapi tidak sulit bagiku untuk jatuh cinta padanya dengan begitu cepat. Seiring berjalannya waktu, semua perasaan itu tumbuh. Aku terkesan dengan sikap Adriano yang begitu manis, hangat, dan penuh kelembutan. Dia membuat seakan hanya ada diriku seorang wanita dalam dunianya,” mata indah Mia menerawang, memandang ke luar jendela kamar Miabella.
Olivia tak mampu mengeluarkan kata-kata untuk menanggapi ucapan Mia. Pada akhirnya, dia memilih untuk berlalu begitu saja tanpa pamit. Gadis manis itu membuka pintu kamar Miabella dan berniat menuju kamarnya sendiri. Namun, dia sangat terkejut ketika melihat sesosok wanita cantik bersandar di dinding samping pintu.
Wanita yang tak lain adalah Bianca, menempelkan telunjuk lentiknya di bibir. Dia mengisyaratkan pada Olivia agar gadis itu tak banyak bicara. Setelah itu, Bianca tersenyum manis dan meninggalkan Olivia yang hanya berdiri terpaku.
Sesaat kemudian, gadis itu menggeleng lemah. Pikiran polos dan sederhananya terlalu sulit untuk mencerna. Olivia memutuskan untuk tak lagi menghiraukan apa yang baru saja terjadi. Dia pun lebih memilih mengistirahatkan hati dan pikirannya di kamar. Olivia bertekad untuk menghapus nama Adriano dari dalam hidup dan angan-angannya.
Sementara itu, Mia masih termangu di sisi ranjang Miabella. Dia sama sekali tak mengira jika bisa membuat pengakuan semacam itu kepada Olivia. Dia hanya berharap semoga Adriano tak mendengar.
__ADS_1
Setelah merapikan selimut Miabella, Mia beranjak ke kamarnya dan mendapati Adriano yang tengah bersandar pada kepala ranjang. Dia tampak serius mengamati layar laptop di pangkuannya.
“Sedang apa?” Mia langsung naik ke atas ranjang dan ikut duduk bersandar di samping Adriano.
Pria itu menoleh, lalu tersenyum. Akan tetapi, dia tak menjawab. Adriano malah mengecup lembut bibir Mia. Sesaat kemudian, dia kembali mengalihkan perhatiannya pada layar laptop.
“Kenapa tidak menjawab?” tanya Mia lagi. Kecewa dan penasaran bercampur menjadi satu, menghasilkan raut ekspresi yang terlihat menggemaskan. Adriano sempat meliriknya dan tersenyum.
“Aku mencoba mencari nama Thomas Bolton di internet. Akan tetapi, hingga saat ini aku belum mendapatkan apa-apa. Rasanya ini jauh lebih sulit, karena kita tak memiliki informasi apapun tentang musuh-musuh kita. Ini sama saja seperti menembak dalam gelap,” jelas Adriano.
Kembali tersirat raut penuh kekhawatiran di wajah cantik Mia. “Sudahlah. Kita hentikan saja semua ini,” pintanya pelan seraya menyandarkan kepala di bahu lebar sang suami.
“Aku sudah melangkah sejauh ini, Mia. Kau harus tahu, jika diriku tidak pernah berhenti mengerjakan sesuatu sampai hal yang menjadi target dan tujuanku itu dapat tercapai,” Adriano tetap bersikukuh. Diciumnya kening Mia dengan penuh perasaan, sekadar untuk menenangkan sang istri. Namun, rona gelisah Mia masih tetap muncul dalam wajah cantiknya.
“Valerie mengatakan padaku bahwa musuhmu semakin bertambah sejak kau menyelidiki kasus kematian Matteo. Adriano, aku merasa menjadi seseorang yang selalu merugikanmu. Aku selalu membuatmu sengsara. Saat ini kau pun berada dalam bahaya demi memenuhi sumpahmu padaku,” ucap Mia pelan. Nada bicaranya terdengar berat dan penuh penyesalan. Dia juga sempat mengembuskan napas pendek sebelum Adriano kembali mencecap dan melu•mat bibirnya.
“Jangan bicara seperti itu lagi, atau aku akan marah padamu, Mia. Bukankah kau takut dan tak ingin melihatku marah?” tegas Adriano. “Berkali-kali aku mengatakan bahwa diriku sangat bersyukur dan bahagia bisa memilikimu. Aku juga sudah bersumpah untuk mengangkat semua kesedihan dan akan selalu berusaha untuk membahagiakanmu, meskipun nyawa taruhannya,” imbuh Adriano dengan yakin.
“Hentikan, Adriano. Aku tak mau kehilangan lagi. Tolong jangan paksakan dirimu,” wajah Mia tiba-tiba berubah memucat. Dipeluknya erat tubuh sang suami.
Adriano sendiri dapat merasakan tubuh Mia yang menggigil. Sedikit banyak dia tahu bahwa mungkin saja gangguan kecemasan Mia kambuh akibat perkataannya. Segera dipeluknya tubuh rapuh itu. Sesekali telapak tangannya mengusap lembut punggung sang istri, “Sudah, tidak apa-apa. Lepaskan, Mia. Lepaskan. Kau harus ingat bahwa Adriano D’Angelo tak akan mati dengan mudah," tegasnya.
__ADS_1
"Dulu aku berpikir seperti itu terhadap Matteo. Kau tahu sendiri seperti apa dirinya. Theo adalah pria yang sangat kuat dan pemberani. Namun, pada akhirnya dia harus takluk dan terbaring di atas pangkuanku. Itu sesuatu yang sangat menakutkan, Adriano," isak Mia pelan.