
Senyuman lebar terpancar dari wajah tampan Adriano yang terlihat sudah segar. Entah harus dengan cara apa dia mengungkapkan rasa bahagia itu. Satu yang pasti, Adriano ingin segera berpakaian dan menemui Mia yang sepertinya tengah menyiapkan sarapan.
Dalam waktu lima belas menit saja, sang ketua Tigre Nero telah tampil rapi seperti biasa. Dia melangkah dengan gagah dan penuh wibawa menuju ke ruang makan, dengan membawa perasaan luar biasa yang telah Mia hadiahkan di pagi itu.
Di ruang makan, suasananya sudah cukup ramai. Coco pun tampak ikut sarapan setelah kembali dari rumah sakit kemarin. Di sebelahnya, tampak Francesca yang tak henti-henti melirik sang kekasih atas segala gerakan yang dibuatnya. "Ayolah, Francy. Jangan mengawasiku terus," protes Coco yang merasa tak nyaman.
"Aku hanya memastikan agar kau tak bergerak terlalu kuat, Ricci," sahut Francesca gemas.
"Astaga, apa sendok dan garpu ini terbuat dari beton?" Coco setengah menyindir calon istrinya.
"Ya, siapa tahu kau tiba-tiba menendang meja makan ini," celetuk Francesca dengan tak acuh.
"Aku akan menendang semuanya andai kau berani pergi dariku," ancam Coco dengan seenaknya.
"Ya, dan aku akan pergi andai kau berani mencium gadis lain lagi." Francesca mengancam balik.
"Oh, kalian romantis sekali," celetuk Daniella yang tengah menyiapkan sarapan untuk Marco. Pria itu masih berada di dalam kamar. "Lebih baik aku sarapan di kamar bersama Marco," pamitnya seraya berlalu. "Enrica! Jangan lupa ajak anak-anak untuk sarapan dulu, baru kalian boleh lanjut bermain," seru Daniella. Dia sudah terbiasa berteriak seperti itu. Merawat dua bocah super aktif seperti Romeo dan Tobia, membuatnya tak peduli lagi dengan keanggunan.
Sementara Damiano hanya menggelengkan kepala. Namun, dia sangat bahagia karena Casa de Luca tak lagi sunyi seperti biasanya. "Di mana Adriano? Kenapa dia belum muncul?" tanyanya.
"Dia sedang bersiap-siap, Paman," sahut Mia yang baru selesai menyajikan makanan di atas meja.
"Aku di sini, Sayang." Suara berat Adriano terdengar di ruang makan tersebut. Dia lalu berjalan ke arah Mia berdiri. Wanita itu tersenyum manis. Ibunda Miabella tersebut sudah dapat menebak, bahwa Adriano pasti telah melihat hasil test kehamilannya. "Aku menyukai kejutanmu, Mia," bisiknya seraya merengkuh pinggang sang istri.
"Kau tidak ingin menyapaku, Amico?" protes Coco yang merasa diabaikan kehadirannya oleh Adriano.
"Hai, Ricci. Aku senang karena kau sudah kembali dari rumah sakit, tapi sayangnya ada sesuatu yang membuatku jauh lebih bahagia saat ini."
......................
Malam belum terlalu larut, ketika Gianna melangkah seorang diri menyusuri jalanan kota Roma. Tangan kanannya erat menjinjing sebuah paper bag berisi belanjaan. Gianna memang lebih senang berjalan kaki, karena dia ingin menikmati suasana kota Roma.
Sesaat kemudian, langkah kecil gadis berambut pirang tersebut menjadi kian lambat. Gianna bahkan tertegun dan mematung untuk beberapa saat. Kedua matanya pun bergerak ke kiri dan ke kanan secara teratur. Dia seakan tengah merasakan sesuatu yang aneh saat itu.
__ADS_1
Perlahan, gadis dengan postur semampai tadi menoleh ke belakang. Sorot mata biru yang indah tadi, awas menelisik segala hal yang ada di sekitarnya. Gianna merasa bahwa dia tengah diikuti oleh seseorang. Namun, dirinya tak tahu apakah hal itu benar atau hanya perkiraan saja. Gianna pun melanjutkan langkah menuju apartemen yang dia tempati.
Namun, makin lama perasaan gadis itu semakin tak enak. Dia mempercepat langkah dengan raut wajah yang tampak gelisah. Hingga tiba pada jalan masuk menuju area apartemen, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangannya. Orang itu membawa Gianna ke sebuah gang kecil, lalu menyandarkan tubuhnya pada dinding salah satu bangunan. "Siapa ka ...." Gianna tak melanjutkan kata-katanya, ketika dia melihat paras tampan pria yang tersenyum sambil menatap lembut. "Juan," sebut Gianna lirih. Dengan segera dia memeluk pria bertubuh tegap itu.
"Ada apa? Kenapa kau terlihat ketakutan?" tanya Juan Pablo khawatir
"Sepertinya ada seseorang yang mengikutiku," jawab Gianna. Kecemasan yang tadi sempat menggelayutinya, sirna seketika saat berada di dekat sang kekasih.
Juan Pablo terdiam sejenak. Sorot matanya menajam setelah mendengar jawaban gadis cantik bermata biru tersebut. Perlahan, pria asal Meksiko itu kemudian melihat ke jalanan dari balik dinding tadi. Pandangannya awas pada setiap pergerakan yang dapat dia tangkap di sekitar tempat tersebut.
Untuk beberapa saat lamanya, sang Elang Rimba mengawasi suasana malam di sekitar jalanan yang tadi dilalui oleh Gianna. Akan tetapi, dia tak menemukan sesuatu yang aneh. Juan Pablo kemudian menarik kepalanya kembali ke balik dinding. Putra dari Mattea Juanita Herrera tersebut lalu terdiam sejenak. Secepat kilat, dia melihat lagi ke arah jalan. Tampaklah sekelebat bayangan tubuh jangkung yang mengenakan mantel panjang dilengkapi sebuah topi fedora. Bayangan itu bergerak cepat dan pergi meninggalkan area tempat itu.
Juan Pablo tersenyum sinis. Dia keluar dari gang kecil tadi, kemudian berdiri sambil menatap sosok jangkung bermantel panjang yang sudah berjalan menjauh. "Rupanya kau masih ingin bermain-main denganku, Jacob. Coba saja jika kau berani!" pelan tapi begitu tegas dan penuh penekanan ucapan Juan Pablo saat itu. Tangan kanannya terkepal sempurna dengan sorot tajam sang pembunuh.
"Apa kau melihat seseorang yang mencurigakan, Juan?" tanya Gianna yang muncul dari dalam gang. Dia berdiri di sebelah Juan Pablo dan memandang ke arah yang sama.
"Tidak ada. Aku rasa itu hanya perasaanmu saja. Mari kuantar pulang," ajak Juan Pablo. Pria tampan bermata cokelat madu tersebut meraih jemari sang kekasih, kemudian menggenggamnya dengan erat. Dia lalu menuntun gadis cantik itu, kembali menyusuri jalanan yang tak terlalu jauh dari apartemen tempat tinggal Gianna.
"Aku sudah kemari, tapi ternyata kau tidak ada. Jadi, kuputuskan untuk mencarimu keluar," jelas Juan Pablo yang juga telah melepas mantelnya.
"Lalu, kau menemukanku begitu saja di sana. Rasanya sangat aneh," pikir Gianna. Dia mengambil sebuah lemon dari dalam keranjang buah, kemudian memotong dan meletakkannya pada piring kecil.
"Aku bisa menemukan keberadaanmu di manapun," sahut Juan Pablo tenang. Dia duduk di atas sofa dengan sikapnya yang terlihat sangat gagah. Namun, pria tampan dengan tato kalajengking itu tampak menautkan alis, saat Gianna menghampiri dan duduk di sebelahnya sambil membawa potongan lemon di dalam piring kecil tadi.
"Astaga, kau memasang alat pelacak di ponselku?" Gianna menatap kekasihnya itu dengan raut tak percaya.
"Itu demi keamananmu, Bice. Dengan begitu, aku bisa selalu memantau dirimu meski dari jauh," kilah Juan Pablo tenang. Dia memandang Gianna untuk sejenak, kemudian mengalihkan perhatiannya pada lemon yang tengah gadis itu nikmati. "Kau menyantap lemon malam-malam begini?" tanyanya heran.
"Kau mau?" Gianna balik bertanya sambil menyodorkan piring kecil yang sedang dipegangnya.
"Tidak, terima kasih," tolak Juan Pablo. Dia memperhatikan paras cantik Gianna dengan lekat. Pikiran pria yang merupakan mantan anggota pembunuh bayaran Killer X itu mulai berkecamuk. Inilah yang tidak dia sukai. Sejak dulu, Juan Pablo selalu menghindarkan dirinya dari sebuah ikatan yang mengatasnamakan perasaan cinta. Namun, kini dia tak kuasa dan justru bertekuk lutut pada pesona gadis belia yang berusia terbilang jauh darinya. Sebelas tahun rentang umur di antara mereka berdua, tapi tak menghambat rasa nyaman Juan Pablo terhadap diri Gianna.
"Wajahmu terlihat pucat. Apa kau sakit?" tanya pria tiga puluh lima tahun tersebut.
__ADS_1
"Tidak. Aku baik-baik saja," jawab Gianna tanpa menoleh. Dia masih asyik menyantap lemon tadi hingga habis. Gianna lalu meletakkan piring kosongnya di atas meja. "Aku tidak terbiasa hidup sendiri. Setelah tinggal di Roma, aku harus melakukan segala hal tanpa bantuan siapa pun," tutur gadis itu. Gianna lalu masuk ke dalam dekapan Juan Pablo yang merentangkan tangan padanya, mengisyaratkan agar dia segera mendekat.
"Bagaimana jika kau ikut saja denganku?" tawar Juan Pablo sembari mengecup kening sang kekasih dengan penuh kasih.
"Ke mana?" tanya Gianna yang masih setengah menengadah, menatap ke arah pria tampan di dekatnya.
"Ke Monaco," jawab Juan Pablo. "Kau bisa tinggal di mansionku," ucapnya lagi.
"Sebagai apa?" tanya Gianna lagi.
"Ayolah, Bice. Aku belum siap untuk hal itu," tolak Juan Pablo meminta pengertian dari kekasihnya.
"Aku juga. Tidak perlu memikirkannya dengan terlalu serius," sahut Gianna pelan seraya terus menyandarkan kepala di pundak Juan Pablo, yang kembali mengecup lembut keningnya. Mereka saling terdiam untuk beberapa saat, hingga tanpa sadar ternyata Gianna sudah memejamkan matanya.
"Bice?" panggil Juan Pablo pelan setelah beberapa saat tak mendengar suara sang kekasih. Dia lalu menundukkan wajah sambil menoleh kepada Gianna yang sudah terlelap. "Astaga." Pria berambut gelap itu menggeleng tak mengerti seraya berdecak pelan. Tanpa banyak bicara lagi, Juan Pablo membopong tubuh semampai Gianna menuju ke kamar. Dia lalu merebahkannya di atas kasur, kemudian melepas sepatu yang masih gadis tersebut kenakan.
Beberapa saat lamanya, Juan Pablo memperhatikan gadis yang sudah tertidur lelap itu. Lembut, tangannya membelai rambut dan pucuk kepala si gadis. "Aku mencintaimu, Bice. Namun, aku merasa ragu apakah kau masih bisa menerima, andai dirimu mengetahui siapa diriku yang sebenarnya. Ilario ...." Juan Pablo tak melanjutkan kata-katanya. Dia memilih untuk keluar kamar, lalu duduk. Tangannya sibuk mencari kontak dengan nama Stefano.
"Bos," sapa seorang pria yang tak lain adalah Stefano dari seberang sana.
"Ada berita apa?" tanya Juan Pablo tanpa basa-basi.
"Adriano D'Angelo datang ke markas. Dia bertanya tentang Ilario," lapor Stefano.
"Lalu?" tanya Juan Pablo lagi.
"Dia menemuiku dan berbicara tentang anda. Aku rasa Adriano D'Angelo sudah mengetahui bahwa Artiglio Di Corvo ada dalam kekuasaan anda saat ini," lapor Stefano lagi.
🍒 🍒 🍒
Jangan bosan ya, karena ceuceu datang lagi membawakan rekomendasi novel.
__ADS_1