Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Back to Italy


__ADS_3

Perlahan Adriano mulai mengurai pelukan, meskipun dia belum melepaskan tangannya dari pinggang ramping Mia. "Bersiap-siaplah, karena besok kita akan berangkat ke Italia. Kau pasti merindukan kampung halamanmu, bukan?" sebelah tangan Adriano mengelus pipi Mia dengan lembut.


"Apa kau akan membawaku ke Casa de Luca?" tanya Mia dengan raut tidak nyaman.


"Jika kau mau. Namun, seandainya kau tak ingin pulang ke sana, maka kita bisa menginap di apartemenku. Terserah dirimu saja, Mia," jawab Adriano dengan ekspresi yang terlihat begitu ringan. Beban berat yang selama ini dia simpan, akhirnya dapat diungkapkan juga ke hadapan Mia.


"Aku rasa Miabella pasti ingin ke Casa de Luca dan bertemu dengan paman Damiano," ucap Mia lagi. Dia terdengar ragu menentukan pilihan. Berat rasanya bagi wanita itu untuk kembali ke tempat di mana dirinya menghabiskan banyak kenangan indah bersama Matteo.


Adriano dapat memahami hal itu dengan baik. Dia pun tak ingin membantah apalagi hingga memperdebatkan hal tersebut. Pria itu terus mencoba untuk menghadirkan sikap bijaksana yang selalu diajarkan oleh sang paman, Alessandro Moriarty. "Hidup harus terus berjalan, Mia. Suatu saat nanti, kau, aku, pasti akan meninggalkan mereka yang kita cintai. Apakah jiwamu di alam sana akan merasa tenang jika terus merasa terusik, karena sebuah rintihan pilu yang tak berujung atas nama cinta yang sudah tak mungkin dipersatukan? Aku tak akan memaksamu untuk dapat melupakan Matteo sepenuhnya. Aku juga tak akan meminta agar kau bisa mencintaiku dalam waktu yang singkat. Namun, belajarlah untuk melakukan hal itu sedikit demi sedikit," dalam dan berat suara Adriano saat itu berbicara lembut kepada Mia.


"Beritahu Ricci dan adikmu bahwa kita akan ke Italia besok, agar mereka bisa bersiap-siap," ucap pria itu lagi, dan segera berbalas sebuah anggukan dari Mia.


Seusai perbincangan penuh rasa di ruang kerja, mereka lalu keluar dari tempat tersebut. Mia bermaksud untuk menemui Francesca, sedangkan Adriano memilih ke kamar Miabella. Baru saja dia akan masuk, pintu ruangan telah terbuka lebih dulu. Wajah cantik Olivia muncul di baliknya. Gadis itu tersenyum manis. "Tuan," sapa gadis berambut hitam tersebut.


"Apa Miabella sudah bangun?" tanya Adriano dengan nada bicara yang terdengar biasa saja.


"Belum. Aku baru selesai merapikan baju-bajunya ke dalam lemari," jawab Olivia salah tingkah. Terbayang olehnya kejadian beberapa malam yang lalu, ketika Adriano mabuk berat. "Apa Anda baik-baik saja, Tuan?" tanyanya membuat Adriano mengernyitkan kening.


"Maksudmu?" Adriano balik bertanya.


"Um ... maksudku ... Anda tidak mabuk lagi seperti kemarin malam, sampai-sampai Anda harus ...." Olivia belum sempat menyelesaikan kata-katanya, karena dia melihat Mia datang menghampiri mereka. Gadis itu pun tersenyum kepada Mia dan sesekali tertunduk. "Aku ... permisi dulu," ucapnya lagi seraya berlalu dari hadapan Adriano dan juga Mia.


Mia memperhatikan kepergian gadis muda itu hingga menghilang dari pandangannya. Setelah itu, dia mengalihkan perhatian kepada Adriano yang tengah menatapnya dengan heran. "Ada apa, Mia? Apa kau punya masalah dengan Olivia?" selidik pria bermata biru itu.


"Akan menjadi masalah seandainya kau tidak mengurangi kebiasaan minum alkoholmu, Adriano," jawab Mia dengan dengan wajah yang tiba-tiba cemberut.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Aku minum di sini, bukan di klub malam bersama para wanita," bantah Adriano seakan membela diri.


"Kau kehilangan kesadaran saat dirimu mabuk berat, sampai-sampai Olivia harus memapah dan membantu merebahkan tubuhmu di atas tempat tidur," Mia melipat kedua tangannya di dada sambil memalingkan muka. Rasa kesal dalam hatinya karena kejadian kemarin malam, belum sempat dia lampiaskan terhadap sang suami.


Lain halnya dengan Adriano. Pria itu malah tertawa pelan. "Aku harap kau datang untuk menyelamatkanku tepat waktu," ujarnya dengan begitu enteng.


"Kau sangat menyebalkan," balas Mia seraya menerobos masuk ke kamar Miabella, melewati tubuh tegap yang menghalanginya di depan pintu. Dia menghampiri gadis kecil yang kini sudah terbangun dan duduk dengan mata yang masih sesekali terpejam. Mia menghampiri Miabella dan duduk di dekatnya. Sedangkan Adriano berdiri di dekat tempat tidur. "Ibu punya berita bagus untukmu, Sayang," ucap Mia lembut.


Miabella segera menoleh. "Apa itu?" tanyanya dengan tatapan sayu.


"Kita akan bertemu kakek Damiano besok," jawab Mia membuat Miabella seketika membulatkan matanya. Gadis kecil itu tampak sangat bahagia. Seketika dia berdiri dan melonjak kegirangan di atas tempat tidur.


Sementara itu, Francesca yang sudah diberitahu akan rencana kepulangan mereka ke Italia, telah selesai merapikan barang-barangnya. Dia lalu keluar kamar dan bermaksud untuk menemui Coco yang juga tengah melakukan hal serupa. Gadis dengan postur semampai itu, berjalan menyusuri koridor untuk menunju kamar sang kekasih yang berada tidak terlalu jauh dari kamarnya. Namun, langkah kaki jenjang gadis tersebut harus terhenti, ketika dirinya berpapasan dengan Arsen yang baru kembali dari 'petualangannya'.


"Hai," sapa Arsen mencoba berbasa-basi. Francesca menoleh dan tersenyum. "Òmorfo korítsi pou perpatá móno tou (Gadis cantik berjalan sendirian)," ujar Arsen membuat Francesca seketika menautkan kedua alisnya.


"Maaf?" gadis bermata hazel itu tidak memahami kata-kata yang diucapkan Arsen padanya. Sedangkan pria asal Yunani tadi hanya tersenyum kalem, membuat Francesca menggeleng tak mengerti. "Permisi," pamitnya dengan segera. Dia tak ingin jika Coco sampai melihat dirinya bertegur sapa dengan pria lain, terlebih gelagat Arsen menunjukan jika pria itu bukanlah pria yang biasa. Francesca pun segera berlalu dari hadapan Arsen, dengan diiringi tatapan pria tampan tersebut. Namun, perhatian Arsen saat itu segera teralihkan kepada wajah cantik Olivia yang muncul dari balik dinding koridor lain. Gadis itu, tengah menuju ke kamarnya. "Olive!" panggil Arsen.


Olivia tertegun dan menoleh. Dia menatap Arsen yang tengah berjalan dengan langkah tegap ke arahnya. Seperti biasa, pria itu selalu dengan senyumannya yang penuh rayuan. "Tuan Moras? Aku pikir Anda belum kembali," sapa Olivia. Sikapnya terhadap pria itu tidak sedingin seperti awal mula mereka berjumpa. Bagaimanapun juga, Olivia berterima kasih karena Arsen telah mengawalnya saat pergi ke Piana dan juga Piacenza.


"Aku baru datang," jawab Arsen. "Apa Adriano sudah kembali dari Sicilia?" tanyanya berbasa-basi.


"Tuan D'Angelo sudah pulang sejak beberapa hari yang lalu. Dia juga menanyakan Anda," terang Olivia.


"Oh, baiklah. Sampai nanti, Olive," Arsen mengedipkan sebelah matanya dan berlalu meninggalkan Olivia yang masih terpaku. Harus diakuinya jika Arsen adalah pria yang sangat menarik, meskipun dia terlihat nakal dan tidak fasih berbahasa Italia.

__ADS_1


Olivia gadis berusia dua puluh empat tahun, yang seumur hidupnya belum pernah menjalin hubungan dengan pria manapun. Dia begitu lugu dan tak tahu seperti apa rasanya jatuh cinta, hingga dirinya melihat sosok Adriano yang begitu menawan dan terlihat berbeda dari pria-pria yang selama ini datang untuk menawarkan jalinan kasih atau sekadar menggodanya. Karena itu pula, Olivia merasakan sebuah perasaan aneh terhadap ketua dari geng Tigre Nero tersebut. Perasaan yang hingga saat ini masih belum dapat dia pahami dengan jelas.


Sementara itu, Arsen menemui di Adriano di ruang tempat bermain billiard, setelah mereka sempat berkirim pesan. Hal yang sangat unik dari kedua pria tersebut, padahal mereka berada dalam bangunan yang sama. Namun, Arsen terlalu malas untuk mencari keberdaan sang rekan di mansion seluas itu.


"Ke mana saja kau?" tegur Adriano yang baru masuk ke sana.


"Aku hanya mengunjungi seorang teman. Kami sudah lama tidak bertemu, tapi ternyata dia menahanku di apartemennya," Arsen mengakhiri ceritanya dengan sebuah tawa renyah.


"Pria brengsek di manapun akan tetap brengsek," ujar Adriano menanggapi cerita Arsen sambil berdecak pelan.


"Aku hanya ingin menikmati hidup, sebelum nanti menemukan seseorang yang akan mengurungku di dalam rumah selama sebulan, setahun, atau mungkin selamanya," Arsen yang sejak tadi berdiri dengan setengah bersandar pada meja biliiard, kini beranjak mengambil dua buah stik. Salah satunya dia berikan kepada Adriano. "Bagaimana Sicilia?" tanyanya.


"Luar biasa. Setelah ini aku akan pergi ke Inggris. Lagi pula, rencana pembangunan kasino yang merupakan proyek kerja sama dengan Vargas telah dimulai. Sambil menyelam, minum air," tutur Adriano dengan seutas seutas senyuman di wajahnya.


"Baguslah. Don Vargas adalah pria yang sangat perfeksionis. Aku rasa kalian akan menjadi rekan bisnis yang sempurna," Arsen telah selesai menata bola-bola kecil di atas meja. Permainan pun akan segera dimulai.


"Besok aku akan ke Italia. Ada sedikit urusan yang harus kuselesaikan di sana," ucap Adriano yang berkesempatan bermain pertama.


"Bolehkah aku tetap berada di sini untuk beberapa waktu lagi?" tanya Arsen penuh harap.


Pertanyaan Arsen telah berhasil membuat Adriano tertawa cukup nyaring. "Astaga, sejak kapan kau jadi seformal itu padaku? Nikmati waktumu di sini. Lagi pula, aku berutang budi padamu yang sudah mengajariku bahasa Yunani," ujar Adriano. Dia terdiam untuk sejenak. "Apa kau mengenal siapa Juan Pablo Herrera?" tanyanya tiba-tiba. Entah kenapa, Adriano merasakan ada sesuatu yang lain dengan pria yang selalu bersikap dingin itu.


"Juan Pablo? Hmmm ...." Arsen berlagak seakan tengah mengingat-ingat sesuatu. "Juan Pablo Herrera. Setahuku dia adalah anak emas Don Vargas. Segala sesuatu yang berhubungan dengan pria itu, pasti akan melalui Juan Pablo. Jika aku tak salah ingat, dia adalah putra seorang mantan prajurit angkatan darat dari Meksiko. Sedangkan ibunya merupakan mantan salah satu perawat senior di rumah sakit militer Spanyol. Perpaduan yang sangat luar biasa. Iya, kan?" Arsen tersenyum kecil. Sementara Adriano tampak berpikir serius.


Keesokannya, matahari bersinar hangat di langit kota Monte Carlo. Dengan menggunakan helikopter, Adriano dan yang lainnya terbang menuju Italia, membawa sedikit keresahan di hati Mia.

__ADS_1


__ADS_2