Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Young Souldiers


__ADS_3

"Apa yang akan kita lakukan sekarang? Apa kau ingin melanjutkan pencarian di sini?" tanya Coco setengah berbisik. Sesekali, tatapannya mengawasi sekeliling tempat tersebut yang mulai diselimuti suasana petang.


"Tidak," jawab Adriano dengan segera. "Sebaiknya kita kembali ke Casa de Luca," putusnya sambil melangkah ke dekat pintu sopir. Sebelum membuka pintu tersebut, Adriano sempat mengedarkan pandangan ke segala arah. Dia tahu bahwa saat ini ada seseorang yang tengah mengawasi pergerakannya, tapi entah siapa dan bersembunyi di mana. Tanpa membuang waktu lagi, pria bermata biru itu pun segera masuk. Sementara Coco sudah terlebih dulu berada di dalam.


"Jangan khawatir. Kita pasti akan segera menemukannya," ujar Coco seraya menoleh kepada Adriano yang sudah menyalakan mesin mobil. Tanpa menanggapi ucapan dari pria di sebelahnya, Adriano langsung saja menjalankan kendaraan untuk meninggalkan tempat tersebut. Dia memacu jeep wrangler itu dengan kecepatan tinggi, karena khawatir bahwa drone itu hanya sebagai pengalih perhatian atau untuk mengecohnya.


“Akan tetapi, bisa saja si pemilik drone itu memang sengaja mengarahkan kita ke danau tadi, agar dia leluasa memasuki Casa de Luca,” ujar Coco beberapa menit kemudian.


"Aku pun berpikir demikian. Karena itulah, kita harus segera kembali. Apalagi orang-orangku belum tiba di sana," Adriano membenarkan pemikiran Coco. Tak ada yang lain di dalam benak pria bermata biru itu selain Mia dan juga Miabella. Semakin dirinya mengingat mereka, semakin erat pula tangannya saat mencengkeram kemudi. Namun, pada akhirnya Adriano dapat bernapas dengan lega, ketika dirinya telah memasuki gerbang kemudian segera memarkirkan kendaraan itu di halaman depan Casa de Luca.


Damiano dan juga Emiliano berdiri di sana dalam keadaan was-was. Langkah Damiano tertarih menuruni tangga, berniat menyambut Adriano dan Coco yang baru saja turun dari jeep kesayangan mendiang Matteo. “Mia menceritakan semuanya kepadaku. Bagaimana, Nak?” tanya pria dengan rambut dan janggut yang sudah memutih itu dengan raut khawatir.


“Apakah Mia baik-baik saja?” Adriano tak menanggapi pertanyaan Damiano. Dia justru malah balik bertanya dengan kedua tangan memegang lengan Damiano.


“Istrimu baik-baik saja. Sekarang dia tengah menidurkan Miabella di kamarnya,” jawab Damiano dengan senyuman hangat tersungging dari bibir berhiaskan kumis yang juga telah memutih.


“Apa yang kalian temukan di sana?” Emiliano yang sedari tadi hanya terdiam memperhatikan, kemudian berjalan mendekati mereka.


“Sebaiknya kita masuk saja dulu. Hari sudah mulai gelap,” ajak Coco yang segera berbalas sebuah anggukan dari ketiga pria lainnya. Mereka setuju dan mengikuti langkah Coco menuju ruang tengah.


Di sana, dia memilih untuk merebahkan tubuh di atas sofa, sementara Damiano dan Emiliano masih penasaran menunggu ceritanya.


“Aku dan Ricci tidak menemukan apapun di sana. Sepertinya, pemilik drone itu memang sengaja mempermainkan kami,” keluh Adriano seraya menggaruk keningnya.


“Akan tetapi, aku tak mau mengambil risiko, Damiano. Aku sudah memerintahkan anak buahku untuk ikut menjaga Casa de Luca,” lanjutnya.


“Aku juga sudah menghubungi Zucca dan beberapa anak buahnya. Paling tidak, malam ini mereka akan tiba,” sahut Coco masih dengan posisi telentang dengan lengan kanan di atas wajah sehingga menutupi matanya.


“Apakah keadaannya segenting itu, Nak?” Emiliano ikut mendudukkan diri di salah satu sofa panjang yang masih kosong.


“Entahlah. Namun, aku hanya ingin berjaga-jaga. Aku belum tahu dengan pasti siapa yang sedang kita hadapi saat ini,” tutur Adriano pelan.


“Akan kusiapkan senjata-senjataku, seandainya keadaan semakin berbahaya,” Damiano mengempaskan napas pelan sambil berniat meninggalkan ruang tengah.


Namun, Adriano lebih dulu menahannya.


“Tunggu Damiano," cegah Adriano. "Ada sesuatu yang ingin kubicarakan lebih dulu denganmu,” ujar pria itu hati-hati.

__ADS_1


Sepasang mata tua Damiano menatap Adriano penuh tanda tanya. “Ada apa lagi, Nak? Kau terlihat sangat serius," Damiano kembali duduk di tempatnya tadi.


“Aku tak ingin mengambil risiko. Casa de Luca kini bukan lagi pusat kegiatan organisasi. Istana ini hanyalah tempat untuk aktivitas perkebunan. Jujur saja, kalian tak memiliki pengamanan sebagus dulu meskipun masih ada penjagaan ketat di gerbang pertama dan kedua,” tutur Adriano khawatir.


“Itu karena Marco memindahkan semuanya ke Palermo. Di sini, hanya ada puluhan penjaga dengan pengamanan seadanya. Lagi pula, siapa yang akan menyerang perkebunan anggur? Tak ada apapun yang penting di sini,” elak Damiano mencoba untuk tetap terlihat tenang.


“Apa tidak lebih baik kau ikut bersamaku dan Mia, Damiano,” tawar Adriano.


“Ke mana?” Damiano terkekeh pelan. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah dia ketahui jawabannya. Dia sudah dapat menebak jika Adriano akan mengajaknya meninggalkan Casa de Luca. Akan tetapi, berat rasanya bagi Damiano untuk jauh dari tempat yang menyimpan sejuta kenangan tentang anak asuhnya, Matteo.


“Ikutlah, Damiano. Kau juga, Tuan Emiliano. Ada baiknya kalian berdua liburan dulu hingga kondisi di sini kembali aman. Biar aku yang mengurus perkebunan,” bujuk Coco sambil bangkit dan duduk bersandar. Dia terlihat lelah. Wajah dan rambutnya sedikit acak-acakan.


“Entahlah, Nak. Aku merasa bahwa Casa de Luca adalah tanggung jawabku, sehingga aku harus menjaganya meskipun nyawa menjadi taruhan” gumam Damiano dengan kepala tertunduk.


“Siapa yang memerintahkanmu demikian?” Adriano mendekat dan memiringkan kepalanya agar dapat melihat dengan jelas sorot mata Damiano.


“Seandainya Matteo masih hidup, aku yakin bahwa dia juga akan melarangmu bekerja terlalu berat, Damiano. Terlebih jika dia melihat kondisi kesehatanmu yang baru saja pulih,” ujar Coco.


“Kau adalah yang dituakan di sini. Kau juga merupakan panutan kami. Seharusnya, kamilah yang berkewajiban untuk menjaga rumah dan perkebunan ini beserta segala isinya. Sudah saatnya kau beristirahat, Damiano. Kau harus sehat dan berumur panjang, karena kami masih membutuhkan petuahmu,” timpal Adriano.


Sedangkan Emiliano hanya terdiam mendengar penuturan Adriano. Matanya berkaca-kaca. Dia membayangkan andai saja perhatian dan kekhawatiran itu ditujukan padanya. Diam-diam, pria paruh baya tersebut menyentuh sudut matanya yang basah. Dia tak ingin Adriano melihatnya menangis dan membuat image lemah semakin melekat dalam dirinya.


“Kau juga, Padre. Akan lebih aman jika kau pulang ke rumah. Ajaklah Gianna untuk menjagamu. Dia bisa diandalkan. Nanti sepulang dari Monaco, aku akan menempatkannya di salah satu klub malamku yang berada di Roma,” tutur Adriano. Nada bicaranya jauh lebih hangat dan bersahabat dibanding beberapa waktu sebelumnya.


“Aku menurut saja apa kata kalian,” Emiliano segera mengusap wajahnya dan tertawa pelan, seakan tak terjadi apa-apa.


“Jangan khawatir. Kami akan tetap menggajimu meskipun kau tak datang kemari,” Coco tersenyum lebar. Sedikit banyak dia mengerti kekhawatiran Emiliano.


“Bagaimana, Damiano?” Adriano kembali beralih pada ayah asuh Matteo. “Aku sangat berharap kau bersedia untuk ikut bersama kami. Miabella pasti akan sangat senang. Bukankah aku juga berjanji akan mengajakmu berlibur ke Yunani?” tak putus asa dia membujuk Damiano.


“Ayolah, Damiano. Percayakan semuanya padaku. Aku jauh lebih cerdas dari yang kau kira,” ujar Coco yang mendukung perkataan Adriano.


Damiano tampak berpikir sejenak. Sesekali dia mengusap kepalanya lalu memperhatikan Adriano dan Coco secara bergantian. “Bene (baiklah). Sepertinya berlibur ke Yunani bukanlah ide yang terlalu buruk,” sahut pria tua itu terkekeh pelan. Selama ini dia memang tak pernah meninggalkan Italia. Sekalinya keluar dari Casa de Luca pun hanya untuk mengunjungi sanak saudaranya di kota Turin.


“Syukurlah,” Coco berdiri kemudian menepuk pelan punggung pria yang telah dia anggap sebagai pengganti sosok ayahnya.


Sesaat kemudian, seorang pengawal Casa de Luca menghampirinya. “Signor Coco. Ada yang mencari Signor Adriano,” bisiknya.

__ADS_1


“Siapa?” Coco berbalik ke arah pengawal tersebut dan mengernyitkan kening.


“Mereka mengaku bernama Dante dan Serafino,” jawab pengawal itu penuh hormat.


“Suruh mereka masuk. Keduanya memang sengaja kupanggil kemari untuk turut menjaga tempat ini,” sahut Adriano.


“Baik, Signor,” pengawal itu segera meraih alat komunikasi dan menghubungi rekannya yang berjaga di gerbang pertama. Sesaat kemudian, dia pamit kembali ke tempatnya.


Tak berapa lama, pengawal yang lain datang menggantikan. Namun, kali ini tidak sendirian. Dia berjalan mengiringi dua orang pria jangkung yang terlihat masih sangat muda. Dua orang itu memiliki tato yang memenuhi sekujur tubuh dan hanya bagian wajahnya saja yang bersih dari rajah.


“Buona Sera, Bos,” sapa dua orang itu bersamaan.


“Selamat juga untuk kalian,” Adriano menyambut mereka dengan jabat tangan, kemudian mengarahkan dua pemuda itu untuk berkenalan dengan Damiano dan Coco.


“Come sta? (Apa kabar?) Perkenalkan, namaku Serafino,” seorang pria berambut gelap dan ikal maju, kemudian menyalami Damiano serta Coco secara bergantian.


“Tuan Emiliano Moriarty,” sapa Dante, pria muda satu lagi. Dia mengangguk dan memberi hormat kepada ayah kandung Adriano.


“Mi chiamo Dante (nama saya Dante),” giliran pemuda itu memperkenalkan diri. Wajah pemuda tersebut cukup tampan dengan iris mata berwarna hijau dan rambut lurus kecoklatan.


“Apa kau membawa anak-anakmu kemari?” tanya Adriano. Kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku celana.


“Tentu saja, Bos,” jawab Dante dengan santainya.


“Anak-anak siapa?” Coco berdiri dan mendekati Adriano, lalu meletakkan tangannya di pundak Adriano. Sementara pria bermata biru itu hanya melirik dan mengela napas pelan.


“Anak-anakku adalah beberapa ekor anjing peliharaanku, Signor. Akan tetapi, Anda tak perlu khawatir. Aku akan tetap menjaga kebersihan di tempat ini. Anak-anakku sangat cerdas dan terlatih,” jelas Dante.


“Mereka adalah dua dari sekian banyak prajurit terbaikku,” puji Adriano bangga.


“Baguslah. Jika ditambah dengan kedatangan Zucca beserta anak buahnya dari Palermo yang akan tiba sebentar lagi, maka aku yakin jika Tangan Setan beserta drone-dronenya tak akan bisa menembus Casa de Luca,” pungkas Coco tak kalah jumawa. "Selain itu, aku merasa kembali muda," celotehnya sambil tertawa. Tak dihiraukannya tatapan tajam Damiano serta Emiliano.


🍒🍒🍒


Hai, hai, ini ceuceu bawakan lagi rekomendasi novel keren.


__ADS_1


__ADS_2