
Dengan segala pertimbangan, Adriano menurunkan pistolnya perlahan. Namun, dia tetap harus siap dalam mengantisipasi segala kemungkinan terburuk sekalipun. “Katakan sekarang juga! Jangan sampai kau membuang-buang waktuku!” tegasnya.
“Kau sangat luar biasa, Tuan D’Angelo. Apakah kau menyadari akan hal itu?” Lionel tersenyum lebar. Tatap matanya tak lepas dari sosok Adriano. “Kemampuan bertarungmu juga di atas rata-rata. Hal itu membuatku merasa sangat penasaran, dari mana kau mendapatkan bakat istimewa seperti demikian?” sanjungnya dengan penekanan suara yang terdengar aneh.
“Kenapa kau terus mengatakan sesuatu yang tak penting seperti ini, Melker? Apa kau sengaja memancing amarahku?” datar suara Adriano, tapi terdengar menakutkan.
Lionel terdiam sejenak saat Adriano memanggil dia dengan nama aslinya. Namun, dengan segera pria itu menyembunyikan rasa terkejut yang sempat menghampiri. Lionel pun kembali tersenyum aneh kepada Adriano.
"Oh, jadi kau juga telah mengetahui identitas asliku. Luar biasa," sanjung Lionel sambil bertepuk tangan. Sikapnya terlihat semakin aneh di mata Adriano yang masih berdiri memperhatikan setiap gerakan yang dibuat oleh pria tersebut.
"Katakan, dari mana kau bisa mencari informasi tentang diriku?" tanyanya kemudian.
"Tak sulit mencari info tentang penjahat sepertimu," jawab Adriano dingin.
Akan tetapi, Lionel justru malah tertawa saat mendengarnya. "Oh, rupanya aku sangat terkenal," gumam pria bermata hijau tersebut seraya berdecak kagum.
“Jujur saja, bahwa sebenarnya aku sangat tertarik kepadamu, Tuan D’Angelo. Demikianlah kenyataannya, bahwa aku tidak sedang berpura-pura. Karena itu aku mengawasimu cukup lama, dan menurutku kau adalah kandidat terbaik,” puji Lionel dengan penekanan yang masih terdengar aneh bagi Adriano.
“Kau mengawasiku? Apakah itu artinya drone berlambang Tangan Setan yang menyusup ke dalam Casa de Luca dan meneropong wajahku waktu itu adalah milikmu?” Adriano memicingkan matanya.
“Ya, tepat sekali! Saat itu, aku sungguh ingin menarik perhatian dirimu. Entah bagaimanapun caranya,” Lionel berdecak kagum.
“Jadi kau yang berada di balik Tangan Setan selama ini?” geram Adriano.
“Itu juga sangat tepat!" sahut Lionel dengan segera. "Aku terpaksa membentuk organisasi perusuh yang diberi nama Tangan Setan. Alasannya adalah karena setelah kematian Matteo de Luca, banyak polisi yang menyelidiki kasus itu. Menghabisi mantan ketua Klan de Luca tersebut, sama seperti melenyapkan nyawa seorang pejabat negara. Huh! Menyusahkan!" Lionel mendengus kesal untuk sesaat.
"Aku harus membentuk benteng untuk mencegah pihak yang berwajib, agar tidak menemukan jejak Killer X dalam kasus pembunuhan Matteo de Luca. Kau lihat sendiri, aku memang jenius dan berhasil mengecoh semua orang. Jujurlah, apa kau pernah berpikir sesuatu tentang Tangan Setan?" tanya Lionel lagi. Dia berdiri semakin mendekat kepada Adriano.
"Ya. Aku pikir organisasi itu ada kaitannya dengan Elang Rimba, karena aku tidak tahu tentang aliansi pembunuh bayaran yang kau miliki," jelas Adriano masih dengan sikap dan nada bicaranya yang datar.
__ADS_1
Lionel kembali tertawa puas, membuat Adriano segera mengernyitkan kening. "Elang Rimba," ucap pria itu. Dia memencet hidung mancungnya sebentar, sebelum kembali mengarahkan perhatian kepada Adriano. "Aku sudah menghabisi si tua bangka yang mengaku dirinya sebagai Elang Rimba. Kepalanya masih kusimpan di dalam peti. Bisa kujadikan itu sebagai penghibur di kala suntuk," ucapnya dengan bangga. Dia mengatakan hal tersebut seakan tanpa beban sama sekali. "Akan tetapi, aku tidak yakin bahwa si tua Vargas merupakan Elang Rimba yang asli," ujarnya kemudian.
Adriano terdiam sambil terus memperhatikan pria di hadapannya. Sesekali, sang ketua Tigre Nero tersebut tampak memicingkan mata. “Aku sudah menebak sebelumnya, pasti kau lah yang telah menghabisi Don Vargas," ucap pria bermata biru itu seraya menyunggingkan senyuman sinis. "Jika menurutmu dia bukan Elang Rimba yang asli, maka itu artinya ...." Adriano tak melanjutkan kata-katanya, karena tiba-tiba dia teringat akan hal lain.
"Menurut salah satu detektif kenalanku, ayahnya terbunuh oleh kelompok Tangan Setan. Apakah organisasi itu pelakunya? Kau yang membunuh detektif Fabrizio Ranieri?” nada suara Adriano terdengar semakin sinis dan penuh penekanan.
“Seperti yang kukatakan tadi, Tuan D'Angelo. Aku harus mencegah siapa pun yang berusaha membongkar kejahatan Killer X. Aku membunuhnya lewat Tangan Setan, dan juga menggunakan organisasi itu sebagai pengalih perhatian ….”
“Dengan membuat keonaran di seluruh pelosok Italia?” potong Adriano sinis.
“Betul sekali! Astaga, kau memang cerdas. Aku sungguh ingin bekerja sama denganmu. Bisa kubayangkan jika kau bersedia masuk ke dalam jajaran aliansiku, pasti akan menjadi keuntungan yang sangat luar biasa bagi Killer X,” pikir Lionel dengan antusias.
“Kau ingin menawariku untuk menjadi pembunuh bayaran? Kau gila, ya?” Adriano terkekeh pelan. Tawanya terdengar mengejek dan juga meremehkan tawaran dari Lionel.
“Segala sesuatu yang besar, berasal dari ide yang besar, Tuan D'Angelo. Tentu saja aku tidak gila. Aku hanya berpandangan jauh ke depan,” kilah Lionel. Dia sudah berada dalam posisi yang jauh lebih rileks. Sesekali, pria asal Swedia itu mengusap dagu, lalu memasukkan tangannya ke dalam saku celana. “Aku tidak berbohong saat mengatakan bahwa diriku memang sangat tertarik dengan kemampuan bela dirimu. Kau bisa menjadi rekan yang kuat dan tentu saja sepadan denganku. Bayangkan itu, kita berdua menjadi sang penguasa,” lanjutnya. Dia terus membujuk Adriano agar bersedia menerima tawarannya.
“Aku tidak tertarik sama sekali!” tolak Adriano dengan nada bicara yang sangat tegas. Dia tak akan berkompromi untuk penawaran bodoh itu.
“Apa maksudmu?” Adriano semakin menatap tajam pada pria bermata hijau tersebut.
“Kau dan aku, kita sama-sama memburu Elang Rimba,” jelas Lionel seraya melurukan telunjuk pada dada Adriano. Seutas senyuman samar tersungging dari bibirnya.
“Aku tahu bahwa kau juga sangat penasaran dengan nama itu. Kenyataannya adalah, Elang Rimba merupakan salah satu dari mereka yang turut serta dalam membantai Matteo de Luca beberapa tahun yang lalu,” jelas Lionel.
“Jika kau tidak yakin bahwa Elang Rimba yang asli adalah Don Vargas, maka katakan padaku siapa dan di mana dia berada saat ini,” pinta Adriano dengan sinis.
Lionel tertawa. Pria itu merasa bangga karena pelan-pelan Adriano mulai tertarik pada tawarannya. “Aku sudah melakukan pengamatan dalam beberapa waktu terakhir, dan tentu saja telah mendapat satu kesimpulan yang pasti. Akan kujelaskan siapa dirinya, tapi hanya jika kau bersedia menerima tawaran dariku” ujarnya seraya kembali tertawa aneh.
“Kau licik sekali. Aku sungguh tak punya waktu untuk melayanimu,” Adriano menarik pelatuk dan kembali mengarahkan pistolnya pada kepala Lionel.
__ADS_1
“Tunggu! Jangan terburu-buru!" cegah Lionel.
"Baiklah, biar kujelaskan sedikit saja,” ucapnya kemudian. “Seperti yang sudah kau ketahui bahwa aku bekerja untuk Nenad,” jelas Lionel. “Sejujurnya bahwa Nenad ingin agar aku segera menghabisimu dan juga Elang Rimba yang asli. Nenad sudah mentransfer sejumlah nominal yang sangat fantastis sebagai uang muka ke dalam rekeningku. Akan tetapi, aku mulai berpikir ulang. Kenapa kita tidak bekerja sama saja dalam menghancurkan Elang Rimba? Setelah itu, kau bebas mengambil keputusan, tetap bersama denganku atau ... kita akan saling membunuh," seringainya.
“Aku tidak bodoh. Kau hanya ingin memanfaatkanku saja atau mungkin menjebakku,” Adriano berkata datar sambil menurunkan pistolnya. Dia lalu merogoh sakunya menggunakan satu tangan dan mengeluarkan sebungkus rokok.
Adriano mengeluarkan sebatang menggunakan mulutnya, lalu menaruh kotak rokok itu kembali ke dalam saku celana.
Tangan Adriano lalu berpindah pada saku kemeja putihnya. Dia mengeluarkan korek api otomatis. Pria bermata biru itu lalu menyalakan korek api tersebut dan mulai menyulut rokoknya. Dalam gelapnya malam yang hanya diterangi oleh lampu jeep, Adriano mengepulkan asap dari rokok yang dia isap ke udara.
Hal sekecil apapun yang dilakukan oleh Adriano, tak luput dari perhatian Lionel. Dia terus mengamati setiap gerak-gerik sang ketua Tigre Nero tersebut. “Ternyata kau jauh lebih tangguh dari apa yang kulihat,” ucapnya setelah beberapa saat memperhatikan pria rupawan itu.
“Baguslah jika kau sudah tahu,” jawab Adriano dengan santainya. “Sekarang hentikan usahamu untuk merayuku. Kita berduel saja saat ini juga,” tantang Adriano. Dia melemparkan pistolnya ke tanah berbatu begitu saja.
“Kenapa kau membuang pistolmu?” tanya Lionel keheranan.
“Supaya adil. Kulihat kau juga tidak membawa senjata,” sahut Adriano. Dia masih sempat mengisap rokoknya beberapa kali, menunggu Lionel melakukan gerakan pertama.
“Kutekankan sekali lagi bahwa menghabisi Elang Rimba akan jauh lebih mudah jika kita melakukannya bersama-sama,” bujuk Lionel lagi.
“Setelah itu, kau akan ganti menghabisiku. Betul, bukan?” tebak Adriano sinis.
Lionel tergelak menanggapinya. “Sudah kukatakan, sebenarnya aku sangat ingin merekrutmu menjadi bagian dari Killer X. Aku sama sekali tak ada keinginan untuk membunuh dirimu. Bakat yang kau miliki terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja,” tak hentinya pujian demi pujian Lionel layangkan kepada Adriano. Namun, senyuman lebar itu memudar ketika sesuatu dari dalam saku kemeja Lionel berbunyi. Dengan segera, pria itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah benda pipih dan mungil yang mirip dengan penyeranta.
“Gawat!” Lionel terbelalak saat melihat tanda merah berkedip di layar benda berwarna hitam itu. “Dia berhasil menyusup ke dalam markasku,” gumamnya tampak was-waa. Namun, Adriano dapat mendengarnya dengan jelas.
“Siapa yang kau maksud? Elang Rimba kah?” sahut sang ketua klan Tigre Nero tersebut.
Lionel yang awalnya menunduk sambil mengamati benda kecil itu, kini mendongak dan memandang Adriano penuh arti. “Sekali lagi kutawarkan padamu. Ikutlah bersamaku,” ajaknya.
__ADS_1
“Aku tidak mau!” jawab Adriano tegas.
“Kalau begitu, kita lanjutkan saja nanti pertemuan ini. Aku harus pergi,” dengan gerakan cepat, Lionel meraih sesuatu dari dalam saku celananya. Sebuah bom asap dia lemparkan ke arah Adriano. Beberapa saat lamanya, tubuh tegap Adriano diselimuti oleh asap putih pekat. Beruntung angin bertiup cukup kencang, sehingga dapat mengurai asap putih itu dalam waktu singkat. Akan tetapi, setelah kabut itu menghilang, sosok Lionel pun lenyap dari sana.