Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Dua Garis Merah


__ADS_3

"Bueno. Adriano?" sapa Juan Pablo sambil menyugar rambutnya yang basah oleh keringat. "Apa ada sesuatu yang penting?" tanyanya kemudian. Juan Pablo terdengar begitu hati-hati dalam berbicara dengan sang ketua Tigre Nero tersebut.


"Aku tidak tahu ini penting atau tidak," sahut Adriano.


"Katakan saja," balas Juan Pablo lagi. Nada bicaranya terdengar biasa, berbanding terbalik dengan sorot mata yang tajam dan terlihat sangat jahat.


Lain halnya dengan Adriano. Pria rupawan itu masih berada di atas tempat tidur sambil bertelanjang dada. Tatapannya tak lepas memerhatikan gerak-gerik Mia. Wanita cantik itu baru keluar dari kamar mandi, dengan menggunakan handuk sebatas dada. "Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu. Bagaimana jika pesta peresmian kasino di Birmingham kita majukan saja. Lagi pula, aku memiliki waktu kosong saat ini," usul Adriano tanpa mengalihkan tatapan dari sosok Mia.


"Kenapa memangnya? Bukankah kau ingin agar pesta itu dilangsungkan setelah pernikahan adik iparmu?" tanya Juan Pablo heran. Dia juga patut untuk selalu merasa waspada atas setiap keputusan atau tindak-tanduk sang ketua Tigre Nero, setelah dirinya mengetahui seperti apa Adriano yang sebenarnya.


"Tadinya seperti itu," sahut Adriano tenang, "tapi, setelah kupikir-pikir lagi sebaiknya kita adakan sebelum pernikahan adik iparku saja. Seperti yang kukatakan tadi, bahwa diriku saat ini memiliki banyak waktu luang." Adriano tersenyum nakal saat memerhatikan Mia yang tengah mengenakan pakaian. Tatap matanya begitu lekat tertuju pada lekuk indah berbalut kulit kuning langsat sang istri tercinta.


"Baiklah jika itu keinginanmu," sahut Juan Pablo setuju. "Apa kau sudah menentukan tepatnya kapan atau aku yang ...."


"Aku sudah mencari waktu yang baik. Berhubung pernikahan adik iparku akan dilangsungkan kurang lebih satu minggu lagi, maka pesta itu harus diadakan dalam waktu-waktu dekat. Akan tetapi, apakah kau sanggup mempersiapkan pesta dalam jangka waktu dua hari saja?" tanya Adriano yang seakan menantang Juan Pablo. Sorot mata birunya terlihat sangat puas, tapi juga menyimpan banyak hal yang tak dia ungkapkan secara gamblang.


"Kau meremehkanku, Adriano," sahut Juan Pablo tak terima. Dia tak suka suka dengan apa yang dipikirkan Adriano tadi.


"Tentu saja tidak. Aku hanya bertanya. Tak mungkin diriku meremehkan orang sepertimu. Kupikir bisa saja kau sangat sibuk mengurusi banyak hal, tarmasuk seluruh organisasimu yang tersebar di mana-mana." Pria bermata biru itu tersenyum sinis. Sebuah sindiran yang entah Juan Pablo pahami atau tidak. Namun, tak lama kemudian perhatian Adriano lagi-lagi tertuju kepada Mia yang telah selesai berpakaian serta merapikan rambut panjangnya yang indah. Mia menggerainya dengan begitu saja.


"Baiklah. Itu bukan hal yang sulit. Akan kupersiapkan semuanya dalam dua hari. Kau tenang saja. Nanti akan kuhubungi lagi," putus Juan Pablo dengan yakin dan penuh percaya diri.

__ADS_1


"Kupercayakan semuanya padamu," balas Adriano.


"Ya, tentu saja," sahut Juan Pablo. Pria itu terdiam sejenak, barulah kembali berkata, "Aku juga berniat untuk mengajak serta Gianna ke Inggris. Dia selalu mengatakan bahwa dirinya ingin pergi ke luar negeri."


"Kau sangat mencintai adikku rupanya," goda Adriano seraya tertawa renyah. Entah ada apa dengan kedua pria itu. Mereka terdengar sangat akrab dan bersikap normal selayaknya seorang rekan bisnis. Akan tetapi, di balik itu keduanya berniat untuk saling menghabisi.


"Aku tidak perlu menjelaskan hal tersebut dengan detail. Aku yakin kau pasti tahu seperti apa rasanya," sahut Juan Pablo datar.


"Ya, kau benar. Wanita tetap berada di klasemen teratas dalam rantai kehidupan. Mereka memiliki pengaruh yang sangat kuat," ujar Adriano yang membuat Mia segera menoleh padanya. Wanita cantik itu berdiri menghadap kepada Adriano dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Sedangkan ekspresi wajahnya seakan meminta sebuah penjelasan.


"Baiklah, Juan. Aku rasa hanya itu. Semoga harimu menyenangkan," tutup Adriano. Dia mengkahiri perbincangannya dengan kekasih Gianna tersebut.


Perhatian Adriano kini kembali terfokus seutuhnya kepada Mia. Pria tampan yang masih berada di bawah selimut itu tersenyum. Dia lalu memberi isyarat dengan jari telunjuknya agar Mia mendekat.


"Sekarang masih pagi, tapi kau sudah secantik ini. Jangan katakan jika kau ingin mengulang apa yang terjadi semalam," goda Adriano. Tangannya nakal menggerayangi pinggul Mia. Sesekali, pria itu mere•masnya dengan gemas.


"Kau tidur sangat nyenyak, Adriano. Tadinya aku ingin membangunkanmu, tapi tak tega," ucap Mia. Jari telunjunya yang lentik bermain-main di dada sang suami.


"Apa ada sesuatu, Sayangku?" tanya Adriano yang sepertinya dapat menangkap sesuatu dari bahasa tubuh Mia.


"Ya, Adriano. Sesuatu yang sangat istimewa," jawab Mia dengan senyuman lebar di wajahnya.

__ADS_1


"Apa itu? Ayo tunjukkan padaku," pinta Adriano dengan tatapan yang tak teralihkan dari paras cantik Mia.


"Kalau begitu, bangunlah. Aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu," ajak Mia. Dia menyibakkan selimut yang menutupi sebagian tubuh Adriano, lalu menariknya agar bangkit. "Astaga, Sayang. Kau benar-benar seksi," goda Mia seraya terkekeh geli, saat melihat Adriano yang berdiri dalam keadaan tanpa busana sama sekali.


"Kau menyukainya, bukan?" balas Adriano yang berusaha merengkuh tubuh Mia. Namun, ibu satu anak itu segera menolak. Dia menarik tangan Adriano agar segera masuk ke kamar mandi. Sang ketua Tigre Nero pun menurut saja.


Setelah berada di dalam kamar mandi, Mia segera mengarahkan Adriano ke bawah shower. "Kau harus mandi, Sayang. Setelah ini baru kuberitahu sesuatu yang menarik untukmu," ujar Mia.


"Kau tidak ingin menemaniku bermain air, Signora?" goda Adriano dengan senyuman nakal.


"Tidak," tolak Mia. "Aku akan menyiapkan pakaian untukmu," ucapnya.


"Setidaknya berikan aku satu ciuman pembuka," pinta Adriano. Gerak tangannya begitu gesit meraih pinggang Mia, kemudian mendekap dengan erat. Satu kesempatan yang tak akan dia lewatkan untuk menikmati sebuah ciuman hangat dari sang istri yang teramat dia cintai.


Tak berselang lama, Mia pun keluar dari dalam kamar mandi dengan membawa senyuman ceria di wajahnya. Sementara Adriano asyik berkutat dengan guyuran air hangat yang mengalir deras dari dalam shower. Tubuh tegapnya pun kini terasa jauh lebih segar, karena semalam Adriano tak sempat mandi saat kembali ke rumah.


Beberapa saat kemudian, Adriano keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang melilit pinggang. Dia melangkah ke dekat tempat tidur sambil beberapa kali menyugar rambutnya yang basah. Di ujung tempat tidur itu, telah tersedia pakaian yang sudah Mia siapkan untuk dirinya. Sebuah kemeja putih dengan celana panjang lengkap beserta pakaian dalam.


Adriano tersenyum kecil. Inilah nikmatnya hidup berumah tangga. Hidup yang dulu dia jalani dalam kesendirian dan seakan tanpa arti meski bergelimang harta, telah tergantikan dan semakin dia nikmati hanya dengan satu senyuman manis Mia untuknya. "Andai ini berlangsung sejak dulu," gumamnya seraya meraih pakaian dalam dan memeganginya. Namun, sebelum Adriano sempat mengenakan pakaian dalam tersebut, tatap matanya tertuju pada sesuatu yang Mia letakkan di sebelah lipatan kemeja putih tadi. Adriano pun memungut benda panjang tersebut, dan mengamati dua garis merah dengan saksama.


🍒 🍒 🍒

__ADS_1


Hai, readers. Ceuceu datang bawa rekomendasi novel keren untuk semua.



__ADS_2