
Sementara Mia menyiapkan menu untuk makan siang, Adriano asyik menemani Miabella bermain di halaman samping Casa de Luca. Damiano yang saat itu baru kembali dari perkebunan, merasa heran sekaligus terpukau dengan pemandangan yang tersaji di sana.
Sebuah keajaiban bagi Damiano, ketika melihat Miabella yang langsung akrab dengan Adriano. Pria paruh baya itu tersenyum kecil. “Lihatlah putrimu, Theo,” ucapnya pelan. Desir kepedihan kembali dia rasakan. Namun, Damiano tak ingin terus larut dalam kesedihannya. Dia harus tetap kuat, demi semua hal yang Matteo titipkan padanya di Casa de Luca.
“Kakek!” seru Miabella yang saat itu melihat keberadaan Damiano. Gadis kecil berambut cokelat tersebut melambai padanya. Senyuman Miabella terlihat begitu lebar. Dia tampak sangat ceria.
Damiano menghampiri mereka. “Ada yang seru, Bella?” tanyanya lembut. Setelah itu, dia mengalihkan pandangan kepada Adriano, yang tengah merapikan lengan kemeja. Adriano melipatnya hingga menjadi tiga per empat. “Apa kabar, Tuan D’Angelo?” sapa Damiano.
“Baik,” jawab Adriano. “Tidak perlu terlalu formal. Panggil saja Adriano,” ucap pria bermata biru itu.
“Kalau begitu, panggil aku Damiano saja,” balas pria bertopi yang selalu dengan sikap bijaksananya.
“Oh, baiklah. Terdengar jauh lebih nyaman,” ujar Adriano sambil terus menemani Miabella bermain. Gadis kecil itu begitu lincah dan sangat aktif. Dia juga sebenarnya merupakan anak yang periang. “Apa kau tidak lelah, Bella?” tanya Adriano dengan setengah berseru kepada Miabella, yang terus berlari-lari di halaman berlapis rumput hijau.
“Tidak, Daddy Zio,” sahut Miabella.
Sontak, Damiano segera menoleh kepada Adriano yang saat itu tersenyum kalem seraya menoleh padanya. “Aku dan Mia akan segera menikah. Aku harap kau tidak keberatan, Damiano,” ucap Adriano pelan dan tenang.
Sementara, Damiano tidak segera menjawab. Pria tua tersebut kembali memperhatikan Miabella yang tengah bermain dengan begitu riang. Gadis kecil tadi terlihat sangat senang. “Selama itu membuat Mia bahagia, aku sama sekali tidak keberatan. Dia masih muda. Mia berhak untuk melanjutkan hidup,” jawab Damiano dengan perasaan tak menentu. Bayangan wajah Matteo di hari terakhirnya, tiba-tiba muncul dan mengusik ketenangan yang sedari tadi dia jaga.
__ADS_1
“Kau sungguh tidak merasa keberatan, Damiano?” tanya Adriano sekali lagi. Dia seakan ingin lebih memastikan pendapat, dari pria yang selama ini telah menjadi panutan di Casa de Luca.
Helaan napas berat terdengar dari pria yang kini melepas topi, sehingga memperlihatkan rambutnya yang telah memutih sempurna. Damiano memegang erat topi yang menjadi hadiah terakhir kado ulang tahunnya. Hadiah dari Mia dan Matteo pada hari nahas itu. “Aku rasa, Theo juga mengetahui bahwa kau dapat menjaga Mia dengan baik,” jawab Damiano seraya tertunduk untuk sejenak.
Adriano mengembuskan napas pelan. Dia lalu memasukan tangan kanan ke dalam saku celana. “Aku sangat terkejut dengan berita itu. Rasanya, tidak percaya jika seorang Matteo tewas begitu saja,” sesal Adriano. Pria itu menautkan alisnya dan tampak berpikir sejenak. “Apa ada seseorang yang kau curigai?” tanyanya kembali menoleh kepada Damiano.
Pria tua tersebut hanya menggeleng. “Semenjak melepaskan dirinya dari organisasi, Theo hanya fokus dengan perkebunan. Sesekali, Marco datang kemari untuk meminta bantuannya. Akan tetapi, dia tidak pernah terlibat dalam segala urusan yang berhubungan dengan dunia hitam lagi. Aku sangat mengetahui hal itu. Putraku terlihat jauh lebih tenang dan tentu saja memiliki banyak waktu yang berharga bersama keluarga kecilnya." Damiano terdiam untuk sejenak. Dia kembali mengenakan topi tadi.
“Aku tidak akan pernah melupakan hari itu. Rasanya seperti sebuah ledakan bom yang teramat dahsyat, ketika pihak medis mengatakan bahwa putraku telah tiada. Semuanya terjadi dengan begitu cepat,” tutur Damiano dengan tatapan menerawang. Bayangannya kembali, pada saat di mana dia menyaksikan tubuh tegap Matteo roboh dengan bersimbah darah.
“Darah yang keluar dari tubuhnya banyak sekali. Tim forensik dari pihak kepolisian mengatakan bahwa setidaknya ada empat luka tembak di punggung, yang salah satunya menembus hingga ke jantung. Sedangkan, saat itu aku sama sekali tidak melihat ada sesuatu yang mencurigakan di sana." Damiano kembali terdiam dan seakan tengah memikirkan sesuatu. Sementara, Adriano menyimak penuturan dari pria itu dengan saksama.
“Ada yang mengatakan padaku bahwa Theo ditembak dengan menggunakan senjata yang sangat canggih, dengan spesifikasi unik. Hal itu mengingatkanku pada senjata ciptaannya sendiri. Kita tahu seberapa hebatnya senjata yang Theo hasilkan. Namun, aku juga tak berani untuk berspekulasi. Satu hal yang pasti, selain dilakukan oleh seorang penembak jitu yang andal, senjata yang digunakannya pun bukanlah senjata yang sembarangan. Oh, Theo putraku ....” Damiano menunduk seraya menutupi kedua matanya dengan tangan kanannya.
Damiano segera mengusap sudut matanya yang basah, terlebih karena saat itu seorang pelayan datang menghampiri mereka dan memberitahu bahwa makan siang telah siap. Mereka pun mengajak Miabella untuk masuk. Gadis kecil itu tak membantah, apalagi karena Adriano menggendongnya hingga tiba di ruang makan.
Mia yang baru selesai menata meja makan, tersenyum lembut melihat keakraban antara putrinya dengan Adriano. Itu merupakan hal yang sangat luar biasa. Miabella bahkan memilih kursi yang bersebelahan dengan Adriano. Dia juga langsung memakai sepatu yang dihadiahkan oleh pria tersebut.
“Apa lagi yang kau sukai selain sepatu, Bella?” tanya Adriano mulai menyantap sajian yang merupakan buatan Mia. Dia sempat terdiam sejenak dan melirik wanita itu. Betapa bahagianya menjadi seorang Matteo de Luca, pikir Adriano. Namun, dia tak ingin menunjukan sikap yang terlalu berlebihan. Perhatiannya kembali tertuju pada Miabella.
“Aku suka boneka, Daddy Zio,” jawab gadis kecil bermata abu-abu itu dengan polos, tetapi membuat Mia hampir tersedak karena mendengar panggilan yang disematkan putrinya terhadap Adriano.
__ADS_1
Sedangkan, Adriano hanya tersenyum kecil. Sambil terus menikmati santap siangnya, dia kembali berkata, “Aku akan memenuhi kamarmu dengan boneka yang kau inginkan. Itu bukan masalah besar, Bella. Gadis cantik sepertimu, pantas untuk diperlakukan seperti seorang tuan putri.” Adriano membelai rambut panjang Miabella yang tersenyum lebar padanya.
“Jadi, kapan rencana pernikahan kalian dilangsungkan? Aku akan membantu mempersiapkan semuanya.” Damiano menghentikan suapannya. Dia menatap Mia serta Adriano secara bergantian.
“Paman ....” Mia tak melanjutkan kata-katanya. Ada setitik penyesalan yang dia tunjukan.
Damiano dapat memahami hal itu dengan jelas. “Tak apa, Anakku. Kau berhak untuk melanjutkan hidupmu dan kembali meraih kebahagiaan yang telah hilang. Sudah seharusnya ada seseorang yang kembali menjagamu dan Miabella dengan baik."
"Bagaimanapun juga, aku sudah semakin tua dan tak kuat menggendong putrimu berlama-lama,” ujar Damiano tersenyum getir. Rasa haru itu kembali menyeruak dalam hatinya. Namun, Damiano benar-benar tulus. Dia juga ingin melihat Mia bahagia, terlebih karena Miabella pun tampak akrab dengan Adriano.
“Kami akan melangsungkan pernikahan dalam minggu ini, karena aku harus segera kembali ke Monaco,” jelas Adriano dengan penuh percaya diri. Tatapanya tertuju kepada Mia yang saat itu tengah memandang protes padanya. Adriano belum membicarakan hal itu. Akan tetapi, Mia tak ingin banyak berdebat. Dia pun mengangguk tanda setuju dengan ucapan pria tampan tersebut.
“Kami tidak akan mengadakan pesta yang terlalu meriah, Paman,” ujar Mia membuat Adriano seketika melotot padanya. Namun, Mia tak memedulikan hal itu. Dia sibuk melanjutkan perbincangannya dengan Damiano.
Seusai makan siang, Adriano berpamitan untuk pulang. Namun, sebelum dirinya meninggalkan Casa de Luca, dia sempat mengantarkan Miabella ke kamar untuk tidur siang. Setelah memastikan gadis kecil itu telah terlelap, Adriano pun keluar dan bergegas menemui Mia di dalam ruang kerja Matteo.
“Aku pulang dulu. Besok aku kemari lagi. Kita akan pergi ke Milan untuk membeli gaun pengantin,” ucapnya. Dia segera mengangkat tangan sebatas dada, sebagai isyarat agar Mia tidak melakukan protes. “Aku yang menentukan semuanya, Mia,” tegas Adriano.
Pria itu melangkah ke hadapan Mia dan berdiri sangat dekat dengannya. “Dengarkan aku, Sayang.” Nada bicara Adriano terdengar jauh lebih berat dan dalam dari sebelumnya. “Ini adalah pernikahan pertamaku.Jadi, aku menginginkan sesuatu yang sangat istimewa. Aku tak peduli meskipun harus menghabiskan banyak uang demi pesta ini,” lanjutnya.
“Lalu?” tanya Mia.
__ADS_1
“Lupakan ide konyolmu tentang sebuah pesta sederhana." Adriano membelai lembut pipi Mia menggunakan punggung tangannya.