
Pulau Kreta. Dua tahun kemudian
Sinar matahari masuk melalui dua daun jendela yang terbuka lebar. Menembus tirai tipis yang berkibar terkena angin. Sesosok pria yang masih terlelap dalam mimpi, dengan terpaksa harus bangun dan mengakhiri tidurnya yang nyenyak. Iris mata milik pria itu yang berwarna biru, tampak begitu berkilau terkena sorotan cahaya mentari yang terasa hangat. Adriano memaksakan diri untuk bangkit dan turun dari ranjang. Dia berjalan gontai memasuki kamar mandi, lalu berhenti di depan kaca wastafel.
Tampaklah pantulan dirinya di cermin. Dia dalam keadaan bertelanjang dada, dengan tiga bekas luka di bagian perut. Luka parut itu tak seberapa panjang, tetapi cukup terlihat. Adriano mengusap perlahan bekas lukanya. Kembali terbayang wajah pucat Mia yang tengah memegang senjata di malam terkutuk itu. Malam di mana tubuhnya telah diperlakukan tak manusiawi, oleh Matteo dan juga orang-orang dari Klan de Luca yang lain.
Dua tahun telah berlalu sejak kejadian tersebut. Akan tetapi, Adriano masih dapat mengingat dengan jelas setiap detail kejadiannya. “Apa kabarmu, Mia? Semoga kau selalu bahagia dan baik-baik saja,” gumamnya lirih. Lagi-lagi, wajah cantik nan lembut itu bergelayut lama di benaknya.
Bulan demi bulan telah berlalu. Akan tetapi, Adriano masih belum bisa menghapus bayangan itu. Pria bertubuh tegap tersebut kemudian menghela napas panjang. Dia mengakhiri lamunannya dengan berjalan menuju bathub. Dinyalakannya kran air panas, kemudian dia tuangkan sabun berbentuk serbuk di atasnya. Adriano sudah berniat untuk berendam di sana. Namun, suara ponsel berdering nyaring.
Adriano, mengira bahwa telepon tadi ada hubungannya dengan bisnis yang tengah dia jalankan di tempat itu. Setelah urusan kepemilikan tanah berhasil dimenangkan lewat proses lelang, Adriano segera memulai untuk mewujudkan niatnya dalam membangun resort di kawasan tersebut.
Karena urusan itu pula, Adriano terpaksa harus pulang pergi Monaco-Yunani. Merasa waktunya banyak terbuang, akhirnya Adriano memutuskan untuk mengajukan izin tinggal sementara di pulau tersebut, hingga pembangunan resort rampung seutuhnya. Sesuai rencana, besok adalah peresmian resort baru yang dibangun cukup lama. Namun, sekarang pengerjaannya sudah tuntas seratus persen.
Adriano bergegas mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Namun, dia harus kecewa karena ternyata telepon itu bukan dari rekan bisnis ataupun pegawai resort-nya, melainkan dari Olivia.
Dalam beberapa bulan terakhir, Olivia memang terbilang sering menghubunginya via telepon. Gadis itu bahkan berani mengungkapkan, bahwa dirinya merindukan Adriano dan berharap pria rupawan tersebut agar segera pulang ke Monaco. Baru kali ini Adriano menyadari sekaligus menyesali keputusannya, yang telah dengan sukarela memberikan nomor ponsel kepada Olivia. Jika bukan karena utang budi terhadap gadis cantik itu, tentu Adriano sudah menyuruhnya pergi sejak dulu.
Dengan malas, Adriano menjawab panggilan telepon tadi. “Ada apa lagi, Olivia?” tanyanya.
“Selamat pagi, Tuan. Anda sudah bangun?” sapa Olivia.
“Aku sedang menjawab telepon darimu. Itu artinya aku sudah bangun,” decak Adriano kesal.
“Ah, iya. Tentu saja." Olivia tertawa riang tanpa merasa bersalah sama sekali. “Dengar, Tuan. Kepala pelayan mengatakan bahwa anda akan berulang tahun besok. Apakah itu benar?”
“Benar. Kenapa memangnya?” sahut Adriano dingin. Dia sudah menunjukkan penolakan secara terang-terangan. Belum lagi sikapnya terhadap Olivia yang selalu ketus dan biasa saja. Akan tetapi, gadis itu tak jua putus asa mendekatinya.
“Aku ingin memberi kejutan pada anda. Namun, anda sedang tidak berada di Monaco.” Nada bicara gadis itu terdengar sedih.
__ADS_1
“Sudahlah. Kau tak perlu repot-repot, Olivia. Lagi pula, kau sudah memberitahukan padaku tentang kejutan. Aku jadi tidak akan terkejut lagi,” sahut Adriano seenaknya.
“Kalau begitu, bolehkah aku menyusul anda ke Yunani?” tanya Olivia.
“Aku menghormatimu sebagai orang yang pernah menyelamatkan nyawaku. Jadi, tolong mengertilah. Jangan membuatku kehilangan kesabaran yang sudah kutahan selama ini. Bersikaplah yang baik.” Adriano memutuskan panggilan telepon tadi begitu saja. Dia melemparkan ponsel ke atas kasur, lalu kembali melanjutkan kegiatan mandinya yang sempat terjeda. Jauh di lubuk hati, Adriano cukup terkesan terhadap Olivia yang ingin merayakan hari ulang tahunnya.
Besok, Adriano genap berusia tiga puluh dua tahun. Dia akan merayakannya bersamaan dengan pembukaan resort. Hanya itu cara yang dia tahu untuk membahagiakan diri sendiri.
Segala persiapan telah matang. Tinggal menghitung jam hingga esok hari. Adriano tersenyum samar membayangkan rencananya. Akan tetapi, dering telepon kembali berbunyi. Senyuman menawan itu harus memudar. Dia berniat untuk tidak mengangkat telepon yang kemungkinan berasal dari Olivia, tetapi tidak menutup kemungkinan jika telepon itu berasal dari orang lain.
Pada akhirnya, Adriano memutuskan untuk menjawab panggilan telepon tersebut. Dia terpaksa mengakhiri ritual mandinya lebih cepat. Setelah melilitkan handuk di pinggang, Adriano berjalan menuju ranjang. Dengan segera, diraihnya ponsel yang tadi dia lemparkan ke atas kasur. “Paracalo,” sapanya. Adriano menjawab panggilan masuk tersebut tanpa melihat si peneleponnya.
“Tuan D”Angelo,” balas seseorang di seberang sana.
Sejenak, Adriano menjauhkan ponsel itu dari telinganya dan melihat nama yang tertera di layar. Dia lalu menempelkan ponsel itu lagi ke telinga.
“Ada apa, Felix?” tanya Adriano pada salah satu kepala keamanan yang menjaga klub malam miliknya, yang terletak di Pulau Santorini. Wilayah yang dapat ditempuh selama tujuh jam perjalanan dari Pulau Kreta menggunakan kapal feri.
Adriano segera memijat pangkal hidungnya yang mancung. Itu artinya, rencana peresmian resort harus dia undur. “Baiklah. Aku akan ke sana secepatnya,” ujar pria itu. Dia pun bergegas pergi ke ruang ganti dan berpakaian. Dengan helikopter pribadi, perjalanan menjadi lebih cepat. Tak sampai satu jam, Adriano tiba di salah satu gugusan pulau kecil dan langsung menuju klub malamnya.
Tempat itu tampak sudah penuh oleh anak buah Adriano, serta beberapa perwakilan dari perusahaan asuransi.
“Tuan D’Angelo,” sambut Felix. “Dua di antara pelaku perusakan sudah ditangkap. Sekarang, mereka sedang ditangani oleh polisi,” terangnya.
“Bagus,” sahut Adriano puas. Dia lalu menyalami orang-orang dari pihak asuransi. Mereka akan berdiskusi tentang nominal kerugian. Cukup lama Adriano berada di sana, sampai mendapat kesepakatan tentang klaim yang akan Adriano terima. Pria itu mengembuskan napas lega, ketika proses diskusi berjalan lancar. Seluruh kerugian klub malamnya akan diganti oleh pihak asuransi.
“Apakah Anda akan langsung kembali ke Nafplio, Tuan?” tanya Felix seraya berjalan menyejajari langkah gagah Adriano.
“Sepertinya begitu, karena besok aku akan mengadakan acara peresmian,” jawab Adriano tanpa menghentikan langkahnya.
__ADS_1
“Anda tidak ingin mampir dulu ke rumah, Tuan? Sudah lama Anda tidak mengunjunginya. Beristirahatlah sejenak untuk sarapan pagi di sana.”
Kalimat Felix telah membuat Adriano menghentikan langkahnya. “Dari mana kau tahu bahwa aku belum sempat sarapan?” Adriano mengernyitkan kening keheranan.
“Aku hanya sekadar menebak, Tuan,” jawab Felix sembari tersenyum.
“Baiklah. Sepertinya itu ide yang bagus,” ujar Adriano tersenyum kalem. Lagi pula, memang sudah lama dia tak mengunjungi rumah pribadinya yang berada di area Pantai Perissa.
Sepuluh menit perjalanan dia tempuh hingga tiba di rumah berdesain Mediterania. Adriano langsung memasuki bangunan serba putih yang hanya dijaga oleh seorang orang pelayan dan penjaga keamanan. Dia bergegas menaiki deretan anak tangga, hingga tiba di dekat pintu masuk.
Penyambutan hangat pun dia dapatkan dari seorang pelayan yang bertugas membersihkan rumah itu setiap hari. "Apa kabar, Tuan? Kenapa Anda tidak memberitahu terlebih dahulu jika Anda akan kemari?" tanya seorang wanita paruh baya bertubuh agak gemuk dan berwajah ramah.
"Kebetulan aku ada sedikit urusan di sini, Orlin. Siapkan sarapan untukku. Aku sangat lapar," titah Adriano. Sebelum menuju meja makan kecil yang terbuat dari rotan, Adriano menyempatkan diri untuk duduk bersantai sejenak di balkon yang langsung menghadap ke pantai. Dia berada di sana selagi menunggu menu sarapan pagi yang tengah Orlin siapkan.
Sepasang mata biru pria itu menerawang pada hamparan pasir pantai yang berwarna hitam, karena lokasinya dekat dengan lereng gunung berapi yang bernama Mesa Vouno. Adriano berdecak kagum memandang keindahan yang tersaji di depan matanya.
Adriano pun mengalihkan perhatiannya pada sudut lain area di sekitar tempat tersebut. Beberapa saat kemudian, pria itu tampak tertegun. Mata birunya seketika menyorot tajam bak elang, menangkap satu sosok wanita yang berdiri di bibir pantai. Wanita itu terlihat tak asing lagi baginya. “Ah, mungkin aku salah lihat. Seperti dulu,” gumamnya pada diri sendiri.
Akan tetapi, pandangannya tetap mengikuti sosok itu. Dia bahkan dapat melihat dengan jelas gerak-gerik wanita tadi, yang sepertinya sedang termenung sambil sesekali mengusap air mata di pipinya.
Tak ingin didera rasa penasaran, Adriano memutuskan untuk keluar untuk menghampiri wanita itu. Dengan langkah perlahan dan tanpa menimbulkan suara, pria rupawan tersebut sudah sampai di dekatnya. Adriano berdiri tepat di belakang wanita tersebut.
Pria itu menggeleng pelan. Wanita di depannya begitu persis dengan Mia. Namun, tubuh wanita itu terlihat jauh lebih kurus. “Nona, apa Anda baik-baik saja?” Adriano memberanikan diri menyentuh bahu yang tampak berguncang akibat isakan tangis.
Wanita itu menghentikan tangisnya seketika dan langsung menoleh serta membalikkan badan. Keduanya sama-sama terperanjat dan terbelalak. “Mia?” desis Adriano.
“K-kau?” Wanita yang tak lain adalah Mia begitu terkejut. Dia memundurkan badannya dengan raut ketakutan. “ I-ini tidak mungkin! Kau sudah mati. Aku … aku sudah membunuhmu,” racaunya sembari memegangi dada. Wajah Mia memucat dan tampak kesulitan untuk menghirup udara.
“Kau tidak apa-apa? Apakah kau kesulitan bernapas?” tanya Adriano penuh rasa khawatir.
__ADS_1
Mia menggelengkan kepalanya kencang. Napasnya semakin terengah. “Ti-tidak mungkin! Kau sudah mati,” ucap Mia sebelum tubuh kurusnya roboh tepat di depan Adriano.