Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Critical Condition


__ADS_3

"Mia," suara berat Adriano terdengar di ujung telepon, menyadarkan wanita cantik itu dari tidur lelapnya. Dengan seketika, Mia terjaga. Dia bangkit, kemudian duduk bersandar pada kepala tempat tidur.


"Adriano, apa kabarmu? Sayang, kenapa kau baru menghubungiku?" suara manja nan parau Mia terdengar begitu syahdu di telinga Adriano. Sekitar tiga hari setelah keberangkatannya ke Serbia, dia baru sempat mengubungi Mia lagi.


"Maafkan aku karena baru menghubungimu," balas Adriano. Pria itu terdiam sejenak. Helaan napas berat pun terdengar beberapa kali, mengisi kebisuannya.


"Apa kau baik-baik saja, Adriano?" tanya Mia. Dia bisa merasakan sesuatu yang tidak beres dari suaminya.


"Aku baik-baik saja, Mia," sahut pria bermata biru itu pelan. "Bisakah kau hubungi Francesca dan suruh dia untuk datang ke Brescia?"


"Untuk apa? Apa terjadi sesuatu kepada Ricci?" Mia membetulkan posisi duduk. Raut wajahnya pun tampak khawatir.


"Aku sudah menghubungi Pierre. Dia akan datang menjemput kalian besok. Karena itu bersiap-siaplah untuk berangkat ke Serbia. Satu lagi, titipkan saja Miabella kepada Damiano," pesan Adriano kemudian.


"Ada apa, Adriano? Apa terjadi sesuatu yang serius? Katakan saja," cecar Mia dengan sangat khawatir.


"Tidak apa-apa, Sayang. Sebaiknya kau segera hubungi Francesca dan persiapkan keberangkatan kalian. Itu saja, Mia," selesai berkata demikian, Adriano segera menutup sambungan teleponnya. Sikap aneh pria itu, tentu saja telah menimbulkan rasa penasaran yang begitu besar di hati Mia. Namun, sebisa mungkin ibunda dari Miabella tersebut mengesampingkan perasaan tak enak tadi. Dia pun segera menghubungi Francesca, dan memintanya agar segera datang ke Brescia dengan membawa perbekalan.


......................


Keesokan harinya, sebuah mobil sedan hitam berhenti di halaman luas Casa de Luca. Seorang pria berambut pirang, keluar dari dalam mobil tersebut. Dia lalu berjalan sambil melepas kaca mata hitam yang dikenakannya.

__ADS_1


"Pierre," sapa Mia yang sudah berdiri di teras, untuk menyambut ajudan setia sang suami.


"Nyonya, apa kabar?" sapa Pierre mengangguk sopan. "Apakah Anda sudah siap untuk berangkat? Pesawat yang akan mengantarkan kita ke Serbia sudah menunggu di Milan," lapornya.


"Iya," jawab Mia ragu, "kau tahu apa yang terjadi?" tanya wanita bermata cokelat itu penasaran.


"Aku tidak tahu, Nyonya. Tuan hanya memerintahkanku agar menjemput dan menemani Anda ke Serbia. Itu saja," jawab Pierre dengan pasti, meskipun Mia tahu bahwa pria asal Perancis itu tengah menyembunyikan sesuatu. Akan tetapi, Mia yakin jika tak lama lagi dia pasti akan segera mengetahuinya.


Dengan diiringi lambaian tangan dari Miabella yang berada dalam gendongan Damiano, mobil sedan hitam itu melaju keluar meninggalkan halaman luas Casa de Luca. Selama dalam perjalanan menuju ke bandara Malpensa di kota Milan, tak banyak percakapan di antara mereka bertiga. Pierre yang duduk di sebelah sopir, tampak sibuk dengan ponselnya. Sedangkan Mia dan Francesca pun larut dalam pikiran masing-masing.


Setelah beberapa saat berlalu, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Dengan segera, Pierre mengarahkan dua wanita cantik itu pada sebuah pesawat jet pribadi yang telah disiapkan sebelumnya.


"Kita berangkat sekarang, Nyonya," ujar Pierre, yang segera berbalas anggukan pelan dari Mia.


"Entahlah, Mia. Aku sangat mencemaskan keadaan Ricci. Kemarin, saat pulang dari Roma dia terjatuh dari motornya. Aku berniat untuk datang ke Brescia, tapi dia menolak karena dirinya akan pergi ke Serbia bersama suamimu," tutur Francesca penuh sesal.


"Astaga. Kenapa Ricci tidak berkata apa-apa padaku. Aku baru bertemu dengannya saat makan malam, tapi dia terlihat baik-baik saja. Oh ... maafkan aku, Francy. Aku kurang peka," Mia pun ikut menyesalkan dirinya.


"Tak apa, Mia. Seharusnya aku yang jauh lebih perhatian padanya," Francecsa tertunduk lesu. Terbayang dalam ingatannya, pertengkaran terakhir antara dia dan Coco beberapa hari yang lalu. "Aku selalu beranggapan bahwa Ricci bisa merawat dirinya sendiri," ucap gadis itu lagi dengan sangat pelan.


"Sudahlah, Francy. Berdoalah agar semuanya baik-baik saja," hibur Mia sambil mengusap-usap pundak sang adik yang masih tertunduk lesu.

__ADS_1


Tanpa terasa, perjalanan udara menuju Serbia telah berakhir. Pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat dengan mulus di bandara Nikola Tesla, kota Beograd. Dari sana, Pierre membawa kedua wanita itu menuju Zlatibor.


Pada akhirnya, mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah bangunan lima lantai, dengan dominasi warna oranye. Bangunan itu berada di antara pepohonan pinus dengan pemandangan yang sangat indah. Mia menjinjing tas kecil berisi pakaian ganti miliknya, sedangkan Francesca memasukkan baju-bajunya ke dalam sebuah ransel. Kedua wanita itu terus mengikuti Pierre yang hendak memasuki bangunan tadi.


"Tunggu sebentar!" cegah Mia. Dia membuat Pierre tertegun, kemudian menoleh. "Kenapa kau membawa kami kemari?" tanya Mia dengan penuh penekanan. Pikirannya sudah tak karuan, saat menyadari bahwa bangunan itu merupakan sebuah rumah sakit.


"Ada apa ini?" tanya Francesca dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Anda berdua ikut saja dulu. Penjelasannya ada di dalam," ujar Pierre merasa tak nyaman menghadapi keresahan dua wanita itu.


"Tidak, Pierre! Tolong katakan sekarang juga!" desak Mia dengan tegas.


"Tolonglah, Nyonya. Tuan D'Angelo sudah menunggu di dalam," tolak Pierre dengan halus. Dia mengisyaratkan agar kedua kakak beradik tersebut kembali mengikutinya.


Sementara Mia dan Francesca saling pandang untuk sejenak. Keresahan itu kini sama-sama mereka rasakan. Dengan segera, keduanya menyusul Pierre memasuki bangunan lima lantai tadi.


Dari kejauhan, tampak Adriano tengah duduk dengan setengah membungkuk sambil menopang kepala menggunakan kedua telapak tangan. Lega, itulah yang Mia rasakan ketika melihat suaminya baik-baik saja. Akan tetapi, tidak dengan Francesca. Keresahan masih menyelimutinya dengan jelas. Gadis itu terpaku, ketika mereka sudah berdiri di dekat Adriano yang terlihat memasang raut tegang. "Di mana Ricci?" tanyanya dengan suara bergetar. Perasaan Francesca begitu tak karuan saat menunggu jawaban dari kakak iparnya tersebut.


Adriano tak segera menjawab. Dia melirik Mia untuk sesaat. Pria bermata biru itu tahu betul makna dari tatapan sang istri terhadapnya. Namun, Adriano harus tetap memberikan penjelasan yang sebenarnya kepada mereka.


"Katakan, Adriano," pinta Mia dengan nada bicara yang terdengar sedikit menyudutkan.

__ADS_1


"Ricci ada di ruang perawatan. Dia sudah menjalani serangkaian operasi, tapi kondisinya masih kritis hingga saat ini," jelas Adriano yang seketika membuat Francesca limbung dan hampir terjatuh, andai Pierre tak segera menahan tubuh gadis itu.


__ADS_2