Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Gruesome Death


__ADS_3

Adriano tidak melepaskan pegangannya dari tubuh Mia, meskipun wanita itu mencoba kembali memberontak dan berusaha untuk melepaskan diri. Akan tetapi, tenaga Adriano tentu saja jauh lebih besar jika dibandingkan dengan Mia.


Namun, sepertinya wanita berambut cokelat tersebut tak mau menyerah dengan begitu mudah. Pada akhirnya, Adriano terpaksa mengempaskan tubuh Mia ke kasur. Sigap, kedua tangan kekar pria bermata biru itu menahan dengan kuat kedua pergelangan tangan Mia di samping kiri dan kanannya. “Tenanglah, Mia! Aku tidak akan melakukan apapun padamu.” Adriano berkata dengan cukup tegas.


Akan tetapi, Mia tak peduli. Wanita cantik dengan senyuman indah tersebut masih saja memberontak. “Lepaskan aku, Adriano! Menjauhlah dariku!” sergah Mia. Bayangan ketika Adriano menciumnya dengan paksa, kembali hadir dalam ingatan wanita itu. Sedangkan, saat ini dirinya benar-benar tak dapat bergerak apalagi melawan.


“Aku akan melepaskanmu, asalkan kau bisa bersikap jauh lebih tenang. Percayalah. Aku tidak akan berbuat macam-macam terhadapmu,” balas Adriano terus meyakinkan Mia yang terus berusaha melawan.


Beberapa saat kemudian, Mia pun merasa lelah untuk melawan. Pada akhirya, dia menyerah dan terdiam. Akan tetapi, tatapan tajam masih dia layangkan kepada pria yang kini tengah berada di atas tubuhnya. Napas wanita itu mulai tersengal-sengal.


“Bernapaslah dengan teratur, Mia. Tenangkan dirimu,” ucap Adriano lagi dengan nada bicara yang terdengar jauh lebih lembut dan tenang. Dia tak mengalihkan perhatiannya sedikit pun dari wajah cantik Mia yang terlihat semakin memesona, meskipun tampak pucat dan tanpa riasan sedikit pun.


"Apa kau sudah merasa lebih baik?” tanya Adriano lagi beberapa saat kemudian. Pria itu hanya ingin memastikan keaadaan Mia.


Sementara, wanita berkulit kuning langsat tersebut kini sudah dapat bernapas dengan teratur.


Setelah memastikan bahwa Mia telah benar-benar terkendali dan dapat bernapas dengan normal, Adriano lalu bangkit dari atas tubuh wanita itu. Dia bahkan membantu Mia untuk bangun.


Setelah itu, Adriano kemudian beranjak ke dekat meja yang berada di sisi ruangan. Dia menuangkan air putih dan membawanya ke dekat tempat tidur. Dia menyodorkan gelas tadi kepada Mia. “Minumlah dulu."


Ragu dan agak gemetaran, tangan Mia meraih gelas berisi air putih tersebut. Segera diteguknya air putih yang Adriano berikan tadi hingga habis. Mia kemudian menggenggam erat gelas kosongnya.


Sementara, tatapan matanya menyiratkan rasa gelisah yang teramat besar. Membuat Adriano yang memiliki insting kuat seperti Matteo, dapat menerka hal itu dengan sangat mudah. Pria berparas rupawan tersebut kemudian memilih untuk duduk tepat di dekat Mia. “Ada apa, Mia? Coba katakan padaku,” pintanya dengan gaya bicara khas Adriano yang selalu tenang dan bersahabat.


“Tidak ada apa-apa,” jawab Mia dengan segera. Akan tetapi, raut wajahnya masih menunjukkan rasa gelisah yang teramat besar.


“Katakan kenapa kau sendirian di sini? Ke mana Matteo dan Miabella?” tanya Adriano lagi tanpa mengubah intonasinya.


Mendengar nama Matteo dan Miabella, wanita cantik itu segera menoleh kepada Adriano. Mia terlihat sedikit kebingungan. Kedua bola matanya yang teduh, bergerak dengan tak beraturan. “Mereka … mereka … mereka ada di Casa de Luca. Mereka ada di Italia,” jawabnya dengan bahasa tubuh yang terlihat tidak tenang.


Itu merupakan sebuah jawaban yang dirasa sangat janggal oleh Adriano. Pria bertubuh tegap tersebut menautkan alisnya, karena merasakan ada sesuatu yang tak beres dengan Mia.


“Kau datang sendirian ke Yunani atau kau … bicaralah, Mia. Aku akan membantumu seandainya telah terjadi sesuatu yang buruk terhadap suami dan putrimu,” desak Adriano lagi. Perasaan cemas mulai menggelayuti pria itu. Apapun yang telah Mia lakukan terhadapnya di masa lalu, nyatanya tak membuat perasaan cinta di hati Adriano menjadi sirna dengan begitu saja.

__ADS_1


Akan tetapi, bukan sebuah penjelasan yang Adriano dapatkan dari Mia. Wanita yang kini genap berusia dua puluh sembilan tahun itu justru malah terisak. “Theo …,” ucapnya di sela-sela isakan yang semakin terdengar jelas, dan berhasil membuat rasa penasaran di hati Adriano kian besar.


“Apa yang terjadi antara kau dan Matteo?” Adriano kembali bertanya. Dia berharap mendapat sebuah jawaban yang pasti dari Mia.


“Theo … Theo … hari itu ….” Mia terdiam sejenak. Ingatannya kemudian melayang pada dua tahun silam, ketika Miabella masih berusia dua tahun.


Saat itu, mereka berniat untuk pulang dari Danau Garda, setelah merayakan ulang tahun Damiano yang ke-55. Sebelum kembali ke Casa de Luca, Matteo mengajak mereka untuk mampir sebentar ke sebuah gereja di Kota Milan. Hingga hari menjelang senja, barulah Matteo memutuskan pulang. Sebelum masuk ke mobil, Mia sempat merapikan mantel yang sang suami kenakan. Dia juga mencium pria itu dengan mesra.


“JIka kau bersikap seperti ini terus, maka kupastikan bahwa Miabella akan segera memiliki adik,” ucap Matteo yang menanggapi sikap manja Mia terhadapnya.


“Kau yakin, Theo? Kalau begitu, maka bersiaplah untuk libur bercinta denganku. Apa kau sudah lupa seperti apa diriku pada awal-awal masa kehamilan?” bisik Mia dengan enteng, membuat Matteo segera menautkan alisnya yang tebal.


“Ah, iya. Kau benar, Cara Mia. Baiklah. Akan kuralat lagi. Miabella sudah cukup bagiku,” ujar Mateo dengan tawa pelan. Dia menutup pintu mobil dengan rapat, setelah Mia masuk dan duduk nyaman di dalamnya.


Perhatian wanita itu tak teralihkan sedikit pun dari paras tampan berpostur tegap yang kini hendak masuk dari pintu sebelah. Akan tetapi, Matteo tak kunjung masuk. Pria itu hanya terpaku, lalu tersenyum samar kepada Mia. Tak berselang lama, tubuh tegapnya pun ambruk seketika.


“Theo!” seru Mia yang bergegas keluar dari dalam mobil. Dia berlari ke arah Matteo berada. Sama halnya dengan Damiano. Dia bahkan meninggalkan Miabella di jok belakang sendirian. Gadis kecil itu sudah duduk manis pada kursi khususnya.


“Theo, Anakku!” Damiano pun terlihat panik. Pandangannya mulai menjelajahi sekeliling tempat itu, terlebih karena pandangannya terhalang oleh orang-orang yang berdatangan dan mengerumuni mereka.


Damiano tak bisa memastikan dari mana atau siapa yang telah menembak Matteo, hingga pria itu roboh bersimbah darah. Kalut, itulah yang Damiano rasakan saat itu. Akan tetapi, dia masih sempat untuk menghubungi Coco dan memintanya agar segera menyusul mereka ke Milan.


"Cepat panggil ambulans, Paman!" teriak Mia panik. Air mata terus mengalir deras dan membasahi pipinya.


Sedangkan, Damiano tak tahu harus menghubungi ke mana. Untunglah, ada salah seorang warga yang bersedia membantu menghubungi layanan darurat, dan meminta agar segera dikirimkan ambulans ke alamat yang dia sebutkan.


Mia terus menangis sambil terus memegangi wajah Matteo yang makin memucat. Dia bersandar pada mobil jeep sang suami, karena tak kuat menahan bobot tubuh pria yang tak dia lepaskan dari dalam dekapannya.


“Cara Mia ….” Deru napas Matteo mulai tersengal-sengal. Pria itu tengah menahan rasa sakit di tubuhnya, akibat luka tembak yang dia alami. Namun, Matteo masih dapat meraih dan memegang tangan Mia dengan erat. “Cara Mia, jangan cemas …,” ucapnya lagi dengan susah payah. Sesekali, pria itu meringis dan mendesis pelan menahan sakit.


“Theo, kau … kau akan baik-baik saja …. bertahanlah …,” bisik Mia pelan dengan suara bergetar. “Kau … kau adalah pria terkuat. Kau adalah suamiku. Ayah dari putriku Miabella. Kau sangat luar biasa, Theo ….” Mia terisak. Air matanya tak juga berhenti menetes, membanjiri wajah cantik yang kini diliputi kecemasan luar biasa. Makin lama, Mia terlihat semakin kacau. Dia seakan kesulitan bernapas.


Melihat hal itu, Damiano segera memberikannya sebotol air mineral. "Minumlah, Nak. Tenangkan dirimu,” ucap Damiano. Dia sudah resah karena ambulans tak juga datang. Sementara, Matteo terlihat semakin lemah. Namun, genggaman tangannya tak juga lepas dari Mia yang kini sudah mulai kembali tenang.

__ADS_1


“Jangan khawatir, Cara Mia. Aku akan baik-baik saja. Tetap pegang tanganku agar kau merasa tenang,” ucap Matteo seraya memejamkan mata. Sesaat kemudian, dia kembali membuka mata dan menoleh kepada Damiano. “Miabella …,” ucapnya tertahan.


Damiano seakan mengerti maksud dari Matteo. Dengan segera, dia membawa gadis kecil itu dari dalam mobil. Sementara, orang-orang semakin banyak berdatangan dan mengerumuni, untuk memastikan apa yang terjadi.


Matteo tersenyum saat melihat wajah Miabella yang tengah berada dalam gendongan Damiano. Sesaat kemudian, dia melirik kepada Mia yang terlihat tak karuan. Pria bermata abu-abu itu kembali tersenyum. “Kau dan Miabella, akan selalu … menjadi … wanita tercantik … bagiku.” Matteo kembali terpejam. Tak berselang lama, pria itu kemudian membuka mata. Dia tahu jika Mia begitu mencemaskannya.


“Paman! Kenapa ambulansnya lama sekali?” teriak Mia begitu histeris di sela-sela tangisnya.


“Tenangkan dirimu, Cara Mia. Aku tidak apa-apa,” Matteo masih menggenggam erat jemari Mia. “Chiudi gli occhi e abracciami (Pejamkan matamu dan peluklah aku). Kau … akan merasa jauh lebih tenang dan juga dapat memberiku … ketenangan. Tuhan telah menjawab semua pertanyaan dalam doaku. Kini, biarkan aku tidur dalam pelukanmu ….”


Mia meraih wajah Matteo dengan tangannya yang berlumur darah. Dengan gemetaran, dia mengecup kening sang suami, kemudian mengusap-usap rambut hitam yang selalu tersisir rapi ke belakang. “Kau harus selalu terlihat rapi dan tampan, Theo. Kau ingin tidur dalam pelukanku, kan? Kalau begitu ... tidurlah. Aku akan terus memelukmu ....” Mia kembali mengecup kening sang suami. Air matanya terus jatuh dan menetes di atas wajah tampan Matteo, mengiringi pria itu yang kemudian memejamkan matanya.


Mia tak sedetik pun melepaskan tubuh tegap bersimbah darah Matteo dari dekapannya. Dia menempelkan pipinya pada kening sang suami yang terus memejamkan mata. Untuk beberapa saat, mereka berdua terdiam.


Sedangkan, Damiano hanya terpaku. Air mata pria tua itu mulai berjatuhan di pipi. Perasaannya begitu gelisah, saat memperhatikan Matteo yang tak bergerak sama sekali.


Lain halnya dengan Miabella. Gadis kecil tersebut hanya menatap tak mengerti kepada sang ayah, yang tengah terkapar tak berdaya dalam pelukan ibunya yang tampak begitu kacau dengan tatapan menerawang.


Sayup-sayup, suara sirine ambulans mulai terdengar dari kejauhan. Membuat Mia tersadar dari lamunannya. Kembali disentuh wajah Matteo yang masih berada dalam dekapan. “Theo, ambulansnya sudah datang,” bisik Mia. Akan tetapi, Matteo tetap terpejam dan tak menjawab. “Theo, mereka akan segera membawamu ke rumah sakit. Bertahanlah, Sayang …,” bisik Mia lagi dengan suara bergetar. Namun, Matteo tetap terpejam.


Mia dan Damiano saling pandang. Mereka merasakan firasat aneh, karena Matteo tak juga menanggapi ucapan Mia. Hingga ambulans tiba di sana dan para petugas medis memeriksa keadaan Matteo, pria itu masih tetap memejamkan matanya.


Para petugas medis kemudian memindahkan tubuh Matteo. Namun, satu hal yang membuat Mia tak terima dari perlakuan mereka, yaitu ketika mereka menutupi seluruh tubuh Matteo dengan kain putih. “Apa yang kalian lakukan?” sentak Mia kembali histeris. Dia berusaha mengejar para petugas medis, yang sudah memasukan jasad Matteo ke dalam mobil ambulans.


“Mia.” Damiano memegangi lengan Mia sambil terus menggendong Miabella.


“Paman, apa yang mereka lakukan? Kenapa Theo-ku diperlakukan seperti itu?” tunjuk Mia. Wanita itu tampak semakin kacau.Tangis histerisnya pun kembali pecah .


“Paman! Paman!” Ambruk, Mia terduduk di atas deretan paving block dengan tangisnya yang semakin histeris. "Theo!" pekik Mia. Dia tak peduli lagi dengan rasa malu atau yang lainnya. Sementara, Damiano tak tahu harus berkata apa. Coco pun belum juga tiba di sana.


“Maafkan kami, Nyonya. Suami Anda sudah tiada. Kami akan mengurus jenazahnya,” ucap salah seorang petugas medis sebelum berlalu.


Namun, Mia tak memedulikan ucapan pria itu. Dia masih terduduk dengan tatapan kosong dan menerawang. Dia tentu saja tak percaya atas apa yang baru saja terjadi. Ini lebih dari sekadar mimpi buruk.

__ADS_1


__ADS_2