
Malam kian larut. Tetesan air hujan pun telah berhenti turun dan hanya menyisakan udara yang cukup menusuk. Namun, Juan Pablo masih duduk di dalam ruang kerja sambil memandangi foto Don Vargas. Wajah pria tua itu seakan berbicara dan meminta dirinya agar segera melakukan sesuatu.
Juan Pablo kemudian beranjak dari balik meja kerja. Pria itu melangkah ke hadapan foto seseorang yang telah dia anggap seperti ayah kandung sendiri. Sementara tangan kanannya menggenggam sebuah gelas berisi minuman. Sesekali, jemari berhiaskan cincin platinum hitam itu mengetuk-ngetuk gelas kristal tadi.
"Adriano D'Angelo. Jadi kau ada main dengan Killer X? Rupanya selama ini kau telah bermain mata dengan Lionel dan juga Jacob. Oh, astaga. Bodohnya diriku." Juan Pablo berbicara pada dirinya sendiri sambil terus memperhatikan foto Don Vargas.
"Apa dia yang sudah membuatmu pergi ke Serbia untuk mengantarkan nyawa, el tio?"
Juan Pablo kembali terdiam. Pria rupawan bermata cokelat madu itu meneguk minumannya. "Kenapa kau tak mengatakan apapun padaku, el tio? Kenapa kau pergi seorang diri? Kenapa kau lebih mendengarkan mereka yang ingin menghabisimu dengan keji?" Nada bicara Juan Pablo meninggi. Dia meneguk habis minumannya kemudian melemparkan gelas kosong tadi pada dinding. Gelas kristal itu hancur berkeping-keping dengan serpihannya yang berserakan di atas lantai.
"Kurang ajar kalian!" geram Juan Pablo seraya mengepalkan tangan. "Kau membodohiku Adriano D'Angelo! Niatmu untuk mengungkap kasus kematian Matteo de Luca, kupastikan akan membuat dirimu segera menyusulnya ke neraka!" geram Juan Pablo lagi. Dia yang selalu terlihat dingin dan datar, saat itu tampak begitu marah dan seakan ingin melampiaskan segala emosi dalam dirinya.
Tak lama, Juan Pablo teringat akan kasino yang telah berdiri megah di kota Birmingham, Inggris. Sebuah bisnis kerja sama miliknya, tetapi atas nama Don Vargas dengan Adriano. Pria itu belum membahas lagi masalah tentang kasino tersebut bersama sang ketua Tigre Nero yang kini masih berada di Italia.
Juan Pablo kemudian meraih ponsel yang dia letakkan di atas meja. Kursor ponselnya telah dia arahkan pada kontak dengan nama D'Angelo. Akan tetapi, meskipun pria asal Meksiko tersebut dalam keadaan sedikit mabuk, dia masih sadar bahwa saat itu sudah lewat tengah malam. Juan Pablo pun mengurungkan niatnya. Dia memutuskan untuk berjalan keluar dari ruangan tadi. Gontai langkah pria itu menyusuri koridor mansion yang megah dan dihiasi berbagai ornamen unik. Di sana juga ada beberapa patung yang berdiri gagah dan merupakan hasil karya para pemahat ternama, juga patung-patung ksatria dengan baju zirah.
Namun, tiba-tiba Juan Pablo menghentikan langkahnya. Dia lalu mengedarkan pandangan pada sekeliling koridor yang berukuran cukup luas, dengan penerangan warna kuning dari lampu yang menempel di dinding. Lampu-lampu tempel tersebut berada pada jarak yang sudah diatur sedemikian rupa.
Juan Pablo memejamkan mata. Walaupun dalam keadaan setengah mabuk, tetapi pria itu masih memiliki insting yang sangat tajam, atas setiap pergerakan tak biasa yang ditangkap oleh indera pendengaran dan juga penglihatannya. "Tunjukkan dirimu!" seru Juan Pablo tegas. Suaranya menggema dan memantul pada dinding koridor.
Hati-hati dan penuh perhitungan, pria asal Meksiko itu melangkahkan kaki. Dia mengambil sebuah tongkat besi yang menempel pada salah satu patung di sana. Juan Pablo menggenggam benda itu dengan erat sambil berbalik. Dia kembali menyusuri koridor yang telah dilewatinya tadi. Tatapan mata pria bermata cokelat madu tersebut begitu tajam, seakan tak sabar lagi untuk menghabisi seseorang yang diduga telah masuk ke dalam mansionnya dengan tanpa izin.
__ADS_1
Setelah beberapa langkah, Juan Pablo kembali tertegun. Pria rupawan berambut gelap itu berdiri mematung seraya memicingkan kedua matanya. Tongkat besi tadi pun dia genggam dengan semakin erat, sebelum akhirnya membalikkan badan sambil mengarahkan tongkat tadi lurus pada seseorang yang berada di belakang dia. Ujung tongkat itu berada tepat di dekat leher dan hampir saja menusuknya.
Sementara pria berambut pirang dengan leher yang hampir tertusuk ujung tongkat tadi, hanya tertawa sambil menodongkan pistolnya ke arah Juan Pablo. "Elang Rimba," ucapnya dengan menggunakan bahasa Inggris. "Lama tidak bertemu," lanjut pria bermata hijau yang tak lain adalah Jacob Olsson Karlsberg.
"Oh, Hemlös (Gelandangan)," balas Juan Pablo dengan nada mengejek. Raut wajah dingin dan datar tampak jelas saat itu.
"Kenapa kau menyebutku sebagai gelandangan?" tanya Jacob tanpa menurunkan senjatanya.
"Kau pergi ke sana kemari untuk mencari teman dan perlindungan. Jangan dikira bahwa aku tidak tahu akan hal itu," jawab Juan Pablo dingin. "Pecundang," cela pria tampan tersebut dengan senyuman sinis di sudut bibirnya.
"Oh, jadi kau sudah mengetahui akan hal itu? Baguslah." Jacob tersenyum tenang. "Kalau begitu, kita sudahi saja basa-basi ini karena aku tak memiliki banyak waktu."
"Apa maumu? Kau benar-benar tidak tahu tatakrama dengan memasuki tempat orang lain tanpa permisi," cibir Juan Pablo lagi. "Ingatlah, sekali kau bergerak maka ujung tongkat ini akan bersarang di lehermu," ancamnya sambil menyeringai.
"Apa maumu?" tanya pria berjuluk Elang Rimba itu. Dia menggerakkan tongkat besi tadi hingga menyentuh permukaan kulit leher Jacob.
"Singkirkan dulu benda ini dari leherku," suruh Jacob.
"Kenapa? Sejak kapan kau takut mati?" ledek Juan Pablo dengan puas.
"Aku ingin mati setelah menghabisimu," balas Jacob tak mau kalah. "Kau membunuh Melker dan menghancurkan markas Killer X. Kau juga telah mencuri flashdisk yang berisi tentang data-data klien serta cetak biru organisasi. Untuk apa? Kau sudah mengundurkan diri dari Killer X. Kenapa masih ingin mengusik kami? Jangan katakan jika dirimu berniat untuk menghilangkan jejak, karena telah menyewa anggota Killer X saat menghabisi Matteo de Luca," tukas pria asal Swedia itu lagi.
__ADS_1
Juan Pablo tersenyum sinis. "Untuk apa aku melakukan itu?"
"Karena Adriano D'Angelo yang menyelidiki kasus kematiannya. Kita tahu bahwa dia bukan orang sembarangan. Apa kau bisa menghadapi pria itu? Meskipun dirimu adalah Elang Rimba, tapi tak menutup kemungkinan bahwa dia bisa mengalahkanmu dengan mudah." Jacob memancing Juan Pablo agar tersulut emosi. Akan tetapi, pria latin berusia tiga puluh lima tahun itu tak ingin terprovokasi.
"Ketahuilah. Pertama, aku tidak takut sama sekali terhadap Adriano D'Angelo. Sehebat apapun dia, aku tak akan gentar. Elang Rimba tak akan mati dengan mudah," balas Juan Pablo dengan penuh percaya diri. "Kedua, kau telah salah alamat jika mencari flashdisk itu kemari. Aku tidak tertarik lagi dengan apapun yang berkaitan dengan Killer X. Satu-satunya alasan mengapa aku menghancurkan organisasi kalian adalah karena Lionel dan Nenad telah menghabisi Don Vargas," jelas Juan Pablo dengan penuh penekanan.
"Jangan bermain-main denganku, Herrera. Aku yakin jika flashdisk itu ada padamu, karena kau orang terakhir yang masuk ke markas. Kau akan tahu apa akibatnya jika berani berbohong padaku. Kau tahu siapa Jacob Olsson Karlsberg," ancam Jacob dengan sorot dan nada serius.
“Aku tidak suka berbohong,” sahut Juan Pablo yakin.
“Oh, ya? Kira-kira, apakah kau akan berbicara jujur jika kekasihmu yang cantik itu menanyakan tentang keberadaan kakak kandungnya Ilario yang sudah mati dibakar oleh anak buahmu?” seringai Jacob dengan sangat puas. Dia yakin jika dirinya telah menang telak atas apa yang diucapkan barusan.
Apa yang Jacob perkirakan memang tidak meleset, karena pegangan tangan Juan Pablo semakin erat mencengkeram tongkat besi tadi. Sedikit lagi, dia akan menusukkannya ke bagian depan leher Jacob. Akan tetapi, Jacob seakan tahu apa yang akan dilakukan oleh pria di hadapannya, sehingga pria asal Swedia itu mengantiipasinya dengan menarik pelatuk pistol yang sudah terarah pada kening Juan Pablo.
“Aku juga tidak yakin jika Adriano akan diam saja, andai dia mengetahui bahwa adik tirinya berpacaran dengan orang yang pernah membuat istrinya sengsara,” ucap Jacob lagi seraya tertawa mengejek. Dia terus mengacungkan pistol ke arah pria rupawan sang pemilik mansion. “Kau yang telah membuat Florecita Mia menjadi janda. Katakan, dendam apa yang kau punya terhadap Matteo de Luca, Juanito?” pancing Jacob yang telah merasa di atas angin saat melihat raut wajah Juan Pablo.
“Aku tak akan segan menancapkan ujung tombak ini hingga menembus lehermu,” gertak Juan Pablo penuh penekanan. "Sama seperti yang telah kulakukan kepada Melker. Aku masih bisa mencium bau amis darahnya yang menciprati wajahku, ketika kurobek perut bajingan itu." Juan Pablo menyeringai, menunjukkan bahwa dirinya tidak terpengaruh atas ucapan Jacob.
“Lakukanlah. Dengan begitu kita akan mati bersama-sama malam ini,” tantang Jacob dengan tenangnya.
“Kau ….” Juan Pablo tak melanjutkan kata-katanya. Dia hanya berdiri membeku. Bayangan wajah Gianna tiba-tiba hadir dan memenuhi benaknya. Tak dapat dipungkiri jika gadis itu telah berhasil menguasai hati dan pikiran terdalam pria tersebut. Dia tak akan sanggup jika harus berpisah dengan gadis jelita bermata biru itu. “Sejauh mana Adriano D’Angelo mengetahui tentang diriku?” tanyanya pelan tapi penuh dengan penekanan.
__ADS_1
“Jangan khawatir, karena hingga kini dia belum dapat mengungkap segalanya tentang dirimu, Elang Rimba. Namun, dengan senang hati aku akan membantu mencari tahu dan membongkar siapa dirimu yang sebenarnya. Akan tetapi, jika kau mau maka dirimu bisa mencegah hal itu terjadi. Beritahu aku di mana flashdisknya, maka aku akan menutup mulut terhadap Adriano untuk selamanya,” tegas Jacob.
"Sejak kapan orang sepertimu bisa dipercaya? Aku sangat mengenalmu, Jacob. Jangan pernah berani menggertak seorang Elang Rimba, karena kau tak memiliki kekuatan yang sebanding denganku. Aku tidak takut meskipun harus menghadapi kau dan temanmu Adriano D'Angelo secara bersamaan. Itu akan lebih menyenangkan, karena aku bisa menghabisi kalian sekaligus."