Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Nightmare


__ADS_3

Adriano terdiam sejenak memikirkan kata-kata Mia. Tak ingin memperpanjang perkara dan membuat Mia cemas, dia pun mengiyakan pendapat sang istri. "Ya, sudah. Sebaiknya kau segera tidur. Kita akan kembali besok pagi ke rumah sewaan," ucap Adriano seraya mengelus lembut pipi Mia.


"Kau sendiri tidak tidur?" tanya Mia terlihat khawatir. Dia seakan tahu apa yang akan Adriano lakukan. Mia segera memegangi tangan pria itu dan mencegahnya untuk beranjak dari sana.


"Aku akan tidur di sofa bersama Ricci. Kasur ini terlalu kecil untuk kita bertiga. Kau tahu sendiri bukan, Miabella sangat lincah meskipun sedang tertidur," Adriano tertawa renyah seraya melirik gadis kecil yang memang sudah berpindah posisi dari sebelumnya. Tubuh mungil itu tak lagi tertutup selimut dengan kaki yang berada di atas bantal.


Mia ikut melirik putri semata wayangnya. Dia pun tertawa pelan. Sesaat kemudian, dia kembali menatap Adriano yang masih berdiri di sana. "Aku tidak akan mengizinkanmu keluar, terlebih jika hanya sendirian," ucap wanita itu cukup tegas. Rona khawatir masih terlihat jelas di paras cantiknya.


Adriano tidak menjawab. Pria bermata biru tersebut hanya tersenyum seraya mengangguk pelan. Hal seperti itu cukup baginya untuk membuat Mia diam dan berhenti mengkhawatirkannya secara berlebihan. "Tidurlah. Ingat, jangan bangun kesiangan," pesannya seraya mengecup lembut bibir ibu satu anak itu. Selesai berkata demikian, Adriano lalu melangkah keluar dari kamar dan meninggalkan Mia yang mulai merebahkan tubuh di atas kasur.


Di sofa ruang tamu, Coco tampak sudah terlelap. Tidak biasanya pria itu tidur cepat. Akan tetapi, dia memang sangat kelelahan dan juga kurang tidur kemarin malam. Adriano pun seharusnya ikut tidur dengan segera. Namun, rasa penasaran begitu menguasai dirinya. Insting tajam sang ketua Tigre Nero mengatakan bahwa saat itu ada seseorang yang tengah mengawasi mereka. Disibakkannya jaket kulit milik Coco yang tersimpan begitu saja di atas meja. Di balik jaket itu, dia menemukan ada sebuah pistol milik pria bermata cokelat tersebut. Segera diambil senjata itu kemudian Adriano selipkan di belakang punggung yang dalam keadaan bertelanjang dada.


Dengan langkah sangat hati-hati, pria bertubuh tegap tersebut berjalan ke dekat jendela yang tidak terlalu lebar. Dari sana Adriano dapat melihat keadaan di luar, meskipun jarak pandangnya sangat terbatas. Dia harus semakin peka untuk dapat menangkap gerakan sekecil apapun dalam kegelapan hutan rindang di dekat pondok.


Cukup lama Adriano mengamati keluar dengan diam-diam. Akan tetapi, tak tampak ada sesuatu yang mencurigakan di sana. Mungkin saja Mia benar, jika itu hanya hewan liar yang kebetulan lewat. Dia pun berbalik dan kembali meletakkan pistol milik Coco pada tempatnya tadi. Setelah itu, Adriano merebahkan tubuhnya di atas bangku kayu yang berada di dekat sofa. Dia pun mencoba untuk memejamkan mata. Tanpa terasa, pada akhirnya Adriano kian terlelap.


Adriano membuka mata dengan perlahan, ketika dia merasakan ada sesuatu yang aneh dengan hidungnya. Saat pria itu benar-benar telah tersadar, dirinya melihat wajah manis Miabella yang tengah tersenyum sambil memainkan hidung mancung sang ayah. Tanpa rasa bersalah, gadis kecil itu memencet dan menggerakkan pangkal hidung Adriano ke atas dan terus memainkan sesuka hati. Dia baru berhenti ketika Adriano mengeluarkan suara pelan. "Sssttt ...."


Miabella tertawa renyah. Seperti biasa, dia selalu terlihat ceria dengan senyuman lebar yang cantik. "Selamat pagi, Daddy Zio," sapanya. "Kata ibu, kau akan pulang bersama kami hari ini," ucapnya dengan pelafalan yang masih sedikit cadel.


"Menurutmu bagaimana? Apakah kau ingin aku ikut pulang atau tetap berada di sini?" goda Adriano membuat gadis kecil itu menghentikan aktivitas yang tadi telah membuat dirinya terbangun.


"Aku ingin Daddy Zio pulang ke rumah, maksudku ke rumah besar berwarna putih itu. Aku rindu bibi berambut hitam. Di sini aku tidak punya teman bermain," keluh Miabella dengan ekspresi yang tiba-tiba muram.


"Kau bisa bermain dengan ibumu," balas Adriano yang masih berbaring.

__ADS_1


"Ibuku selalu sibuk ke sana-sini. Dia sedih jika kau tidak ada di rumah," ujar gadis kecil itu dengan begitu lugu, membuat Adriano tersenyum lebar. Pria itu pun mengangguk pelan. "Apa kita akan pulang?" Miabella berdiri dan terlihat kembali ceria. Mata bulatnya tampak berbinar.


"Ya, tentu saja. Kita akan kembali ke Monaco setelah urusanku selesai," jelas Adriano. "Omong-omong, di mana ibumu?" Adriano bangkit dan melihat sekeliling. Akan tetapi. dia tak melihat siapa pun di dalam pondok selain dirinya dan Miabella.


"Aku akan mencari ibu dulu," Miabella membalikan badannya. Seperti biasa, gadis mungil itu selalu berlari pelan sambil melompat-lompat kecil. Dia terlihat sangat energik dan juga riang gembira. Akan tetapi, tanpa diduga tiba-tiba ada yang mendobrak pintu dari luar hingga terbuka lebar. Dua orang pria yang mengenakan topeng serta bersenjata, menembakkan pelurunya ke segala arah. Adriano yang baru terbangun sigap berlindung. Dia tak sempat meraih tubuh mungil Miabella, hingga gadis kecil itu roboh bersimbah darah di atas lantai.


................


Seketika Adriano membuka mata. Keringat dingin tampak membasahi kening. Napas pria itu pun terengah-engah. Dilihatnya Mia dan juga Miabella yang tengah duduk di sofa tempat semalam Coco tertidur. Ibu dan anak itu tengah asyik merangkai bunga-bunga kecil berwarna-warni yang Mia petik dari semak belukar di belakang pondok. "Selamat pagi, Daddy Zio," sapa Miabella hangat. Namun, Adriano tidak segera menjawab. Dia masih belum dapat menguasai dirinya atas mimpi yang telah dialami.


"Apa kau bermimpi buruk, Adriano?" tanya Mia seraya mendekat kepada sang suami yang kini bangkit dan terduduk. Dia menyentuh pundak pria itu dengan lembut.


Perlahan Adriano mulai menenangkan diri. Napasnya pun kian teratur. Segala kegundahan mulai memudar, ketika dapat menatap paras cantik sang istri yang teramat menenangkan jiwa. "Di mana, Ricci?" tanyanya.


"Paman sedang berenang di danau. Kata paman Russell boleh berenang, asal jangan terlalu jauh," jawab Miabella dengan gaya bicaranya yang menggemaskan. Adriano pun tersenyum menanggapi ucapan gadis kecil itu.


“Baiklah!” sahut Miabella ceria, meskipun dia belum dapat memahami maksud perkataan ayah sambungnya. “Apa Daddy Zio juga ingin berenang?” tanya bocah kecil itu. Mata abu-abunya berbinar cerah ketika mengamati sosok Adriano.


“Aku harus mengganti perban dulu, Sayang,” jawab Adriano seraya melirik ke arah Mia, yang sedari tadi terus memperhatikannya.


“Biar aku yang menggantikan perbanmu,” ucap Mia, bersamaan dengan Russell yang muncul dari teras depan.


“Waktunya membersihkan lukamu, Adriano,” ujar pemuda itu sembari membawa satu kotak peralatan kedokteran, membuat Miabella beringsut pelan dan kembali duduk di sofa. Gadis kecil tersebut kembali asyik merangkai bunga-bunga liar.


“Ajari aku, Russell. Kami akan pulang pagi ini. Saat di rumah nantu, akulah yang akan merawatnya,” pinta Mia ramah.

__ADS_1


“Benarkah itu?” Russell menatap Adriano seakan meminta penjelasan.


“Ya, aku berencana untuk pulang pagi ini. Aku tidak ingin merepotkanmu lebih lama lagi,” jawab Adriano dengan seutas senyuman samar di bibirnya.


“Apakah keadaan sudah aman?” kini Russell menoleh pada Mia.


“Kami harap semuanya akan tetap aman,” Mia melebarkan senyuman sambil menatap sang suami.


“Padahal, pamanku akan datang hari ini. Dia berencana ingin menjengukmu,” terdengar nada kecewa dari kalimat yang Russell lontarkan.


“Tidak masalah. Aku akan pulang setelah dia datang. Aku berutang budi padanya,” Adriano menatap Mia penuh arti seolah meminta izin kepada sang istri.


Russell mengangguk senang. “Nah, begitu lebih baik,” ujarnya. “Jadi, apakah kau bersedia kuajari merawat luka, Nyonya?” tawar Russell pada Mia.


“Tentu saja,” Mia bersimpuh di sebelah Russell, memperhatikan dengan saksama ketika pemuda itu menyemprotkan cairan alkohol ke seluruh permukaan tangannya. Dia lalu membuka pelan-pelan perban yang melilit di tangan Adriano. Tampaklah luka jahitan yang melintang mulai dari pergelangan hingga siku.


“Astaga!" Mia terbelalak melihat luka sang suami. “Adriano,” gumamnya dengan mata berkaca-kaca.


“Ini cuma luka biasa, Sayang. Bagi orang-orang yang hidup di duniaku, ini hanyalah luka kecil yang tak berarti apa-apa,” ucap Adriano mencoba menenangkan Mia.


Russell tak mengerti maksud perkataan Adriano, tetapi dia tak peduli dan juga tidak berniat menimpali. Sedari awal, dia sudah dapat menilai bahwa Adriano bukanlah pria biasa. Hal itu terlihat dari postur, bahasa tubuh dan juga tato yang bertebaran di tubuh atletis pria bermata biru tersebut.


“Giliranmu, Nyonya,” Russell langsung menyemprotkan alkohol ke tangan Mia, kemudian menyodorkan kapas yang juga telah basah oleh alkohol. “Ini untuk mensterilkan dan membersihkan luka. Baru setelah itu, Anda bisa memasang perban baru,” terangnya.


Mia mengangguk tanda mengerti. Dengan hati-hati dan penuh kelembutan, wanita itu melakukan persis seperti yang telah diajarkan oleh Russell. Di saat Mia serius merawat Adriano, pria rupawan itu malah menatap lekat-lekat wajah cantik di hadapannya. Seluruh rasa perih dan nyeri seakan menguap ketika terlihat jelas cinta yang begitu besar dari mata indah Mia untuk dirinya.

__ADS_1


Dalam hati, Adriano teramat bersyukur. Kini, hidupnya terasa begitu sempurna. Dia lalu mengalihkan pandangan kepada Miabella yang masih asyik dengan bunga-bunga kecil berwarna-warni. Itu adalah bunga yang Adriano tunjukkan semalam kepada Mia. Pria bermata biru itu terus terdiam dan hanyut dalam pikirannya, hingga tanpa terasa Mia telah selesai mengganti seluruh perban.


Sesaat Mia terdiam. Ini adalah kesekian kali dia merawat luka dari pria yang dicintainya. Dulu, Mia pernah melakuan hal seperti itu terhadap Matteo. Mia sadar, betapa keras hidup dari pria-pria yang ditakdirkan hadir dalam hidupnya tersebut. Darah dan kematian seakan sudah biasa.


__ADS_2