
Miabella berdiri sambil mendongakkan kepala. Sepasang matanya yang indah, tertuju pada sebuah guci porselen yang berisikan abu dari jasad milik Damiano. Miabella kerap datang ke sana tiap kali dia merindukan sang kakek.
Betapa tidak. Dalam bangunan megah dengan lahan seluas ribuan hektar itu, dia hanya tinggal berdua bersama Carlo sang pengawal yang juga telah menjadi seorang kekasih baginya.
“Apa kau sudah puas? Satu jam tujuh belas menit dua puluh tiga detik, kita berdiri di sini,” tanya Carlo setengah berbisik. Dia yang berdiri agak di belakang Miabella, saat itu maju untuk beberapa langkah.
Miabella menggumam pelan. Gadis itu menoleh ke samping, di mana terdapat wajah tampan sang pengawal yang telah mencuri hatinya. “Baru berdiri satu jam saja kau sudah mengeluh,” protes gadis itu.
Carlo tersenyum kalem. Paras tampannya berada tepat di sebelah wajah Miabella yang menahan debaran luar biasa tiap, kali mendengar helaan napas berat sang pengawal tercinta. Hal itu selalu mengingatkan Miabella, pada adegan menggetarkan yang berlangsung di atas rerumputan perkebunan kemarin malam.
Sesuatu yang membuatnya tersipu malu.
“Cuaca di luar sangat cerah. Bagaimana jika kita berkuda sambil berkeliling perkebunan?” tawar Carlo.
“Apa itu merupakan sebuah ajakan untuk berkencan?” balas Miabella seraya kembali menoleh ke arah wajah Carlo berada.
“Anggap saja begitu,” sahut pria tiga puluh empat tahun tadi dengan senyuman khasnya.
Miabella tersenyum lembut. Dia lalu menghadapkan tubuh pada sang pengawal pribadi. “Apa kau akan selalu berada di dekatku, Carlo?” tanyanya.
“Kenapa kau bertanya seperti itu?” Carlo mengernyitkan kening. “Aku sudah menemanimu sejak kau berusia lima tahun. Saat ini kita bahkan ....” Pria bertato tersebut tak melanjutkan kata-katanya. Dia lebih memilih untuk menyentuh bibir Miabella dengan lembut. “Aku mencintaimu. Kau sudah tahu akan hal itu,” ucapnya sesaat setelah dia mengakhiri ciuman mesra tadi.
“Berjanjilah bahwa kau tak akan pernah meninggalkanku,” pinta Miabella.
“Janji hanya sebuah ucapan yang bisa diingkari, tetapi rasa dalam hati tak akan dapat dipungkiri meskipun kita berusaha sekuat tenaga untuk menyingkirkannya. Kau sudah berada dalam hatiku sejak lama. Itu yang terpenting,” ucap Carlo seraya membelai lembut pipi Miabella.
“Lalu, andai suatu hari nanti kau harus pergi ... apa yang akan kau lakukan?” tanya Miabella. Entah apa maksud dari pertanyaannya tersebut.
Carlo tak segera menjawab. Pria tampan bernata biru itu menghela napas dalam-dalam, kemudian mengempaskannya perlahan. Lagi-lagi, dia memamerkan senyuman manis yang teramat memesona. “Seandainya aku terpaksa harus pergi dari sisimu, maka aku pasti akan kembali untuk mencari dan mendapatkan kau kembali. Itu adalah janji Carlo. Peganglah kata-kataku.”
“Baiklah. Aku menyukainya,” balas Miabella. Gadis itu tersenyum. “Jadi, apakah aku boleh tetap memanggilmu dengan nama Carlo atau Karl ... astaga ....” Miabella tertunduk.
“Kenapa?” Carlo menjadi heran. Dia menyentuh dagu gadis itu, kemudian mengangkatnya perlahan. “Apa yang kau pikirkan?” tanyanya lagi.
__ADS_1
“Kau,” jawab Miabella dengan segera. “Aku sangat mencemaskanmu setelah pertemuan kemarin dengan pria asing itu,” ucap Miabella tampak resah.
Akan tetapi, lain halnya dengan Carlo. Pria itu justru terlihat begitu tenang. Dia masih sempat tersenyum lebar saat menanggapi sikap Miabella yang teramat mengkhawatirkan dirinya. “Jangan terlalu memikirkan hal itu, karena aku pun berusaha untuk tidak terlalu memedulikannya. Aku tidak tahu siapa dan apa maksud mereka. Semuanya masih harus diselidiki dengan jauh lebih jelas,” ujar Carlo menenangkan Miabella.
“Sudah kukatakan agar sebaiknya kita pergi berkuda,” ucap Carlo lagi. Dia mencoba untuk tetap terlihat biasa saja, demi menepiskan segala perasaan yang mengganjal dalam hati. Carlo segera meraih pergelangan tangan Miabella, kemudian menuntunnya keluar. Tujuan mereka adalah perkebunan.
Carlo terus melangkah tanpa melepaskan genggamannya. Namun, ketika hendak melintasi ruang tamu, dengan terpaksa pria itu harus melepaskan tangannya dari pergelangan sang kekasih.
Di sana, tampak Marco yang tengah duduk penuh wibawa bersama Romeo dan juga Oxana. Sang ketua Klan de Luca tersebut datang sehari lebih cepat dari yang telah dia jadwalkan sebelumnya.
“Paman,” sapa Miabella ketika Marco berdiri. Putri dari Matteo tadi berjalan ke arah Marco berada. Sementara Carlo bergerak sedikit mundur di belakang sang nona muda. “Kapan Paman datang?” tanya gadis itu masih dalam posisi berdiri.
“Aku baru tiba sekitar beberapa menit yang lalu. Tadinya aku akan kemari esok hari, tapi bibimu ingin agar aku segera menjemput Romeo.”
“Ow. Jika Romeo kembali ke Palermo, lalu bagaimana dengan kekasihnya?” celetuk Miabella seraya menoleh kepada Romeo dan Oxana secara bergantian.
“Aku bukan kekasihnya,” bantah gadis asal Rusia itu dengan segera. Sedangkan Romeo tidak ikut berkomentar. Pemuda dua puluh tahun tersebut masih duduk dengan tenang.
“Kami sedang membahasnya,” ucap Marco seraya kembali ke kursinya. Dia mengarahkan perhatian kepada Romeo dan Oxana yang duduk dengan jarak hampir berdekatan. “Aku akan membantu gadis ini agar dapat kembali ke negaranya. Sementara, untuk masalah teman-teman dia yang lain akan kupikirkan dulu solusi yang paling tepat. Apalagi jika mereka masih mengenakan kalung dengan chip pengintai. Aku tak akan mengambi risiko, terlebih karena mereka tengah mengincar Klan de Luca,” jelas Marco dengan wajah yang tampak sangat serius.
“Baguslah kalau begitu,” ujar Miabella menanggapi. “Aku akan melihat kondisi perkebunan dulu bersama Carlo.” Gadis cantik itu menoleh kepada sang pengawal yang segera mengangguk padanya.
“Kau tidak akan pergi terlalu lama, kan?” tanya Romeo yang sejak tadi hanya terdiam.
“Memangnya kenapa?” Miabella yang sudah berjalan ke arah tangga menuju lorong perkebunan, kembali tertegun dan menoleh. Dia menatap lekat kepada sepupunya yang memasang raut aneh. Miabella menyadari bahwa Romeo sudah mengetahui hubungan rahasia antara dirinya dengan Carlo. Gadis itu berdiri seakan menantang pemuda tadi. Dia melipat kedua tangan di dada.
“Tidak ada apa-apa. Ayah mengatakan jika kami akan kembali ke Palermo hari ini juga. Benarkan?” Romeo menoleh kepada Marco yang mengangguk setuju dengan apa yang putranya ucapkan.
“Aku hanya akan berkeliling,” ucap Miabella kemudian. Dia lalu mengalihkan pandangan kepada pria rupawan yang berdiri tak jauh darinya. “Ayo,” ajak gadis cantik itu. Mereka berdua pun berlalu dari sana.
Setelah kepergian Miabella beserta Carlo, Marco pun beranjak dari duduknya. “Aku akan menghubungi ibumu dulu, untuk mengabarkan bahwa kita akan kembali hari ini juga,” ucap sang ketua Klan de Luca tersebut seraya berlalu ke bagian lain bangunan Casa de Luca.
Kini di sana hanya ada Romeo berdua saja dengan Oxana. Tanpa banyak bicara, putra sulung Marco tadi meraih pergelangan tangan gadis berambut pirang itu dan membawanya menuju koridor.
__ADS_1
Pada awalnya, Oxana sempat terkejut dan hendak menolak. Namun, dia tak punya pilihan selain menurut. “Ada apa?” tanya gadis itu ketika Romeo menyandarkan dia pada dinding koridor.
“Kau senang akan kembali ke Rusia?” tanya Romeo membuat Oxana menautkan alisnya yang terbentuk rapi.
“Tentu saja. Aku akan kembali bertemu dengan ibuku. Sudah lama diriku menantikan hal ini,” sahut Oxana dengan raut aneh setelah melihat bahasa tubuh Romeo yang tak biasa. “Apa kau ada masalah?” tanyanya ragu.
Romeo tak segera menjawab. Dia seperti merasa bingung untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya. Namun, tak berselang lama pemuda itu terdengar mengempaskan napas panjang. Dia menatap Oxana dengan lekat.
“Romeo?” Suara Oxana terdengar begitu lirih, saat menyebutkan nama pemuda di hadapannya. Namun, putra sulung Marco tersebut tak segera menyahut. Dia justru malah mendekatkan wajah hingga tak ada jarak antara dirinya dengan gadis berambut pirang tersebut.
Sementara Miabella, tengah asyik menunggang kuda bersama Carlo. Mereka memacu kuda masing-masing dengan tenang di sekeliling perkebunan. Meskipun tak ada perbincangan di antara dua sejoli itu, tetapi tatap mata serta senyuman yang saling mereka lemparkan telah mewakili segalanya.
Percikan cahaya cinta jelas terlihat, menghiasi kebersamaan antara Miabella dan Carlo. Setidaknya mereka dapat menikmati dan mereguk manisnya kebersamaan saat itu. Untuk sejenak, Carlo mengabaikan akan jati dirinya yang masih terlihat samar. Dia juga tak lagi mengindahkan peringatan dari Adriano. Baginya, mengungkapkan perasaan terdalam kepada Miabella merupakan sesuatu yang jauh lebih utama.
Sama seperti Coco dan juga keluarganya yang tengah berkumpul dengan penuh keceriaan di rumah baru mereka. Kota Roma merupakan tempat yang akan menjadi saksi, dari dimulainya hidup baru bagi sahabat Matteo tersebut.
Enzo terlihat bahagia, walaupun rumah yang mereka tempati saat ini tak semegah dan seluas Casa de Luca. Akan tetapi, hal itu justru semakin mendekatkan mereka. Saat masih tinggal di Casa de Luca, jarak antara kamar dirinya dengan Neve dan Lilla lumayan jauh. Sedangkan di tempat baru itu, Enzo tak perlu bersusah payah jika harus membangunkan kedua adik perempuannya.
Suasana penuh kebersamaan dan keakraban begitu terasa di ruang keluarga yang nyaman dan hangat. Coco dan Francesca duduk di sofa besar berwarna putih. Sedangkan Enzo, Neve, serta Lilla berada di atas karpet bulu tebal berwarna senada, tepat di hadapan kedua orang tua mereka.
Sesekali, Coco melemparkan candaan sambil menikmati siaran televisi. Tangan kanannya melingkar di bahu Francesca yang masih terlihat sangat cantik dan awet muda. Tak jarang juga pria berambut ikal tersebut mencuri ciuman dari sang istri, saat anak-anaknya serius memperhatikan layar televisi.
“Aku ingin waktu berhenti, sehingga kita tetap bisa seperti ini selamanya,” ujar Coco yang dibalas dengan cubitan kecil di pinggang.
“Jika waktu sudah berhenti, maka itu artinya telah kiamat,” sahut Francesca seraya tertawa geli.
“Terserah apapun itu, yang jelas aku ingin seperti ini selamanya,” ulang Coco lagi.
“Hm. Kau keliru, Sayang.” Francesca mengalihkan perhatian sepenuhnya pada sang suami. Dia menyentuh dagu Coco dengan jemari lentik terawat, sambil menatap lekat wajah tampan bermata coklat itu.
“Aku ingin waktu tetap berjalan, sehingga kita bisa terus menciptakan momen-momen indah seperti saat ini. Bersamamu dan anak-anak kita,” lanjut Francesca.
“Aku sangat mencintaimu, Francy,” bisik Coco lembut sembari mendekatkan bibirnya pada bibir merah sang istri.
__ADS_1
“Aku juga sangat ....” Belum sempat Francesca menyelesaikan kalimatnya, Enzo, Neve, dan juga Lilla berseru nyaring. Mereka memotong perbincangan romantis antara suami istri tersebut.
“Gooll!” teriak ketiga anak itu secara bersamaan.