Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Buona Sera


__ADS_3

Gianna berdiri di trotoar jalan sore itu. Dia terlihat sibuk mencari sesuatu di dalam tas dengan tali yang menggantung di pundak. Gadis berambut pirang tersebut bahkan tak menyadari, ketika sebuah sedan hitam berhenti tak jauh dari tempatnya berada.


Tampaklah seorang pria tampan dengan kaca mata hitam, keluar dari dalam mobil tersebut. Dia berjalan menghampiri Gianna yang masih terlihat sibuk sendiri. "Nona Moriarty," sapa pria yang tiada lain adalah Juan Pablo Herrera.


Gianna tertegun kemudian menoleh. Pria berparas rupawan tetapi terlihat dingin itu sudah berdiri di dekatnya. "Tuan Herrera?" balas gadis manis bermata biru tadi. Dia menghentikan aktivitas dengan tasnya, kemudian membetulkan posisi berdiri hingga lebih tegak. "Kenapa akhir-akhir ini kau sering terlihat di Roma? Bukankah kau tinggal di Monaco?" pertanyaan yang dirasa kurang sopan, terlontar begitu saja dari bibir Gianna.


"Aku bebas berada di manapun yang kumau. Tidak ada hukum bagi seseorang untuk bepergian. Lagi pula, jarak Italia dan Monaco tidak seberapa jauh," jawab Juan Pablo tanpa ekspresi yang terlalu berlebihan.


"Ya, memang tidak ada," balas Gianna. Gadis itu melihat ke segala arah, tapi tidak pada sosok tampan bertubuh tegap di sebelahnya.


"Bagaimana jika kita minum sebentar?" tawar Juan Pablo. "Aku memiliki waktu senggang, tapi tidak tahu harus melakukan apa," ekor mata pria asal Meksiko tersebut mengarah kepada Gianna untuk sesaat.


"Kenapa kau tidak mengajak Carina saja?" Gianna seakan hendak menolak tawaran Juan Pablo dengan halus.


"Aku tidak selalu pergi atau bertemu dengannya. Carina seseorang yang sangat sibuk," jelas Juan Pablo datar sambil menatap jalanan kota Roma yang cukup ramai. Sesaat kemudian, pria bermata cokelat madu itu menoleh dan menatap Gianna untuk sejenak. "Mari," ajak Juan Pablo tanpa menunggu persetujuan gadis cantik tadi di sebelahnya.


Gianna menoleh. Sepasang mata birunya yang indah, menyiratkan suatu kecurigaan yang cukup besar kepada ajudan setia Don Vargas tersebut. "Kenapa kau mendekatiku?" tanyanya dengan tatapan penuh waspada.


Juan Pablo memasukkan tangan kanan ke dalam saku celana jeansnya. "Apa kau merasa keberatan?" tanyanya tanpa menoleh kepada Gianna.


"Walaupun kau adalah rekan dari kakakku Adriano, tapi aku tidak mengenalmu," jawab Gianna dengan penekanan yang tidak terlalu dalam.


Tersungging sebuah senyuman kecil di sudut bibir Juan Pablo. "Kalau begitu, akan kubiarkan kau untuk lebih mengenalku," balas pria dengan t-shirt panjang hitam tersebut sambil menoleh kepada Gianna. Beberapa saat, pandangan keduanya saling beradu. Namun, tak berselang lama Gianna memilih untuk mengalihkan tatapannya ke samping. Tak kuasa bagi gadis dua puluh empat tahun itu, jika harus melawan sorot mata Juan Pablo yang tajam dan begitu dalam.

__ADS_1


"Sepertinya ... aku mulai haus," ucap putri bungsu dari Emiliano Moriarty tersebut sambil berjalan mendahului Juan Pablo, yang terdiam sejenak sebelum mengikutinya.


Langkah kecil keduanya berhenti di sebuah cafètaria yang cukup ramai pengunjung. Hampir semua meja sudah terisi, tetapi untunglah karena masih ada tempat yang kosong untuk mereka. Juan Pablo pun mempersilakan Gianna untuk duduk, setelah dia menggeser kursi bagi gadis itu.


Juan Pablo lalu memesan dua gelas minuman. Barulah perhatian pria tersebut kembali tertuju kepada gadis yang duduk bersebelahan dengan dirinya. "Jadi, kalian berapa bersaudara semuanya?" tanya Juan Pablo dengan tatapan lekat terhadap Gianna.


"Tiga," jawab gadis berambut pirang itu dengan segera.


"Lalu, tuan D'Angelo itu kakakmu yang kebeberapa?" tanya Juan Pablo lagi. Dia menggeser gelas berisi minuman, yang baru saja disuguhkan oleh seorang pramusaji di atas meja.


"Kenapa kau terus bertanya?" protes Gianna sambil mengaduk minumannya.


"Karena aku ingin tahu," jawab Juan Pablo singkat.


"Kenapa kau ingin tahu?" tanya Gianna lagi dengan agak ketus.


"Apa yang membuatmu begitu penasaran? Kau seperti hendak memanfaatkanku dalam mengorek informasi tentang Adriano," tukas Gianna dengan tak acuh.


"Kenapa kau berpikir begitu? Tuan D'Angelo adalah rekan bisnis dari majikanku. Aku tidak perlu repot-repot mencari informasi darimu," sanggah Juan Pablo.


"Ah, yang benar saja," cibir Gianna seraya tertawa renyah. Gadis bermata biru itu kembali menikmati minumannya. Sementara Juan Pablo masih memperhatikan dengan saksama. Dia mengamati setiap detail dari sosok cantik berambut pirang di dekatnya. "Pesona Adriano memang luar biasa. Rupanya dia tidak hanya menarik di mata kaum wanita saja," sindir Gianna dengan seenaknya.


"Maksudmu?" Juan Pablo menautkan alis karena tak mengerti dengan ucapan Gianna.

__ADS_1


"Apa yang membuatmu begitu tertarik dengan kakak tiriku itu?" Gianna menyunggingkan senyuman yang tampak aneh kepada Juan Pablo. Namun, bukan senyuman itu yang menjadi perhatian pria bermata cokelat madu tersebut, melainkan kata 'kakak tiri' yang diucapkan Gianna barusan.


"Jadi, kalian bukan saudara kandung?" tanya Juan Pablo lagi penuh selidik.


"Bukan," jawab Gianna dengan enteng. "Adriano terlahir dari wanita lain ayahku," jelas Gianna kemudian. Gadis berambut panjang itu kemudian terdiam sambil memperhatikan orang yang berlalu lalang di depan cafètaria tersebut. "Jika kau pikir aku mengetahui banyak hal tentang Adriano, maka kau datang pada orang yang salah. Aku baru bertemu lagi dengannya setelah sekian lama," ucap Gianna lagi dengan tatapan menerawang. Sementara Juan Pablo tampak memikirkan sesuatu.


Senja mulai tersingkir dan berganti malam. Ada beberapa perbincangan ringan antara Juan Pablo dan Gianna. Tak seperti biasanya, pria itu menjadi banyak bicara ketika tengah bersama gadis cantik tersebut. Dia menanggalkan sikap dinginnya di hadapan gadis itu. Entah karena terpaksa, atau memang sebenarnya masih ada sisi hangat dalam diri Juan Pablo yang belum dia sadari. Pria asal Meksiko itu bahkan mengantarkan Gianna pulang ke apartemen yang ditempati adik tiri dari Adriano tersebut.


"Kau tinggal di sini?" tanya Juan Pablo seraya memiringkan kepalanya, demi melihat bangunan yang menjadi tempat tinggal Gianna.


"Ya," sahut Gianna, "kau ingin mampir?" tawarnya.


"Kau ingin aku mengantarkanmu hingga ke dalam?" Juan Pablo balik bertanya.


"Jika kau mau," jawab Gianna dengan tatapan penuh tantangan bagi Juan Pablo. Pria asal Meksiko itu tampak memainkan jemarinya yang masih berada di atas kemudi. Dia seperti tengah memikirkan keputusan yang akan diambil. Sementara Gianna telah melepas sabuk pengaman. Namun, gadis itu tak segera turun dari mobil. Entah apa yang dia tunggu.


Sesaat kemudian, Juan Pablo kembali menoleh kepada Gianna. "Apa besok kau ada acara?" tanyanya.


"Memangnya kenapa?" Gianna balas menoleh kepada pria tampan itu.


"Aku akan mengunjungi villa. Sudah lama sekali tidak ke sana," jawab Juan Pablo. "Kau pasti suka, karena di sana suasananya sangat tenang."


Gianna tersenyum kecil menanggapi tawaran dari Juan Pablo. "Aku ada di klub hingga tengah hari. Datang saja ke sana. Kau pasti tahu klub Angelo Notturno."

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan menjemputmu ke sana besok siang," ucap Juan Pablo. Untuk beberapa saat, mereka saling bertatapan. Tanpa disadari, wajah keduanya kian mendekat. Gianna bahkan telah memejamkan mata, ketika dia merasakan hangatnya napas Juan Pablo di dekat bibirnya. Akan tetapi, Juan Pablo justru terlihat ragu untuk melakukan itu. Entah apa yang menghalangi ajudan dari Don Vargaz tersebut. Dia mendekat dan hampir menyentuh bibir Gianna, tapi dengan segera Juan Pablo memundurkan wajahnya lagi.


"Buona sera," ucapnya pelan.


__ADS_2