Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Ancaman Lain


__ADS_3

“Kau ….” Carlo terbelalak tak percaya. Dia tak menyangka jika pria asing yang berdiri di hadapannya itu, bisa mengetahui tentang pisau lipat dan juga identitas yang baru dia ketahui.


“Dengar, Tuan. Kupastikan bahwa hanya Anda yang bisa mengalahkan Czar dan majikannya." Pria tadi membungkuk dalam-dalam, kemudian kembali berdiri tegak. Dia lalu memasukkan tangannya ke dalam saku jas. Sontak hal itu membuat seluruh anggota klan de Luca menodongkan senjata mereka secara serentak kepada pria asing tersebut.


“Tenang, Tuan-tuan. Aku hanya akan memberikan ini kepada tuan Karl. Ehm, maksudku Carlo,” ralat si pria. Dia lalu mengeluarkan tangannya yang sudah memegang sebuah kartu nama. Sesaat kemudian, kartu nama itu dia berikan kepada Carlo.


Carlo sendiri masih bersikap siaga. Pria rupawan bermata biru tersebut tak segera membaca nama yang tertera di kartu itu. Dia lebih memilih untuk memperhatikan pria di hadapannya dengan lekat. “Aku menawarkan kerja sama untuk menyingkirkan Czar selama-lamanya, sehingga tidak perlu mengusik ketenangan seluruh anggota klan de Luca,” ujar pria asing itu lagi.


“Klan de Luca tak membutuhkan bantuan dari siapa pun!” Terdengar seruan menggelegar seseorang datang dari luar barikade. Suara itu tiada lain milik Romeo. Dia membelah barisan anak buahnya, lalu berjalan mendekat dan berdiri di samping Carlo. “Tidak perlu repot-repot. Sekarang pun aku sudah berhasil memberantas seluruh anggota organisasi tidak jelas itu. Aku menghabisi mereka dari segala sisi. Utara, selatan, timur, dan sekarang di sini.” Romeo menyeringai sambil menatap tajam pria asing di hadapannya.


“Oh, kami bukan bagian dari mereka, Tuan. Justru kamilah yang paling tersiksa jika mereka masih ada dan hidup di dunia ini,” terang pria yang belum diketahui namanya itu. “Kami tahu jika klan de Luca adalah organisasi tertua dan salah satu yang terkuat. Namun, ada baiknya Anda waspada dengan Czar,” sarannya mengingatkan.


“Pria itu pengecut. Dia hanya mengerahkan anak buahnya, sementara dia sendiri tak terlihat di manapun,” cibir Romeo.


“Tidak, Tuan. Czar tidak pernah takut akan apapun. Dia hanya takut pada tuan ... tuan muda Mikhailov dan majikannya. Selebihnya, pada iblis pun dia akan berani menantang,” balas pria asing itu.


“Siapa?” Romeo memicingkan matanya, sedangkan Carlo seolah tengah menahan napas saking terkejut. Diremasnya kartu nama yang sempat diberikan oleh pria di asing tadi, lalu digenggamnya erat-erat.


“Baiklah. Jika memang kami tidak dibutuhkan, lebih baik kami mundur dari sini, Tuan Romeo de Luca.” Pria itu setengah membungkukkan badan, lalu berdiri tegak dan tersenyum.


“Kau tahu namaku?” Romeo memicingkan matanya.


“Nama Anda sangat terkenal dalam organisasi kami, Tuan. Viktor Drozdov, majikan dari Czar sudah menandai nama Anda sebagai sasaran selanjutnya,” terang si pria.

__ADS_1


“Menandai untuk apa?” Romeo yang merasa penasaran, semakin mendekatkan dirinya pada pria tadi.


“Viktor Drozdov mempunyai kegemaran menaklukkan kelompok-kelompok mafia besar. Sekarang dia melirik klan Anda untuk menancapkan kekuasaannya di Italia,” jawab pria itu. “Selama Viktor belum mati, maka dia akan terus menjadi ancaman.”



“Hm.” Romeo memperhatikan pria di hadapannya, yang terlihat seumuran dengan Marco. “Terima kasih sudah memperingatkan. Namun, aku bisa mengatasi semuanya sendiri.” Pemuda tampan berambut pirang itu membalikkan badan, lalu meninggalkan pria asing tersebut dengan begitu saja. Romeo juga membubarkan barikade dan memerintahkan anak buahnya untuk kembali ke pos masing-masing.


Kini, tinggal Carlo yang masih terpaku bahkan setelah pria misterius tersebut mengangguk hormat, lalu pergi dari sana bersama semua anak buahnya. Carlo masih tetap di sana. Kartu nama yang sempat dia remas, kembali dirinya rapikan dan buka perlahan. “Grigori Kostya,” gumamnya pelan.


Carlo terpekur untuk beberapa saat, kemudian menengadah ketika dia merasa ada seseorang yang mengawasinya. Sorot mata biru itu tertuju pada puncak menara yang terlihat dari tempatnya berdiri. Sekilas dia melihat Coco masih berada di sana sambil melambaikan tangan. Carlo mengangguk paham, lalu bergegas menghampiri Coco di puncak menara.


“Mereka bukan bagian dari Czar, Tuan. Mereka kelompok lain yang masih belum jelas kepentingannya. Namun, mereka sempat memperingatkan tuan muda Romeo tentang betapa berbahayanya Viktor Drozdov, majikan dari Czar,” jelas Carlo tanpa diminta.


“Kemungkinan tidak, Tuan. Namun, tak ada salahnya untuk berjaga-jaga,” saran Carlo.


“Hm. Baiklah.” Coco manggut-manggut sambil bersedekap. Dia tampaknya sedang berpikir serius. “Biarlah Adriano dan Marco saja yang berpikir. Kepalaku panas,” ucapnya setelah beberapa saat kemudian. Dia meringis, lalu menepuk pundak Carlo. “Ayo, kita turun,” ajaknya. “Aku harus buru-buru pulang ke Roma, karena Francy sudah menunggu di sana. Untunglah istriku pulang lebih dulu." Coco terus saja berceloteh saat menuruni tangga. Dia baru diam ketika mata coklatnya menangkap Miabella yang sedang berlari menghampiri mereka.


“Astaga! Bagaimana caranya dia bisa keluar dari bangunan utama?” Carlo keheranan, sebab sebelumnya dia sudah memerintahkan Dante untuk mengunci semua akses keluar masuk bangunan utama.


“Ah! Kau seperti tak tahu bagaimana tingkah setan kecil itu, Carlo,” sahut Coco dengan santai sebelum berlalu meninggalkan tempat itu.


“Kau belum berangkat juga, Paman?” Miabella sempat menyapa.

__ADS_1


“Stai zitto (diamlah), Bella! Ini semua gara-gara kau dan sepupumu! Seharusnya sekarang aku sudah diam dan bersantai di rumah,” gerutu Coco.


Bukannya takut, Miabella malah terkikik geli. Dia terus memperhatikan sang paman sampai tubuh tegap itu menghilang dari pandangan. Setelah dia yakin bahwa tak ada seorang pun di sana, Miabella langsung menghambur ke arah sang pengawal dan memeluknya erat-erat. “Aku sangat mengkhawatirkanmu,” bisiknya dengan wajah yang bersembunyi di dada bidang Carlo.


“Kau lihat bahwa aku baik-baik saja, Nona. Tak kurang suatu apapun,” ujar Carlo dengan intonasi yang begitu lembut dan menenangkan.


“Apakah mereka orang yang sama dengan yang menculik kami waktu itu?” Miabella melepas pelukannya dan menatap Carlo dengan lekat.


“Iya,” jawab Carlo. Ada keraguan dalam nada bicaranya, ketika dia teringat pada seseorang dengan nama di kartu yang masih dia simpan dalam saku celana. ‘Grigori Kostya’, sosok itu terus berputar di otaknya.


“Apa yang kau pikirkan?” tanya Miabella ketika melihat mimik wajah Carlo yang tak seperti biasanya.


“Ti-tidak ada, Nona.” Carlo sempat tergagap, kemudian tersenyum lebar untuk menutupi resahnya. “Ayo, kita masuk,” ajak pria itu. Lengan kekar Carlo merengkuh tubuh ramping Miabella. Carlo juga sempat mendaratkan ciuman singkat di bibir gadis cantik itu.


Carlo berniat mengantarkan Miabella kembali ke kamarnya, ketika dia teringat seseorang yang masih terkunci di ruang rahasia. “Astaga, Oxana!” desisnya seraya menepuk kening.


“Siapa?” ulang Miabella ketus, ketika mendengar Carlo menyebut nama seorang wanita. Akan tetapi, Carlo tak menjawab, dia malah berbalik ke arah yang berlawanan.


“Hei, Carlo! Tunggu!” Miabella ikut berbalik dan mengikuti langkah cepat pria rupawan itu. Mereka terus berjalan menuju lorong yang menghubungkan bangunan utama dengan perkebunan. Carlo kemudian berhenti di depan satu di antara puluhan pintu yang ada di lorong tersebut. Dia mengingat-ingat pesan dari Coco, di mana suami dari Francesca itu menyembunyikan kunci. Carlo mulai meraba-raba permukaan dinding di sekitar pintu dengan pelan dan hati-hati.


“Kau sedang apa?” tanya Miabella tak sabar.


“Akhirnya!” Carlo tersenyum menyeringai, ketika merasakan permukaan dinding yang sedikit menonjol. Dia lalu menekan permukaan tersebut. Tak berselang lama, sebuah lubang muncul dari tembok di sisi atas pintu. Tubuh Carlo yang jangkung, membuatnya dapat merogoh sesuatu dari lubang itu dengan mudah.

__ADS_1


Adalah sebuah kunci manual dengan model yang terbilang kuno berwarna perak. Benda itu Carlo pergunakan untuk membuka pintu di hadapannya. “Berhasil,” ucap Carlo saat bisa masuk ke ruang rahasia. Dia tersenyum lebar, ketika melihat Oxana masih berada di dalam sana tanpa kekurangan suatu apapun.


__ADS_2