
Beberapa waktu sudah berlalu. Usia kehamilan Gianna kini telah genap memasuki lima bulan. Tak terkira betapa bahagianya Juan Pablo, ketika dia melihat perut sang istri yang telah membulat dan menjadikan Gianna tampak jauh lebih menawan.
Juan Pablo pun menghabiskan waktu yang begitu lama di Italia. Dia harus menemani sang istri dalam menjalani masa-masa kehamilan muda yang telah berhasil Gianna lalui dengan baik. Emiliano juga pernah mengunjunginya beberapa kali. Pria paruh baya itu telah menerima kematian Ilario sepenuhnya, dan tak lagi menyalahkan sang menantu.
Siang yang tidak terlalu panas di kota Brescia. Juan Pablo menatap pusara dengan nama Roberto de Luca. Dia tak mengatakan apapun selain menatap nisan berlapis marmer hitam itu. Setelah meletakkan seikat bunga di sana, Juan Pablo kemudian beralih pada nisan lain dengan nama Matteo de Luca. Pria yang merupakan adik tirinya.
"Aku datang, Dik. Aku mengunjungimu lagi setelah sekian lama. Dulu aku selalu kemari dengan identitas yang tersembunyi. Tak ada yang tahu bahwa diriku adalah Elang Rimba, orang yang telah menghabisi nyawamu." Juan Pablo terus menatap nisan dengan lapisan granit mewah itu dari balik kaca mata hitam yang dia kenakan.
"Kau pikir aku tidak sakit ketika harus mengarahakan moncong senjata padamu. Saat peluru itu melesat dan menembus jantungmu, aku merasa seperti telah kehilangan tangan kiriku. Namun, air mata ibuku jauh lebih berharga dari nyawa seorang de Luca yang terhormat." Dingin dan datar ucapan Juan Pablo saat itu. Dia tak harus menyesali setiap tindakan yang telah dilakukannya, karena semua ada sebab dan ada akibat.
"Beristirahatlah dengan tenang. Setidaknya, kini dunia telah mengetahui siapa Elang Rimba. Aku bukan seorang anak tanpa ayah, meskipun kenyataannya aku sama sekali tak pernah merasakan seperti apa telapak tangan Roberto de Luca di atas permukaan tubuhku. Tak apa, Matteo. Aku tak harus iri padamu. Semua sudah terbayar lunas." Juan Pablo menoleh ke belakang. Di dalam mobil sedan hitam kesayangannya, duduk manis Gianna yang telah menunggu sejak tadi.
Juan Pablo segera membalikkan badan. Dia melangkah gagah menuju kendaraannya terparkir. "Maaf menunggu lama," ucapnya setelah duduk di belakang kemudi.
"Tidak apa-apa. Aku juga tadi sudah membuatmu menunggu saat di makam ibuku," balas Gianna seraya tersenyum lembut. Dia terlihat sangat cantik dengan tatanan rambutnya yang disanggul rapi. Gianna terlihat jauh lebih dewasa.
"Itulah mengapa aku sangat mencintaimu, Bice," ucap Juan Pablo lagi yang kemudian segera melajukan kendaraannya menuju Casa de Luca. Niat pria bermata cokelat madu tersebut ialah untuk berpamitan langsung dengan Damiano.
Akan tetapi, setelah tiba di rumah perkebunan itu Juan Pablo harus rela turun dari mobilnya, ketika penjaga pintu gerbang pertama tak memberi dia izin untuk masuk. Mereka menolak kedatangannya dengan tegas.
"Aku kemari untuk bertemu dengan Damiano Baresi," tegas pria asal Amerika Latin tersebut dengan tatapan tajam pada sang penjaga pintu gerbang pertama.
"Tidak bisa. Kami sudah diamanatkan agar tidak mengizinkan sembarangan orang untuk masuk ke dalam area Casa de Luca. Terlebih untuk kau Elang Rimba," ujar penjaga itu tanpa berani keluar dari dalam posnya yang berlapis kaca tebal. Dia pun tak memiliki keberanian lebih, jika harus berhadapan secara langsung dengan mantan sang pembunuh bayaran tersebut.
__ADS_1
"Aku datang tidak dengan membawa nama Elang Rimba!" Juan Pablo mengepalkan tangan demi menahan amarah, karena penjaga itu dinilai telah banyak membuang waktunya. "Aku kemari hanya untuk bertemu Damiano Baresi," tegas pria itu lagi.
"Kalaupun aku mengizinkanmu masuk, aku yakin penjaga pintu gerbang kedua tidak akan melakukan hal yang sama. Sudahlah, sebaiknya kau kembali saja." Penjaga itu, kemudian menutup jendela kecil yang tadi dibuka saat berbicara dengan Juan Pablo. Dia juga tak ingin ambil risiko. Berada di dalam pos berlapiskan kaca anti peluru adalah keputusan terbaik bagi pria itu.
Juan Pablo terpaku untuk sesaat. Sedangkan Gianna yang sejak tadi menyaksikan adegan tersebut dari dalam mobil, segera keluar. "Apa ada masalah, Sayang?" tanyanya khawatir.
Pria berambut gelap tadi segera menoleh. Dia lalu menyunggingkan sebuah senyuman kecil terhadap sang istri tercinta. "Tidak apa-apa. Tunggu sebentar," sahutnya seraya merogoh ke dalam saku blazer bagian dalam. Juan Pablo tampak mengambil ponsel dari sana. Dia pun segera menghubungi seseorang. Sementara Gianna hanya terpaku memperhatikan sambil memegangi pintu mobil yang terbuka.
Tak berselang lama, si penjaga tadi kembali menaikkan jendela kecil yang telah ditutup. Pada akhirnya, dia mengizinkan Juan Pablo untuk masuk. Tanpa ucapan terima kasih atau basa-basi yang lain, pria rupawan yang juga merupakan putra dari Roberto de Luca tersebut bergegas kembali ke dalam kendaraan. Terlebih saat itu pintu gerbang kokoh nan menjulang yang menjadi pelindung Casa de Luca telah terbuka.
Juan Pablo melajukan kendaraannya dengan kecepatan rendah hingga tiba di gerbang kedua yang langsung dibuka untuknya. Dia pun bisa masuk ke area halaman bangunan yang menyimpan banyak sekali cerita suka duka, dari kisah Matteo dengan Mia yang telah lama terkubur.
"Apa kabar, Juanito?" sapa Damiano. Dia sudah menunggu di teras. Pria itu segera menyambut kehadiran putra pertama dari Roberto, meskipun tidak terdaftar sebagai anak yang diakui secara sah.
"Hai, Gia. Ayahmu bercerita banyak padaku. Dia terlihat sangat bahagia setiap kali membahas tentang dirimu. Dia begitu senang karena akan menjadi seorang kakek." Damiano juga menyambut hangat Gianna. Pria tua itu mengecup kening putri bungsu dari Emiliano Moriarty tersebut.
"Apa hari ini ayahku datang kemari?" tanya Gianna membalas perlakuan Damiano dengan sebuah senyuman hangat yang tulus.
"Dia tadi kemari. Namun, setelah semua pekerjaan selesai, ayahmu memutuskan untuk segera pulang. Kudengar Agustine pun akan segera menikah." Damiano bicara sambil mempersilakan suami istri itu untuk mengikutinya masuk.
"Ya setahuku memang begitu. Aku sangat
bahagia mendengar berita tersebut Setidaknya, kuharap ada seseorang yang akan membantu merawat mereka berdua," sahut Gianna menanggapi.
__ADS_1
"Itu benar, apalagi kami juga akan pergi," timpal Juan Pablo yang seketika membuat Damiano tertegun dan menoleh padanya.
"Kau akan pergi, Nak? Ke mana?" tanya pria tua itu. Dia membalikkan badan sepenuhnya, sehingga menghadap kepada pasangan suami istri tadi.
"Kami sudah mengurus segala kelengkapan dokumen untuk pengajuan izin tinggal di Amerika. Karena itu juga aku dan Bice datang kemari. Kami berdua ingin berpamitan padamu," terang Juan Pablo. Pria itu sepertinya tak memiliki ekspresi lain dalam dirinya.
Sementara Damiano tak segera menanggapi. Ayah asuh dari mendiang Matteo tersebut awalnya tampak begitu sedih. Sebesar apapun kejahatan yang telah Juan Pablo lakukan, tapi dia selalu ingat pada Juanito kecil yang dulu pernah menangis di rumah itu karena sebuah penolakan keras dari kakeknya sendiri.
"Jadi, kau juga akan menjauh dariku, Nak?" Suara Damiano terdengar begetar saat mengatakannya.
"Itu sudah menjadi keputusan kami berdua, Damiano. Aku rasa tak ada pilihan terbaik selain menjauh dari Italia. Ini negara yang indah, tapi aku tak menyukainya. Kau tahu bahwa di sinilah harga diri ibuku tak dianggap sama sekali," ucap Juan Pablo datar. Dia lalu menoleh kepada Gianna yang segera menggenggam jemarinya erat sebagai isyarat. Pria dengan setelan blazer serta celana jeans itu pun paham betul atas apa yang istrinya lakukan.
"Sudahlah. Aku kemari bukan untuk membahas kembali kenangan buruk itu. Aku hanya ingin berpamitan secara langsung padamu. Bagaimanapun juga, kau sudah seperti seorang ayah bagiku." Raut datar Juan Pablo berangsur memudar. Tatap matanya kini tampak lebih teduh dan juga tenang.
"Aku pasti akan sangat merindukan kalian. Apa kau akan berkunjung sesekali saja kemari?" tanya Damiano penuh harap.
"Entahlah," jawab Juan Pablo singkat.
"Jangan begitu, Nak. Jika kau telah menganggapku seperti ayahmu sendiri, maka tetaplah tengok pria tua ini. Namun, aku akan selalu berdoa, semoga kau dan keluarga kecilmu nanti selalu diberikan keselamatan dan juga kebahagiaan di mana pun kalian berada. Hiduplah dalam ketenangan. Mulai saat ini, jauhkan dirimu dari segala intrik yang memicu pertumpahan darah. Jalanilah hari-hari kalian dalam kedamaian. Jadikan waktu yang singkat ini sebagai sebuah jembatan yang akan membawa kita pada kebahagiaan kelak," tutur Damiano memberikan petuahnya yang menyejukan.
"Aku sangat mengagumimu, Damiano." Tanpa sungkan, Juan Pablo segera memeluk pria tua di hadapannya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Suara tegas Coco membuat Juan Pablo segera melepaskan pelukannya dari Damiano.
__ADS_1