
"Kenapa kau belum berganti pakaian?" tanya Arsen seraya menautkan alis. Dia memperhatikan Olivia yang tampak kelabakan sambil menutupi bagian depan dressnya dan mematung. Melihat sikap wanita muda itu, Arsen pun hanya dapat mengempaskan napas pelan. Dia lalu beranjak ke dekat sofa, kemudian memungut dress yang tadi terjatuh di lantai. Arsen kembali menghampiri sang istri yang masih terpaku di tempatnya. Dia menyodorkan dress tadi dari arah belakang.
"Aku ingin mandi dulu sebelum berganti pakaian," ujar Olivia dengan malu-malu.
"Ya, tentu," sahut Arsen. "Kamar mandi ada di sana," tunjuknya pada pintu di sudut ruangan.
Olivia mengangguk seraya menerima pakaian yang Arsen sodorkan padanya. Tanpa banyak bicara, dia berlalu begitu saja menuju kamar mandi. Sementara Arsen hanya tersenyum kecil menanggapi keluguan istrinya.
Ada banyak tipe wanita yang dia kenal dan pernah berkencan dengannya. Entah itu benar-benar menjalin hubungan, atau hanya cinta sesaat atas dasar suka sama suka untuk sekadar bersenang-senang. Akan tetapi, tentu saja mereka semua bukanlah wanita lugu seperti Olivia.
Pria berkebangsaan Yunani itu tersenyum kecil seraya menggeleng tak mengerti. "Oh, Arsen. Siapa sangka jika petualangan panjangmu harus berakhir dengan gadis itu," gumamnya. Sesaat kemudian, Arsen melepas kemeja. Dia tertegun ketika melihat Olivia keluar dari kamar mandi dengan dress pemberiannya. Wanita dua puluh empat tahun itu tampak sangat berbeda. Dia terlihat semakin manis.
Melihat Arsen dalam keadaan bertelanjang dada, Olivia segera bergerak mundur. Dia juga menundukkan wajahnya. Namun, Olivia tak berani keluar kamar. Wanita muda itu lebih memilih untuk duduk di sofa tadi, tanpa mengangkat wajah apalagi memandang kepada Arsen. "Aku sudah menyiapkan makan siang," ucap Olivia sekadar mengisi kecanggungan dalam dirinya.
"Aku ingin mandi dulu. Lokasi proyek cukup berdebu, rasanya tidak terlalu nyaman," sahut Arsen tenang.
"Iya," balas Olivia seraya mengangguk pelan. "Kumpulkan pakaian kotornya, akan kucuci besok pagi," ucap wanita berambut hitam itu lagi masih dalam sikap menunduk.
"Iya," jawab Arsen singkat. Dia lalu beranjak ke kamar mandi.
Sepeninggal Arsen, barulah Olivia berani mengangkat wajah. Dia beranjak ke depan cermin dan memperhatikan dirinya di sana. Dress itu terlihat sangat pas di tubuhnya. Olivia tersenyum lebar sambil berputar sesaat. Setelah itu, dia kembali memandangi dirinya. Setelah merasa puas, Olivia lalu meraih sisir di atas meja. Itu merupakan sisir milik Arsen. Tercium aroma pomade di sana. Awalnya Olivia merasa ragu. Namun, lama-lama dia menggunakan sisir tadi untuk merapikan rambut panjangnya. Akan tetapi, ketika Olivia tengah asyik menyisir rambut, tanpa diduga Arsen keluar dari kamar mandi. Olivia yang merasa terkejut, segera meletakkan kembali sisir milik sang suami. Dia juga tertunduk lagi, karena saat itu Arsen hanya mengenakan handuk yang menutupi pinggang hingga lutut.
"Kenapa?" tanya Arsen sambil berjalan menghampiri Olivia yang terlihat gugup.
__ADS_1
"Maaf, tadi aku meminjam sisir milikmu," jawabnya pelan. Olivia semakin membenamkan wajah dan tak berani mendongak, ketika Arsen telah berdiri tepat di hadapannya. Dia hanya dapat melihat kedua kaki Arsen yang berlapis sandal kamar mandi berwarna abu-abu. Pria itu terlihat sangat bersih. Wangi aroma sabun pun menguar dari tubuhnya.
"Pakai saja," jawab Arsen seraya berlalu dari hadapan Olivia yang masih menunduk. Namun, ekor mata wanita muda itu diam-diam mengikuti semua pergerakan sang suami. Ini merupakan pertama kalinya bagi Olivia melihat seorang pria dalam keadaan seperti itu. Arsen dengan tak acuhnya mengenakan pakaian dan tak merasa malu sama sekali. Mungkin itu karena sesuatu yang sudah biasa bagi dirinya.
Akan tetapi, tidak bagi Olivia. Perasaannya tak karuan saat itu. Rasa hati ingin menghindar, tapi entah kenapa dia seakan tak mampu. Olivia bahkan hingga berkali-kali melirik si pemilik tubuh atletis yang telah berbuat sangat baik dengan menjadi penyelamatnya.
Olivia memang pernah merasakan hal yang lebih, dari seorang Arsen. Namun, saat itu dalam situasi yang membuatnya tak memedulikan semua pesona pria asal Yunani tersebut. Kini, pria itu justru terlihat sungguh berbeda. Namun, Olivia terlalu malu dan juga sungkan.
"Apa kau juga belum makan siang, Olive?" tanya Arsen yang telah selesai berpakaian. Kini, dia terlihat normal di mata Olivia, meski paras tampannya tak bisa ditutupi oleh apapun.
"Belum," jawab Olivia pelan.
"Kalau begitu, mari kita makan sama-sama," ajak Arsen. Dia mendekat kemudian berdiri sejenak di hadapan sang istri. Arsen merapikan rambut bagian depan Olivia dengan tangan. "Kau memiliki rambut yang sangat indah. Hitam dan juga tebal," ucap pria itu seraya menatap lekat kepada wanita muda di hadapannya.
Sambil mengeluh pelan, Arsen meraih ponsel yang dia letakkan di atas meja. Rupanya itu adalah panggilan dari Adriano. "Parakalo," sapa Arsen dengan raut sedikit terganggu.
"Hey, Arsen. Bagaimana keadaan di sana?" terdengar suara berat Adriano di ujung telepon.
"Pembangunan sudah mencapai sekitar tujuh puluh persen. Don Vargas ingin agar dua minggu lagi bisa benar-benar selesai," lapor Arsen.
"Oh, cepat sekali," sahut Adriano.
"Ya. Dia mempekerjakan tim yang benar-benar ahli. Sudah kukatakan bahwa Don Vargas adalah orang yang sangat perfeksionis. Kemarin dia menanyakanmu," ucap Arsen lagi.
__ADS_1
"Ada apa? Dia bisa mengirim email padaku," sahut Adriano tenang.
"Katanya dia tidak bisa menghubungi Sergei Redomir. Apa kau tahu ke mana pria Rusia itu, Adriano?"
Sebuah pertanyaan yang membuat Adriano terdiam dan berpikir. Dia memicingkan sepasang mata birunya. "Sudah lama aku tidak bertemu dengannya," jawab Adriano berbohong.
"Ada sesuatu yang sepertinya harus dibahas antara Don Vargas dengan Sergei, tapi aku juga tak tahu apa itu. Ah, itu bukan urusanku dan aku tak peduli. Pekerjaanku di sini hanya untuk mewakilimu," ujar Arsen.
"Ya, kau benar. Kau tak harus mengurusi apapun. Fokus saja pada tugas yang sudah kuberikan," Adriano menegaskan. Sesaat pandangannya tertuju kepada Mia yang baru masuk ke kamar. Dia baru selesai menidurkan Miabella siang itu. "Baiklah, itu saja. Selalu kabari aku untuk setiap perkembangan di proyek," Adriano bermaksud untuk mengakhiri percakapannya dengan Arsen.
"Ya, tentu. Kau juga mendapat salam dari Herrera. Sepertinya dia merindukanmu," gurau pria asal Yunani itu diiringi tawa pelan.
"Ingatkan dia jika aku sudah menikah," balas Adriano seraya ikut tertawa. Namun, tawanya seketika terhenti ketika tiba-tiba Mia menoleh padanya dengan tatapan curiga. Adriano pun paham dengan arti bahasa tubuh yang Mia tunjukkan padanya. "Baiklah, kututup dulu teleponnya," tanpa berbasa-basi lagi, Adriano mengkahiri sambungan teleponnya dengan Arsen. Dia lalu meletakkan ponsel di atas meja, kemudian menghampiri Mia yang sedang merapikan rambutnya.
Adriano berdiri di belakang Mia sambil memegangi kedua lengan sang isrtri. Dikecupnya rambut cokelat wanita itu dengan mesra. Dia lalu menatap Mia lewat pantulan cermin di hadapannya. "Siapa yang kau hubungi, Adriano?" tanya Mia curiga.
"Arsen," jawab Adriano dengan segera.
"Lalu, siapa lagi yang terpesona olehmu sehingga dia harus tahu bahwa kau sudah menikah?" tanya Mia lagi dengan nada penuh selidik. Raut wajahnya terlihat sangat serius. Rona cemburu mulai tampak pada tatap mata yang dia tujukan kepada Adriano, lewat pantulan cermin rias di hadapannya.
"Juan Pablo Herrera," jawab Adriano seraya menahan tawanya, ketika melihat Mia menautkan alis dengan raut keheranan.
"Maksudmu?" tanya ibu dari Miabella tersebut.
__ADS_1
"Arsen mengatakan bahwa Juan Pablo menitip salam untukku," jelas Adriano. "Entah untukku atau mungkin justru salah sasaran. Aku rasa seharusnya untukmu, tapi tentu saja tak akan kubiarkan," ujar pria bermata biru itu sambil mengecup pundak Mia.