
Miabella tersenyum kelu saat mendengar jawaban dari Carlo. Namun, entah mengapa dia tidak merasa bahagia, meskipun dalam kenyataannya Carlo akan membuktikan apa yang dia ucapkan. "Kau ingin membuatku terlihat egois, Carlo?" tanya Miabella sendu.
"Kenapa harus merasa demikian?" Carlo balik bertanya. "Aku sudah menjagamu sejak kecil, Nona. Hingga usiaku saat ini, diriku hanya mengabdikan sebagian besar waktu untuk mengikuti ke mana pun kau pergi. Aku tak pernah berpikir yang lain, selain memastikan agar kau selalu aman dan merasa nyaman. Akan tetapi, entah esok, lusa, atau beberapa minggu, bulan, dan tahun kemudian ... pada akhirnya kau pasti akan menemukan seseorang yang bisa menjagamu dengan jauh lebih intens. Saat itulah tugasku selesai untuk menyertaimu," tutur Carlo.
"Aku yakin bahwa tuan Adriano pasti sudah memiliki gambaran, seperti apa sosok pria yang nanti akan dia percaya untuk dapat menjaga putri kesayangannya," ujar Carlo lagi.
"Andai saat itu benar-benar tiba dalam hidupku ... lalu ... lalu apa yang akan kau lakukan? Apa kau juga akan menemukan wanita lain seperti Delana?" Lagi-lagi, Miabella menyebut nama itu.
Carlo tertawa renyah atas pertanyaan tersebut. Pada akhirnya dia memutuskan untuk tidak jadi merokok. Carlo mengempaskan napas pelan. Dia lalu mengambil satu cup gelato rose petals, kemudian menyendoknya. Suapan pertama, Carlo berikan kepada Miabella. "Kau sudah memesan ini, jadi mau tidak mau harus dihabiskan," ucapnya saat sendok berisi gelato tadi berada di dekat mulut gadis itu.
Akan tetapi, Miabella hanya terdiam untuk beberapa saat. Dia tak juga memberikan tanggapan, sebelum Carlo benar-benar menempelkan sendok tadi sehingga membuatnya merasa tak nyaman. Miabella pun terpaksa membuka mulut dan menyantap makanan tersebut.
"Aku belum tahu apa yang akan kulakukan beberapa waktu ke depan. Saat ini, aku hanya ingin menunaikan tugasku dengan baik untuk memastikan supaya kau selalu aman. Aku juga berharap agar dirimu berhenti berulah macam-macam, sehingga tak membuat ...." Carlo tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena ponsel yang dia simpan di dalam jaket terasa bergetar. Pria itu pun segera merogoh ke dalam untuk memeriksa. Nama Adriano tertera dengan jelas di layar. Tanpa berlama-lama, Carlo pun menjawab panggilan itu. "Pronto," sapanya.
"Apa kau sedang bersama putriku, Carlo? Aku mencoba menghubunginya sejak tadi, tapi tidak bisa tersambung."
Carlo tersenyum seraya menggumam pelan. "Nona ada di sini, tuan. Anda ingin bicara dengannya?" tawar pria itu seraya mengarahkan pandangan kepada Miabella yang terlihat agak malas. "Oh, baiklah," ucap Carlo lagi sebelum menyodorkan ponsel kepada Miabella.
Walaupun sebenarnya sedang tak ingin banyak bicara, tetapi Miabella tetap menerima ponsel itu dan berbincang dengan sang ayah sambung. "Pronto," sapa gadis cantik tersebut pelan.
"Bella, aku menghubungi ponselmu sejak tadi. Apa kau tidak memeriksanya?" tanya Adriano dari seberang sana.
"Aku rasa mungkin baterainya habis. Ada apa, daddy zio? Apa sekarang kau sudah berada di Yunani?" Miabella memaksakan diri untuk berbasa-basi.
"Ya, ibu dan adikmu sedang memanjakan diri mereka di sauna. Andai kau juga ikut, pasti akan jauh lebih menyenangkan," ujar ayah dua putri yang luar biasa itu.
Miabella tersenyum, lalu menggumam pelan. "Paman Ricci sudah memberiku penjelasan tentang perkebunan. Mungkin saja setelah ini aku akan mulai menyibukkan diri di sana. Kau tidak perlu mencemaskanku lagi, daddy zio. Aku berjanji tidak akan melakukan sesuatu yang aneh-aneh di sini," terang Miabella.
Namun, Adriano tak segera menanggapi ucapannya. Pria itu terdiam dan seakan tengah mencoba untuk menganalisa sesuatu dari jarak jauh. Beberapa saat kemudian, sang ketua Tigre Nero kembali berbicara. "Kau tidak sedang di perkebunan. Di mana kalian sekarang?" tanyanya penuh selidik.
__ADS_1
"Kami ada di Milan," jawab Miabella dengan segera. "Aku dan Carlo baru saja mengunjungi rumah singgah serta menjenguk Miranda. Aku rasa, mungkin Carlo akan bercerita sesuatu padamu tentang ...." Miabella melihat Carlo menggelengkan kepala, sebagai pertanda bahwa dia tak setuju dengan apa yang akan gadis itu katakan kepada Adriano.
"Tentang apa?" tanya Adriano.
"Tentang Miranda yang sedang sakit," jawab Miabella berbohong. Padahal, dia lebih menyukai jika Carlo berbicara jujur kepada sang ayah perihal ibunya.
"Oh, aku sudah mengetahui hal itu sejak lama. Miranda telah beberapa kali berobat," terang Adriano.
"Ya, tentu saja. Kau tidak akan ketinggalan berita apapun, daddy zio," ujar Miabella. Entah ke mana arah pembicaraannya. Miabella pun meringis kecil, menyadari bahwa apa yang dia katakan sangat tak berarti. "Baiklah, kami akan segera pulang. Nanti saja kuhubungi lagi. Kukembalikan ponselnya kepada Carlo," tutup Miabella. Dia menyodorkan benda tipis itu pada sang pemilik.
"Tuan," sapa Carlo.
"Aku akan kembali ke Monaco sekitar tiga hari lagi. Bagaimana di sana?" Adriano masih saja mencemaskan Miabella dan segala tingkah lakunya yang luar biasa.
"Semuanya terkendali, tuan. Anda tidak perlu khawatir," sahut Carlo tersenyum simpul. Sesaat kemudian, pria itu menutup sambungan teleponnya dan kembali fokus kepada Miabella yang terlihat murung. "Jadi, Nona masih ingin di sini atau kita pulang saja?" tawarnya.
"Baiklah." Carlo kemudian mengenakan kembali kaca mata hitam yang dia letakkan di atas meja. Setelah membayar semua gelato yang tadi dipesan, mereka pun pergi meninggalkan sisa beberapa cup di sana. Sifat Miabella sungguh manja laksana seorang anak kecil saat dia merajuk seperti itu. Namun, hal tersebut bukan lagi sebuah masalah besar bagi Carlo yang telah terbiasa dengannya.
Siang akan segera berlalu. Namun, suasana masih cukup terang. Selama dalam perjalanan pulang, Miabella tak banyak bicara dan tidak juga bersikap nakal serta iseng terhadap Carlo yang tengah fokus mengendarai motornya. Hal itu terus berlangsung hingga mereka tiba di halaman Casa de Luca.
Miabella yang murung, langsung turun dari motor. Tanpa banyak bicara, dia berlalu begitu saja dari sana. Gadis itu bahkan masuk ke dalam rumah tanpa melepas helm yang dia kenakan.
Lagi-lagi, Carlo dibuat bingung dengan tingkah gadis bermata abu-abu tersebut. Tanpa banyak berpikir, pria tiga puluh empat tahun itu segera menyusulnya. "Nona!" panggil Carlo yang berusaha menghentikan Miabella. "Nona, tunggu!" seru pria itu lagi. Dia mempercepat langkah kakinya, hingga tiba di depan kamar Miabella.
Akan tetapi, ketika tiba di sana Carlo tetap tak bisa mengejar dan menghentikan Miabella. Gadis itu menutup pintu dengan keras, tepat saat dirinya hendak menghampiri. "Ya, Tuhan!" Carlo tampak cukup terkejut karenanya. Dia menenangkan diri terlebih dahulu, barulah mengetuk pintu dengan perlahan. "Nona. Apa kau baik-baik saja?" seru Carlo dengan tidak terlalu nyaring. Namun, tak terdengar jawaban apapun dari dalam.
Carlo sudah dapat menebak hal itu. Dia lalu berpindah ke sisi sebelah pintu, kemudian bersandar pada dinding. Carlo mengeluarkan ponsel, lalu mengetik sebuah pesan.
Jika kesalnya sudah hilang, keluarlah. Akan kubuatkan caponata untukmu.
__ADS_1
Setelah mengirimkan pesan tadi, Carlo berdiri sejenak di sana sambil terus bersandar pada dinding. Dia menarik napas kemudian mengempaskan perlahan. Pikirannya mulai bercabang ke mana-mana, dan membuat pria itu semakin berada di dalam kegalauan.
"Kau sedang apa?" Suara sapaan Romeo membuyarkan segala renungan Carlo. Dia pun segera menegakkan tubuh.
"Tuan muda," sapa pengawal setia Miabella tersebut.
"Aku tidak melihat kau dan Miabella selama seharian ini," ucap Romeo yang berdiri tak jauh dari Carlo.
"Kami pergi ke Milan dan baru kembali," sahut Carlo sopan, meskipun usia Romeo jauh lebih muda darinya.
"Aku bisa jauh lebih tenang, karena Bella tidak merasa trauma setelah peristiwa kemarin malam," ucap Romeo lagi.
"Nona Miabella tidak selemah yang kita kira, Tuan Muda," balas Carlo menanggapi.
"Ya, kau benar. Dia memiliki darah de Luca dalam tubuhnya," ujar Romeo yang kemudian mendekat kepada Carlo. "Kau sudah memberikan belati itu kepada ayahku, kan?"
"Aku sudah memberikannya langsung malam itu juga. Memangnya kenapa?" Carlo terlihat mulai serius. Rautnya sedikit tegang, terlebih saat dia teringat pada pisau lipat berukir kepala serigala dengan tulisan yang serupa.
"Aku telah menyelidiki dengan jauh lebih teliti akun milik gadis yang waktu itu mengajakku untuk bertemu. Ternyata nama aslinya bukanlah Patrizia Belski," terang Romeo. Pemuda dua puluh tahun tersebut kemudian mengeluarkan ponselnya. Dia memperlihatkan sesuatu kepada Carlo.
"Namanya adalah Oxana Miroslava. Dia seorang foto model yang baru merintis karier di Italia. Apa menurutmu ada kemungkinan bahwa dirinya ...."
"Hanya menjadi orang suruhan?" lanjut Carlo yang seakan sudah dapat menebak apa yang Romeo pikirkan.
"Ya, begitu maksudku." Romeo membenarkan tebakan Carlo yang sangat tepat. "Namun, aku belum membicarakan hal ini dengan ayah. Sejujurnya ini adalah keteledoran yang telah kulakukan," ucap sulung dua bersaudara itu lagi.
"Lalu, Anda ingin menyelidiki ini seorang diri sebagai bentuk rasa tanggung jawab?" tebak Carlo lagi.
"Ya, tepat!" Romeo menjentikkan jari karena begitu setuju dengan ucapan Carlo. "Aku tahu bahwa ayah dan paman Adriano pun telah bergerak untuk menyelidiki ini, tapi aku merasa tertantang untuk ikut terjun. Kau tahu, Carlo? Setelah peristwa penculikan malam itu, rasanya aku mulai sedikit berubah pikiran. Aku menjadi tertarik dengan urusan organisasi. Rasanya luar biasa sekali saat bisa menembak dengan sasaran yang lebih nyata."
__ADS_1