
"Siapa kau?" Adriano menyeringai tegas ketika pria itu melajukan mobil dengan makin kencang dan semakin menjauh dari kawasan proyek pembangunan kasino. Tanpa banyak bicara, pria bermata abu-abu itu merogoh pistol yang terselip di belakang punggung, kemudian menodongkannya kepada pria yang menyamar menjadi sopir pribadi. "Di mana sopirku?" tanya Adriano dengan penekanan yang tegas dan dalam.
"Dia aman di dalam bagasi," jawab pria itu masih terlihat tenang, meskipun berada dalam todongan senjata api.
"Hentikan mobilnya sekarang juga, atau kepalamu akan segera kuledakkan!" ancam Adriano.
Pria itu terkekeh mendengar ancaman dari Adriano. Bukannya merasa takut, dia justru malah terlihat semakin tenang dan seakan menantang sang ketua Tigre Nero tersebut. "Coba saja jika kau berani. Setelah itu, kita akan sama-sama tergelincir ke dalam jurang," dia mengancam balik.
Akan tetapi, Adriano tak peduli dengan hal itu. Dia segera melingkarkan lengannya pada leher pria tadi, menekan tangannya dan membuat si pria tercekik. Wajah pria itu sedikit mendongak dan berusaha untuk tetap bernapas. Sementara kedua tangannya masih berada pada kemudi, dengan mobil yang terus melaju tak tentu arah. Kendaraan itu bergerak zig-zag untuk beberapa saat.
"Hentikan mobilnya, Bodoh!" hardik Adriano tegas. Dengan terpaksa pria tadi menginjak rem seketika, sehingga sedan hitam itu berhenti dengan tiba-tiba dan membuat keduanya hampir terantuk ke bagian depan mobil. Saat kendaraan itu berhenti, Adriano mulai menyingkirkan lengannya dari leher pria itu. Dia bermaksud untuk berpindah ke depan dan mengambil alih kemudi, ketika tiba-tiba beberapa orang datang dan mengelilingi mobil yang dia tumpangi. Mereka semua menodongkan senapan laras panjang ke arah kaca mobil. Adriano terdiam sejenak dan melihat mereka yang berjumlah sekitar sepuluh orang dengan senjatanya masing-masing. "Siapa yang mengirim kalian?" suara Adriano terdengar sangat dalam. Raut wajah pria bermata biru itu tampak menakutkan, tak seperti dia yang biasanya.
"Siapa pun yang mengirim kami, sebaiknya kau tak melakukan perlawanan dan menurut saja. Kau sendirian, sementara kami lebih dari sepuluh orang bersenjata lengkap. Jika kau masih sayang dengan nyawamu, sebaiknya menurut saja," saran pria itu masih terlihat sangat tenang. "Ingatlah jika istrimu yang cantik sedang menunggu kau untuk pulang," ujar pria itu lagi.
Adriano terhenyak mendengar ucapan bernada ancaman tadi. Pikirannya langsung tertuju kepada Mia dan juga Miabella. "Aku harap kalian tidak berbuat bodoh dengan mengganggu keluargaku, karena jika kutemukan sedikit saja kenyataan bahwa kalian mengusik mereka, maka jangan harap kalian semua akan melihat pesta kembang api tahun depan!" lebih dari sekadar tegas ancaman yang Adriano ucapkan kepada pria itu.
Pria di belakang kemudi tersebut lagi-lagi tertawa renyah. Dia tak menunjukkan rasa gentar sama sekali. "Turun!" sentaknya kemudian.
"Aku tidak menerima perintah dari siapa pun!" tolak Adriano dengan pistol yang masih dia todongkan kepada pria di depannya.
Pria di balik kemudi itu kembali tertawa. "Beberapa rekan kami sudah bersiap di dekat halaman rumahmu. Silakan pertimbangkan," gertaknya lagi seraya menunjukkan sebuah rekaman berisi gambar rumah sewaan yang ditempati Adriano.
__ADS_1
"Sialan!" geram Adriano. Dengan terpaksa, pria itu menarik kembali senjatanya. Dia juga memutuskan untuk keluar dari mobil. Secara serentak, orang-orang bersenjata tadi langsung mengelilinginya, dengan moncong senjata yang terus terarah kepadanya. Adriano melihat mereka satu per satu. Namun, semuanya mengenakan penutup wajah berwarna hitam dan hanya menyisakan bagian mata saja. Satu-satunya wajah yang dapat dia rekam, hanyalah pria yang tadi menyamar sebagai sopir.
"Letakkan tangan di belakang kepala!" perintah salah satu dari mereka. Tanpa banyak melawan, Adriano menurut saja. Salah seorang yang lainnya maju dan mulai memeriksa seluruh tubuh Adriano. Mereka merampas segala hal yang diduga mencurigakan, termasuk arloji mahal kesayangan pria itu.
"Hati-hati, itu arloji kesayanganku. Jaga baik-baik, karena akan kuambil kembali setelah nanti aku berhasil menghabisimu," ucap Adriano dengan nada meledek, membuat orang yang berada di belakangnya segera bereaksi. Dia menendang belakang lutut Adriano hingga tertekuk. Pria bertubuh tegap itu pun hampir ambruk. Saat itulah, kembali dihantamnya bagian belakang leher ketua dari Tigre Nero tersebut, menggunakan senapan laras panjang yang dipegangnya dengan sangat keras. Tubuh Adriano pun akhirnya benar-benar ambruk tak sadarkan diri.
Sementara hari terus merayap menuju senja. Keresahan mulai menggelayuti wajah cantik Mia. Berkali-kali dia melihat ke halaman. Akan tetapi, mobil yang membawa Adriano belum juga kembali. Ponsel pria itu pun tak bisa dihubungi sama sekali. "Kenapa Adriano belum pulang juga, Ricci?" Mia melipat kedua tangannya di dada sambil menyandarkan lengan di dekat jendela kaca. Dari sana, dirinya dapat langsung melihat ke bagian halaman rumah itu.
"Kau tidak perlu khawatir, Mia. Kalaupun ponsel milik suamimu tidak dapat dihubungi, kita masih bisa melacaknya dengan yang lain," ujar Coco terus fokus pada layar laptopnya. Sementara Miabella asyik berlari-lari kecil di dalam rumah. Anak itu sudah terbiasa bermain sendiri.
"Tetap saja aku merasa cemas. Kalau begitu, coba kau periksa di mana titik lokasi keberadaan suamiku sekarang," suruh Mia.
Coco yang saat itu tengah asyik mengerjakan sesuatu dengan laptopnya, menoleh sejenak kepada Mia. "Baiklah, Kakak ipar," sahut pria berambut ikal tersebut. Dia mulai melacak keberadaan Adriano. Namun, untuk sejenak Coco tampak menautkan alisnya yang tebal. Ada sesuatu yang aneh bagi pria itu. Sepasang matanya yang berwarna cokelat, bergerak dengan penuh rasa curiga dan was-was.
"Suamiku belum kembali hingga saat ini," sela Mia seraya menatap lekat Bianca yang seketika berubah raut wajahnya, ketika mendengar ucapan Mia.
"Mana mungkin. Adriano sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu. Dia memutuskan untuk segera pergi setelah menerima telepon yang kurasa pasti dari dirimu," sanggah Bianca dengan yakin.
"Untuk apa aku berbohong?" balas Mia. "Suamiku memang ...." Mia tak melanjutkan kata-katanya.
"Ada apa ini?" terdengar keluhan Coco yang membuat Mia dan Bianca serentak menoleh padanya. Coco terus mengutak-atik aplikasi laporan data yang muncul di layar laptop. Wajah tampan pria itu kini terlihat amat serius.
__ADS_1
"Ada apa, Ricci? Apa ada masalah?" Mia segera menghampiri calon adik iparnya tersebut. Dia duduk di sebelah pria itu dan ikut memperhatikan layar laptop, begitu juga dengan Bianca yang merasa penasaran. Wanita cantik tersebut berdiri tak jauh dari mereka. "Apa maksudnya itu, Ricci?" tanya Mia tak mengerti.
"Kacau. Semua alat pelacak yang kuberikan kepada Adriano tiba-tiba tak berfungsi dan tidak terkoneksi lagi," jawab Coco tanpa menoleh.
"Apa yang menyebabkan hal itu bisa terjadi?" tanya Bianca yang merasa penasaran dan tertarik dengan yang Coco jelaskan tadi.
"Tentu saja karena semua alat pelacaknya dimatikan. Namun, bila Adriano sendiri yang melakukan hal itu, aku rasa ... kecuali jika ...." Coco tak melanjutkan kata-katanya. Dia menoleh sejenak kepada Mia yang semakin menunjukkan raut cemas.
"Kecuali jika apa, Ricci?" tanya Mia lagi dengan suara bergetar.
“Adriano tidak mungkin mematikan alat pelacaknya secara sengaja,” jelas Coco ragu-ragu.
“Jadi? Siapa yang mematikan? Tolong jangan berbelit-belit, Ricci,” pinta Mia dengan mata berkaca-kaca.
Coco terdiam sejenak. Ragu dia memberikan penjelasan kepada Mia. “Kemungkinan besar … ada pihak lain yang sengaja menonaktifan semua pelacak dan penyadap yang menempel di tubuh suamimu,” jawabnya seraya menelan ludah.
“Apakah itu artinya ….” Mia tercekat, tubuhnya mulai menggigil sampai-sampai dia harus mengusap lengannya sendiri berkali-kali.
Sedangkan Bianca juga sama terkejut. Masih teringat di benak wanita itu ketika Adriano pulang menggunakan mobil yang sama dengan saat pria itu datang ke lokasi proyek.
“Akan tetapi, Adriano masih membawa mobil yang sama,” ucap Bianca kemudian.
__ADS_1
“Titik lokasi terakhir berada lima belas kilometer dari sini. Jangan khawatir, Mia. Aku akan menjemput suamimu,” ujar Coco seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku celana jeans. Dia juga menyelipkan senjata di pinggang. Tanpa membuang waktu, Coco bergegas pergi meninggalkan dua wanita yang sama-sama kebingungan tersebut.
Di luar, Coco menghampiri beberapa orang pria dengan setelan hitam. "Aku akan keluar sebentar. Jangan lengah," pesannya.