
Pada awalnya, Adriano tak berniat untuk menjawab panggilan itu. Namun, Arsen terus menghubunginya bahkan hingga lebih dari tiga kali. Dengan terpaksa, Adriano pun menggeser ikon hijau pada layar ponselnya. "Parakalo," sapa pria bermata biru tadi pelan.
"Apa kau sedang sibuk, Adriano? Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu," suara Arsen terdengar cukup resah saat itu.
"Aku sedang di tempat pemakaman nenekku. Kami kembali ke Italia hari ini," jawab Adriano datar.
"Oh, aku turut berduka cita," sesal Arsen. "Kalau begitu, kita bicara saja nanti jika kau sudah benar-benar santai," ucapnya lagi.
"Tak apa. Acaranya sudah selesai. Kami akan ke Casa de Luca. Aku harus mengantarkan Damiano," ujar Adriano dengan tatapan menerawang pada pusara sang nenek.
"Rasanya tak enak jika kubahas hal ini sekarang."
"Apakah itu tentang ayah mertuamu? Aku sudah mengatakannya kepada Damiano, dan dia setuju," ucap Adriano lagi tanpa mengubah intonasinya.
"Tidak, tidak. Bukan tentang itu," bantah Arsen dengan segera.
"Lalu?" tanya Adriano lagi.
"Ini tentang Dejan, orang suruhan Nenad yang kemarin kau temui," jawab Arsen membuat Adriano sedikit bereaksi. Dia memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana. "Semoga kau tidak bertindak di luar batas terhadapnya," harap Arsen meskipun terdengar ragu.
"Sayangnya ... iya," jawab Adriano dengan enteng.
"Oh, astaga!" awalnya Arsen hanya mengeluh pelan. Namun, tak lama kemudian dia mendengus kesal. "Apa-apaan kau! Bukankah kau mengatakan hanya ingin menginterogasinya? Jika tahu begini, sebaiknya aku mendampingimu kemarin malam."
Sebuah senyuman sinis tersungging di sudut bibir Adriano. Terbayang olehnya ketika dia menghabisi pria suruhan Nenad Ljudevit dengan brutal. "Seperti itulah caraku dalam menginterogasi seseorang. Aku bahkan pernah melakukan hal yang jauh lebih menyenangkan dari yang kulakukan terhadap Dejan," ujarnya dengan tanpa beban. Kembali hadir dalam ingatannya, saat dia menyeret tubuh Sergei dan memasukkannya ke dalam kandang Camaro yang kelaparan. Adriano memejamkan matanya untuk sejenak.
__ADS_1
"Kau gila, Adriano!" gerutu Arsen. "Belum apa-apa kau sudah mencari masalah dengan Nenad. Seandainya dia tahu apa yang telah kau lakukan pada orang suruhannya, maka ... sudah kupastikan itu bukan hal yang baik," resah Arsen seraya mengacak-acak rambutnya sambil berjalan mondar-mandir.
"Aku menunggunya. Tanganku sudah gatal untuk segera mematahkan leher pria itu," sahut Adriano masih terdengar tenang.
"Kau tidak tahu seperti apa Nenad Ljudevit," sergah Arsen. Dia begitu kesal dengan tindakan Adriano yang dianggapnya terlalu gegabah.
"Sekuat dan sehebat apa dia? Nenad bukanlah Tuhan," ujar Adriano lagi. Dia menoleh kepada Mia yang memanggilnya. Raut wajah sang ketua Tigre Nero seketika berubah. Sebuah senyuman lembut membalas panggilan halus penuh cinta dari istri tercintanya. Adriano mengangguk pelan.
"Kau juga bukan Tuhan. Dasar bodoh!" umpat Arsen. Dia terlalu mencemaskan sahabatnya tersebut. Sedangkan Adriano hanya tertawa pelan mendengar umpatan Arsen yang menyebutnya bodoh.
“Aku sudah memikirkan jalan keluar untuk itu. Tenang saja, Arsen,” elak Adriano.
“Oh, ya? Seperti apa?” tanya Arsen setengah tak percaya.
“Banyak saksi mata yang melihat ada Don Vargas dan Juan Pablo Herrera di pesta pernikahanmu. Buat saja petunjuk yang mengarah pada kedua orang itu. Apalagi banyak yang mengetahui jika Don Vargas dan Nenad saling bersaing. Adu domba saja mereka berdua, Arsen. Mudah sekali, bukan?” Adriano tersenyum lebar sambil sesekali mengusap dagunya.
“Don Vargas sama berbahayanya dengan Nenad. Nanti saja jika ada waktu bertemu, aku akan menceritakan semuanya padamu. Untuk sementara, ikutilah rencana dariku,” saran Adriano dengan begitu tenangnya.
“Bagaimana jika rencanamu gagal? Aku pasti akan terseret di dalamnya. Aku tak mau membahayakan Olivia. Dia ... dia sangat berarti bagiku,” nada bicara Arsen melunak saat mengatakan hal itu.
“Jangan terlalu mencemaskan hal tersebut. Buatlah semuanya atas namaku. Jadi, jika terjadi kemungkinan terburuk, maka mereka akan langsung mencariku. Kupastikan namamu bersih dan tetap terlindungi,” tegas Adriano.
"Kau tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja dan pasti bisa mengatasi hal ini," ucap pria bermata biru itu lagi kemudian, meski dia tahu bahwa kata-kata seperti itu tak akan bisa membuat Arsen menjadi jauh lebih tenang. "Jangan lupa sampaikan kepada ayah mertuamu untuk datang ke Brescia, ke Casa de Luca. Suruh dia menemui Damiano Baresi," setelah bekata demikian, Adriano pun menutup sambungan teleponnya. Dia lalu berjalan ke arah Mia dan kedua pria tua yang sedang berbincang hangat sejak tadi.
"Bella sudah kelelahan dan mengantuk. Bisakah kita pulang sekarang?" tanya Mia yang sudah merasa tak nyaman, karena harus menggendong Miabella dalam waktu lama. Gadis kecil itu memang sudah terlihat lesu. Dia menyandarkan kepalanya yang tampak lemah di atas pundak sang ibu.
__ADS_1
"Kemarilah, Sayang. Biar aku yang menggendongmu," Adriano meraih tubuh mungil putri sambungnya, lalu dia pindahkan ke dalam gendongannya.
"Siapa yang menghubungimu tadi, Adriano?" tanya Mia. Perasaan curiga dan penasaran bercampur menjadi satu dalam tatapan matanya.
"Arsen. Kami membahas masalah pekerjaan," jawab Adriano berbohong. "Damiano, ajaklah Mia ke mobil," pinta Adriano.
Tanpa banyak bicara, pria dengan rambut dan janggut yang telah memutih tersebut langsung mengangguk setuju. Mia juga sepertinya dapat memahami hal itu, sehingga dia tidak menolak saat Damiano mengajaknya menuju mobil yang terparkir tak jauh dari mereka berada.
Kini, di sana hanya ada Adriano bersama sang ayah. Pada awalnya, mereka berdua saling membisu. Namun, sesaat kemudian Emiliano membuka percakapan di antara keduanya. "Kau sangat menyayangi putri Matteo de Luca rupanya," ucap pria paruh baya itu menatap Adriano yang tengah menepuk-nepuk punggung Miabella dengan pelan.
"Dia sudah menjadi putriku sekarang," jawab Adriano penuh percaya diri.
"Ya. Kau benar. Lalu, kenapa kau tidak juga memiliki anak biologismu dari Mia?" pertanyaan yang dirasa sangat pribadi, tapi menjadi wajar ketika diutarakan oleh seorang ayah terhadap putranya.
"Aku dan Mia sudah membahas hal itu. Kami memang sengaja menundanya terlebih dulu. Masih banyak urusan yang harus kuselesaikan dan membutuhkan konsentrasi penuh. Aku tidak ingin terbebani dengan kehamilan Mia. Lagi pula, Miabella masih kecil," Adriano mengemukakan beberapa alasan mengapa dia dan Mia menunda untuk segera memiliki anak sendiri.
"Baiklah. Aku hanya sudah tidak sabar untuk menimang cucu, selagi diriku masih diberi umur panjang," ujar Emiliano seraya tersenyum nanar. "Kau tahu sendiri bahwa ketiga anak-anakku dari Claudia belum ada yang berumah tangga," ujarnya kemudian.
"Suruh Gianna agar segera menghadap padaku. Aku ingin membicarakan pekerjaan untuknya," pinta Adriano. Pandangannya terus tertuju kepada Mia yang sedang menunggu di dalam mobil.
"Kau serius akan membawanya ke Roma?" Emiliano terus menatap Adriano.
"Ya. Dia memiliki kemampuan lebih jika dibanding dengan dua putramu yang lain. Apa sudah ada kabar dari Ilario?"
Emiliano menggeleng pelan. "Entah di mana Ilario sekarang. Dia belum kembali ataupun memberi kabar," Emiliano terdiam sejenak. Perasaan ragu terlihat jelas dalam sorot matanya. "Bagaimanapun juga, Ilario adalah putraku. Bisakah kau membantu untuk mencarikan kabar tentangnya? Claudia sangat cemas dengan keberadaan dia."
__ADS_1
Adriano terdiam. Kegetiran itu kembali muncul dalam hatinya. Emiliano sangat mengkhawatirkan Ilario yang jelas-jelas merupakan anak tak berguna.
"Aku tahu kau pasti kecewa," sesal Emiliano lagi. "Aku juga selalu mencemaskan dirimu, Nak. Akan tetapi, kau jauh lebih kuat dan bisa menjaga dirimu. Aku percaya itu. Kau jauh lebih tangguh jika dibandingkan dengan kedua putraku yang lain. Karena itulah aku tak terlalu merasa was-was, meskipun perasaan demikian tetap saja ada. Kau adalah putraku juga, Adriano. Suka atau tidak, darahku mengalir dalam tubuhmu. Hal itu tak akan pernah bisa kau pungkiri," tutur Emiliano lagi. Sementara Adriano masih terdiam dan tak berniat menanggapi ucapan ayahnya.