
"Juan Pablo Herrera? Siapa lagi dia? Detektif Ignazio tidak pernah menyebutkan nama itu padaku." Marco yang tadinya duduk bersandar, kini tampak mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
"Tanyakan saja nanti kepada Adriano saat dia sudah berada di sini," jawab Coco dengan enteng.
"Memangnya kapan Adriano akan datang kemari?" tanya Marco lagi. Dia kembali duduk bersandar. Tak berselang lama, konsentrasinya terpecah saat kembali mendengar suara teriakan anak-anak. Kedua putranya ternyata melarikan diri dari pengasuh mereka. "Astaga," keluh sang ketua Klan de Luca seraya mengusap-usap kening.
"Apa menurutmu sebaiknya aku menunda untuk punya anak terlebih dulu setelah menikah nanti?" pikir Coco. Sedangkan Marco hanya menggeleng pelan, terlebih ketika dia mendengar Romeo dan Tobia yang terus memanggil dan meneriakkan namanya.
Sementara Adriano dan Mia telah siap untuk berangkat ke Italia. Semua barang yang hendak mereka bawa, sudah dinaikkan ke dalam helikopter. "Rasanya baru kemarin kita kembali dari Italia, dan sekarang sudah kembali lagi ke sana. Akan tetapi, aku senang karena bisa sering pulang," ujar Mia setelah duduk di dalam helikopter yang sebentar lagi akan lepas landas.
"Aku juga senang karena bisa bertemu kakek. Apa kakek juga akan menikah seperti bibi Francesca, Bu?" tanya Miabella dengan polosnya.
"Sepertinya tidak, Sayang. Apa kau ingin agar kakek Damiano menjadi pengantin lagi?" tanya Mia tak kuasa menahan tawa.
"Aku akan bicara dengan kakek," jawab gadis kecil itu.
"Memangnya siapa yang akan menikah dengan kakekmu, Sayang?" Adriano ikut menimpali.
"Entahlah, Daddy Zio. Nanti akan kupikirkan," jawab gadis kecil itu sambil melipat kedua tangan di dada. Sedangkan Mia dan Adriano hanya saling pandang sambil menahan tawa.
Perjalanan yang terasa begitu singkat antara Monaco dan Italia. Helikopter berwarna hitam dengan gambar black panther telah mendarat mulus di atas landasan Casa de Luca. Dari kejauhan, terlihat Marco dan juga Coco yang menyambut kedatangan mereka. Sementara Francesca serta Daniella tengah pergi keluar.
"Di mana kakek Damiano?" gumam Miabella. Dia terus mencari sosok pria tua yang tak ikut menyambut kedatangannya.
"Kakekmu sedang di perkebunan, Sayang," jawab Coco, meskipun dia tahu bahwa Miabella tak akan memedulikan jawaban darinya. Apa yang dia pikirkan memang benar adanya. Gadis kecil itu lebih memilih berlari ke arah Romeo dan Tobia yang baru muncul. Ketiga balita itu pun bermain bersama, di bawah asuhan dua orang pengasuh.
"Kenapa putrimu selalu bersikap begitu padaku, Mia?" keluh Coco tak mengerti.
"Karena dia tahu kau pria yang nakal, Ricci," jawab Mia disertai tawa renyah seraya berlalu.
"Anak kecil pun tahu siapa kau, Ricci," timpal Adriano seraya mengikuti Mia. Dia berjalan berdampingan dengan Marco meninggalkan Coco di belakang seorang diri.
"Hey, aku calon pengantinnya! Kenapa kalian meninggalkanku begitu saja?" protes Coco.
__ADS_1
Akan tetapi, Adriano dan Marco tak memedulikannya. Kedua pria yang merupakan ketua dari organisasi masing-masing itu terus melangkah masuk. Dengan sedikit jengkel, Coco pun segera mengikuti mereka berdua. Ketiganya langsung menuju ke ruang kerja untuk membahas rencana yang telah disepakati kemarin.
"Apa kau sudah yakin bahwa Nenad memang berada di sana?" tanya Adriano setelah mereka duduk di kursi. Sebungkus rokok pun ikut menemani perbincangan santai kala itu.
"Kita pastikan saja dulu, tapi aku yakin Monique tidak akan berbohong," ujar Coco yakin.
"Aku rasa kita juga harus waspada. Monique adalah mantan asisten setia Nenad. Jangan sampai jika dia memang sengaja memancing kita untuk datang ke sana," pikir Adriano. Bagaimanapun juga, mereka harus membuat sebuah rencana yang benar-benar matang
"Ya, Adriano benar. Apalagi kau akan segera menikah. Jika dirimu tertembak lagi atau bahkan mati di sana, maka kau akan menyesalinya hingga dunia kiamat," timpal Marco yang segera disambut gelak tawa oleh Adriano.
Lain halnya dengan Coco. Dia tampak kesal dengan candaan yang dilontarkan oleh Marco. "Sialan kau! Aku bukan keledai yang akan terjerembab ke dalam lubang yang sama," gerutu Coco. "Untuk kali ini, aku harus benar-benar waspada dan berkonsentrasi. Lagi pula, kita akan berangkat bertiga. Jadi, menurutku kita bisa saling melindungi satu sama lain. Perlindungan yang jauh lebih rapat dari kemarin. Selain itu, kali ini aku membawa suasana hati yang baik," tutur Coco terlihat begitu semangat.
"Jangan katakan jika kemarin-kemarin kau memang berniat bunuh diri di sana," celetuk Adriano.
"Ya, itu bisa jadi," timpal Marco kembali membuat Coco merasa jengkel.
"Kalian berdua sama saja!" gerutu Coco kesal.
"Alasan apa yang akan kita pakai untuk mengelabui para istri?" tanya Marco seraya melirik Adriano.
Namun, sang ketua Tigre Nero tak segera menjawab. Dia melirik Coco untuk sejenak, kemudian tersenyum kecil. "Kalian tenang saja. Aku sudah punya alasan yang sangat logis," jawabnya tenang.
"Baiklah, aku ikut saja," sahut Marco. "Oh, iya. Coco sempat mengatakan padaku tentang seseorang bernama Juan Pablo Herrera. Katanya, kau bisa menjelaskan padaku tentang siapa dia." Perhatian Marco kini sepenuhnya tertuju pada Adriano. Raut wajah ayah dua anak itu tampak lebih serius dari sebelumnya.
"Juan Pablo?" ulang Adriano. "Aku akan mengundangnya nanti ke pesta pernikahan Ricci. Setelah itu, silakan kau nilai sendiri seperti apa dirinya," ujar Adriano membuat rasa penasaran dalam diri Marco kian menjadi.
......................
Suasana hangat begitu terasa ketika di meja makan malam itu. Gelak tawa terdengar nyaring, ketika Miabella menyarankan agar Damiano menikah lagi.
"Oh, aku sudah terlalu tua untuk menikah lagi, Sayang. Siapa yang mau dengan kakek-kakek sepertiku?" Damiano menanggapi celotehan Miabella sambil sesekali tertawa pelan.
Miabella yang saat itu tengah mengunyah makanan, melirik setiap orang yang berada di sana. Pandangannya kemudian tertuju pada seorang wanita muda yang tengah menyajikan menu penutup di meja. "Kakek bisa menikah dengan Carlotta," celetuk gadis kecil itu, membuat pelayan bernama Carlotta tadi segera menoleh padanya karena merasa terkejut.
__ADS_1
"Kenapa aku, Nona Muda?" tanya Carlotta
"Karena kau sering menyajikan makanan di meja. Kau pasti akan menyuruh kakekku makan terus. Dengan begitu, kakek tidak akan kelaparan," jawab Miabella membuat Damiano kembali tertawa.
"Ya Tuhan. Kau sangat perhatian padaku, Sayang. Tenang saja, karena tanpa menikah pun aku tidak akan pernah kelaparan," sahut Damiano lagi kembali tertawa.
Seusai makan malam, mereka lalu berkumpul di ruang keluarga. Itulah saat yang tepat bagi Adriano untuk membahas rencana keberangkatan mereka bertiga ke Kroasia.
"Jadi, aku sudah membuat satu acara kejutan untuk Ricci sebelum dia menikah." Pria bermata biru itu memulai perbincangan.
"Jika memang kejutan, kenapa harus kau katakan sekarang?" protes Mia heran.
"Karena acaranya akan berlangsung di Monaco. Jadi, tentu saja harus kukatakan dari sekarang," jelas Adriano tampak meyakinkan.
"Kenapa harus di Monaco, Adriano?" tanya Francesca tak mengerti. Dia menatap lekat suami dari kakaknya.
"Um, karena ... karena ... kau tahu bukan bahwa Monaco adalah surga bagi para pelancong, pecinta pesta, dan ...."
"Apa maksudnya, Adriano?" tanya Mia dan Francesca secara bersamaan. Sementara Daniella hanya tersenyum samar. Lain halnya dengan Marco dan Coco yang sudah terlihat tegang.
"Begini, maksudku adalah ... aku sudah menyiapkan sebuah pesta di salah satu club malamku yang berada di Monaco. Pesta yang akan kuselenggarakan selama kurang lebih tiga malam berturut-turut, dan dipersembahkan khusus untuk Ricci. Jadi, rencananya kami akan berangkat ke Monaco besok. Sementara kalian silakan lakukan persiapan semaksimal mungkin di sini," jelas Adriano memberikan penjelasannya dengan jauh lebih tenang.
"Pesta khusus untuk Ricci?" tanya Daniella. "Apakah itu semacam pesta lajang?" lanjutnya, membuat Mia dan Francesca sontak saling pandang.
"Oh, tidak! Kalian akan menggelar pesta lajang di club selama tiga malam berturut-turut?" Protes Francesca yang seakan tak terima dengan rencana dari Adriano.
"Ya, Francy. Pesta bujang. Minuman, musik, dan tentu saja para penari telanjang," sahut Daniella membuat Francesca semakin terlihat gusar.
"Hey, Dani. Tentu saja bukan pesta seperti itu," sanggah Adriano. "Kami akan menggelar pesta yang dikhusukan untuk para pria. Aku yang menjamin bahwa tak akan melibatkan seorang wanita pun di dalamnya," ujar Adriano meyakinkan.
"Apa buktinya jika kalian tak berbuat nakal di sana?" tantang Mia.
"Kepercayaanmu, Sayangku? Aku, Marco, dan juga Ricci, akan membawa serta kepercayaan yang kalian berikan kepada kami bertiga dan itu sesuatu yang jauh lebih penting dari sebuah dokumentasi," jawab Adriano meyakinkan.
__ADS_1