
“Aku sudah terbiasa menghadapi bahaya, Cedro. Kau tidak perlu khawatir,” ucap Carlo demi menenangkan perasaan sahabatnya tersebut.
“Aku tahu kau pasti sanggup, tapi kali ini sungguh berbeda. Dari informasi yang berhasil kuperoleh, Fedor sebenarnya bukanlah organisasi asli dari Italia. Kabarnya mereka merupakan sempalan dari organisasi besar yang berasal dari Rusia,” terang Cedro. Rasa kantuk dalam diri pria itu hilang sudah, saat meladeni perbincangan dengan Carlo.
“Hm, ini bahkan menjadi semakin menarik,” ucap Carlo seraya tersenyum lebar sebelum kembali memperlihatkan raut tegang, ketika dirinya tersadar bahwa dia telah menghabiskan waktu terlalu banyak di tempat sahabatnya itu. “Tolonglah. Berikan aku petunjuk apapun, karena aku sangat membutuhkan informasi darimu. Aku berjanji tidak akan melakukan hal-hal bodoh yang dapat membahayakan nyawa siapa-siapa,” Carlo tak henti-hentinya membujuk agar Cedro bersedia memberikan informasi yang dia inginkan.
“Ah! Bene! Bene!” Cedro mengeluh pelan. Dia tahu bahwa akan sulit untuk menolak permintaan Carlo yang keras. Cedro pun kemudian berbalik meninggalkan sahabatnya begitu saja. Tak lama kemudian, pria itu kembali dengan membawa secarik kertas berisikan sebuah alamat. “Ini markas mereka. Sebuah apartemen kecil bertingkat tujuh. Semua penghuni tempat tersebut adalah anggota Fedor. Berjanjilah bahwa kau ke sana hanya untuk sekadar melihat-lihat."
“Iya, aku berjanji," ucap Carlo meyakinkan. "Grazie, Cedro.” Pria tampan bertato itu menepuk pundak sahabatnya pelan, sebelum berpamitan dan keluar dari rumah sederhana tadi. Dia kembali menaiki motor dan segera melajukannya menuju alamat yang sudah diberikan oleh Cedro.
Cukup lima belas menit saja waktu yang ditempuh oleh Carlo, hingga dirinya tiba di bagian utara kota Milan. Kawasan itu terbilang cukup sepi, karena hanya ada beberapa saja mobil yang terparkir di pinggir jalan. Rumah-rumah kecil tapi rapi, berjajar di sisi kanan dan kiri jalan yang Carlo lalui. Pria tampan itu akhirnya berhenti di depan sebuah gedung bercat putih yang tampak gelap gulita. Tak ada penerangan apapun di sana. Tak satu jendela ruangan pun yang lampunya tampak menyala.
Tentu saja hal tersebut sangatlah mencurigakan bagi Carlo, sehingga dia tak ragu lagi untuk menghubungi Benigno dan anak buahnya. Carlo begitu yakin, bahwa di gedung itulah Miabella dan Romeo disekap. Dia menghubungi Benigno sambil mengirimkan alamat gedung mencurigakan tadi.
Kurang dari setengah jam, lima kendaraan mini truck berwarna hitam pabrikan Ford dengan kaca depan yang dilapisi perisai anti peluru, datang beriringan ke lokasi yang Carlo kirimkan. Pada setiap mobil, beberapa orang duduk di bak belakang yang terbuka. Mobil yang dikendarai Benigno berada paling depan. Mereka semua turun sambil mengeluarkan senjata yang sempat disembunyikan di balik kemeja.
Benigno lebih dulu menghampiri Carlo. “Jadi, bagaimana?” tanya pria berkepala plontos yang seluruh tubuhnya dipenuhi tato, kecuali pada bagian wajah.
__ADS_1
“Mereka organisasi kecil. Aku juga baru kali ini mendengar namanya. Apakah kau mengetahui tentang kelompok bernama Fedor, Benigno?” Carlo balik bertanya.
“Tidak. Aku tidak pernah mendengarnya. Apakah mereka organisasi baru?” Benigno mengusap dagunya yang licin.
“Aku rasa begitu," sahut Carlo. "Lihatlah.” Dia mengarahkan telunjuk ke arah gedung yang gelap gulita di depannya. “Aku yakin tuan muda Romeo dan nona Miabella disembunyikan di sana. Menurut informanku, semua penghuni gedung itu merupakan anggota organisasi Fedor. Entah apa tujuan mereka bermain-main dengan klan de Luca. Mungkin mereka tak tahu bahwa de Luca adalah klan tertua dan paling disegani di Italia.”
“Kita cari tahu saja jawabannya sekarang.” Benigno mengeluarkan dua buah koper berisi senapan laras panjang yang belum dirakit. Dengan lihai pria itu menyatukan setiap bagian dari senjatanya hingga menjadi bentuk senapan sempurna, kemudian mengokangnya. Dia juga memerintahkan semua anak buah yang ikut untuk mengepung gedung tersebut.
“Kau fokus saja untuk mencari nona Miabella dan tuan Romeo, Carlo. Urusan yang lain biar menjadi tanggung jawab kami,” titah Benigno memberikan arahan.
“Baiklah.” Carlo turut melangkah mendekati gedung apartemen, ketika ponselnya bergetar. Dia melihat nama Adriano tertera di layar. “Pronto,” sapanya.
“Tuan, aku sarankan anda tetap berada di Casa de Luca saja. Sebentar lagi, aku akan membawa pulang nona Miabella. Aku berjanji padamu, tuan,” ujar Carlo. Dengan berani, dia mengakhiri panggilan sebelum Adriano sempat membalas ucapannya. Carlo teramat menyayangi dan mengkhawatirkan Adriano layaknya seorang anak kepada ayah kandung, sehingga dia tidak ingin Adriano turun dalam peperangan ini secara langsung.
Carlo kembali melanjutkan langkahnya, ketika Benigno bersama beberapa orang berhasil merangsek masuk ke dalam lobi. Sementara separuh dari anak buah lain menerobos melalui bagian belakang gedung apartemen tadi. Carlo berjalan di belakang Benigno dengan sorot mata waspada.
Penerangan yang tak memadai, membuat mereka harus jauh lebih berhati-hati. “Aman,” ucap salah seorang anak buah Benigno sebelum menaiki tangga menuju lantai dua.
__ADS_1
“Tidak. Belum! Aku tidak yakin,” bantah Benigno berhenti dengan tiba-tiba, kemudian mengarahkan senapan yang sudah dilengkapi peluru magazin pada sebuah pintu. Benigno menembak pintu itu dan juga pintu di sebelahnya secara membabi buta.
Ternyata, pancingannya berhasil. Setiap orang yang tinggal di lantai satu, bergegas keluar kamar dan membalas tembakan Benigno. Namun, pria itu sudah lebih dulu membaca gerakan mereka, sehingga dia dan anak buahnya yang lain bisa langsung memberondong orang-orang tadi dengan peluru. Orang-orang asing tersebut pun terkapar dalam waktu yang hampir bersamaan.
“Bersiagalah kalian! Para penghuni di lantai dua pasti akan melakukan pembalasan!” seru Benigno memperingatkan. Lagi-lagi, tebakannya benar. Semua orang di lantai dua sudah merangsak turun dan bermaksud membalas tindakan Benigno. Kali ini, Carlo yang maju dan beraksi. Sebelum berangkat, pria rupawan itu membawa beberapa butir granat di dalam tas ranselnya. Carlo mengeluarkan satu granat dan melemparkan ke atas tangga yang penuh dengan musuh.
Granat itu meledak dan mencerai-beraikan orang-orang tadi. Asap pekat menyelimuti sekeliling Carlo. Namun, pria tersebut tidak menghentikan langkah demi menuju lantai berikutnya, apalagi ketika dia melihat mayat-mayat bergelimpangan di lantai tiga dan empat. Itu sebagai pertanda bahwa anak buah Benigno yang melewati jalur belakang sudah melaksanakan tugas mereka dengan baik.
Demikian pula di lantai kelima dan keenam. Anak buah Benigno telah berjaga dan memberi jalan bagi Carlo. Ketika dia sudah siap meniti undakan tangga menuju lantai terakhir, Benigno datang bersama anak buah yang terus menyertai dari lantai dasar. Pria itu menyerahkan senapan laras panjang otomatis miliknya kepada Carlo. “Biarkan aku yang membawa pistolmu,” ujarnya.
Carlo pun mengangguk dan melakukan apa yang diminta oleh Benigno. Setelah menggenggam senapan, dia kembali melanjutkan langkah penuh waspada. Akan tetapi, tatkala dirinya tiba di lantai tujuh, puncak tangga tersebut sudah diblokade menggunakan meja-meja dan kursi yang bertumpuk, sehingga menghalangi jalannya untuk masuk ke lantai terakhir.
Pria itu hanya menyeringai, lalu mengeluarkan satu buah granat. Carlo melepas kuncinya, kemudian melemparkan peledak tadi ke celah-celah kecil antara meja yang sedikit terbuka. Granat itu meledak, menimbulkan getaran. Meja kursi yang terbuat dari kayu langsung berhamburan.
Carlo melindungi wajahnya dengan kedua tangan sambil terus bergerak maju.
Di belakang dia, Benigno bersama puluhan orang kelompok Tigre Nero waspada menjaga dirinya. Akan tetapi, saat pegawal pribadi Miabella itu menapaki lantai tujuh, sebuah bandul raksasa yang terbuat dari besi jatuh dari atap dan menimpa tangga hingga hancur tak tersisa. Tak hanya lantai tujuh, tangga lantai di bawahnya pun hancur berlubang. Bandul besi berbentuk lingkaran raksasa itu akhirnya berhenti di tangga lantai lima.
__ADS_1
Refleks melindungi diri, Benigno beserta seluruh anak buahnya pun mundur dan melompat ke lantai di bawahnya. Sementara Carlo terjebak di lantai tujuh. Entah apa yang akan dia hadapi di sana.