
“Superhero?” gumam Mia. Perkataan Adriano membuat dirinya teringat akan sesuatu yang dia sendiri tak yakin. Sebuah ingatan yang samar-samar kembali dan mulai memasuki benaknya.
“Ada apa?” Adriano menatap Mia heran. Sebuah senyuman manis penuh arti tersungging dari bibir pria tampan itu.
“Ah, tidak,” Mia menggeleng pelan, kemudian seketika terbelalak ketika tiba-tiba dia teringat akan sesuatu. “Katakan, Adriano! Sejak kapan kau memiliki hobi melukis diriku?” tanyanya tiba-tiba.
Adriano tertawa lebar. Sejenak, mata birunya melirik Miabella yang tengah asyik menyantap menu makan siang dengan begitu lahap. “Jadi, kau sudah menemukan galeri rahasiaku?” Adriano balik bertanya.
“Ya, dan aku menemukan banyak lukisan di sana. Sebagian besar lukisan itu menggambarkan diriku dalam berbagai pose dan situasi. Entah aku harus bahagia atau justru merasa takut” ujar Mia dengan ekspresi wajahnya yang terlihat lucu.
Tawa Adriano semakin lebar. “Mungkin seharusnya kau justru merasa bangga karena memiliki pemuja rahasia yang sangat tergila-gila padamu, Florecita Mia,” ucap Adriano. Pria itu segera meraih tangan sang istri dan mengecupnya lembut.
“Kenapa kau lakukan itu? Kenapa kau melukisku?” Mia masih tak puas dengan jawaban Adriano.
“Karena hanya dengan melukismu, aku merasa bisa memiliki walau hanya dalam bentuk gambar,” sorot mata Adriano begitu teduh memandang wanita cantik di hadapannya. Debaran jantung Mia mulai menggila saat Adriano melontarkan kata-kata manis untuknya. Wanita itu sama sekali tak menyangka bahwa dia akan kembali mengalami jatuh cinta setelah Matteo tiada.
“Cepat habiskan makananmu. Setelah itu kita pulang, karena aku hendak menunjukkan sesuatu,” ujar Adriano sembari mengusap pipi Mia menggunakan punggung tangannya.
Jalan-jalan hari itu pun berakhir dengan makan siang mewah. Adriano cukup puas melihat wajah bahagia Mia dan juga Miabella. Setelah menghabiskan makanan dalam jumlah banyak, balita cantik itu kini tertidur dengan nyenyak di dalam kendaraan. Dia sama sekali tak terganggu, hingga mobil Adriano tiba di halaman depan mansion. Perlahan dan lemah lembut, pria itu menurunkan Miabella, lalu menggendong dan membawanya ke kamar. Dengan hati-hati pula, dia membaringkan putri kecilnya di atas ranjang yang penuh dengan boneka. Sementara Mia meletakkan semua kantong belanjaan di sudut kamar Miabella.
“Apa yang hendak kau tunjukkan padaku, Adriano?” tanya Mia kemudian.
“Sst,” Adriano menempelkan telunjuknya di bibir, lalu melangkah pelan dan menuntun Mia keluar dari dalam kamar, setelah menutup pintu dengan rapat. Adriano terus menggenggam tangan Mia menuju aula mansion yang terletak di lantai paling bawah, dan lurus menuju ruang kerjanya.
“Kenapa kita kemari?” Mia keheranan saat Adriano membuka akses pintu ruang kerja sambil tersenyum penuh arti.
__ADS_1
“Sebentar lagi kau akan mengetahuinya,” jawab Adriano. Dia sempat mengecup bibir Mia setelah mereka masuk ke ruang kerja. Setelah itu, dia membawa Mia ke dalam galerinya. Adriano menunjukkan satu per satu lukisan hasil karyanya, gambar Mia dalam berbagai pose.
Langkah Mia akhirnya terhenti pada sebuah lukisan yang tersandar begitu saja di atas lantai. Wanita itu tampak begitu terpana.
“Aku sudah membersihkan sendiri ruangan ini. Kemarin agak berantakan karena ulahku,” jelas Adriano tanpa diminta.
Namun, Mia tak menanggapi. Dia masih terpaku pada lukisan gadis kecil berseragam sekolah yang tengah tersenyum riang. “Bagaimana kau bisa melukis sosok diriku di waktu kecil? Kau menggambarkannya dengan sangat persis,” gumamnya tak percaya.
“Tak bisakah kau menebaknya, Sayang?” Adriano berdiri tepat di belakang Mia sembari menciumi rambut panjang wanita itu.
Mia segera menoleh dan membulatkan mata indahnya. “Ini tidak mungkin! Apakah kau ... kau Adriano yang itu?”
Bukannya menjawab, Adriano malah tersenyum lebar. “Ayo,” dia kembali menarik tangan Mia dan mengajaknya ke sisi lain ruang kerja, di mana terdapat rak buku besar yang terbuat dari kayu mahoni. Beberapa rak tertutup oleh kaca. Adriano kemudian membuka salah satu rak kaca itu dan mengeluarkan sebuah botol minuman bening yang penuh tempelan stiker. “Apa kau ingat dengan benda ini, Mia?” tanyanya.
Mia semakin terbelalak. Dia begitu terkejut sekaligus tak percaya, sampai-sampai harus menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangan. “Dari mana kau dapatkan benda ini?” desisnya.
“Apakah kau ingat dengan kata-kata terakhir yang dirimu ucapkan saat itu? ‘sampai berjumpa lagi, Adriano!’. Apakah kau ingat, Mia?” Adriano mengulangi kata-kata yang Mia ucapkan waktu itu. Sementara Mia masih terdiam. “Apakah itu artinya kau tahu bahwa kita akan bertemu lagi?” Adriano tersenyum simpul.
“Kau ingin tahu sesuatu, Sayang? Sebuah cerita yang mungkin tak ada artinya untukmu. Namun, bagiku itu adalah sebuah perjuangan besar,” ucap Adriano. Dia melangkah ke dekat meja di mana terdapat sebotol minuman anggur yang biasa menemani dirinya, ketika sedang menyendiri di dalam ruangan itu. Adriano menuangkan isi dalam botol tersebut ke dalam gelas kristal dan menggoyang-goyangkan gelasnya sesaat. Terdengar suara helaan napas berat dari dirinya yang kemudian mulai meneguk anggur merahnya. Adriano lalu membalikkan tubuh dan menatap Mia yang masih memandangi botol minuman berstiker tadi.
“Aku adalah anak dari wanita simpanan Emiliano Moriarty. Sejak melahirkanku, ibu menjadi sakit-sakitan hingga sampai pada satu titik di mana dia tak sanggup lagi merawatku. Dia menciumiku sambil menangis, sebelum terpaksa menyerahkan diriku pada Emiliano. Dengan terpaksa pula, Emiliano membawaku ke rumahnya. Rumah yang megah dan indah, tetapi tak ada kehangatan dan kasih sayang di dalamnya. Aku harus tinggal dengan seorang ibu tiri," Adriano memulai ceritanya.
“Pada usia tiga belas tahun, wanita itu mengusirku begitu saja. Dia menendangku keluar dari rumah,” mata Adriano mulai menerawang. “Dia benar-benar menendangku dalam makna yang sebenarnya, tepat di perut,” ujar Adriano seraya tertawa getir. Satu tangannya menunjuk ke arah perut.
“Aku melangkah tak tentu arah. Berjalan menyusuri jalanan kota Milan sampai kakiku pegal dan hampir pingsan. Saat itulah, aku bertemu denganmu. Kau seperti malaikat kecil kiriman Tuhan, datang pada saat yang tepat untuk menyelamatkanku. Masih kuingat dengan jelas, kau yang tanpa ragu memberikan kotak bekal dan botol minumanmu padaku,” pandangan matanya kini lembut tertuju pada Mia.
__ADS_1
“Semenjak hari itu, aku kembali ke dekat sekolah di mana kita bertemu. Aku menunggumu setiap hari di sana, tapi selama hampir satu minggu ternyata kau tidak terlihat juga. Akhirnya, aku meminta paman Alessandro untuk menemaniku bertanya pada pihak sekolah. Mereka mengatakan bahwa kau telah pindah ke luar kota,” tutur Adriano mengenang masa lalunya ketika dia berusaha untuk menemui Mia.
“Ya. Itu memang hari terakhirku di Milan. Saat pulang, ayah sudah bersiap dengan semua barang-barang kami. Dia membawaku pindah ke kota Venice,” terang Mia. “Kau tidak mengetahui namaku. Lalu, bagaimana pihak sekolah bisa tahu bahwa orang yang kau maksud adalah aku?” tanya Mia tak mengerti.
Adriano tertawa pelan. Dia kembali meneguk minumannya. “Itu bukan hal yang sulit, Mia. Aku ke sana dengan membawa gambar sketsa wajahmu. Aku melukismu dalam setiap waktu senggang yang kumiliki. Ya, selain melukis wajah ibuku, karena aku juga sangat merindukannya. Sayang sekali, karena saat itu aku tidak mengetahui namamu,” sesal Adriano tersenyum getir.
“Entah apa yang direncanakan Tuhan, ketika pada akhirnya aku mengenal sosok Damiano. Dia mengundangku untuk datang pada pesta yang diadakan Matteo di Pulau Elba. Apa kau masih ingat dengan pertemuan pertama kita, Mia?” Adriano terus memandang ke arah Mia. Wanita itu menanggapi pertanyaan Adriano dengan sebuah anggukan pelan.
“Senyumanmu mengingatkanku pada gadis kecil yang telah memberikan bekal makan siangnya, sehingga aku terlepas dari rasa lapar dan kembali memiliki tenaga untuk berdiri. Butuh waktu beberapa saat untuk meyakinkanku bahwa itu adalah senyuman dari orang yang sama. Kau pasti merasa risih kenapa saat itu aku terus memperhatikanmu. Lalu, setelah itu kuberikan kau sepotong roti ketika di rumah sakit, dan bayangan gadis kecil itu hadir dalam dirimu, Mia. Aku melihatnya dengan sangat jelas. Aku merasa semakin yakin. Karena itulah, aku tak peduli meskipun kau terus menolak. Aku tak merasa takut walaupun Matteo de Luca menantang diriku untuk berduel. Hati ini terlalu bahagia karena akhirnya bisa menemukanmu kembali, Florecita Mia. Itulah namamu ....” Adriano kembali meneguk minumannya hingga habis. Setelah itu, dia mengisi gelasnya lagi.
“Bukankah kau yang mengatakan bahwa super hero-mu akan menjagaku agar tidak terjatuh lagi? Lihatlah sekarang, Mia. Aku bahkan selamat dari sebuah kematian yang mengerikan. Kini aku berdiri di hadapanmu, bukan hanya sebagai seorang pria melainkan sebagai suamimu. Apakah kau tidak berpikir bahwa Tuhan begitu baik padaku?” Adriano mengempaskan napas berat, kemudian meneguk minumannya.
Adriano lalu melangkah ke hadapan Mia dan berdiri begitu dekat padanya. “Jika Matteo de Luca mencintaimu lebih dari apapun juga di dunia ini, maka cinta itu telah tumbuh dalam hatiku dari semenjak sembilan belas tahun yang lalu, jauh sebelum kau bertemu dengannya. Aku tidak berharap banyak ketika mengetahui bahwa kau telah menjadi milik Matteo de Luca. Namun, setidaknya aku bisa melihatmu tersenyum setiap hari. Menikmati kecantikanmu dari jauh, meski hanya bisa kupandangi lewat sebuah lukisan yang salah satunya pernah kukirimkan dulu. Aku yakin jika Matteo pasti langsung membuangnya,” Adriano tersenyum nanar.
Sedangkan Mia masih terdiam. Dia sungguh tak tahu harus berkata apa. Semua ini begitu mengejutkan baginya, dan terasa agak berlebihan untuk sebuah kisah dalam kehidupan nyata. Namun, sekarang dia dapat memahami makna dari sikap Adriano selama ini terhadapnya.
“Adriano, aku ...” Mia menelan ludah dalam-dalam. Tenggorokannya seakan tercekat saat itu.
“Sssh,” Adriano membungkam Mia dengan bibirnya. Dilu•matnya bibir merah itu dengan lembut dan perlahan. “Aku sudah menemukanmu sekarang,” ucapnya sesaat setelah melepaskan ciuman. Sorot mata Mia tiba-tiba berubah sendu. Bulir-bulir air mata mulai menetes dari sana.
“Hei, kenapa menangis?” segera Adriano mengusap pipi Mia.
Mia mendongak, menatap lekat-lekat wajah tampan suaminya dengan raut pilu. “Kenapa baru sekarang, setelah aku menjadi istri Matteo kau baru menemukanku? Kenapa tidak sejak dulu Adriano? Kenapa? Seandainya kita bertemu lebih dulu, maka aku tak perlu menderita begini! Aku tidak perlu mengalami kehilangan yang menyakitkan seperti ini!” Mia mulai kehilangan kendali. Dia memukuli dada Adriano tanpa henti sembari terisak.
Adriano hanya bergeming. Dia tak bergerak dan tak juga menjawab. Adriano hanya menunggu sampai Mia tenang untuk beberapa saat, kemudian memeluknya erat.
__ADS_1
Dikecupnya puncak kepala Mia dengan penuh perasaan. “Dengarkan aku, Sayang. Sekuat apapun diriku, tapi tetap tak bisa melawan takdir. Tuhan mempertemukanmu dengan Matteo karena satu alasan, dan alasan itu adalah Miabella. Kalian memang ditakdirkan bersama meski hanya sesaat. Namun, apa yang kalian dapatkan dari kebersamaan singkat itu, akan berlangsung untuk selamanya,” tutur Adriano yang semakin membuat Mia tergugu.
“Kita akan merawat Miabella bersama, demi Matteo dan demi dirimu sendiri,” ujar Adriano seraya memeluk tubuh Mia semakin erat, seakan-akan enggan untuk dia lepaskan lagi.