Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Bracelet


__ADS_3

Adriano mengumpulkan tiga mayat yang bergelimpangan itu pada satu tempat. Sementara satu mayat dengan seragam yang paling bersih tanpa noda darah, dia seret dan disatukan dengan mayat yang tewas tercekik di balik semak-semak tadi. Adriano segera melucuti pakaian kedua jasad itu, lalu menyembunyikan mayatnya dengan cara menutupi menggunakan semak-semak yang baru saja dia cabut


dari akarnya.


Adriano melipat seragam-seragam tadi dengan tergesa-gesa, lalu berlari ke tempat Coco bersembunyi. Di sana, Coco sudah menunggu dengan raut cemas. “Kenapa lama sekali? Kamera pengawas sudah berfungsi normal. Aku khawatir mereka menemukan keberadaan kita,” tegurnya.


“Pakai ini,” alih-alih menjawab, Adriano malah melemparkan salah satu setel pakaian tentara kepada Coco. Dirinya yang hanya memakai kaos putih tanpa lengan, segera mengenakan seragam itu dan melepas celana, lalu menggantinya dengan celana bercorak militer. Begitu pula dengan Coco, dia melucuti pakaiannya tanpa peduli sekitar, lalu menggantinya dengan seragam yang diberikan oleh Adriano.


“Ini juga,” Adriano menyodorkan masker berwarna hitam untuk Coco, sementara dia memakai satu masker lain pada wajahnya.


“Dari mana kau dapatkan ini?” tanya Coco sembari memasang maskernya.


“Dari dalam saku seragam tentara tadi,” jawab Adriano dengan entengnya.


“Astaga, aku memakai masker yang telah dipakai oleh para mayat,” keluh Coco tak percaya.


“Mereka tidak memakainya, Ricci. Santai saja,” menggunakan isyarat tangan, Adriano mengajak Coco memasuki gerbang yang terbuka. Mereka masuk bersamaan dengan beberapa tentara yang berlarian keluar.


“Where are they? What happen? (Di mana mereka? Apa yang terjadi?)” salah satu dari tentara bayaran itu menghentikan langkah Adriano dan bertanya dalam bahasa Inggris.


“They are dead. Somebody had attacked us. (Mereka telah mat. Seseorang telah menyerang kami)” jawab Adriano berbohong. Dia memperlihatkan sikap yang berpura-pura panik karena rekan-rekannya mati.


“Oh, ****! We have to find the plaque! (Sial! Kita harus menemukan pelakunya!)” orang tersebut mulai terlihat tegang. “You! Go find Nenad and warn him! (Kau! Carilah Nenad dan peringatkan dia!)” perintahnya dengan tegas seraya berlalu dari hadapan Adriano. Tak terkira betapa leganya perasaan Adriano maupun Coco pada saat itu. Kesempatan emas telah terbuka lebar di depan mata mereka.


“Dia menyuruh kita menemui Nenad. Sungguh kebetulan yang luar biasa,” bisik Coco yang langsung terdiam saat sekompi pasukan setengah berlari ke arahnya.

__ADS_1


Adriano dan juga Coco segera menunduk dalam-dalam sambil terus berjalan dengan tenang, ketika para pasukan itu melewati mereka begitu saja. Dua pria berparas rupawan itu melangkah dengan gaya yang dibuat santai agar tak mencurigakan siapa pun. “Harus mencari ke mana kita?” tanya Coco lagi.


“Entahlah, tapi menurutku sangatlah mudah mencari seorang pimpinan. Dia pasti berdiam di tempat yang nyaman dan tinggi,” Adriano menggerakkan dagunya ke arah sebuah gedung yang berada agak jauh dari tempat mereka berdiri.


“Di sana?” tunjuk Coco.


“Ya,” jawab Adriano singkat seraya menarik tangan Coco agar terus berjalan sambil mengawasi sekeliling. Di balik tembok itu, ternyata terdapat puluhan rumah yang tampak terbengkalai dan beberapa bangunan tinggi yang mengelilingi. Ada juga satu bangunan memanjang yang memiliki banyak jendela. Tiap sisi tembok bangunan itu berwarna kehitaman seperti bekas terbakar. Sementara banyak orang berseragam seperti dirinya berlalu lalang dan tak begitu memperhatikan kehadiran dua pria yang tengah menyamar itu.


“Astaga, ini seperti bekas wilayah perang,” Coco berdecak kagum sambil menyapu pandangan ke sekitar.


“Tetaplah fokus sebelum mereka mengetahui penyamaran kita, Ricci,” tegur Adriano pelan.


“Ah, ya. Kau benar,” Coco mengangguk dan kembali melangkahkan kaki menuju gedung.


Di samping pintu masuk gedung, berdiri dua orang penjaga dengan postur tinggi besar dan mengenakan seragam yang berbeda. Mereka berpakaian tempur lengkap berwarna hitam. Adriano sempat terdiam sejenak sebelum mendekati kedua orang tersebut.


Kedua orang tadi tak menjawab. Mereka malah mengamati Adriano dan Coco dengan saksama. Salah satu dari kedua penjaga itu kemudian berbicara dalam bahasa yang tidak Adriano mengerti. “They said that I should warn Nenad (Mereka mengatakan bahwa aku harus memperingatkan Nenad),” balas Adriano dengan asal.


Sesaat kemudian, salah seorang yang paling tinggi dari kedua pria tadi maju beberapa langkah, hingga wajahnya berada tepat di hadapan wajah Adriano. “Show me your bracelet! (Tunjukkan gelangmu!)” titahnya dengan nada dingin.


Coco melirik pada Adriano sembari menggeleng pelan.


“Bracelet?” ulang Adriano. Sementara orang yang berada di hadapannya itu tak menjawab. Dia malah mengokang senjata dan mengarahkannya tepat pada Adriano. Satu orang lainnya mengarahkan senapan kepada Coco.


“Mari kita bicarakan baik-baik,” Adriano mundur beberapa langkah lalu berjalan ke samping. Demikian pula Coco yang terus mengikuti setiap gerak Adriano. Namun, kedua orang tadi tampak ragu, antara mengikuti Adriano ataukah langsung menembak mereka di tempat.

__ADS_1


“Jika kau membuat kegaduhan di sini, maka teman-temanku akan datang mengeroyokmu,” ancam Adriano seraya menunjuk pada satu kompi pasukan, yang berseragam sama seperti dirinya dan tampak berbaris keluar tembok.


Pada akhirnya mereka lebih memilih mengikuti Adriano untuk berjalan ke samping gedung. Di tempat itu, suasana jauh lebih sepi dan tak terlihat seorang pun berlalu lalang. Adriano yang masih dalam posisi membelakangi kedua orang penjaga itu, tiba-tiba berhenti dan berbalik. Dengan gerakan yang teramat cepat, dia maju dan merebut pisau yang terselip di pinggang salah satu pria tadi.


Adriano merunduk dan menyayat pinggang pria di depannya hingga mengakibatkan luka terbuka. Darah mulai menetes di perut pria tersebut. Namun, Adriano tak berhenti. Dia lalu berpindah pada rekan pria tadi yang berdiri paling belakang. Dia melemparkan pisau berukuran besar tersebut tepat ke dada kirinya. Pria itu limbung dengan pisau tertancap.


Dengan sisa kekuatan, pria yang sudah terluka itu hendak menembakkan senapan. Akan tetapi, Adriano sigap merebut senjata darinya dan berbalik ke pria yang pertama kali dia serang. Adriano lebih dulu menembak pria itu sebelum dia menembaknya. Kedua tentara berseragam lengkap itu roboh tak bernyawa tepat di dekat kaki Coco yang hanya berdiri terpaku.


“Aku belum melakukan apapun, Amico. Tahu-tahu mereka sudah mati saja,” protesnya.


“Masih banyak yang harus kita hadapi di depan sana. Tenang saja, Ricci. Kau pasti akan mendapatkan bagianmu nanti,” hibur Adriano sambil tersenyum. “Lagi pula aku tahu jika kondisimu sedang tidak baik,” lanjutnya.


“Dari mana kau tahu?” Coco tertegun atas kalimat Adriano.


“Dari cara berjalanmu yang sedikit pincang,” jawab Adriano kalem.


“Ck, tak kusangka. Padahal aku sudah berusaha berjalan senormal mungkin,” gerutunya pada diri sendiri.


“Sudah kukatakan kemarin, seharusnya kau tak perlu memaksakan diri untuk menemaniku,” ujar Adriano seraya berjongkok, kemudian meraba-raba tubuh dua mayat yang tergeletak di depannya itu.


“Hei, apa yang kau lakukan?” Coco ikut berjongkok serta memperhatikan apa yang Adriano lakukan.


“Aku sedang mencari gelang yang mereka maksud,” jawab Adriano sambil memeriksa tiap-tiap pergelangan tangan si mayat.


“Apakah ini gelang yang mereka maksud?” Coco mengangkat salah satu pergelangan mayat itu. Dia menyingkap lengan panjangnya. Tampaklah gelang berbahan logam dengan warna perak. Di tengah-tengah gelang itu, terdapat semacam barcode yang terukir rapi.

__ADS_1


“Ya, betul,” Adriano tersenyum lebar sambil melepaskan gelang tersebut.


__ADS_2