
Adriano mendekap erat tubuh Mia untuk beberapa saat, sampai wanita yang amat dia cintai itu benar-benar merasa tenang. “Mia, aku bukan Matteo. Aku akan selalu menjaga diri agar terus bisa terus bersamamu. Namun, tentu saja kita tak bisa melawan takdir. Aku, kau, dan semua orang harus terus mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Beginilah risiko bagi orang-orang seperti kami yang hidup di dunia hitam. Kematian akan senantiasa mengintai. Aku hanya ingin kau terus belajar untuk dapat menguatkan dirimu. Sementara aku juga dengan sekuat tenaga akan terus menjaga dan berada di sampingmu,” hibur Adriano.
“Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku,” lirih suara Mia di sela tangisnya yang semakin kencang.
“Maaf untuk apa?” Adriano semakin mempererat pelukannya.
“Untuk semuanya. Aku lebih banyak memberikan luka padamu ....” Mia tak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena Adriano sudah lebih dulu membungkamnya dengan sebuah ciuman. Tak puas, Adriano meletakkan laptop di atas laci, lalu melanjutkan ciumannya yang panas dan tanpa jeda hingga Mia terengah dan sedikit memberontak.
“Hentikan, Adriano,” pinta Mia lirih, tapi sang suami tak mengindahkannya. Pria itu terus saja menyerang bibir Mia, mencium dan mencecapnya sampai-sampai terasa kebas. Kedua tangan kekar Adriano mencengkeram pergelangan tangan Mia yang berada di sisi tubuhnya.
“Ini hukuman untuk semua kata-katamu, Mia,” Adriano menghentikan ciumannya, lalu menatap Mia dengan tajam. “Luka yang kau torehkan seketika sirna, saat dirimu mengatakan bersedia menjadi istriku. Lagi pula, hanya perutku yang kau lukai, bukan hatiku,” seringainya. Adriano kembali mendekatkan bibirnya pada bibir ranum Mia, “Namun, semuanya sepadan dengan yang aku dapatkan, yaitu dirimu,” hembusan napas Adriano terasa hangat menerpa permukaan wajah Mia, membuat kecemasan wanita itu memudar secara perlahan hingga akhirnya hilang sama sekali.
Mia menarik napas panjang, lalu menarik pergelangannya dari cengkeraman tangan Adriano. Dia memeluk tubuh atletis itu dengan cukup erat. Dirasakannya aroma yang menguar dari sang suami. Itu merupakan sesuatu yang entah kenapa selalu membuat Mia dapat merasa begitu tenang.
“Tidurlah,” bisik Adriano. Dia berpindah posisi ke samping Mia dan berbaring menghadap sang istri. Jemarinya lembut mengusap alis dan kening Mia sampai wanita itu memejamkan mata dan tertidur.
Sementara itu, pada salah satu dari sekian kamar tamu yang tersedia di mansion Adriano, ruangannya masih terlihat benderang. Coco tampak sibuk dengan peralatan elektroniknya di meja khusus yang telah disediakan oleh sang pemilik mansion.
Di saat orang lain tertidur lelap, pria berambut ikal itu malah asyik merakit beberapa alat berukuran mini yang menyala merah di bagian tengahnya. Dengan teliti dan hati-hati, Coco menyolder benda-benda kecil itu, lalu tersenyum puas setelahnya. Dia kemudian melanjutkan pada sebuah benda yang mirip dengan remote televisi dan mengutak-atik benda tersebut.
Selesai dengan remote, Coco meraih jam tangan Adriano yang sudah dalam posisi dia bongkar. Sebelumnya, Coco sudah meminta izin untuk memodifikasi jam tangan mahal kesayangan Adriano tersebut.
Dari jam tangan, Coco beralih pada ponsel dan laptop pribadinya. Dia mengetikkan sesuatu pada keyboard dengan alis yang bertaut. Wajahnya begitu serius mengamati layar. Coco bahkan sampai harus mendekatkan dirinya pada layar laptop.
Selama berjam-jam, Coco duduk di depan perangkatny, hingga tak terasa waktu sudah merangkak pagi. Dia baru tersadar saat alarm di samping ranjangnya berbungi nyaring dan menunjukkan angka enam.
Coco baru beranjak dari tempatnya untuk mematikan alarm tersebut. Akan tetapi, setelah itu dia kembali ke tempat semula dan melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Beberapa saat kemudian, dia tersenyum sembari berkata, “Berhasil!”
Bertepatan dengan selesainya pekerjaan itu, terdengar ketukan di pintu kamar, saat Coco merenggangkan tangan dan punggung.
Sambil menguap, dia bangkit kemudian berjalan malas-malasan ke arah pintu. “Astaga, Adriano. Ini masih pagi dan kau sudah serapi ini?” Coco mengamati dari pucuk kepala hingga kaki dengan sorot keheranan. Kekasih dari Francesca tersebut berdecak sebanyak tiga kali. Adriano hanya menanggapi ucapan Coco dengan sebuah tatapan kalem. Pria rupawan bermata biru itu terlihat sangat menawan dengan kemeja biru muda dan celana berwarna navy. “Apa kau akan pergi jogging, Amico?” tanya Coco seraya menggaruk-garuk rambutnya.
__ADS_1
Adriano tak menjawab. Dia malah melipat kedua tangannya di dada dan memandang penuh selidik ke arah Coco. “Di mana jam tangan kesayanganku?” tanyanya.
“Lihat saja di meja,” tunjuk Coco. Dia berjalan mendekat tempat yang baru saja ditunjuknya, lalu mengambil jam tangan mahal yang tergeletak begitu saja di atas meja. “Sudah kutanam alat penyadap suara di dalam sana,” jelasnya seraya menyodorkan benda itu kepada Adriano yang telah berdiri di belakangnya.
“Apa kau kau juga menanam sekalian alat pelacaknya?” Adriano mengernyitkan kening.
“Tempatnya tak cukup luas, jadi aku memasangnya di sini,” Coco meraih sebuah bulatan yang amat kecil dan menaruhnya di saku kemeja Adriano.
“Apa hanya satu alat pelacak dan penyadap?” Adriano melirik ke arah meja dan memperhatikan satu persatu benda-benda aneh yang berserakan di atasnya.
“Aku tidak bodoh, Amico. Kau akan membutuhkan banyak alat penyadap dan pelacak,” Coco meraup puluhan benda-benda kecil itu, lalu memberikannya pada Adriano.
“Alat-alat pelacak itu sudah kuhubungkan dengan ponsel dan laptopku. Kau bisa memasangnya ke tubuh siapa pun yang kau curigai, sementara aku akan mengawasinya dari sini,” terang Coco, membuat Adriano tersenyum lebar.
“Tak kusangka, di balik sifat konyolmu itu ternyata kau sangat jenius, Ricci,” pujinya.
“Oh, tentu saja. Aku hanya tidak sepertimu yang selalu ingin terlihat keren. Ada satu hal lagi,” Coco kemudian memungut remote berwarna hitam. “Tekan ini jika dibutuhkan,” ujarnya.
Coco tak segera menjawab, dia malah mengeluarkan sebuah benda persegi berukuran sedang yang penuh dengan kabel. “Kotak ajaib ini bisa meledakkan mobil atau rumah dalam sekali tekan,” dia menunjuk pada salah satu tombol berwarna biru pada remote tersebut. “Ingat, gunakan hanya jika kau benar-benar membutuhkannya dan dalam keadaan terdesak,” imbuh Coco penuh penekanan.
“Kata-kata yang amat bijak. Baiklah, aku mengerti. Sekarang, mari kita berangkat,” sahut Adriano.
“Ke mana? Aku belum mandi dan juga tidak tidur semalaman. Aku bahkan belum menghubungi Francesca,” tolak Coco dengan segera.
“Kita berangkat ke Inggris sekarang,” jawab Adriano kalem.
“Sekarang?” Coco membelalakkan mata, seakan tak percaya atas apa yang baru saja pria tampan itu katakan. “Bukankah kita akan pergi besok?” protesnya lagi.
“Tadinya, tapi aku memajukan jadwal supaya Mia tak terus-terusan merajuk karena kedatangan Bianca,” jelas Adriano.
“Siapa Bianca?” tanya Coco.
__ADS_1
“Sudahlah. Kuberi waktu tiga puluh menit untuk bersiap-siap,” ucap Adriano sembari melangkah keluar dari kamar Coco. Dia tak ingin mendengar protes lagi dari pria berambut ikal tersebut.
Sementara Coco hanya mengempaskan napas pelan penuh keluhan. "Oh, Theo. Suami baru istrimu benar-benar menyebalkan," gumamnya.
Seusai sarapan, mereka kembali melakukan persiapan untuk keberangkatan ke Inggris. Mia dapat sedikit tersenyum lega, karena ternyata Bianca akan langsung menuju ke Birmingham, meskipun kenyataannya mereka tetap satu pesawat.
"Kau senang, Sayang?" Adriano menggendong Miabella menuju helikopter yang akan membawa mereka ke Perancis, karena dari sanalah keberangkatan dimulai.
"Iya, Daddy Zio. Apa kita akan berjalan-jalan di sana?" tanya gadis kecil itu sambil terus memeluk boneka kesayangannya.
"Tentu. Kita akan bersenang-senang di sana," sahut Adriano seraya mendudukan gadis kecil itu dan memasangkan sabuk keselamatan di tubuh mungilnya.
"Apa paman Ricci akan ikut jalan-jalan dengan kita?" tanya Miabella lagi dengan polos.
"Jika kau tak mau, maka kita tak akan mengajaknya," sahut Adriano tenang, tetapi membuat Coco segera melayangkan protes melalui tatapannya kepada suami dari Mia tersebut. Sedangkan Mia hanya tertawa geli melihat tingkah mereka. "Jangan macam-macam padaku, Ricci. Mia sedang mengawasimu," tunjuk Adriano puas.
Coco hanya dapat mendengus kesal. "Aku benar-benar tertekan berada di sini!" gerutunya pelan, tetapi kembali membuat Mia tertawa renyah. Bagi Mia itu seperti sebuah hiburan gratis. "Ya, teruslah tertawakan aku, Mia. Kau bahkan tak membantu calon adik iparmu sama sekali," dengus Coco lagi.
"Kau sudah dewasa, Ricci. Untuk apa aku membantumu," balas Mia dengan setengah meledek.
"Kau sudah benar-benar dibutakan oleh penampilan tampan pria ini," cibir Coco seraya menunjuk Adriano.
"Setidaknya kau mengakui bahwa aku memang tampan," ujar Adriano dengan tenang. Sedangkan Mia terus menahan tawanya.
Sementara Bianca hanya terdiam memperhatikan mereka. Baginya yang tak biasa bercanda, kehangatan yang tersaji di hadapannya saat itu hanyalah sebuah kekonyolan tiada guna. Dia tak menimpali sama sekali, terlebih karena dirinya tak mengenal Coco. Selain itu, Bianca juga tahu jika Mia tak menyukainya.
Tak membutuhkan waktu lama hingga mereka tiba di hanggar pesawat pribadi milik Adriano. Tanpa membuang waktu, mereka pun langsung melanjutkan perjalanan menuju Inggris. Hampir satu jam lebih perjalanan mereka tempuh, hingga akhirnya tiba di Bandara London Luton Airport yang terletak di Bedforshire, sekitar 57 km dari pusat kota London.
Mia tersenyum lebar. Inilah pertama kalinya dia menginjakan kaki di Inggris. Rasanya sungguh luar biasa. Dia mencium aroma yang berbeda dengan suasana Italia ataupun Monaco. Tak berbeda dengan Coco. Ini juga pertama kali baginya datang ke negara Ratu Elizabeth tersebut. Senyum lebar menghiasi wajah tampannya saat itu. Namun, sesaat kemudian senyuman Coco seketika sirna, saat dia melihat seorang pria yang tengah melangkah ke arah mereka. Setengah tak percaya, Coco mencoba untuk menguatkan diri ketika pria itu telah berada di hadapannya.
"Tuan D'Angelo," sapa pria yang tiada lain adalah Juan Pablo. Seperti biasa, pria itu masih setia dengan raut datar dan dingin. Dia menatap Adriano dan Coco secara bergantian.
__ADS_1
"Tuan Herrera, ini rekanku Francesco Ricci," tunjuk Adriano kepada Coco. "Tuan Ricci, perkenalkan dia adalah Juan Pablo Herrera."