
“Ricci!” seru Adriano seraya bergegas menghampiri dan berjongkok di samping tubuh Coco yang sudah tak bergerak. Pelan dan hati-hati, Adriano membalikkan tubuh pria yang kini telah menjadi rekan seperjuangannya. “Ricci!” Adriano yang panik, mencoba menyadarkan Coco dengan cara menepuk pipinya pelan. Akan tetapi, pria itu tak merespon sama sekali.
“Astaga,” Monique yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Adriano, begitu terkejut melihat kondisi tubuh pria Italia tersebut.
Rompi anti peluru yang dipakai oleh Coco sudah terkoyak. Tali helm pelindungnya pun terlepas. Adriano dapat melihat dengan jelas, darah mengucur dari dada dan perut pria berambut ikal itu.
“Ricci! Bertahanlah!” Adriano segera melepas helm dan masker, begitu juga dengan rompi anti pelurunya. Adriano menanggalkan seragam tentara yang dia kenakan saat itu. Dengan segera, dirinya melilitkan kain tadi ke bagian tubuh Coco yang terluka.
“Apa kau punya kain atau apapun yang bisa kugunakan sebagai penahan lukanya? Setidaknya itu dapat menghentikan pendarahan untuk sementara,” tanya Adriano yang tetap berusaha memperlihatkan sikap tenang, meskipun dalam hati dia begitu panik.
“Aku punya ini,” Monique segera membuka blazer mahalnya, lalu memberikan pakaian itu kepada Adriano.
“Terima kasih,” Adriano menerima blazer tersebut. Dia lalu meletakkannya di atas luka yang Coco alami sambil menekan sekuat tenaga. Ekspresi khawatir mulai terlihat dan semakin bertambah besar, ketika Adriano tak dapat menemukan denyut nadi Coco.
“Monique, adakah cara untuk membawa Ricci keluar dari sini? Aku harus segera membawanya ke rumah sakit terdekat,” ujar Adriano dengan raut panik.
“Rumah sakit terdekat ada di Zlatibor, tapi .…” Monique berpikir sejenak. “Jika Nenad berhasil melarikan diri, itu artinya dia membawa helikopter miliknya. Akan tetapi, ada satu helikopter medis yang selalu siaga di gedung utara,” lanjut wanita itu kemudian.
“Apakah helikopter itu bisa digunakan?” tanya Adriano penuh harap.
__ADS_1
“Aku punya kenalan dari divisi kesehatan. Kurasa kita bisa meminta tolong padanya untuk memindahkan helikopter medis ke atap gedung ini,” jawab Monique antusias.
“Kalau begitu, tolong cepat hubungi dia,” pinta Adriano dengan sangat mendesak.
“Iya, tentu!” Monique beranjak dari tempatnya berdiri, lalu berjalan ke meja kerja. Dia membuka salah satu laci dan mengambil sebuah ponsel. Monique menekan tombol pada layar dengan terburu-buru, lalu menempelkan benda pipih itu di dekat telinganya. Sesaat kemudian, dia mulai bercakap-cakap di telepon menggunakan bahasa yang terdengar asing bagi Adriano. Tak berselang lama, dia mengakhiri panggilan, lalu kembali ke tempatnya berdiri tadi.
“Mereka bersedia memindahkan helikopter dan membawa tandu kemari. Aku juga sudah menceritakan kondisi temanmu,” tutur Monique. Mata indahnya beralih pada wajah tampan Coco yang terlihat begitu damai. “Apakah dia ….” Wanita itu tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
“Tidak! Jangan berpikiran macam-macam. Ricci akan bertahan. Aku yakin itu,” potong Adriano. Keyakinannya kembali goyah, ketika denyut nadi Coco yang tadi sempat dia rasakan, kini mulai melemah. “Ricci, buka matamu. Ricci, ayolah! Jangan membuatku panik atau aku akan menghajarmu dengan keras!” Adriano kembali memanggil nama Coco dengan harapan agar pria itu dapat meresponnya. Akan tetapi, nyatanya Coco tetap tak memperlihatkan pergerakan sedikit pun. Hal itu membuat Adriano terlihat gusar.
Sekian lama dia mengenal sosok Coco, tanpa sadar Adriano menjadi semakin akrab dengannya. Tak bisa dipungkiri bahwa rasa takut dan khawatir saat ini begitu menguasai hati pria tiga puluh dua tahun tersebut.
Namun, untunglah karena tak berselang lama, beberapa orang pria berseragam putih memasuki ruangan itu sambil membawa tandu. Mereka berlari mendekat dan mulai memeriksa keadaan Coco dengan saksama. Salah seorang dari pria itu memeriksa denyut nadi, sedangkan beberapa orang lainnya memasang alat bantu pernapasan dan memasang selang infus. Mereka lalu memindahkan Coco ke atas tandu, dan segera membawanya dengan hati-hati melewati tangga untuk menuju ke atap gedung.
“Bicaralah,” desak Adriano setengah memaksa.
“Ehm, mereka ... mereka mengatakan bahwa kondisi temanmu tidak bagus. Sebaiknya kita berdoa supaya ada keajaiban,” jelas Monique pada akhirnya.
“Astaga,” Adriano meraup wajahnya kasar. Tak terkira betapa kacau diri dan pikirannya saat itu. “Padahal aku sudah menyarankannya untuk tetap tinggal, tapi dia menolak dengan tegas,” sesal Adriano. Entah penjelasan seperti apa yang akan dia berikan kepada Mia, karena Adriano telah berbohong kepadanya.
__ADS_1
Monique sudah hendak menanggapi ucapan pria itu, tetapi panggilan dari petugas medis membuatnya harus mengalihkan perhatian. Dia mengangguk-angguk saat salah seseorang dari mereka menjelaskan sesuatu padanya. Monique kemudian menoleh kepada Adriano sambil memaksakan senyum. “Mereka akan membawa temanmu ke rumah sakit pusat Zlatibor,” ujarnya.
“Ke manapun aku setuju asal nyawanya dapat diselamatkan,” sahut Adriano yang masih terlihat cemas. Bersamaan dengan itu, mereka akhirnya sudah tiba di atap gedung.
Para petugas medis tadi meletakkan tandu ke dalam helikopter khusus, yang biasa mereka gunakan untuk situasi dan penanganan darurat seperti itu. Mereka juga memberi isyarat kepada Adriano agar ikut naik. Dengan segera, sang ketua Tigre Nero tersebut melompat masuk dan mengambil posisi duduk di sisi tandu. Dia sempat menoleh kepada Monique yang tetap tinggal di atap gedung sambil melambaikan tangan. Entah apa yang direncanakan oleh wanita yang baru dikenal oleh Adriano itu selanjutnya.
Pandangan pria bermata biru itu berpindah pada Coco. Dia terpekur menatap wajah tampan yang sama sekali tak membuka matanya, meskipun beberapa kali para petugas medis itu menancapkan selang yang tersambung ke alat pengukur nadi. “Ricci, buka matamu,” pintanya lagi.
Namun, lagi-lagi ucapan dan harapan Adriano hanya menjadi sia-sia. Dia juga terlihat putus asa.
Adriano menggeleng pelan, lalu menopang kepala menggunakan tangan. Dia tengah berpikir dalam-dalam saat terdengar rintihan pelan. “Ricci?” Adriano langsung menoleh dan mendekatkan telinganya pada bibir Coco yang tertutup oleh alat bantu pernapasan.
“Francy,” suara yang keluar dari mulut Coco terdengar begitu lirih. Namun, Adriano dapat menangkap nama yang baru diucapkan olehnya sahabat mendiang Matteo tersebut.
“Francy,” gumam Coco lagi dengan susah payah.
“Francy akan segera datang menjemput kita. Tenanglah, Ricci,” bisik Adriano.
“Ka-katakan kepada Francy, aku … aku sangat mencintainya,” suara Coco terdengar makin lemah dan terbata.
__ADS_1
“Tidak! Aku tidak ingin menyampaikannya pada Francesca! Aku mau kau yang mengatakan itu secara langsung padanya!” tegas Adriano tepat di dekat telinga Coco. “Kau harus bertahan. Kau harus menyelamatkanku dari kemarahan Mia. Jika sampai terjadi sesuatu yang buruk terhadapmu, maka berarti menjadi kiamat juga bagiku. Karena itu, kau harus berusaha untuk tetap kuat dan tentu saja tetap hidup. Ingat, kau belum menikah. Jadi, jangan sampai kau menyerah atau Francy-mu akan diambil pria lain,” Adriano terus berbicara di dekat telinga Coco, berharap agar dia tetap terjaga.
Samar, Coco menyunggingkan senyuman. “Dasar brengsek!” umpatnya lemah. Tak berselang lama, pria berambut ikal itu kembali memejamkan mata secara perlahan. Melihat hal itu, Adriano segera memegang tangan Coco dengan erat.