Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Di Atas Ranjang Sang Pewaris


__ADS_3

Pierre menoleh tanpa membalikkan badan. Dia menatap wanita yang baru saja dirinya sentuh. Pria itu tahu bahwa Bianca pasti akan langsung membalas perlakuannya. Sebuah tamparan mungkin sepadan dengan sikap tak sopan tadi. Akan tetapi, apa yang Pierre pikirkan kali ini ternyata keliru. Bianca mendekat lalu menangkup rahang kokoh pria itu. Tanpa diduga, dia pun mencium bibir si pria untuk beberapa saat.


Merasa tak nyaman dengan posisinya, Pierre lalu membalikkan badan sehingga jadi menghadap kepada Bianca. Direngkuhnya pinggang wanita cantik tersebut dengan erat. Sejak kejadian terakhir kali saat di pesta malam itu, dia tak lagi mencium wanita manapun. Pierre terlalu sibuk dengan urusannya.


Namun, saat ini sepertinya dia ingin lebih dari sekadar berciuman. Pierre membawa Bianca menuju kamarnya yang bernuansa Eropa klasik. Kamar yang teramat nyaman, dan membuat wanita dua puluh sembilan tahun itu terlihat kagum dengan segala interior yang sangat artistik. Akan tetapi, Pierre mengajak Bianca ke sana tentu saja bukan untuk memamerkan kemewahan kamar yang dia tempati. Pria itu kembali melu•mat bibir manis wanita cantik tadi, sambil melepaskan blazer yang Bianca kenakan.


"Jadi, kau akan melakukan apapun demi kelangsungan bisnismu?" tanya Pierre yang merasa menang atas diri Bianca. Dia kembali merangkul mantan rekan bisnis Adriano tersebut, kemudian menurunkan tali kecil yang berada di pundak.


"Tutup mulutmu," sergah Bianca pelan. "Aku tahu kau sudah lama menginginkanku," ucap wanita bermata abu-abu itu masih tetap dengan nada bicaranya yang terkesan angkuh.


"Mari kita lihat, apa keangkuhanmu masih bisa kau andalkan atau tidak saat berhadapan denganku," tantang Pierre sambil melepas tank top hitam tadi ke atas.


"Keangkuhanku tak jauh lebih besar dari rasa penasaranmu padaku, Pierre," balas Bianca tak mau kalah. Dia juga membantu melepas kancing kemeja yang Pierre kenakan hingga terbuka lebar. Bianca lalu menanggalkannya, dan seketika menghadirkan rasa kagum atas bentuk tubuh atletis dari ajudan Adriano tersebut. Nalurinya sebagai seorang wanita normal tentu saja tak dapat dia sembunyikan. Tidak dipungkiri bahwa Bianca menyukai lengan serta dada yang terlihat sangat kokoh itu.


Jemari lentik wanita yang kini sudah setengah polos tersebut, bergerak perlahan menyusuri setiap pahatan kuat dan terlihat sempurna. Awalnya, Pierre hanya terdiam membiarkan Bianca yang terus menggerayangi setiap bagian tubuhnya. Namun, tak lama dia pun membalas dengan melakukan hal yang sama. Tangan kekar Pierre meraba permukaan kulit Bianca yang terasa begitu halus dan kencang. Setelah itu, jemarinya lalu bergerak turun untuk melepas pengait celana panjang yang Bianca kenakan.


Pierre kemudian menurunkan tubuh di hadapan wanita berambut panjang tadi. Dia mengecup penutup berbahan katun itu, lalu melepaskannya. Pierre pun akhirnya dapat menikmati sesuatu yang tersembunyi di balik kain tersebut dan menikmati aromanya yang khas, membuat Bianca tak ingin beranjak dari sana.

__ADS_1


Wanita yang selalu menunjukkan sikap angkuhanya, kini bertekuk lutut dan tak berdaya ketika Pierre yang menjadi si pemegang kendali. Dia pasrah dan menurut, bahkan ketika pria tampan putra pemilik mansion tersebut menggiringnya hingga ke tempat tidur. Bianca yang bangga akan kesombongannya, bukan apa-apa lagi di atas ranjang sang pewaris tahta kerajaan bisnis D'aurville.


Entah akan bermimpi apa nanti malam. Petang ini mereka sambut dengan tak biasa. Lenguhan panjang nan manja meluncur dari bibir ketus Bianca, ketika Pierre menyatukan diri terhadapnya. Telah sekian lama mereka berdua sama-sama tak mereguk kenikmatan seperti itu.


Bianca pun tak dapat berkata-kata, ketika dia merasakan sesuatu yang memenuhi dirinya. Pierre telah membuat dia teramat sesak, bahkan seakan hendak menghujam hingga ke jantung. Ngilu tapi terasa nyaman. Bianca lalu meringis kecil saat dirinya mendapatkan hentakan pertama. Perlahan, Pierre tahu bagaimana cara mengatur ritme gerakan, agar membuat Bianca dapat sama-sama menikmati penyatuan mereka.


Bianca menjadi gelisah. Tak bisa dipungkiri bahwa pria yang kini berada di atas tubuhnya itu benar-benar luar biasa. Tak bosan-bosan wanita cantik tersebut meraba badan atletis, dengan pahatan-pahatan sempurna yang terasa begitu keras dan padat. "Pierre ...." de•sahnya dengan suara yang parau, ketika lajang menawan tadi membuat dia melayang untuk pertama kali.


Erangan demi erangan terus meluncur dari bibir si wanita yang kini telah sepenuhnya merasa takluk. Suara-suara yang terdengar begitu sensual, mengisi kamar mewah nan luas dengan suasana cahaya temaram. Namun, Bianca masih dapat melihat jelas, senyuman penuh kepuasan dari pria yang tengah membawanya dalam nuansa penuh keindahan surga dunia.


Tak perlu diminta atau dikomando. Bianca tahu bagaimana cara memposisikan diri untuk mendapatkan rasa ternyaman. Jika sudah seperti itu, tak ada gunanya terus mempertahankan sikap angkuh yang selama ini menjadi ciri khasnya. Wanita cantik tersebut terus meminta agar Pierre tak berhenti. Dia menginginkan lebih.


Beberapa saat berlalu. Entah berapa kali Bianca merasakan tubuhnya merinding saat berada di puncak gairah. Dia bahkan telah membasahi bed cover yang melapisi kasur empuk milik Pierre. Orgas•me berkali-kali, membuat wanita itu tak dapat menahan air seninya sendiri. Hal itu membuat Pierre semakin merasa puas.


Runtuh sudah segala kesombongan Bianca selama ini hanya dalam waktu kurang lebih satu jam saja. Lenyaplah senyuman sinis yang teramat ketus, tersiram oleh kehangatan Pierre yang membasahi bagian terindah dari dirinya. Bianca terkulai tak berdaya di bawah kepuasan seorang Pierre, sang ajudan yang kaya raya. Sebuah ciuman hangat pun menutup ritual manis petang itu.


"Jadi, kau akan kembali ke Monaco besok?" tanya Pierre dengan tangan membelai lembut punggung Bianca yang terbaring di atas tubuhnya.

__ADS_1


"Iya. Aku kemari hanya untuk menjenguk keadaan ibu. Dia baru berulang tahun tiga hari yang lalu," jawab Bianca. Nada bicara wanita itu tak seketus biasanya.


"Aku belum bisa kembali ke Monaco. Lagi pula, tuan D'Angelo masih berada di Italia. Aku juga tidak bisa meninggalkan ayah dalam kondisi seperti saat ini," ucap Pierre dengan tatapan yang sesekali tertuju pada tubuh indah Bianca yang masih polos. "Kau jauh lebih manis jika seperti ini," rayunya.


"Jangan menggodaku," tolak Bianca. Dia lalu bangkit dari atas tubuh Pierre yang juga sama polos. Dilihatnya permukaan kasur yang basah tadi. "Astaga," keluh wanita itu seraya mengempaskan napas pelan.


"Kau sudah mengotori kasurku. Bagaimana bukti tanggung jawabmu?" ejek Pierre.


"Kau yang membuatku seperti itu," sanggah Bianca ketus. Dia menyembunyikan rasa malu dalam diri. "Di mana kamar mandinya?" tanya wanita itu kemudian sambil beranjak turun dari tempat tidur.


Pierre hanya tersenyum kalem seraya ikut turun. Dia lalu menuntun Bianca menuju pintu di sudut kamar. Keduanya membersihkan diri di dalam sana menggunakan air hangat, karena udara musim gugur yang dingin.


"Tuan!" Terdengar ketukan di pintu kamar. "Kondisi tuan besar tiba-tiba memburuk!" Seorang pelayan berseru dengan panik dari luar.


🍒 🍒 🍒


Satu rekomendasi novel lagi untuk melengkapi koleski bacaan. Mari cek 😉

__ADS_1



__ADS_2