Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Beyond Expectation


__ADS_3

Siang itu, Arsen baru selesai mengemas barang-barangnya. Sesuai rencana, rekan dari Adriano tersebut, akan kembali ke Yunani pada sore nanti. Pria yang tak pernah merasa puas dengan hanya satu pasangan itu, kemudian memutuskan untuk keluar kamar. Tepat saat dirinya melewati koridor menuju ruang bermain billiard, Arsen berpapasan dengan Olivia. Gadis itu berjalan sambil membawa sekeranjang penuh baju kotor. Dia tengah menuju ke ruangan khusus tempat mencuci. “Olivia,” sapa Arsen dengan gaya bicaranya yang kalem, meskipun logat Italianya begitu kaku. Dia tertegun memperhatikan gadis yang baru melewatinya dengan begitu saja.


“Hai, Tuan. Maaf, aku sedang terburu-buru. Keranjang ini cukup berat,” sahut Olivia sambil terus melangkah dan hanya menoleh sesaat saja.


Sementara Arsen terdiam sejenak. Pria itu lalu tersenyum seraya menggeleng pelan. Sesaat kemudian, dia berlari mengejar gadis berambut hitam tadi. Tanpa banyak bicara, Arsen merebut keranjang yang tengah Olivia bawa, membuat gadis manis itu segera menoleh dengan heran. “Biar kubawakan,” bisik Arsen seraya berjalan mendahului Olivia yang masih terpaku. Namun, tak lama gadis itu segera berlari menyusul pria rupawan tersebut dan berseru pelan. “Tuan, Anda hendak ke mana?”


Arsen tertegun dan menoleh. “Memangnya ini akan dibawa ke mana?” dia balik bertanya.


“Menurut Anda aku akan ke mana? Ruang mencuci ke sebelah kanan, tapi Anda malah belok ke sebelah kiri,” Olivia terlihat begitu memperlihatkan raut aneh pada wajahnya. Tubuh gadis itu saja yang tinggi semampai, tapi pemikiran dan sikapnya masih sangat kekanak-kanakan.


Arsen mengempaskan napas pendek seraya berdecak pelan. “Tunjukan jalannya,” pinta pria asal Yunani tersebut, membuat Olivia tersenyum lebar seraya mengangguk. Dia melenggang dengan tenang di depan pria rupawan yang segera mengikutinya. Tak berselang lama, mereka pun tiba di sebuah ruangan yang cukup luas.


Tempat itu laksana sebuah laundry pribadi, dengan beberapa buah mesin cuci dan juga perlengkapan lainnya. Pakaian milik majikan, tidak dibersihkan dengan menggunakan mesin cuci yang sama dengan yang digunakan untuk para pelayan. Begitu juga dengan detergen dan perlengkapan lain yang biasa digunakan dalam mencuci. Semua yang berhubungan dengan barang-barang milik majikan disiapkan secara terpisah.


“Letakan saja keranjangnya di sini,” suruh Olivia dengan begitu enteng. Dia menepuk-nepuk permukaan meja yang ada di dekat mesin cuci, sebagai tanda agar Arsen meletakan keranjang yang dibawanya di tempat tersebut. “Terima kasih, Tuan. Ternyata Anda sangat baik,” ucap Olivia dengan raut wajahnya yang terlihat begitu lugu.


“Sama-sama, tapi … apa hanya ucapan terima kasih?” Arsen mulai menunjukan karakter aslinya. Tatapan menggoda dengan senyum penuh rayuan dia layangkan kepada Olivia, yang ternyata tak memahami maksud dari kata-katanya.


“Akan kubuatkan Anda sesuatu, tapi nanti setelah aku selesai mencuci. Hari ini pekerjaanku sangat banyak. Miabella malah mengajakku bermain terus,” jawab Olivia yang mulai memasukan satu per satu pakaian ke dalam mesin cuci. Dia melakukan pekerjaannya dengan begitu cekatan dan telaten.


Sementara Arsen masih berdiri memperhatikanya. Pria itu menatap Olivia dan terus mengamati gadis muda yang bersikap biasa saja padanya. Bagi Arsen, ini adalah sesuatu yang aneh. Dia sudah menebarkan pesonanya dengan begitu indah kepada gadis berambut hitam tersebut, tetapi Olivia seakan tak peduli dan tak dapat mengartikan semua bahasa tubuhnya. Arsen pun menjadi sangat penasaran dibuatnya. “Olive, boleh aku bertanya sesuatu?” tanyanya.

__ADS_1


“Ya, Tuan. Tanyakan saja,” sahut Olivia tanpa menoleh.


“Apa kau pernah jatuh cinta atau merasa tertarik pada seseorang? Um … maksudku seorang pria tentunya," tanya Arsen lagi tanpa melepaskan perhatiannya dari gadis dengan tampilan sederhana itu. Pada awal kedatangannya ke mansion tersebut, Olivia tak membawa satu pun pakaian ganti, sehingga Adriano menyuruh seorang pelayan untuk membelikannya.


Olivia tertegun sejenak. Setelah itu, dia kembali melanjutkan pekerjaan hingga selesai. Barulah gadis manis berambut hitam tersebut menoleh kepada Arsen yang sedari tadi memperhatikannya. Berat rasanya bagi Olivia untuk menjawab pertanyaan yang sangat pribadi seperti itu. Namun, gadis manis tersebut amatlah polos. Dia pun akhirnya mengangguk. “Pernah, Tuan. Satu kali,” jawabnya pelan dan terdengar ragu. “Aku menyukai pria itu saat pertama kali melihatnya. Namun, aku harus menerima kenyataan karena ternyata pria itu tidak pernah memiliki perasaan apapun padaku. Dia juga lebih memilih wanita lain. Ya, wanita yang sepadan dengannya, bukan gadis desa dan miskin sepertiku,” tutur Olivia kemudian tertunduk.


Mendengar penuturan gadis itu, Arsen seakan mendapat celah baru yang dapat dia masuki. Setidaknya, dia bisa kembali ke Yunani dengan membawa sesuatu. Pria itu semakin mendekat dan berdiri di hadapan Olivia. Dia menyentuh dagu gadis manis tersebut dan mengangkatnya perlahan.


Olivia memang sangat manis dan tampak ranum. Arsen yakin jika gadis itu pasti belum pernah terjamah oleh pria manapun. Instingnya sebagai pria yang telah menggauli banyak wanita, dapat menerka hal tersebut dengan baik. Ditatapnya dengan lekat wajah Olivia dari jarak yang sangat dekat. Aura perawan suci menguar dan tercium dengan jelas dari setiap helaan napas gadis berambut hitam itu. “Siapa pria bodoh yang telah mengabaikan gadis manis sepertimu?” tanyanya seraya mengalihkan tatapan pada bibir Olivia yang berpoleskan lipstick berwarna peach.


Olivia tidak berani menjawab. Lagi pula, dia merasa gugup dan tak tahu harus berbuat apa. Ini adalah pengalaman yang pertama baginya, ketika dia berada dalam jarak yang begitu dekat dengan seorang pria. Gadis itu hanya terpaku, terlebih ketika tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang belum pernah dialaminya seumur hidup. Sebuah sentuhan manis di permukaan bibir. Olivia tak tahu bagaimana cara melakukannya. Dia hanya terdiam meskipun Arsen sudah memberinya sebuah jalan, membuat pria itu menghentikan ciumannya untuk sesaat. “Kau tidak menyukainya?” bisik pria itu dengan napas menghangat di wajah Olivia.


“Buka mulutmu sedikit saja, dan biarkan lidahku bermain dengan lidahmu,” bisik Arsen dengan sorot mata yang kian nakal. Diperhatikannya bibir Olivia untuk sejenak, sebelum dia kembali melu•matnya dengan jauh lebih dalam. Kali ini, pria tampan tersebut dapat menikmati adegan ciumannya bersama gadis itu.


Makin lama, Olivia pun tampak semakin nyaman. Dia tak lagi terlihat kaku, setelah mendapat arahan dari Arsen tadi. Olivia juga tampak menyukainya. Itu terbukti dengan jelas. Mereka terus melakukan hal tersebut untuk beberapa saat lamanya, hingga adegan manis tadi harus terhenti karena terdengar suara seseorang yang menuju ke ruangan dan masuk dengan tiba-tiba.


Olivia terlihat gelagapan. Dia segera melakukan apa saja yang bahkan tak harus dia kerjakan. Gadis itu merasa malu dan takut, jika apa yang diperbuatnya bersama Arsen diketahui oleh orang lain. Sementara seorang pelayan yang tadi masuk ke ruangan itu, hanya mengangguk kepada Arsen. Tak lama, dia bergegas keluar dari sana.


Sedangakn Olivia tampak salah tingkah. Hal itu membuat Arsen menaikan sebelah alisnya. Dia lalu menyentuh pundak gadis berambut hitam tersebut hingga Olivia tersentak. “Kau kenapa?” tanyanya heran.


Olivia hanya menanggapi pertanyaan Arsen dengan sebuah gelengan pelan. “Kau sangat manis, Olive. Sayangnya aku harus kembali ke Yunani,” ujar Arsen dengan tenangnya.

__ADS_1


“Anda akan pergi?” Olivia kembali tampak terkejut.


“Ya. Rumahku ada di Athena, bukan di Monte Carlo,” jawab Arsen masih terlihat tenang.


Olivia mengangguk. Dia sudah menyelesaikan pekerjaannya. Gadis itu bermaksud untuk menjemurkan pakaian yang juga masih terdapat dalam ruangan tersebut. Lagi-lagi, Arsen membantu gadis itu membawakan keranjang berisi cucian. “Apakah Anda akan kembali, Tuan?” tanya Olivia seakan berharap.


“Entahlah. Aku melakukan apapun sesuai dengan keinginan. Aku tak suka membebani hidup dengan sesuatu yang hanya akan membuat kepalaku menjadi pusing,” ujar Arsen. Gaya dan nada bicaranya terlihat tanpa beban sama sekali.


“Contohnya seperti apa?” Olivia menoleh kepada pria itu di sela-sela pekerjaannya.


“Apa, ya? Cinta, pasangan ....” Arsen tersenyum simpul.


“Anda tidak menyukai kedua hal itu?” tanya Olivia lagi dengan lugunya. Dia lalu mengulum bibirnya seraya kembali melanjutkan pekerjaan. “Aku rasa bukan tidak, tapi mungkin ... belum ....” gadis itu terdiam. Dia telah menyelesaikan tugasnya dan bermaksud untuk beranjak dari sana.


Namun, dengan segera Arsen meraih tangan dan menahan langkahnya. “Belum, artinya suatu saat nanti aku akan menyukai kedua hal itu?” Arsen kembali mendekat.


“Ya,” jawab Olivia melawan tatapan pria di hadapannya. “Ibuku selalu mengatakan bahwa sejahat apapun seorang manusia, dia pasti tetap memiliki rasa cinta dalam hatinya. Namun, perasaan itu mungkin sangat kecil, tidak disadari, atau memang sengaja dia abaikan karena sebuah alasan. Dari ketiga hal yang kusebutkan tadi, mana yang sesuai dengan Anda?”


Arsen terpaku mendengar ucapan gadis itu. Dia tidak menjawab dan hanya menatap lekat Olivia, yang melepaskan genggaman tangan pria Yunani tersebut dari pergelangannya. Setelah itu, Olivia pun membalikan badan dan keluar dari sana. Dia meninggalkan pria yang sudah mencuri ciuman pertamanya dengan tanpa permisi.


Olivia merasa kecewa. Siapakah Arsen? Kenapa pria itu harus menjadi yang pertama? Padahal dirinya menginginkan sebuah ciuman pertamanya di atas altar, dalam balutan gaun putih pernikahan. Namun, harapan memang terkadang tak sesuai kenyataan.

__ADS_1


__ADS_2