
“Siapa dia, Mia?” tanya Adriano lagi. Kali ini nada bicaranya terdengar penuh penekanan.
Mia tersadar, lalu menoleh kepada suaminya. “Dia adalah ....”
“Namaku Carlo. Valentino adalah saudara kembarku,” sela pria itu. “Sepertinya kau salah paham, Mia. Valentino tidak hidup lagi,” pria bernama Carlo itu mencoba melontarkan candaan.
“Apa?” Mia mengalihkan tatapannya pada Carlo. “Vale memiliki saudara kembar?” Mia mengernyitkan keningnya dan terlihat tak percaya.
“Ya, mungkin dia tak pernah menceritakannya padamu. Orang tua kami bercerai saat aku dan dia masih balita. Valentino ikut dengan padre, lalu padre menikah lagi. Begitu pula dengan mio madre (ibuku),” tutur Carlo.
“Setelah ibuku menikah, aku ikut dengannya dan tinggal di Swiss. Akan tetapi, hubunganku dengan Vale sangat baik. Kami sering berkirim pesan dan bertelepon. Terakhir, saat dia akan menikah denganmu, dia mengirimkan foto kalian berdua dalam balutan gaun pengantin. Sayang sekali aku tak bisa hadir, karena madre sedang sakit,” sambung Carlo menjelaskan.
“Adakah yang bisa menjelaskan padaku apa yang terjadi sebenarnya?” rasa penasaran dan cemburu bercampur menjadi satu dalam dada Adriano saat itu.
“Adriano,” Mia seakan ragu untuk memberikan penjelasan pada suaminya, karena itu berarti bahwa dia akan kembali mengorek luka dan trauma yang telah lama dia pendam. Namun, bagaimanapun, Adriano tetap membutuhkan sebuah penjelasan.
“Dia adalah saudara kembar Valentino, pria yang menikah denganku untuk pertama kali, sebelum aku menikah dengan Theo. Dia tewas di pesta pernikahan kami bersama ayahku. Mereka meninggal di hari yang sama,” terang Mia pelan.
Adriano tertegun untuk beberapa saat sebelum kembali menguasai diri. “Jadi, pria ini ....” kata-katanya terjeda, sedangkan telunjuknya mengarah ke makam yang berada di depannya.
“Iya, dia Valentino. Mendiang suami pertamaku,” jelas Mia.
“Sebenarnya, kurang tepat jika kau menyebutnya sebagai suami, karena aku tahu, Vale belum sekalipun menyentuhmu sampai ajalnya,” sela Carlo dengan nada bicara yang terdengar sangat aneh, membuat Mia dan Adriano segera menoleh secara bersamaan ke arahnya.
__ADS_1
“Ya, aku tahu segalanya. Valentino selalu menceritakan padaku setiap detailnya tentang kalian berdua. Betapa bahagia kakakku, saat akhirnya kau bersedia menerima pinangannya. Namun, dia juga merasa sedih ketika kau seperti tak ingin didekati olehnya,” ujar Carlo. Sorot matanya terlihat sendu.
“Aku ....” Mia tampak salah tingkah. Dia tak tahu harus berkata apa.
“Tidak apa-apa, Mia. Vale sudah bahagia sekarang. Hidupnya sudah tenang, apalagi jika melihatmu dalam keadaan seperti saat ini. Sejujurnya, aku begitu terpesona ketika melihatmu secara langsung. Kau jauh lebih cantik jika dibandingkan dengan dirimu di dalam foto,” sanjung Carlo. Sorot sendunya berganti dengan tatapan kagum.
“Ehm,” Adriano berdehem sembari mengeratkan genggaman tangannya pada jemari mungil Miabella. “Sepertinya kita akan gagal jalan-jalan hari ini, Principessa,” celetuknya.
“Kenapa, Daddy Zio?” bibir mungil Miabella melengkung, seolah menunjukkan kekecewaannya pada sang ayah sambung.
Belum sempat Adriano menjawab, Mia sudah lebih dulu berkata, “Jangan dengarkan dia, Bella. Kita akan berkeliling Venice sebentar lagi.”
Setelah itu, Mia maju beberapa langkah dan menangkupkan kedua tangannya. Dia berdoa begitu khusyuk untuk Valentino. Selesai berdoa, dia mengangguk pada Carlo dan mengajaknya bersalaman. “Sampai jumpa di lain waktu, Carlo. Sampaikan salamku untuk paman dan bibi,” ucapnya.
Carlo masih saja dengan tatapan penuh kekaguman terhadap Mia. Dia memandang wanita yang pernah menikah dengan saudara kembarnya, yang melingkarkan tangan pada lengan Adriano dan mulai berjalan menjauh. “Tunggu!” cegahnya tiba-tiba dengan suara cukup nyaring. “Bolehkah aku meminta nomor teleponmu? Um ... hanya sekadar untuk bertukar kabar saja,” pinta Carlo.
“Grazie,” bisik Mia. Dia lalu menyebutkan deretan angka yang segera disimpan ke dalam ponsel oleh Carlo.
“Grazie, Mia. Grazie, Tuan ....” Carlo mengulurkan tangannya pada Adriano.
“Adriano,” balasnya. “Adriano D’Angelo,” sahut pria bermata biru itu mencoba untuk tetap terlihat ramah dan tenang.
“Baik, Signore D’Angelo. Kalian berdua sungguh pasangan yang serasi,” puji Carlo lagi. Sesekali mata bulat pria itu melirik pada Miabella yang bersembunyi di balik tubuh tegap ayah sambungnya.
__ADS_1
“Sampai jumpa lagi, Carlo,” pamit Mia sambil berlalu bersama keluarga kecilnya. Mereka meninggalkan tempat pemakaman yang diiringi oleh tatapan penuh arti dari saudara kembar Valentino Diori tersebut.
Di dalam kendaraan, setelah membantu Miabella duduk di kursi khusus balita dan memasangkan sabuk pengaman, Adriano sempat terdiam untuk beberapa saat. Dia masih mengingat-ingat wajah Carlo berikut kata-kata manisnya untuk Mia.
“Ayo, Daddy Zio. Cepat jalan. Aku ingin melihat kapal laut,” ajak Miabella yang mulai tak sabar.
“Ah, ya, maafkan aku, Principessa,” Adriano tersenyum melalui kaca spion tengah, kemudian menyalakan mesin mobil. Sesekali dia melirik pada Mia yang menjadi lebih pendiam sejak bertemu dengan Carlo.
“Rupanya, bertambah satu lagi penggemarmu, Sayang. Setelah Juan Pablo, kini ... pria itu,” Adriano menggelengkan kepalanya pelan sembari terkekeh.
“Tidak juga, Sayang. Itu belum apa-apa, karena penggemarmu jauh lebih banyak dariku,” balas Mia. “Bianca, Carina, Olivia ... dulunya, meskipun sekarang tidak dan si cantik pemilik butik yang selalu memandangmu tanpa berkedip. Ah, siapa namanya, aku lupa?" pancing Mia dengan nada menyindir.
Adriano terbahak mendengarnya. “Tak kusangka kau sampai menghitung segala,” ujarnya menahan tawa. "Sudahlah, aku juga tak harus terus mengingat mereka. Lagi pula, sekarang aku sudah menikah jadi ...."
“Ya tentu saja. Namun, kenyataannya setelah menikah pun masih banyak wanita yang mengerubungimu. Entah bagaimana dulu kehidupan yang kau jalani sebelum bersamaku,” gerutu Mia pelan sembari memalingkan wajahnya ke jendela.
“Kau sungguh ingin tahu, Mia? Baiklah, akan kuberi tahu. Sebelum bertemu denganmu, ada banyak wanita yang mengelilingiku. Aku sampai lupa berapa jumlahnya karena memang tak sempat untuk menghitung mereka,” entah kenapa Adriano mengucapkan kalimat seperti itu pada Mia. Namun, dengan segera dia sungguh-sungguh menyesali ucapannya tadi. Kenyataannya, rasa cemburu atas sikap Carlo terhadap Mia, sedikit banyak mengganggu kewarasan Adriano dalam berpikir. “Maaf, Sayang. Aku tak bermaksud ....” Adriano terpaksa menghentikan kalimatnya, ketika terdengar nada dering pesan dari ponsel yang berbunyi cukup nyaring.
Sambil memecah konsentrasi dalam berkendara, Adriano meraih ponsel dari saku kemeja dan membuka pesan yang muncul di sana. Sebuah pesan dari Juan Pablo disertai lampiran foto yang akan cukup membuat orang normal bergidik ngeri. Foto itu tak lain adalah gambar mayat Lionel dengan tubuhnya yang sudah dalam keadaan terkoyak. Tepat di bawah foto itu, terdapat kata-kata kiriman dari Juan Pablo.
‘Hadiah untuk anda, tuan D’Angelo’.
Adriano terpaku untuk beberapa saat. Raut wajahnya seketika terlihat tegang saat itu.
__ADS_1
“Siapa yang mengirim pesan? Apakah dari salah satu penggemarmu?” sindir Mia dengan kalimat penuh curiga.
“Ah tidak, Sayang. Bukan siapa-siapa,” elak Adriano sedikit tergagap. Jelas tidak mungkin dia akan menunjukkan foto sadis itu pada istrinya. Dengan segera, Adriano kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku dan tak lagi membahas hal itu. Namun, dari apa yang dikirimkan pria asal Meksiko tersebut kirimkan untuknya, seketika membuat Adriano waspada dan penasaran akan siapa sosok Juan Pablo sebenarnya.