
Carlo mundur perlahan. Dia berlalu dengan diam-diam dari depan pintu kamar Miabella.
Tepat pada saat itu, gadis cantik tersebut membuka pintu dan melihat ke luar. Tak bisa dipungkiri bahwa Miabella juga tengah merasakan kegalauan, sehingga dirinya merasa harus mencari sang pengawal untuk bicara. “Carlo?” gumam Miabella seraya menautkan alis. Dilihatnya pria itu tengah berjalan tergesa-gesa menyusuri koridor.
Miabella merasa aneh dengan sikap dari pria tersebut. Biasanya Carlo tak pernah seperti itu. Setiap kali menghadapi dirinya yang tengah merajuk, maka Carlo tak akan henti-henti untuk mengejar serta merayu. Sebisa mungkin dia akan berusaha untuk mengembalikan keceriaannya.
Akan tetapi, kini pria tampan itu bahkan tidak memeriksa keadaan atau setidaknya mengirim pesan. Karena merasa curiga, Miabella pun berpikir untuk mengikuti Carlo yang sudah semakin jauh melintasi koridor. Gadis itu terus melangkah dengan diam-diam. Dia segera bersembunyi dengan cara berdiri di balik pilar besar, saat Carlo menoleh ke belakang. Pria itu sepertinya dapat merasakan bahwa ada seseorang yang mengikuti. Miabella pun berada di sana untuk beberapa saat, hingga akhirnya dia lanjut mengikuti Carlo, yang kembali melanjutkan langkah dengan cukup cepat.
Miabella baru berhenti ketika mata abu-abunya melihat Carlo memasuki garasi. Sang pengawal kemudian mengeluarkan motor besar kesayangannya. Dalam waktu singkat, pria itu sudah memakai jaket biker lengkap dengan helm dan juga sarung tangan.
“Oh, tidak!” Tak ingin kehilangan jejak, gadis itu segera berlari ke arah belakang garasi dan menyelinap masuk melalui pintu samping. Dia merunduk serta mengendap-endap, hingga tiba di dekat mobil jeep antik berwarna hitam. Miabella pernah mendengar cerita dari Coco, bahwa mobil itu adalah milik mendiang Matteo de Luca yang merupakan ayah kandungnya.
Tanpa berpikir panjang, gadis itu segera membuka pintu kemudi yang ternyata tak terkunci. Keamanan di Casa de Luca memang sudah ditingkatkan, terutama setelah kejadian pemasangan bom mobil yang menewaskan Roberto dan juga Gabriella.
Setelah berada di dalam kendaraan tadi. Miabella sempat duduk diam dan mengingat-ingat di mana kunci mobil itu biasa disimpan. Sesaat kemudian, gadis cantik tersebut membuka glove box dan memasukkan tangannya lebih dalam. Miabella segera tersenyum saat dia berhasil menemukan apa yang dirinya cari.
Dengan cepat, Miabella meraih kunci itu. Dia lalu menyalakan mesin mobil jeep peninggalan sang ayah. Gadis cantik bermata abu-abu tersebut tanpa ragu menggerakkan persneling dan menginjak pedal gas kuat-kuat. Jeep tua yang masih terlihat garang tadi melaju kencang meninggalkan garasi.
Saking kencangnya dalam mengendarai, kendaraan itu bahkan hampir saja menabrak gerbang kedua andai para pengawal tak cekatan membukanya. Hal yang sama pula terulang saat Miabella tiba di gerbang pertama. Gadis itu seakan tak peduli apapun. Pikirannya tertuju kepada Carlo, agar jangan sampai kehilangan jejak sang pengawal yang entah akan pergi ke mana.
Laju kendaraan Miabella semakin tak terkendali, ketika gadis itu sudah tiba di jalan raya. Dengan mudah, dirinya dapat menyusul Carlo yang tampak mengendarai motor dengan tidak terburu-buru. Namun, Miabella harus tetap menjaga jarak agar Carlo tak menyadari bahwa dirinya sedang diikuti.
Beberapa saat kemudian, Miabella baru menghentikan laju mobilnya, saat Carlo juga tampak berhenti di depan sebuah gedung perkantoran pusat kota Milan. Setelah itu, Miabella kembali melajukan jeep yang dia kendarai, ketika Carlo menyalakan motornya dan memasuki area parkir yang berada di basement. Miabella ikut memarkirkan kendaraan tersebut tanpa sepengetahuan Carlo. Dia lalu mengikuti sang pengawal yang telah turun dari motor dan berjalan dengan tergesa-gesa memasuki lift.
“Gawat!” Miabella terlihat panik. Merasa tak punya pilihan, gadis itu pun akhirnya berlari ke arah lift sebelum pintunya tertutup. Tak terkira betapa terkejutnya Carlo saat melihat Miabella sudah berdiri di sana. Dia memandang penuh dengan rasa heran, kepada gadis yang kini telah masuk dan berdiri dengan tenang di sebelahnya.
__ADS_1
Miabella bersikap seolah tak terjadi apapun.
“Kenapa kau pergi diam-diam tanpa memberitahuku terlebih dulu? Hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya, Carlo,” tegur Miabella penuh curiga. "Apa yang akan kau lakukan di sini? Siapa yang hendak kau temui?" Miabella mencecar Carlo dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
“Nona.” Carlo mengeluh pelan, kemudian mengusap-usap tengkuk kepalanya. Dia bingung harus menjelaskan apa kepada Miabella. “Bagaimana kau bisa … ah, sudahlah.” Pria bermata biru itu menggeleng pelan. Namun, makin lama Carlo merasa tak ada gunanya menyembunyikan sesuatu dari Miabella. Carlo pun mengeluarkan kartu nama yang baru saja dirinya dapatkan. Dia pun menyodorkan kertas kecil tadi kepada si gadis yang segera membacanya.
“Kartu nama siapa ini? Grigori Kostya?” Miabella menautkan alis saat mengeja nama yang terasa begitu aneh. Dia juga belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.
“Itu kudapatkan dari seseorang yang mengaku sebagai musuh Czar,” jawab Carlo pelan.
“Siapa dia?” tanya Miabella lagi.
“Sebentar lagi kita akan mendapatkan jawabannya," sahut Carlo bersamaan dengan dengan pintu lift yang terbuka. Dia bergegas menuntun pergelangan tangan Miabella untuk keluar dari lift.
“Siapa lagi pria ini? Kenapa dia seperti mengetahui bahwa kau akan datang?” bisik Miabella tepat di telinga Carlo.
“Aku juga sama tak tahunya denganmu, Nona,” jawab Carlo pelan sembari mengikuti langkah pria bersetelan rapi tadi, menuju sebuah pintu berukuran besar. Pria itu membukanya lebar-lebar, lalu mempersilakan Carlo dan Miabella untuk masuk.
Akan tetapi, ternyata tak ada siapa pun di dalam ruangan tersebut. Sementara pria berjas tadi juga menghilang begitu saja. “Tetap di dekatku, Nona.” Carlo mulai bersikap waspada. Dia menarik Miabella agar semakin mendekat kepadanya. Sorot mata sang pengawal pun awas mengamati setiap sudut ruangan.
Di tempat itu, terdapat meja pertemuan berukuran cukup lebar. Di sana juga ada beberapa perlengkapan perkantoran lainnya. Pada dinding sebelah kiri, tergantung sebuah lukisan besar bergambar seorang pria.
Carlo mendekat ke arah lukisan tersebut. Diperhatikannya wajah pria yang tergambar di sana dengan begitu lekat.
“Lihatlah, Carlo. Wajah dalam lukisan itu benar-benar mirip denganmu. Astaga, apakah pemilik ruangan ini merupakan salah satu penggemarmu juga?” celetuk Miabella yang ternyata tengah ikut memperhatikan lukisan tadi. Sedangkan Carlo tak menanggapi. Dia hanya menggumam pelan.
__ADS_1
“Itu adalah lukisan tuan Nikolai Volkov, ayahanda dari tuan Karl Mikhailov,” sahut sebuah suara yang berasal dari belakang dua sejoli itu. Miabella dan Carlo langsung berbalik secara bersamaan.
Beberapa langkah di belakang mereka, telah berdiri seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Grigori Kostya. Pria itu terlihat gagah dengan sorot mata hangat memandang ke arah Carlo dan juga Miabella.
“Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kau katakan,” ucap Carlo. Tangannya semakin erat menggenggam jemari Miabella, menandakan bahwa pria itu tengah menahan rasa gelisah yang menderanya.
“Nama Anda adalah Karl Mikhailov, Tuan. Pisau lipat yang Anda simpan itu merupakan buktinya.” Telunjuk Grigori mengarah kepada Carlo.
“Dari mana kau tahu tentang pisau lipat itu?” desis Carlo yang mengambil sikap waspada.
“Anggap saja aku mengetahui segalanya, Tuanku. Termasuk saat nyonya Fabiola terpaksa melarikan Anda yang masih bayi demi keselamatan kalian berdua,” terangnya dengan nada bicara yang begitu tenang.
“Fabiola?” ulang Carlo seraya memicingkan mata.
“Ya. Itu adalah nama ibu kandung Anda. Dia membawa bayi berusia sepuluh bulan keluar dari perbatasan Rusia hanya seorang diri. Nyonya Fabiola kembali ke negara asalnya, yaitu Italia. Kami sempat kehilangan jejak Anda berdua. Puluhan tahun kami mencari, sampai akhirnya titik terang itu muncul, ketika pisau lipat asli milik tuan Volkov sudah menancap di telapak tangan Czar. Itu merupakan sebagai pertanda bahwa kehancuran Viktor Drozdov sudah semakin dekat,” jelas Grigori panjang lebar.
“Kurasa kau salah orang,” bantah Carlo tetap mengelak. Dia hendak membawa Miabella keluar dari ruangan tadi.
“Apakah liontin itu juga ada padamu, Tuan?” seru Grigori ketika langkah Carlo sudah di depan pintu.
Carlo tertegun. Tubuhnya seakan membeku ketika Grigori menyebut tentang liontin yang telah terpasang di lehernya, sejak pertama kali dia mendapatkan benda itu. Carlo kemudian berbalik dengan perlahan dan menatap Grigori tajam tanpa bersuara.
“Pada malam berdarah itu, tuan Nikolai Volkov menyembunyikan istri dan bayinya di lorong rahasia. Di tempat itu juga, tuan Nikolai Volkov menyerahkan kalung liontin dan pisau lipatnya sebagai simbol keturunan langsung dari Yuri Volkov, generasi pertama Serigala Merah. Dia memberikan kepada nyonya Fabiola, beberapa jam sebelum Viktor Drozdov membantainya tanpa ampun. Tuan Nikolai tewas sehingga tampuk kepemimpinan Serigala Merah diambil secara paksa oleh Viktor,” tutur Grigori melanjutkan penjelasannya.
Grigori kemudian berjalan mendekat ke arah Carlo. “Viktor Drozdov sangatah serakah. Dia berniat merebut kekuasaan semua orang dan bercita-cita untuk menggenggam dunia di tangannya. Dia begitu berbahaya. Kita semua harus menghentikannya ….” Grigori terdiam sejenak. “Tidak. Aku salah. Kuralat kalimatku. Anda lah yang harus menghentikannya. Ya, hanya Anda yang bisa,” tegasnya.
__ADS_1