Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Lost Records


__ADS_3

Adriano menoleh dengan pistol yang masih berada di tangannya. Hal itu tentu membuat Christiabel seketika bergerak mundur dengan raut ketakutan. Segera saja, pria tampan berambut gelap dengan setelan jas rapi tersebut menyimpan kembali pistolnya di balik punggung. "Sedang apa kau di sini, Belle?" tanya Adriano heran dengan tatapan yang dia edarkan pada setiap sudut ruangan.


"Bukankah kau yang memintaku untuk datang kemari?" Christiabel balik bertanya.


Adriano terdiam sejenak. Tampaknya dia tengah mencerna sesuatu. Sesaat kemudian, pria rupawan itu tersenyum kecil. "Jadi begitu rupanya," gumam sang ketua Tigre Nero tersebut. Dia lalu mengela napas pelan. "Apa Jacob yang menyuruhmu datang kemari?" tanya Adriano kemudian.


"Ya. Dia datang ke butik untuk menyampaikan pesan darimu. Bukankah kalian bersahabat dekat?" tanya Christiabel lagi yang mulai terlihat tidak nyaman. Harapan indah yang sempat hadir karena ajakan bertemu dari Adriano, ternyata tak sesuai dengan bayangannya.


"Ya, tentu saja. Kami bersahabat," sahut Adriano tenang seraya tertawa pelan. "Namun, Jacob itu tipikal orang yang senang berbuat iseng. Dia kerap melakukan hal-hal seperti ini. Kau tenang saja, kapan-kapan aku pasti akan menegurnya dengan serius. Terkadang sikap jahilnya memang sangat keterlaluan," ujar Adriano yang tetap menunjukkan raut serta sikap tenang, seakan itu semua memang sekadar guyonan semata.


Adriano kemudian berjalan ke dekat pintu. Dia mencoba memutar pegangannya agar terbuka. Namun, entah kenapa karena pintu tersebut seakan terkunci secara otomatis. Adriano pun terdiam sejenak sambil memicingkan matanya. "Lihat saja kau, Jacob," gumam Adriano pelan. Sebuah ancaman yang pasti akan dia buktikan saat dirinya dapat menangkap sosok menyebalkan tersebut.


"Kau lihat?" Adriano membalikkan badan seraya tersenyum simpul kepada Christiabel yang masih berdiri mematung.


"Jangan khawatir. Sebentar lagi pintunya pasti akan segera terbuka," ucap Adriano lagi.


Pria rupawan itu kemudian merogoh ponsel dari dalam saku jas yang dia kenakan. Niatnya adalah untuk menghubungi sang ajudan setia yang berada di kamar lain. Namun, Adriano seketika terdiam saat mendapati bahwa ponselnya tak dapat menangkap sinyal sama sekali. Pria itu lalu menyentuh pangkal hidungnya yang mancung. Dalam hati, dia ingin segera berhadapan langsung dengan Jacob dan menghabisinya tanpa ampun. Namun, sang ketua Tigre Nero tetap berusaha untuk terlihat biasa saja.


Derap langkah dari hak sepatu milik Adriano terdengar cukup jelas di dalam kamar yang sepi itu. Dia memutuskan untuk duduk dengan sikapnya yang selalu terlihat penuh wibawa. Seperti biasa, Adriano meletakkan kaki kanan di atas paha sebelah kirinya.


"Ada apa, Adriano? Apa ada masalah yang serius?" tanya Christiabel yang terlihat khawatir.


"Tidak. Tak ada yang serius," jawab Adriano tenang.


"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya wanita cantik itu lagi.

__ADS_1


"Duduk tenang sambil menunggu Jacob mengakhiri keusilannya," jawab Adriano lagi. Dia menoleh kepada Christiabel untuk sejenak. Wanita itu selalu terlihat cantik dan menawan. Namun, semua keindahan yang ada pada diri Christiabel, tak membuat Adriano lupa bahwa dirinya telah memiliki seorang Mia.


Christiabel sendiri terlihat salah tingkah saat itu. Sesekali wanita cantik berambut indah tersebut mencuri pandang pada sosok tampan yang tengah duduk dengan tatapan lurus ke depan. Adriano tak meliriknya sama sekali. "Kau terlihat sangat tampan, Adriano," sanjung si cantik pemilik butik.


"Terima kasih," balas Adriano menanggapi. Dia menoleh sambil menyunggingkan sedikit senyuman, kepada wanita cantik yang duduk di sofa tak jauh dari tempatnya berada. Namun, Adriano tak membalas pujian tadi. Dia memilih untuk mengedarkan pandangan pada sekeliling ruangan, mencoba mencari sesuatu yang mungkin terlewatkan oleh anak buahnya saat memeriksa kamar itu.


"Bagaimana kabar Mia?" tanya Christiabel lagi terus mencoba berbasa-basi. Dia hanya ingin menghilangkan rasa canggung yang menggelayuti perasaannya saat itu. Bagaimanapun juga, jantungnya berdetak dua kali lebih kencang karena berada satu ruangan dengan pria yang selama ini meninggalkan kesan mendalam dalam hatinya.


"Sangat baik. Mia sedang berada di Italia. Adiknya akan melangsungkan pernikahan awal bulan depan," sahut Adriano kembali tersenyum kalem, meskipun amarah yang besar sudah bertumpuk dalam dadanya. Dia berjanji akan menguliti pria bernama Jacob itu hidup-hidup. Memberikannya kepada Camaro mungkin akan menjadi sebuah tontonan yang mengasyikan, pikir Adriano seraya tersenyum sinis.


Sementara Christiabel yang kerap memilih untuk menundukkan wajah, kembali menatap pria rupawan yang dulu selalu dia puaskan di atas ranjang. "Aku ucapkan selamat. Sampaikan salamku untuk Mia," ucapnya kemudian. Namun, tak lama kemudian Christiabel tampak tertegun seraya mengulum bibirnya.


"Itu tidak mungkin, Belle. Maaf, aku tidak bisa menyampaikan salam darimu, karena sama saja artinya dengan bunuh diri," ujar Adriano menolak ucapan Christiabel dengan halus.


Wanita cantik pemilik butik itu pun tertawa pelan. "Ya, kau benar. Aku lupa akan hal itu. Mia terlihat sangat cemburu padaku, dan kau pun tampak begitu mencintainya."


Keheningan datang dan menggelayuti keduanya. Adriano larut dalam pikiran yang terus terpusat kepada Jacob. Sedangkan Christiabel tak tahu harus berkata apa, karena Adriano pun tak terlalu menanggapi ucapannya. Pria itu seakan menjaga jarak, dan tak ingin lagi membangun keakraban yang terlalu intim seperti dulu.


Kebisuan itu terus berlangsung hingga beberapa saat. Adriano masih berada pada posisinya. Dia tak beranjak sama sekali dari sofa. Sedangkan Christiabel tampak sudah tak nyaman. Wanita itu memilih untuk beranjak ke dekat jendela dan memandang ke luar, pada suasana malam kota Monte Carlo.


"Suasana yang sangat indah. Dulu kita sering menghabiskannya bersama. Kau ingat saat kita berdua duduk di taman hingga larut malam?" Christiabel tersenyum nanar dengan tatapan yang menerawang jauh. Angannya melayang pada beberapa tahun silam, mengenang moment-moment kebersamaan yang manis antara dirinya dengan Adriano.


"Waktu berlalu. Dunia pun berputar. Jarum jam bahkan terus bergerak. Jika mereka diam, maka itu artinya tak ada lagi kehidupan. Aku terus melangkah jauh, Belle," ucap Adriano menanggapi perkataan Christiabel. "Semua yang telah kulewati di masa lalu, masih tersimpan dengan baik dalam memori. Namun, aku tak berniat untuk membukanya lagi, karena isi kepalaku saat ini sudah dipenuhi oleh cerita indah tentang istri dan juga putriku," tutur pria itu dengan intonasi datar.


"Ya. Kau beruntung karena sudah menemukan seseorang yang membuatmu merasa berarti dan dapat meninggalkan masa lalu serta menatap masa depan. Sementara aku ...." Christiabel tak melanjutkan kata-katanya, karena dia melihat Adriano beranjak dari duduk dan segera menuju pintu. Adriano kembali mencoba untuk memutar handlenya. Dia juga tampak menempelkan telinga pada daun pintu tersebut.

__ADS_1


"Tuan, apa Anda masih di dalam?" terdengar seruan Pierre dari luar kamar, membuat Adriano menggerak-gerakkan pegangan pintu tadi dengan cukup kencang. "Tuan, apa yang terjadi?" Pierre mengetuk pintu itu lagi. Sementara Adriano terus menggerak-gerakkan pegangannya. Dengan tiba-tiba, pintu itu pun terbuka. Tampaklah Pierre yang sudah berdiri di sana. "Apa yang terjadi, Tuan?" tanyanya saat melihat raut wajah Adriano yang tampak aneh.


Adriano tak segera menjawab. Namun, Pierre pun tak banyak bertanya lagi, terutama saat Christiabel datang menghampiri mereka. "Syukurlah, akhirnya terbuka juga," ucap wanita cantik itu lega. "Apa kabar, Pierre. Lama tidak bertemu," sapa Christiabel yang kemudian mengalihkan perhatian kepada pria bermata hijau itu.


"Kabarku sangat baik, Nona Cantona," jawab Pierre seraya mengangguk sopan.


"Apa kau membawa kendaraan sendiri, Belle?" tanya Adriano kemudian.


"Tidak. Temanmu mengatakan kau akan mengantarkanku pulang," jawab Christiabel pelan.


"Carikan dia taksi. Setelah itu segeralah kembali temui aku," perintah Adriano kepada Pierre, sebelum dirinya beranjak ke kamar yang tadi dia pesan.


"Baik, Tuan," sahut Pierre. Dia lalu mempersilakan Christiabel untuk berjalan terlebih dahulu meninggalkan kamar itu.


Sementara Adriano segera melepas jas dan melemparnya begitu saja ke atas tempat tidur. Dia berjalan mondar-mandir dengan tangan terkepal sempurna hingga Pierre kembali.


"Nona Cantona sudah pulang, Tuan," lapornya. Dia lalu berjalan mendekat kepada Adriano yang saat itu beranjak ke dekat jendela kaca sambil melihat ke luar. "Mengapa nona Cantona ada di dalam kamar yang sama dengan Anda, Tuan?" tanya Pierre penasaran.


"Jacob yang menyuruhnya datang. Dia mengundang Christiabel atas namaku. Kurang ajar!" geram Adriano kembali mengepalkan tangannya dengan penuh amarah. Sesaat kemudian, Adriano terdiam dan tampak memikirkan sesuatu. "Datangi pihak pengawas keamanan hotel ini dan mintalah rekaman CCTV dari mereka," perintah Adriano dengan tegas.


"Baik, Tuan," sahut Pierre tanpa banyak membantah atau bertanya. Dia bergegas keluar kamar. Sementara Adriano kembali memeriksa layar monitor, dan sedikit berbincang dengan anak buahnya yang bertugas mengawasi di sana. Namun, pria itu tak melihat sedikit pun pergerakan yang mencurigakan.


Adriano tak banyak bicara lagi. Dia duduk sambil mengisap rokok yang baru disulutnya. Perasaan pria tampan tersebut benar-benar tak karuan saat itu, menunggu Pierre kembali dengan apa yang dia minta.


Beberapa saat berlalu, akhirnya orang yang dia tunggu pun muncul. "Bagaimana?" tanya Adriano.

__ADS_1


"Rekamannya hilang, Tuan," lapor Pierre.


__ADS_2