Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Curious Miabella


__ADS_3

Miabella melangkah dengan hati-hati saat menuruni anak tangga menuju lantai bawah tanah mansion. Dia begitu penasaran atas apa yang Adriana katakan padanya semalam. Gadis cantik dengan skinny jeans dan t-shirt press body itu terus mengedarkan pandangan, agar jangan sampai ada yang mengetahui apa yang dilakukannya.


Namun, Miabella sepertinya lupa dengan kamera pengintai tersembunyi yang berada di setiap sudut mansion mewah itu.


"Bodohnya aku." Gadis cantik itu tertegun sambil menepuk kening, lalu menyibakkan rambut panjangnya ke belakang. Miabella tak segera menoleh, meski ada langkah yang teramat dia kenal tengah mendekat ke tempat di mana dirinya berada.


"Aku melihatmu dari layar monitor kamera pengawas," tegur sebuah suara berat yang ternyata milik Carlo. Pria itu mendekat, lalu berdiri di hadapan Miabella yang tadi dalam posisi membelakanginya.


"Bukakan pintu itu untukku, Carlo," titah Miabella dengan malas.


"Untuk apa kau kemari? Tuan pasti tidak suka jika kau ...."


"Daddy Zio dan ibuku sedang keluar," potong Miabella dengan segera. "Jadi, kuperintahkan kau untuk segera membuka ruang rahasia ini," suruh gadis itu lagi.


Carlo tak segera melakukan apa yang Miabella perintahkan. Pria dengan tato di sebagian besar tubuhnya itu hanya tersenyum kalem. "Aku tak akan membiarkanmu masuk ke dalam masalah besar, Nona. Ini adalah tempat terlarang bagi siapa pun, selain atas izin tuan Adriano D'Angelo," tolak pria tiga puluh empat tahun itu. Dia mengusap rambut hitamnya yang tertata ke samping.


"Ah, kau banyak sekali basa-basi." Miabella mengibaskan tangannya di depan wajah. "Aku hanya merasa penasaran. Sekian lama tinggal di sini, tapi diriku belum pernah sekalipun masuk kemari. Itu aneh bukan?" Miabella melipat kedua tangan di dada, sambil memasang ekspresi wajah yang sulit diartikan.


Akan tetapi, tidak begitu bagi Carlo. Dia sudah lama mengikuti kehidupan gadis cantik tersebut, sehingga dirinya telah mengetahui setiap bahasa tubuh yang Miabella tunjukkan.


"Memangnya apa yang membuatmu merasa penasaran untuk masuk kemari?" tanya pria tampan berambut gelap tadi.


"Aku hanya ingin tahu ada apa saja di dalam sana," jawab Miabella enteng.

__ADS_1


Carlo mengempaskan napas pelan. Pria dengan postur tegap tersebut memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Dia berjalan mengelilingi gadis cantik yang selama ini dia jaga dengan baik, bahkan hingga dirinya mengabaikan urusan pribadi.


Setelah diberi amanat untuk menemani serta menjaga Miabella selama gadis itu melanjutkan pendidikan di Inggris, Carlo terlalu fokus mengikuti ke manapun putri majikannya pergi. Tak sedikit pun pergerakan Miabella yang luput dari pantauannya. Jika perlu, mungkin pria tampan dengan banyak tato tersebut akan mengikuti Miabella hingga ke dalam toilet sekalipun.


"Tidak ada yang bagus di dalam sana. Kau tak akan menyukainya, Nona," ucap Carlo yang mencoba membujuk Miabella agar mengurungkan keinginannya.


"Ayolah, Carlo. Jika kau tak menuruti apa yang kuminta, maka aku tak akan mengajakmu ke Italia," ancam gadis bermata abu-abu itu dengan tenang.


Mendengar kata Italia, seketika raut wajah Carlo menjadi berubah. Sekitar tujuh belas tahun sudah dia tak kembali untuk mengunjungi negara itu. Sekalipun dulu Adriano kerap mengajak Miabella ke sana, Carlo pasti tak sempat ikut karena sibuk dengan urusan pendidikan.


Adriano begitu memperhatikan Carlo dengan baik. Sang ketua Tigre Nero memenuhi segala kebutuhan pemuda tersebut, termasuk dalam hal pendidikan dan segala pelatihan keterampilan, sehingga Carlo dirasa layak untuk menjadi pengawal pribadi Miabella. Karena itu pulalah, Carlo mengabdikan dirinya dengan loyalitas yang mungkin saja jauh di atas kesetiaan seorang Pierre Corbyn.


"Apa kau akan ke Italia, Nona? Kapan?" tanya Carlo yang terdengar begitu antusias.


"Kau selalu saja bisa mengalahkanku," keluh sang pengawal setia. Dia lalu mendekat pada pintu besi dari ruang rahasia yang membuat Miabella amat penasaran. Carlo pun menekan rangkaian angka sebagai kode yang menjadi akses masuk. Setelah selesai menekan angka-angka tadi, pintu besi di hadapan Miabella pun terbuka lebar.


Gadis cantik dengan postur semampai itu tertegun untuk sejenak. Dia menatap lurus ke dalam ruangan luas yang lebih tepat disebut sebagai aula. Miabella pun melangkahkan kakinya dengan yakin.


"Kau tidak takut, Nona?" tanya Carlo memastikan, berhubung di dalam sana tak ada penerangan sama sekali, selain dari cahaya yang masuk melalui ventilasi udara. Namun, bau apek tetap saja tercium dan membuat Miabella merasa sedikit tak nyaman.


"Kenapa aku harus takut? Lagi pula, ada kau di dekatku," sahut Miabella menoleh sejenak kepada Carlo yang telah berdiri di sampingnya. Carlo pun hanya tersenyum sambil terus memperhatikan langkah Miabella yang tengah mengelilingi ruangan luas tersebut. Beberapa saat kemudian, gadis berambut panjang tadi membalikkan badan. "Apa yang biasa kalian lakukan di sini?" tanyanya. Suara merdu putri sulung Mia tersebut menggema di dalam sana.


"Tidak ada. Kami hanya berdiskusi," jawab Carlo yang masih berdiri di tempatnya.

__ADS_1


"Apakah kalian berdiskusi sambil memukuli dan menganiyaya orang lain?" tanya Miabella lagi dengan tiba-tiba, membuat Carlo seketika mengernyitkan kening. Sementara gadis cantik berambut panjang dan tebal itu masih menunggu jawaban.


"Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu? Memangnya siapa yang kami aniyaya di sini? Apa kau pernah melihat kami keluar dengan membawa mayat seseorang?" Carlo berjalan mendekat hingga dia berdiri tepat di hadapan Miabella yang tampak berpikir. Sepasang mata abu-abunya yang indah, berkeliling menyapu setiap sudut ruangan. Sesaat kemudian, tatapan Miabella pun terkunci pada sebuah ruangan berpintu besi di salah satu penjuru aula luas itu.


Tanpa berkata apa-apa, Miabella melangkah ke dekat ruangan yang sepertinya memang sengaja dibuat di sana. Sementara Carlo kembali mengikuti dan lagi-lagi berdiri sedikit di belakang sang putri majikan.


"Tempat apa ini?" tanya Miabella seraya menoleh kepada pria di dekatnya.


"Itu hanya ruangan tempat menyimpan segala peralatan dan beberapa senjata milik tuan Adriano," jawab Carlo menjelaskan. Dia tetap memasang raut tenang di hadapan Miabella.


"Setahuku daddy zio menyimpan koleksi senjata miliknya di ruang kerja. Dulu aku pernah melihatnya sekali," pikir Miabella merasa ragu dengan penjelasan Carlo.


"Ini adalah senjata yang lain, Nona. Kaum wanita tak akan memahaminya," jawab Carlo lagi masih dengan sikap kalem.


"Hey, itu adalah kalimat yang paling kubenci," protes Miabella dengan cukup tegas. "Kau lupa siapa bibi Valerie dan apa pekerjaannya? Ibuku juga katanya bisa menembak dari jarak lima ratus meter, meskipun aku tak yakin," ujar gadis itu membuat Carlo segera mengulum senyuman. "Coba buka pintunya untukku," titah Miabella kemudian, membuat senyuman pria berambut hitam tadi sirna seketika.


"Kau kemari bukan untuk menyurvei lokasi, bukan?" tanya Carlo yang seolah melakukan protes secara tidak langsung.


"Anggap saja begitu. Lagi pula apa susahnya hanya menekan tombol dan membuka pintu. Kau tidak perlu khawatir karena mulut Miabella Conchetta akan selalu terkunci rapat. Kerahasiaan tempat ini aman di tanganku," ucap kakak dari Adriana si boneka hidup itu, meyakinkan sang pengawal pribadi yang kali ini terlihat ragu.


"Untuk yang satu ini aku tidak bisa, Nona. Tuan Adriano sudah berpesan demikian padaku. Seharusnya aku tak pernah mengizinkanmu untuk masuk kemari," sesal Carlo sambil mengusap rambutnya yang tertata ke samping.


"Ayolah, Carlo. Aku berjanji setelah ini akan memberimu libur untuk pergi berkencan. Kau boleh bersenang-senang dengan para gadis yang dirimu inginkan," bujuk Miabella. Dia berharap Carlo kembali menurut padanya.

__ADS_1


Pria dengan t-shirt round neck hitam itu mengempaskan napas pelan. "Ini bukan karena para gadis," ucapnya sambil menekan kembali angka yang menempel di dinding, sehingga pintu besi pun terbuka lebar.


__ADS_2