Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Ripped Heart


__ADS_3

Arsen sudah tiba di Monaco setelah dirinya diminta datang oleh Adriano. Namun, ternyata sang pemilik mansion sendiri belum kembali dari Inggris. Dengan terpaksa, Arsen harus menunggu kepulangan sang rekan, barulah dia bisa mengetahui maksud dan tujuan pria tiga puluh dua tahun itu memintanya untuk datang. Sementara menunggu kepulangan Adriano, tak ada hal penting yang Arsen lakukan di sana. Akan tetapi, bukanlah Arsen jika dia akan merasa bosan dan mati gaya. Lajang tampan tersebut seakan tak pernah kehilangan waktu untuk bersenang-senang. Seperti halnya malam itu. Dia pergi ke klub dan menikmati hingar bingar kota Monte Carlo dengan penuh kebahagiaan.


Sekitar pukul dua dini hari, Arsen baru kembali ke mansion dalam keadaan mabuk. Kepalanya terasa pusing, sehingga sikap tubuhnya pun tidak bisa tegak sempurna. Dia berjalan dengan agak sempoyongan. Entah berapa banyak minuman keras yang telah ditenggaknya malam itu. Sesaat pria asal Yunani tersebut berdiri dan menatap sekeliling sambil menenteng blazer di tangan kiri. Arsen seakan tengah mengingat-ingat arah menuju kamar yang dia tempati sambil mengacak-acak rambut. "Ke mana, ya?" gumam pria tampan tadi sambil sesekali memicingkan mata.


Di saat seperti itu, Olivia muncul sambil membawa sebotol air putih yang baru dia isi dari dapur. Sudah menjadi kebiasaan gadis berusia dua puluh empat tahun tersebut melakukan hal demikian. Olivia akan terbangun di tengah malam dan merasa haus. Satu botol air putih yang disiapkannya di dalam kamar, ternyata selalu kurang. Akhirnya, gadis itu tetap keluar dan pergi ke dapur.


Melihat Arsen yang tengah berdiri mematung di depan koridor menuju kamar, Olivia merasa heran. Ragu dan juga sedikit gugup, dia berjalan ke arah di mana pria itu berdiri. "Tuan," sapanya pelan. Itu adalah pertama kalinya bagi gadis manis berambut hitam tersebut, kembali bertemu dengan Arsen dari semenjak kejadian tempo hari di ruang mencuci. Sejak pria tersebut datang satu hari yang lalu, Olivia belum sempat bertatap muka apalagi bertegur sapa dengannya.


Mendengar suara yang tak asing lagi bagi dia, Arsen segera menoleh. "Olive?" senyuman menawan penuh godaan menghiasi paras tampan dan nakal pria asal Yunani tersebut. "Ke mana saja kau? Kenapa aku baru melihatmu sekarang?" Arsen lalu menghadapkan tubuhnya kepada gadis manis berambut hitam itu. "Jangan katakan jika kau memang sengaja menghindariku," tatap mata Arsen tampak sayu saat itu. Dari dalam mulutnya, menguar bau khas minuman yang membuat Olivia segera mundur. Dia tahu jika Arsen dalam keadaan mabuk.


"Anda sedang mabuk, Tuan. Sebaiknya Anda segera beristirahat. Aku juga akan pergi ke kamar. Permisi," ucap Olivia seraya membalikan badan dan bermaksud untuk pergi dari sana. Namun, dengan segera Arsen meraih pergelangan tangan gadis itu dan mencegahnya. Oivia menoleh, saat itu dia melihat kedua mata Arsen yang berwarna kemerahan.


"Antarkan aku ke kamar," pinta pria asal Yunani tersebut dengan suaranya yang terdengar begitu dalam.

__ADS_1


"Maaf, aku ingin kembali ke ...." Olivia tidak sempat melanjutkan kata-katanya, karena saat itu Arsen telah lebih dulu menarik tangan dan menuntunnya menyusuri koridor.


"Tunjukan yang mana kamarku, Olive," pinta Arsen lagi sambil menunjuk setiap pintu kamar yang berjejer. Ruangan-ruangan itu memang disediakan khusus untuk para tamu yang menginap di mansion milik Adriano.


"Kamar Anda berada di paling ujung," tunjuk Olivia dengan wajah yang mulai resah, terlebih karena Arsen tak juga melepaskan genggaman tangannya. "Tuan, tolong lepaskan tanganku," pinta gadis manis itu. Olivia tak bisa menggunakan tangan kirinya karena sedang memegangi botol berisi air putih yang baru dia isi.


Akan tetapi, Arsen tak memedulikannya sama sekali. Dia terus saja berjalan sambil memegang erat pergelangan tangan Olivia. Sesaat kemudian, barulah dirinya berhenti di depan kamar paling ujung. Tanpa melepas genggaman tangan dari gadis manis nan lugu itu, Arsen merogoh saku celana panjang yang dia kenakan untuk mencari kunci. "Tolong bukakan kuncinya," suruh rekan dari Adriano tersebut.


"Satu tanganmu bebas, Nona," bisiknya dengan bau minuman yang tercium begitu jelas. Sambil memalingkan wajah, Olivia membantu membukakan kunci pintu kamar Arsen. Setelah itu, dia mempersilakan pria yang tengah mabuk berat tersebut untuk masuk. Namun, ternyata Arsen tak juga melepas genggaman tangannya. Dia malah membawa Olivia ikut masuk ke kamar dengan paksa.


"Tidak! Biarkan aku pergi! Kumohon!" pinta Olivia yang terus berontak dan mencoba melepaskan genggaman tangan Arsen. Dia juga berusaha untuk menjauhkan pria yang saat itu sudah merangkul tubuhnya dengan erat. "Tuan, jangan kurang ajar!" Olivia memukuli lengan dan dada Arsen yang tak melonggarkan rangkulannya sama sekali. Arsen bahkan bermaksud untuk mencium bibir gadis itu. Tentu saja Olivia tak tinggal diam. Walaupun dirinya gadis yang terlihat begitu polos, tetapi dia tetap memiliki insting untuk melawan dan mempertahankan diri.


Lajang asal Yunani itu tertawa pelan menanggapi perlawanan dari Olivia. Meskipun dia dalam keadaan mabuk, nyatanya tenaga pria tersebut masih jauh lebih kuat dari Olivia. Setiap perlawanan yang gadis itu lakukan menjadi sia-sia. Arsen bahkan kini telah berhasil merebahkan tubuh ramping gadis lugu dua puluh empat tahun tersebut di atas tempat tidur. Dia menahan kedua tangan Olivia dan mengapit kedua kakinya, sehingga Olivia tak mampu untuk berkutik lagi.

__ADS_1


Dengan raut yang benar-benar ketakutan, Olivia menatap Arsen yang sudah benar-benar kehilangan akal sehat. Pria tampan itu tampak mengerikan, ketika menyeringai padanya. Setelah itu, pria berparas rupawan tadi membemankan wajahnya di dekat leher Olivia yang masih mencoba untuk melawan dengan sekuat tenaga.


"Tidak, Tuan! Tolong hentikan! Jangan ...." parau suara Olivia yang sejak tadi memohon agar Arsen menghentikan apa yang dilakukannya. Namun, pria itu terus saja menjamah setiap lekuk tubuh dengan bagian-bagian yang menjadi kesukaannya dan pria manapun di dunia. Arsen tak memedulikan ratapan Olivia. Dia juga selalu bisa mematahkan setiap perlawanan gadis yang makin lama semakin tak berdaya tersebut.


Pada akhirnya, Olivia merasa lemas. Dia tak kuasa untuk berontak lagi, terlebih karena cumbuan dari Arsen telah berhasil melumpuhkannya. Tenaga gadis malang itu seakan habis terserap oleh pria yang kini tengah dikuasai nafsu setan yang menggebu, dan telah menguasainya dengan luar biasa.


Di saat tenaga Olivia makin melemah, maka lain halnya dengan Arsen. Pria itu justru terlihat semakin kuat dan beringas. "Jadi kau masih perawan, Olive?" seringainya dengan suara berat. Dia menghentikan jemarinya yang berusaha untuk memasuki Olivia. Arsen terlihat senang. Tanpa bangkit dari atas tubuh gadis lugu itu, dia menurunkan resleting celana panjangnya. Setelah itu, pria tersebut menggeserkan kain berbahan spandex yang menutupi mahkota kebanggaan Olivia. Dia sudah bersiap mengarahkan dirinya untuk sebuah pelampiasan hasrat yang sempurna. Akan tetapi, Arsen kesulitan melakukan hal itu. "Ah, sialan!" dengusnya kesal. Dengan cepat Arsen bangkit dan menarik segitiga polos berwarna merah muda tadi, sehingga kini tampaklah dengan jelas sesuatu yang menjadi tujuannya.


Arsen kembali menyeringai. Sementara Olivia terus berusaha untuk menahan pria itu, tetapi usahanya kembali hanya menjadi sesuatu yang sia-sia. Arsen menahan kedua tangan serta menekan pergelangan gadis tersebut dengan kuat, barulah dirinya merenggangkan pangkal paha Olivia hingga terbuka lebar. Kini, Arsen bisa bergerak dengan leluasa dan begitu bebas.


"Tidak, Tuan! Kumohon ... jangan lakukan itu!" Air mata menetes perlahan mengiringi rasa sakit yang Olivia rasakan ketika Arsen tengah berusaha untuk memasuki dirinya.


"Diamlah!" sergah Arsen yang tengah berusaha menyibakkan tirai kesucian gadis malang tak berdaya itu. Dia berkali-kali mendengus kesal, karena usahanya tak juga membuahkan hasil. Olivia terus menggerakkan tubuh untuk menghindarinya.

__ADS_1


__ADS_2