
Sementara Coco lagi-lagi hanya terdiam dan menerima perlakuan manis dari Monique. Hingga beberapa saat lamanya, mereka berdua larut dalam adegan yang tak seharusnya terjadi. Sesaat kemudian, Monique tertawa renyah seraya mengusap sisa lipstik yang menempel pada permukaan bibir kekasih dari Francesca tersebut. "Dugaanku memang benar," ucapnya dengan setengah berbisik. Sementara posisi wajahnya masih berada di atas wajah Coco. "Selain tampan, kau juga pencium yang hebat," ucapnya lagi diselingi tawa manja.
"Ya, dan kau sangat cantik," balas Coco dengan sebuah sanjungan. Pria bermata cokelat itu tersenyum kecil. Rona kekaguman tampak jelas dalam tatap matanya yang ditujukan langsung untuk wanita muda berambut merah tersebut.
Sementara Monique pun membalas dengan hal yang serupa. Wanita dengan rok span ketat itu seakan tak ingin menjauh dari pria Italia yang telah sangat menarik perhatiannya. Dia kembali mengusap permukaan bibir Coco dengan perlahan sambil kembali tertawa manja. Setelah itu, Monique menowel pangkal hidung Coco dengan gemas. Barulah wanita bertubuh sintal tadi kembali menegakkan dirinya. Dia lalu duduk di tepian ranjang sambil menghadap kepada Coco.
Sementara pria bermata cokelat tadi masih memperhatikan wanita di hadapannya itu dengan penuh kekaguman. Baru kali ini, Coco menatap wanita lain setelah dirinya bersama Francesca. Entah apa yang dimiliki Monique, sehingga mampu membuat sahabat Matteo tersebut tak bisa menolaknya.
Namun, mereka berdua tak menyadari bahwa sejak tadi ada seseorang yang memperhatikan adegan tersebut. Francesca yang baru kembali dari menjawab panggilan telepon, hanya terpaku dengan mata berkaca-kaca. Gadis itu tak jadi masuk dan memilih kembali menutup pintu. Dia terduduk lesu pada sofa yang berada di luar kamar perawatan sambil terdiam untuk beberapa saat.
"Apa kau sudah siap, Francy?" suara berat Adriano menyadarkan gadis bermata hazel itu dari renungannya. Dengan segera, dia menyeka air mata yang terus menetes di pipi. Francesca lalu menyodorkan ponsel milik Adriano yang tadi dia pakai untuk menjawab panggilan telepon dari Mia.
"Aku sudah siap, tapi entah dengan Ricci," jawab Francesca pelan. Rona kecewa tampak jelas di sudut matanya yang kembali basah.
"Kalau begitu coba kau periksa, karena kita akan segera berangkat," suruh Adriano. "Aku harus menghubungi seseorang dulu," ujarnya seraya berlalu dari hadapan adik iparnya. Adriano tak ingin bertanya tentang sesuatu yang menyebabkan gadis itu menangis. Dia seakan sudah dapat menebak dengan baik.
Dengan sikapnya yang teramat malas, Francesca terpaksa kembali ke dalam kamar. Kali ini dia benar-benar masuk. Dilihatnya Monique yang tengah berdiri di sebelah ranjang. Sementara Coco tampak memejamkan mata.
__ADS_1
Monique tersenyum manis seraya memandang ke arah Francesca. Dia terus memperhatikan setiap gerak yang dilakukan gadis bertubuh semampai itu. Monique tidak tampak merasa terganggu sama sekali dengan kehadiran Francesca di sana. Wanita cantik tersebut justru tampak sangat tenang. "Ricci tadi mengeluh sakit. Karena itu aku menyarankannya untuk tidur saja," ucapnya saat melihat Francesca yang berdiri di dekat ranjang pria berambut ikal itu sambil menyentuh kening Coco.
Francesca tidak segera menanggapi ucapan wanita berambut merah tadi. Dia berdiri terpaku sambil terus memperhatikan sang kekasih yang telah membuat hatinya sungguh terluka. Sesaat kemudian, gadis bermata hazel itu mengalihkan perhatian kepada wanita yang telah berciuman mesra dengan Coco. "Aku tidak tahu apa yang kau inginkan dari kekasihku, Nona Rambut Merah," tatap mata Francesca tajam tertuju kepada Monique.
"Maksudmu?" Monique membalas tatapan Francesca dengan sikap yang sebaliknya. Wanita bertubuh sintal itu masih tetap terlihat tenang, meskipun Francesca seakan ingin menantangnya untuk berduel.
"Kenapa kau mendekati kekasihku? Kau sudah tahu jika dia telah memiliki pasangan," Francesca berjalan mengitari ranjang, kemudian berhenti tepat di hadapan Monique. Gadis itu melipat kedua tangannya di dada, dengan tatapan setajam belati.
Namun, sikap Francesca yang seperti itu nyatanya tak berpengaruh sama sekali terhadap Monique. Wanita bernama asli Miljana Manduzic itu masih tetap setia dengan senyuman manisnya yang menggoda. "Dengarkan aku Francesca," senyuman di bibir Monique perlahan memudar saat dia mulai berbicara serius kepada gadis dengan postur yang sedikit lebih tinggi darinya. Akan tetapi, gaya bicara mantan asisten pribadi Nenad Ljudevit itu masih terdengar sangat lembut dan juga anggun. "Apa kau sadar bahwa dirimu memiliki kekasih yang sangat tampan dan memesona? Jika aku menjadi kau, maka tak akan kubiarkan ada celah sedikit pun bagi wanita lain untuk masuk dan mendekatinya."
"Apa yang kau tahu tentang bagaimana hubunganku dengan Ricci? Tak ada masalah apapun di antara kami yang menjadikan sebuah celah atau jarak. Dia sangat mencintaiku. Kau harus tahu itu!" tegas kata-kata Francesca dengan penekanan yang sangat dalam.
Francesca sudah hendak menanggapi ucapan wanita cantik tersebut, tapi segera dia urungkan karena saat itu Coco terbangun. Dengan segera, kedua wanita muda tadi menoleh secara bersamaan. "Ricci," sebut mereka dengan serempak. Setelah itu, Francesca dan Monique pun saling pandang.
“Baiklah. Kurasa cukup untuk hari ini. Tampaknya kalian sudah bersiap-siap untuk berangkat. Tunggu kedatanganku, Ricci. Aku akan sering-sering menjengukmu ke Italia,” tanpa sungkan Monique kembali mendekat ke ranjang Coco dan mencium pipi pria itu lembut. Setelah itu, dia kembali menegakkan badan dan mengangguk pada Francesca seraya berlalu begitu saja dari sana seakan tanpa beban sama sekali.
Francesca kembali meneteskan air matanya. Namun, dia tak hendak mengatakan apapun saat itu. Apalagi dia harus segera berkemas. Dengan pipi basah, Francesca memasukkan barang-barang seperti ponsel dan cardigan ke dalam tas ransel yang dia bawa dari Roma. Sementara Coco juga terdiam sambil terus mengamati wajah sang kekasih.
__ADS_1
“Aku sudah selesai. Sebentar lagi perawat yang disewa Adriano akan datang dan membawamu ke Italia,” ujar Francesca sesaat setelah dia menyadari bahwa Coco terus memperhatikan dirinya. Dia juga sempat mengusap pipi dan sudut mata.
“Grazie,” ucap Coco pelan.
“Jangan berterima kasih,” balas Francesca. “Sudah menjadi kewajibanku untuk merawatmu. Aku akan menjagamu sampai kau sembuh meskipun kau menolaknya.”
“Pekerjaanmu,” sahut Coco dengan lemah.
“Tidak ada yang bisa menghalangiku untuk merawatmu, Ricci. Tidak juga pekerjaanku, karena aku sudah memutuskan untuk berhenti. Suka ataupun tidak, kau harus bertahan dengan kehadiranku. Setidaknya sampai kau pulih seperti sediakala,” tegas Francesca. Tangis tanpa suara tadi berubah menjadi isakan pelan.
“Entah apa aku masih memiliki kesempatan untuk dapat hidup bersamamu ataukah tidak. Aku merasa tesingkirkan saat kau berciuman dengan wanita berambut merah itu. Aku juga mendengarmu memujinya. Sepertinya kau benar-benar jatuh cinta padanya.”
Selesai berkata demikian, gadis cantik itu segera berlalu keluar kamar dan memanggil Adriano. Beberapa saat kemudian, Adriano masuk bersama empat orang perawat. Para perawat itu membantu memindahkan ranjang yang ditempati Coco dan mendorongnya ke dalam ambulans. Ambulans itu nantinya akan membawa mereka ke bandara di mana pesawat pribadi Adriano sudah siap menunggu.
Sepanjang perjalanan di dalam ambulans, Francesca hanya terdiam. Dia lebih banyak menunduk sambil mempermainkan jemari lentiknya. Hal itu terus berlangsung sampai mereka tiba di bandara dan berpindah ke dalam pesawat. Di dalam ruangan kabin luas nan mewah itu, Coco tampak tertidur pulas Sesekali kantong infusnya bergoyang terkena turbulensi. Namun, seorang perawat telaten membetulkan laju tetesan cairan infus.
Francesca melihat Adriano tengah tertidur di kursi yang berhadapan dengannya. Sementara Coco pun sama. Wajahnya tampak begitu damai di atas brankar mewah yang memanjang di sebelah kursi yang Francesca duduki. Dia bersyukur ketika akhirnya Coco sudah tidak membutuhkan alat bantu pernapasan. Francesca jadi leluasa melihat wajah tampan kekasihnya tanpa tabir. Akan tetapi, saat melihat bibir Coco, ingatan Francesca kembali melayang pada saat dirinya memergoki Coco dan Monique tengah berciuman mesra.
__ADS_1
Tanpa dia sadari, air matanya menetes lagi. Kali ini, dia tak ingin repot-repot mengusapnya karena tak akan ada yang melihat. Akan tetapi, perkiraannya meleset. Coco membuka mata tiba-tiba dan menatap ke arah Francesca. Gadis itu langsung mengalihkan wajah ke arah jendela pesawat dan berusaha menghapus air matanya.