Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
My Sweet Adriano


__ADS_3

Sejak mendapatkan telepon dari Pierre, Adriano menjadi terlihat murung. Dia semakin menyadari, bahwa Pierre tak akan terus bisa ada untuk mendampingi dirinya. Sang ajudan kepercayaan tersebut, memiliki tanggung jawab yang amat besar terhadap bisnis keluarga yang sudah berjalan selama belasan tahun. Apalagi, kini kerajaan bisnis keluarga D'aurville telah semakin menggurita.


Adriano mende•sah pelan. Bosan berada di atas ranjang, dia berusaha turun dan melangkah hati-hati ke arah balkon kamar. Ditatapnya hamparan perkebunan sejauh mata memandang. Warna hijaunya begitu menenangkan jiwa.


“Sayang, apa yang sedang kau lakukan?” tanya Mia. Suaranya yang lembut telah membuat Adriano terhenyak dan seketika menoleh.


“Mia?” Adriano tersenyum. Satu tangannya terulur ke arah sang istri, memberikan isyarat agar Mia lebih mendekat. “Aku hanya merasa bosan,” ucapnya seraya merengkuh pinggang ramping wanita cantik itu. Dia memaksa Mia untuk berdiri di sebelahnya. “Temani aku,” pinta Adriano. Lembut suara pria tampan teraebut tepat di telinga sang istri. Hembusan napas beratnya pun menyapu daun telinga dan pipi, menimbulkan sensasi yang begitu menggoda bagi wanita yang tengah hamil muda tersebut.


“Berapa lama kita tidak bercinta, Sayang?” tanya Adriano. Pria itu selalu saja menghitung hari-hari yang dia lewati tanpa kehangatan tubuh istrinya.


“Tunggu sampai kau benar-benar pulih dan janin dalam rahimku semakin kuat,” tolak Mia geli.


“Aku sudah sembuh. Aku yakin calon anak kita nanti akan menjadi seseorang yang kuat seperti ayahnya. Tentu saja dia tak akan terganggu dengan kegiatan kita yang ….”


Adriano tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena Mia segera membungkam mulut suaminya dengan sebuah ciuman. Pada akhirnya, pria itu tak bisa berkata-kata. Akan tetapi, itu jauh lebih menyenangkan bagi Adriano. “Hentikan, Sayang. Untuk berjalan kaki saja kau bahkan masih kesulitan,” tegur Mia setelah melepaskan ciumannya.


“Tentu saja akan sulit jika sambil berjalan kaki. Lain halnya kalau kita melakukan itu di atas ranjang,” ujar Adriano tak mau kalah.


“Sudahlah.” Mia tersipu dengan pipi memerah. Hingga detik ini, dia selalu merasa jatuh kepada sang ketua Tigre Nero tersebut.


Adriano selalu bisa membuat jantungnya berdebar tak menentu. Senyuman menawan dan sorot mata biru yang amat memikat itu tak pernah gagal untuk membuat Mia menjadi tidak berdaya. Terkadang, Mia masih saja tak percaya bahwa dirinya dapat kembali jatuh cinta sedemikian dalam sejak kepergian Matteo.

__ADS_1


“Mia,” panggil Adriano. Wajahnya kini berada sangat dekat dengan wajah Mia.


“Miabella merajuk. Dia ingin menagih janjimu. Aku sudah mengataka kepada dia bahwa daddy zio kesayangannya masih sakit,” ucap Mia begitu saja tanpa memedulikan godaan sang suami.


“Janji apa?” Adriano segera memundurkan wajahnya dan memandang Mia dengan sorot bertanya-tanya.


“Kau berjanji padanya untuk merayakan pesta ulang tahun besar-besaran,” jawab Mia.


“Astaga! Tanggal berapa sekarang?” Adriano menepuk keningnya karena telah melupakan hal itu.


“Tanggal tujuh,” sahut Mia seraya tertawa renyah, saat melihat ekspresi sang suami yang menurutnya sangat menggemaskan.


“Oh, tidak! Itu artinya tinggal tiga hari lagi,” ucap Adriano panik.


“Aku tidak mau, Mia. Aku sudah berjanji pada Miabella. Adriano tidak pernah ingkar janji, Sayang,” tegasnya. Pria bermata biru itu kemudian mengecup bibir istrinya sekilas, lalu berbalik ke arah ranjang.


“Apa yang akan kau lakukan, Adriano?” Mia berkacak pinggang melihat suaminya yang begitu keras kepala.


“Aku akan meminta bantuan Ricci dan semua orang. Kita harus menyiapkan pesta megah dalam waktu kurang tiga hari,” sahutnya. Adriano tersenyum lebar, kemudian meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas.


“Lalu, bagaimana kau akan menyebar undangan hanya dalam waktu tiga hari saja? Kau tak bisa mengundang semua orang secara mendadak,” protes Mia.

__ADS_1


Akan tetapi, Adriano tak peduli. Dia malah mengangkat ponsel dan mengarahkannya pada Mia. “Ada benda ajaib ini yang akan membantu memudahkan urusan kita, Sayang. Percayalah, jika Adriano D’Angelo yang mengundang, maka tak akan ada yang sanggup untuk menolak,” ucapnya jumawa.


“Kau benar-benar ….” Mia menggelengkan kepalanya pelan.


Menghadapi suami yang keras kepala telah menguras emosi. Sedangkan Adriano sendiri hanya menanggapinya dengan tawa, lalu mulai sibuk dengan ponsel. Dia membuat panggilan berkali-kali, sesaat setelah menyandarkan punggung pada kepala ranjang. Mia sendiri sudah tak ada keinginan untuk mencegah. Wanita itu membiarkan Adriano melakukan apapun yang dia mau.


"Mintalah bantuanku jika kau membutuhkannya, Sayang," ucap Mia sesaat setelah Adriano kembali meletakkan ponselnya.


"Nyonya D'Angelo hanya tinggal duduk manis. Lagi pula, aku tidak ingin jika kau terlalu kelelahan. Ingat kandunganmu. Bagaimanapun juga, aku ingin tahu seperti apa rasanya memiliki anak sendiri ... um maksudku ... seorang bayi dari hasil kerja kerasku sendiri ...." Adriano terdiam sejenak. "Astaga, bagaimana cara menjelaskannya?" gumam pria itu tampak berpikir.


"Tidak kau jelaskan pun aku sudah memahaminya," sahut Mia kembali tersenyum.


"Kau tenang saja, Mia. Meskipun anak ini telah terlahir ke dunia, tapi itu tak akan mengubah rasa sayangku terhadap Miabella. Aku sudah jatuh cinta pada gadis kecil itu, dari semenjak pertama kulihat dia di rumah sakit. Kau pasti masih bisa mengingatnya. Aku juga tahu bahwa kau pun masih menyimpan gelang kaki yang dulu kuberikan sebagai hadiah kelahiran Miabella ...."


"Adriano ...." Mia tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Terbayang dalam ingatan wanita itu ketika Adriano memberi serta memasangkan perhiasan cantik tersebut di kaki putrinya. Adriano bahkan menimang Miabella sebelum dia menghilang di dalam ombak samudera.


"Sudahlah. Aku tidak bermaksud untuk mengungkit kenangan buruk itu. Aku hanya tak ingin jika kau merasa ...."


"Miabella adalah putriku, begitu juga dengan janin dalam kandunganku ini. Mereka berdua akan mendapatkan cinta dan perhatian dengan porsi yang sama. Aku bangga menjadi ibu dari anak pria-pria hebat seperti Matteo dan juga dirimu. Namun, cukuplah berhenti sampai di sini. Aku ingin kau menjadi yang terakhir, yang akan menemaniku duduk di beranda rumah sambil menatap matahari terbenam," lirih ucapan Mia penuh harap kepada sang suami. Sementara Adriano mendengarkan dengan tatapannya yang sangat taduh.


"Apa lagi yang kita inginkan saat ini? Semua rahasia telah terkuak. Matteo sudah beristirahat dengan tenang. Juan Pablo pun kini telah jadi adik iparmu, dan dia juga merupakan ayah dari calon keponakanmu, Sayang. Jika kau merasa sedih dan iba akan nasib Miabella yang harus kehilangan ayahnya di usia balita, maka jangan biarkan hal kepedihan yang pernah kualami harus dirasakan oleh Gianna. Itu sangat menyakitkan." Tetesan air mata mulai terjatuh dan membasahi sudut bibir Mia.

__ADS_1


Adriano menyeka simbol kepedihan yang masih tersisa dalam diri Mia. Dia lalu tersenyum simpul. "Kau adalah pemegang kekuasaan atas diriku, Mia. Permintaanmu merupakan perintah yang harus kupatuhi. Aku tak ingin membuatmu bersedih. Kau adalah malaikat penolong dalam hidupku. Berjuta rasa terima kasih dan perasaan cinta yang besar seakan tak pernah cukup untukmu. Aku akan melakukan apapun yang kau mau, selama itu bisa membuatmu tersenyum bahagia," lembut dan dalam kata-kata Adriano yang terdengar begitu manis. Sejuta keindahan dan gemerlapnya dunia, telah redup seketika di saat Adriano kembali menyalakan api cinta dalam diri seorang Florecita Mia.


__ADS_2