Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Teman Teristimewa


__ADS_3

Selang beberapa saat kemudian, ketiganya kini sudah berada di bawah. Romeo segera masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Benigno. Sementara Miabella tentu saja akan memilih motor besar Carlo.


Malam itu gadis cantik tersebut hanya mengenakan celana kulot dari katun dengan sebuah atasan singlet putih. Dia pergi dengan tanpa rencana. Sedangkan jaket bomber milik Tobia pun dirinya tinggalkan di dalam mobil yang masih terparkir di seberang cafè tadi. Tanpa diminta, Carlo melepas jaket bikers berbahan jeans yang dia kenakan. Pria itu memakaikannya kepada Miabella.


"Kau akan kedinginan, Carlo," ucap Miabella sebelum Carlo menaiki motornya.


"Aku sudah terbiasa merasakan cuaca dingin sejak kecil, Nona," sahut pria bertato itu. Carlo juga memasangkan helm miliknya kepada Miabella. Setelah itu, barulah dia menaiki motor yang segera diikuti oleh putri sambung Adriano. Sedangkan iring-iringan mobil Benigno mengawal dari belakang, untuk memastikan mereka yang mengendarai motor baik-baik saja, walaupun sebenarnya itu tidak perlu.


Ya, tanpa sebuah penjagaan pun Carlo bisa melindungi dirinya. Justru dialah yang begitu diandalkan untuk menjadi seorang pengawal.


Angin malam terasa dingin menerpa wajah dan rambut panjang Miabella. Gadis cantik itu melingkarkan tangannya dengan erat pada perut Carlo. Tak ada percakapan apapun selama dalam perjalanan, hingga mereka tiba di halaman depan Casa de Luca.


Di sana, Mia dan anggota keluarga yang lain sudah menunggu. Begitu pula dengan Marco dan Daniella yang sama menantikan putra sulung mereka. Karena itu, ketika Romeo keluar dari dalam mobil Benigno, Daniella segera saja menyambut putra pertamanya tersebut. Tak berbeda dengan Daniella. Mia pun melakukan hal yang sama. Dia memeluk serta menciumi wajah Miabella yang terlihat risih.


Sedangkan Adriano hanya berdiri memperhatikan. Dia tak bicara sedikit pun, hingga Carlo datang ke hadapannya.


Adriano tampak menepuk pundak anak asuhnya tersebut. Dia merasa bangga akan kinerja yang ditunjukkan oleh pria tiga puluh empat tahun itu. Setelahnya, sang ketua Tigre Nero berlalu begitu saja ke dalam bangunan Casa de Luca.


"Apa daddy zio marah padaku? Dia tidak bicara sama sekali. Apa dia akan melotot dan berkata keras lagi, Bu?" bisik Miabella tanpa jeda.


Mia memilih untuk tidak menjawab. Dia hanya menggumam pelan. Diakui olehnya bahwa kali ini Miabella memang sangat gegabah. "Minta maaflah kepada ayahmu, Sayang," balasnya dengan berbisik pula. Mia memberi isyarat lewat sebuah tepukan di punggung gadis itu. Dia menyuruh Miabella agar segera menyusul Adriano.

__ADS_1


"Apa kau baik-baik saja, Nak?" Setelah Miabella masuk, perhatian Mia kini beralih kepada Carlo. Dia sangat berterima kasih. Mia lalu mendekat dan menyentuh rahang kokoh putra asuhnya.


Carlo tersenyum. Dia sedikit membungkuk, karena sudah mengetahui apa yang akan Mia lakukan padanya. Si pemilik tubuh jangkung tersebut memang sudah biasa mendapatkan sebuah kecupan kasih sayang dari Mia, setiap kali ada kesempatan yang tepat. "Kau adalah anak laki-laki yang tak pernah kumiliki. Semoga dirirmu sehat selalu," ucap Mia lembut sembari menepuk pelan pipi Carlo. Setelah itu, Mia memutuskan untuk masuk.


Kini, di teras hanya tinggal Marco, Carlo, dan juga Benigno yang baru berani mendekat. Instingnya mengatakan bahwa sang ketua Klan de Luca memerlukan sebuah laporan dari peristiwa penculikan yang menimpa putra sulungnya.


"Apa kalian mengetahui siapa yang telah berani melakukan ini? Jika mereka berasal dari Italia, aku rasa butuh keberanian yang sangat besar untuk melawan Klan de Luca. Semua organisasi baik yang kecil ataupun besar, telah mengetahui seperti apa reputasi Klan de Luca." Marco tampak serius sekali di hadapan Carlo dan juga Benigno, yang malam itu memimpin beberapa anak buah pilihan dan merupakan gabungan dari Tigre Nero.


"Mereka memang bukan dari Italia, Tuan," sahut Carlo. Dia membalikkan ransel dengan satu tali yang menggantung di pundak ke arah depan. Carlo tampak mengambil sesuatu dari bagian depan tas kesayangannya tersebut. "Mereka menggunakan senjata yang sama. Aku membawanya satu untuk diperlihatkan kepada Anda serta tuan Adriano. Barangkali Anda mengetahuinya." Carlo menyodorkan belati yang dia dapat dari salah satu anggota kelompok penculik tadi.


Marco segera menerima benda tajam itu. Sang ketua Klan de Luca tersebut mengamatinya dengan saksama. Tak ada yang terlewat sedikit pun, dari setiap bagian belati yang diberikan oleh Carlo padanya. Perhatian pria berusia empat puluh tujuh tahun tersebut, kemudian terkunci pada tulisan yang menggunakan bahasa Rusia pada sisi gagang belati. "Rusia?" gumamnya.


"Ya, Tuan. Kelompok itu bernama Fedor. Mereka adalah sempalan dari organsasi besar yang berasal dari Rusia. Anda harus menyelidiki mereka dengan serius, karena Klan de Luca memang menjadi target utamanya," terang Carlo begitu yakin.


"Saat aku berada di atas, ada seseorang yang mengatakan bahwa mereka ingin agar tuan Marco menyerahkan kekuasaan dan tunduk kepada mereka," jawab Carlo.


"Omong kosong macam apa itu?" dengus Marco. "Klan de Luca adalah organisasi turun-temurun sejak dua abad yang lalu. Tak mungkin kekuasaan tersebut bisa diserahkan begitu saja kepada organisasi tak jelas seperti yang kau sebutkan tadi. Lagi pula, mereka bukan berasal dari Italia. Seenaknya saja ingin berkuasa di sini," geram Marco. "Aku akan membahasnya dengan Adriano," ucap pria itu lagi seraya bergegas masuk meninggalkan Carlo dan juga Benigno di teras depan.


Sementara itu, Adriano tengah berbicara dengan Miabella di kamar yang ditempati oleh anak gadisnya. "Maafkan aku, Daddy Zio," ucap Miabella penuh sesal. Dia menyembunyikan wajah cantiknya dari sang ayah, yang hanya berdiri dengan tatapan lekat dan tajam.


"Kau sangat gegabah, Bella." Nada bicara Adriano terdengar datar dan tak sehangat biasanya.

__ADS_1


"Aku tahu. Aku hanya merasa bosan. Karena itu saat ...."


"Tidak perlu banyak alasan," potong Adriano dengan segera. "Apa kau tahu betapa cemasnya aku dan ibumu setelah mendapat kabar dari Carlo? Sadarlah bahwa sikap nakal yang kau lakukan itu, sudah membuatku harus menegur dan menyalahkan Dante karena tak becus menjagamu!" Sekuat tenaga Adriano menahan diri agar tak terbawa emosi secara berlebihan.


"Aku tahu," sahut Miabella pelan.


"Kalau begitu jangan hanya memikirkan dirimu sendiri, Bella. Belajarlah untuk lebih bertanggung jawab," tegur Adriano lagi dengan tegas. "Basuh wajahmu dan tidurlah. Kau harus berisirahat." Adriano mengakhiri perbincangannya dengan Miabella, setelah mendengar suara ketukan di pintu.


"Adriano, bisakah kita bicara sebentar?" Marco setengah berseru dari luar kamar.


Tanpa banyak bicara, Adriano berbalik dan meninggalkan Miabella yang masih terduduk di ujung tempat tidur. Gadis itu pun termenung untuk beberapa saat, sampai terdengar ponsel yang bergetar di atas meja sebelah ranjang. Miabella kemudian beranjak untuk mengambilnya. Nama Carlo tertera di layar sebagai pemanggil. Dengan segera, gadis itu manjawabnya. "Pronto," sapanya lesu.


"Apa kau sedang tidur, Nona?" tanya Carlo.


"Tidak. Aku baru selesai diceramahi oleh daddy zio," sahut Miabella sambil mengempaskan tubuhnya ke atas kasur.


"Kau memang pantas menerima itu," ujar Carlo. "Jika aku menjadi tuan Adriano, maka aku tak hanya akan menceramahi, tapi juga akan mengikatmu kuat-kuat agar kau tak dapat ke mana-mana," ucap pria itu lagi dengan tenang.


"Jika kau menjadi daddy zio, maka dirimu tak akan melakukan itu," sanggah Miabella.


"Bagaimana kau bisa begitu yakin?" tanya Carlo.

__ADS_1


"Karena kau tak akan sanggup membuatku tak nyaman, apalagi hingga menyakiti. Bukankah begitu, Carlo?" Miabella tertawa renyah. Sedangkan Carlo hanya menggumam pelan. "Kau adalah seorang teman yang sangat baik dan istimewa, karena itulah aku senang bisa berada di dekatmu. Namun, itu semua tak akan berguna lagi, karena aku yakin setelah ini kau akan segera kembali ke Monaco lalu membiarkanku sendiri di Italia." Miabella terdiam dengan tatapan menerawang pada langit-langit ruangan. Sedangkan Carlo berdiri sambil bersandar pada dinding luar kamar gadis itu.


__ADS_2