
“Kenapa kalian harus panik? Ada Carlo yang tangguh dan menawan. Sampai-sampai … um ... tidak jadi.” Romeo mengurungkan kata-katanya. Namun, dia masih sempat bercanda dalam situasi genting seperti itu. Pemuda tersebut sama sekali tak terlihat gelisah ataupun was-was. Sementara Carlo sudah hampir mengeluarkan keringat dingin ketika Romeo berkata demikian.
“Kita juga mempunyai paman Ricci yang tak terkalahkan,” Romeo mengalihkan pembicaraan.
“Kau selalu seenaknya sendiri, Romeo! Astaga, aku bisa mati berdiri jika terlalu lama berada di antara kau dan Miabella!" gerutu Coco. Pria itu tak habis pikir akan pemikiran keponakannya yang sungguh tak masuk akal.
“Jadi, bagaimana?” desak Romeo. Dia terus mendorong tubuh Oxana agar tetap berada di dekat Coco.
“Tak ada jalan lain selain menonaktifkan secepat mungkin alat pelacak yang ada pada tubuh gadis ini, sebelum mereka menyusul sampai kemari,” dengus Coco seraya meraih lengan Oxana. Dia membawa gadis cantik berambut pirang itu ke ruangan rahasia. Sebuah tempat yang terletak di antara lorong penghubung antara bangunan utama dengan perkebunan. “Kau ikut denganku, Carlo. Bantu aku melepaskan kalung ini,” titahnya. Dia mengajak pengawal pribadi Miabella yang masih berdiri kebingungan.
“Oh, tidak bisa, Paman. Carlo harus menemaniku berjaga-jaga di gerbang depan,” cegah Romeo. Dia buru-buru mencekal lengan kekar Carlo.
“Carlo tidak perlu ikut campur atas kekacauan yang sudah kau sebabkan. Menjaga gerbang adalah bentuk pertanggungjawaban atas perbuatan gegabahmu!” tegas Coco. Dia juga ikut menarik lengan Carlo yang sebelah lagi.
“Jadi, aku harus bagaimana?” tanya Carlo bingung.
“Ikutlah dan bantu aku melepaskan kalung ini secepatnya!” jawab Coco dengan segera.
“Kalau kau tak menurut apa kataku, maka akan kuceritakan pada paman tentang rahasia terbesarmu,” ancam Romeo.
“Astaga. Aku sungguh tak bisa mempercayai semua ini.” Carlo menggeleng pelan sembari mengusap-usap tengkuknya.
“Rahasia apa?” Coco mulai terpengaruh dan merasa penasaran. Namun, dengan segera dia dapat mengalihkan kembali pikirannya. “Sudahlah, aku tidak peduli! Yang jelas Carlo ikut denganku! Ayo!” kekuatan Coco jelas lebih besar dari Romeo. Ketika dia menarik Carlo, sang keponakan yang waktu itu juga tengah memegangi lengan anak asuh Adriano tersebut ikut tertarik dan terhuyung ke depan.
__ADS_1
“Maaf, Tuan Muda. Kurasa tuan Ricci benar adanya. Kita harus buru-buru mematikan alat pelacak sebelum mereka mendeteksi tempat ini.” Carlo melepaskan tangannya pelan-plan dari Romeo, lalu bergegas mengikuti Coco. Dia sama sekali tak khawatir jika Romeo akan mengungkapkan hubungan rahasianya bersama Miabella, sebab Carlo cukup tahu bagaimana sifat pewaris klan tersebut. Romeo tak akan berani membuat gara-gara dengan putri Matteo de Luca.
“Kurasa kalian akan terlambat.” Oxana yang sedari tadi terdiam, kini mulai bersuara. Coco sama sekali tak ingin menanggapi. Dia terus berjalan sembari mencekal lengan gadis cantik berambut pirang itu hingga memasuki ruang rahasia.
“Anak buah Czar memang masih belum begitu banyak di negara ini. Akan tetapi, mereka semua sangat loyal dan berani mati,” tutur Oxana lagi.
“Mendongaklah,” suruh Coco yang sama sekali tak memedulikan perkataan Oxana. Suami Francesca itu terus mengamati kalung yang melingkar di leher jenjang nan mulus milik si gadis. “Sepertinya benda ini terbuat dari Tungsten,” pikir Coco.
“Apakah Tungsten itu, Tuan?” tanya Carlo tak mengerti.
“Tungsten adalah sejenis logam terkuat di bumi. Dia hanya bisa dipotong dengan pemotong laser. Lihatlah, posisinya yang menempel sempurna di leher gadis ini. Jika kita merusaknya dengan pemotong laser, maka lehernya dapat kupastikan akan ikut terputus,” jelas Coco dengan santai.
Oxana yang mendengar hal mengerikan itu, seketika memucat. Dia menggeleng ketakutan sembari bergerak mundur. “Ampuni aku, Tuan. Aku sama sekali tidak tahu apa-apa. Mereka hanya menjebak kami para gadis sehingga sampai di negara ini,” ucapnya dengan suara yang bergetar. Dia kembali memasang raut penuh ketakutan.
“Tenanglah. Tentu saja aku tak akan melakukan hal itu. Siapa namamu?” Coco berusaha membuat gadis belia di hadapannya itu menjadi sedikit lebih tenang.
“Hm, baiklah. Sekarang dongakan lagi wajahmu,” suruh Coco lembut. Dia memiliki dua orang putri, sehingga Coco tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan anak gadis yang sedang merasa cemas.
Oxana pun menuruti apa yang Coco perintahkan. Dia mendongak ke langit-langit ruangan yang sama sekali tak memiliki jendela. Dalam ruangan itu hanya ada ventilasi kecil di tiap sudut dinding atasnya.
“Chip itu ditanam di sini.” Coco mengarahkan telunjuknya pada titik merah yang berpendar. “Cara membuka kalung ini adalah dengan membuka gembok angka menggunakan kombinasi yang sesuai,” jelasnya. Jari pria berambut ikal itu beralih pada deretan angka di sisi titik merah tadi.
“Bisakah kita mencoba kombinasi angkanya, Tuan? Siapa tahu cocok,” cetus Carlo.
__ADS_1
Coco menoleh kepada pria tampan di sebelahnya itu, lalu beralih kembali ke arah Oxana. “Ada lima deretan angka di gembok. Berarti, kemungkinan kombinasi kunci yang benar adalah sebanyak seribu dua ratus. jika kita harus mencoba membuka kunci itu sebanyak seribu dua ratus kali, maka itu akan sangat membuang waktu,” jelas Coco.
“Lalu bagaimana, Tuan?” Carlo yang awalnya mencondongkan badan ke arah Oxana, kini berdiri tegak seraya mengusap-usap dagunya dan tampak berpikir.
“Hm.” Coco ikut menegakkan badan sambil memikirkan cara yang paling tepat dan aman tentunya. “Tak ada jalan lain. Untuk sementara kita harus mengacak sinyalnya agar tidak bisa terbaca,” ujar pria itu kemudian.
“Apakah Anda bisa melakukan hal itu?” tanya Carlo lagi.
“Sepertinya aku mempunyai alat yang bisa kugunakan untuk melakukan itu.” Coco membalikkan badan dan membuka salah satu laci dari sekian banyak meja yang ada di sana. Untuk beberapa saat, dia sibuk membongkar isi laci sampai menemukan sebuah benda kecil berbentuk kubus dan berwarna hitam. Coco menggenggam benda tersebut, kemudian mengambil beberapa perkakas lain yang berukuran lebih kecil. Dia lalu membawanya ke hadapan Oxana yang tengah duduk dengan sikap teramat tegang.
“Benda apa itu?” tanya Oxana lirih.
“Ini adalah pengacak sinyal dan radar buatanku. Apabila benda ini diletakkan di dekat chipmu, alat penangkap sinyal mereka tidak akan bisa membaca letak koordinat chipnya,” jelas Coco. Pelan dan hati-hati, ayah tiga anak tersebut menempelkan perangkatnya pada kalung Oxana dengan menggunakan lem khusus. Setelah selesai, dia menekan sisi samping benda hitam tadi.
Setelah diaktifkan, benda canggih milik Coco lah yang memancarkan sinar merah. Sedangkan titik merah di kalung Oxana menjadi padam. “Berhasil!” pria itu menyeringai penuh bangga. “Selanjutnya, aku akan mencari cara untuk melepas kalung Tungsten tadi dari lehermu. Namun, itu artinya aku akan menunda kepulanganku ke Roma. Astaga!” Coco mengacak-acak rambut ikalnya dengan gusar. "Anak dan ayah sama-sama pembuat ulah!" Dia kembali menggerutu.
“Lalu, kita apakan gadis ini?” tanya Carlo ragu-ragu.
“Dia terpaksa harus tinggal di sini sampai semuanya aman dan aku dapat membuka kalungnya,” jawab Coco serius.
“Tuan? Itu … apa?” Oxana tiba-tiba mengarahkan telunjuknya ke layar monitor besar yang ada di tengah-tengah ruangan. Monitor tadi tiba-tiba menyala dan menampakkan gambar peta tiga dimensi. Gambarnya begitu rumit, membuat gadis itu tak paham akan maksudnya.
Carlo dan Coco menoleh secara bersamaan. “Oh, tidak!” Coco melotot dan menepuk keningnya. Yang dimaksud Oxana adalah foto citra satelit dari Casa de Luca beserta seluruh area di sekitarnya. Namun, yang membuat Coco terbelalak adalah banyaknya titik merah yang mengitari pagar dan perbatasan terluar dari perkebunan.
__ADS_1
“Kenapa banyak sekali titik merahnya?” gumam Carlo.
“Sejak belasan tahun yang lalu, aku berhasil memindai setiap benda yang berada di area Casa de Luca dan memasukkannya ke dalam sistem, sehingga ketika ada obyek tak dikenal maka dia akan muncul dalam bentuk titik merah. Sama seperti yang kalian lihat di monitor itu,” terang Coco dengan raut yang tampak menegang.