Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Around Milan


__ADS_3

Mobil sport merah milik Adriano berhenti di halaman Casa de Luca. Tak berselang lama, pria itu keluar seraya menyugar rambutnya ke belakang. Adriano lalu membukakan pintu untuk Mia. Sang istri muncul dengan gaun backless yang dia kenakan semalam. “Terima kasih untuk tadi malam,” bisik Adriano. Diajaknya Mia agar segera masuk. Pikiran pria bermata biru itu sudah tertuju kepada Miabella.


Apa yang Adriano takutkan memang terjadi. Miabella tampak sedang menangis tersedu-sedu sambil memeluk boneka kesayangannya dalam gendongan Damiano. Sang kakek berusaha untuk menenangkan gadis kecil itu dengan segala cara.


“Bella,” panggil Adriano lembut. Segera diraihnya tubuh mungil yang masih mengenakan piyama dengan rambut acak-acakan. Miabella langsung saja memeluk sang ayah dengan erat. “Kenapa menangis?” Adriano mengusap-usap punggung putri kesayangannya. Akan tetapi, Miabella masih saja menangis.


“Bagaimana jika kubuatkan pie apel? Kau mau?” tawar Mia membujuk gadis kecilnya dengan lembut. Miabella mengangguk sambil terus menangis. Mia tersenyum kemudian mengelus rambut putrinya, sebelum beranjak ke kamar untuk berganti pakaian terlebih dahulu.


“Maaf, Adriano. Tadi dia terbangun dan langsung ke kamar kalian, tapi di sana tidak ada siapa-siapa. Karena itulah dia menangis,” terang Damiano.


"Tidak apa-apa, Damiano. Terima kasih," balas Adriano seraya mengangguk pelan.


“Hey, gadis kecil yang cantik. Kenapa pagi-pagi sudah menangis?” Coco yang baru muncul di ruangan itu langsung menyapa Miabella, meskipun dia tahu gadis kecil itu tak akan menghiraukannya. "Apa kau baru kembali dari daerah yang terkena bencana?" Coco mengalihkan perhatiannya kepada Adriano yang tidak biasanya berpenampilan acak-acakan.


Namun, Adriano tak ingin meladeni ocehan pria berambut ikal itu. Sambil terus menggendong Miabella, perhatiannya dia tujukan kepada Coco yang telah siap untuk berangkat ke bengkel.


“Kau dan aku harus bicara serius. Nanti kita juga akan menghubungi Marco melalui panggilan video,” ucap Adriano kepada Coco.


“Oh, baiklah. Kau tuannya sekarang,” celoteh pria berambut ikal tersebut. “Aku akan berada di bengkel hingga sore. Nanti kita bicara setelah aku kembali,” ujarnya lagi.


“Baiklah. Aku juga masih ada sedikit urusan hari ini,” balas Adriano. Dia tertegun karena saat itu Coco memperhatikannya sambil tersenyum geli. “Kenapa?” tanya pria bermata biru itu penasaran.


“Tidak apa-apa. Aku hanya kasihan dengan Damiano,” jawab Coco seraya melirik nakal pria tua yang membalas lirikannya dengan sebuah senyuman lebar. “Jangan katakan apapun, Damiano,” cegah Coco saat melihat pria bertopi itu hendak membuka mulutnya. Damiano pun mengurungkan niat dan segera mengulum bibirnya.


Sementara itu, Miabella mulai tenang. Dia sudah berhenti menangis, tetapi masih memeluk Adriano dengan erat seakan tak ingin ditinggalkan.


“Baiklah. Aku permisi dulu,” Adriano kemudian beranjak dari hadapan Coco dan Damiano menuju kamar Miabella. Setelah tiba di sana, dia lalu menurunkan tubuh mungil itu dan mendudukkannya di ujung tempat tidur. “Kenapa kau menangis, Sayang?” tanya Adriano. Dia setengah berjongkok di hadapan Miabella yang terus memeluk bonekanya.

__ADS_1


Kedua mata abu-abu gadis kecil itu, menatap sayu pada Adriano. Miabella tak segera bicara. Meskipun sudah berhenti menangis, tetapi sesekali gadis kecil itu terdengar sesenggukan, sehingga membuat Adriano kembali merangkulnya. Dielus dan dikecupnya pucuk kepala putri dari Matteo tersebut. “Aku takut, Daddy Zio,” pada akhirnya Miabella bersedia untuk bicara.


“Apa yang kau takutkan, Sayang?” Adriano kemudian duduk di sebelah Miabella.


“Ayahku tidak pulang. Lalu kau dan ibu juga pergi. Aku mencari kalian berdua, tapi yang ada hanya kakek,” raut wajah Miabella terlihat begitu sendu. Dia hampir menangis lagi, andai tidak segera Adriano pindahkan ke atas pangkuannya.


“Tidak ada yang akan meninggalkanmu. Aku dan ibumu ada sedikit urusan, karena itu kami harus pergi,” jelas Adriano dengan lembut.


“Lalu, kenapa kalian tidak mengajakku?” protes Miabella polos.


Adriano tak segera menjawab. Dia mengusap-usap keningnya perlahan. “Um ... karena ... karena itu masalah orang dewasa, Nak. Ada beberapa urusan yang memang tidak boleh melibatkan anak kecil sepertimu ... um ... begini ....” Adriano berpikir sejenak.


Bersamaan dengan itu, masuklah Mia dengan sebuah pie apel di tangannya. Adriano pun merasa begitu tertolong.


“Bella, ayo mandi dan ganti bajumu. Setelah itu kita cicipi pie apelnya,” Mia tersenyum seraya meletakkan wadah berisi pie apel yang dia bawa. Akan tetapi, Miabella tidak menjawab. Dia hanya menatap Mia yang saat itu baru membawakannya baju ganti.


“Ke Milan? Untuk apa?” tanya Mia.


“Nanti juga kau akan tahu,” jawab Adriano tenang. Namun, seketika pria itu mengernyitkan kening, karena melihat Mia tersenyum aneh padanya. “Ada apa, Mia?” tanyanya penasaran.


“Tidak ada,” jawab Mia seraya mengulum senyumnya. Akan tetapi, Adriano tidak percaya begitu saja. Ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa dia meminta sebuah penjelasan kepada sang istri. Namun, Mia memilih untuk berlalu ke kamar mandi bersama Miabella. Selagi ibu dan anak itu berada di dalam kamar mandi, Adriano bermaksud untuk merapikan diri di depan cermin. Saat itulah dia tertegun melihat dirinya. Sebuah helaan napas berat meluncur dari bibirnya, “Baiklah, Mia. Aku akan membuat perhitungan denganmu,” ujar Adriano seraya mengusap leher kirinya.


...................


...


Sesuai dengan yang Adriano katakan, sebelum tengah hari dia mengajak Mia dan Miabella pergi ke Milan. Mia tak tahu akan di bawa ke mana mereka saat itu. Namun, pada akhirnya dia ingat dengan tempat yang pernah disinggahinya. Rupanya, Adriano membawa mereka ke rumah penampungan yang dulu pernah dia kunjungi sepulang dari Yunani.

__ADS_1


Anak-anak di sana menyambut kehadiran mereka bertiga dengan penuh sukacita. Tak terkecuali Miranda, wanita yang menjadi pengurus di sana. Dia begitu bahagia ketika melihat Adriano datang bersama Mia dan juga Miabella yang cantik.


Miabella yang selama ini hampir tidak pernah bermain dengan anak sebayanya, tampak malu-malu. Dia tak terbiasa dengan keramaian seperti itu. Namun, Mia terus mencoba untuk mengakrabkan sang putri kepada beberapa anak di sana yang sepertinya tertarik untuk mengenal Miabella.


“Keluarga kecil Anda begitu indah dipandang. Siapakah nama gadis manis itu?” tanya Miranda seraya terus mengikuti gerak Miabella yang mulai mengakrabkan diri dengan teman-teman barunya.


“Namanya Miabella. Miabella Concheta,” jawab Adriano penuh rasa bangga dengan diiringi senyuman lebar.


“Putrimu sangat cantik, Tuan. Setiap hari aku berdoa, semoga kau dan seluruh keluargamu selalu diberkati dan juga dilindungi. Ingatlah, jika Tuhan akan selalu menjaga dan menyertai orang-orang berhati mulia seperti Anda,” Miranda berkata dengan tulus dan penuh kasih kepada Adriano.


Sesaat kemudian, Miranda mengeluarkan sesuatu dari dalam saku apronnya. Dia menyodorkan sebuah kalung dengan liontin salib kepada Adriano. “Aku dan beberapa anak di sini kemarin mengunjungi gereja. Kami sengaja membelinya. Salah seorang anak mengatakan agar benda ini diberikan saat Anda berkunjung kemari. Benar-benar sesuatu yang sangat kebetulan. Tolong terimalah, Tuan," pintanya.


Adriano menerima kalung itu dan memperhatikannya untuk sesaat. Dia menggenggam kemudian memasukkannya ke dalam saku blazer bagian dalam. “Terima kasih, Miranda. Aku tidak keliru dengan menitipkan anak-anakku padamu,” ucap Adriano pelan. “Aku juga sudah mentransferkan sejumlah uang untuk biaya hidup kalian bulan ini,” lanjutnya.


“Oh, terima kasih, Tuan. Tuhan akan selalu melimpahkan rezeki yang banyak untuk Anda. Simpanlah kalung itu. Ia akan menjaga Anda dari segala bahaya. Tuhan selalu bersamamu, Tuan,” Miranda tak kuasa menahan haru. Dia memberanikan diri menyentuh lengan Adriano. Namun, perhatiannya teralihkan kepada Mia dan Miabella yang datang menghampiri mereka.


Miranda kemudian menurunkan tubuhnya di hadapan Miabella. Dengan tatapan penuh kasih, dia menyentuh wajah cantik putri kecil Mia. “Kau sangat cantik, Sayang. Kelak dirimu akan mewarisi kesuksesan dan juga karisma ayahmu. Kau akan memiliki nama besar dengan karakter yang dikagumi banyak orang. Miabella Conchetta, itu nama yang sangat indah. Nama yang akan membawamu dalam sebuah kisah yang sempurna,” Miranda mengecup kening Miabella dengan penuh kasih. Anehnya, anak itu tak menolak sama sekali.


Sementara, Adriano tersenyum simpul seraya melirik Mia yang tengah mengusap air matanya. Adriano merasa bahagia karena masih bisa dipertemukan dengan orang-orang berhati lembut, dalam kehidupannya yang begitu keras.


Sekitar satu setengah jam saja, mereka menghabiskan waktu di sana. Adriano kemudian mengajak Mia dan Miabella untuk melanjutkan acara mereka. Tempat yang Adriano tuju kali ini adalah sebuah rumah tak terawat yang dia kunjungi beberapa hari ke belakang. Tempat yang tiada lain merupakan kediaman Emiliano Moriarty.


“Rumah siapa ini, Adriano?” tanya Mia dengan raut wajah tidak nyaman, karena melihat kondisi bagian depan bangunan yang dipenuhi rumput liar. Jalanan berlapis paving block yang mereka pijak juga dipenuhi oleh daun-daun kering yang berjatuhan dari sebatang pohon rindang di halaman.


“Kita masuk dulu,” ajak Adriano seraya menggendong Miabella yang juga terlihat agak takut. Gadis kecil itu memeluk sang ayah dengan kedua tangan melingkar di leher. Dia meletakan dagunya di atas pundak pria yang kini melangkah masuk.


Di dalam sana, Emiliano sudah menantikan kedatangan mereka. Emiliano tersenyum lebar. “Apa kabar, Nak?” sambutnya hangat. Namun, Adriano hanya membalasnya dengan senyuman simpul saja.

__ADS_1


__ADS_2