
Juan Pablo memicingkan matanya saat memperhatikan kedua orang itu. Dia merasa bahwa ada sesuatu yang Mia dan Coco sembunyikan. Namun, pria berdarah latin tersebut tak ingin terlalu ambil pusing. "Baiklah. Tadi hanya sebuah tawaran. Aku sangat menghargai apapun keputusan anda berdua," ucapnya menanggapi penolakan yang dilayangkan oleh Coco. Namun, pria bermata cokelat madu tersebut sempat menatap Mia untuk beberapa saat, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan kepada Bianca. "Kita harus segera ke lokasi proyek, Nona Alegra," ajaknya. "Berhubung tuan D'Angelo tidak ada, maka untuk sementara nona Alegra lah yang akan mewakilinya. Lagi pula, nona Alegra adalah sahabat dekat tuan D'Angelo. Jadi, aku harap agar nyonya D'Angelo tidak keberatan dengan hal itu," ucapnya lagi kembali menatap Mia.
"Oh, tentu saja tidak. Lagi pula, aku sama sekali tidak terlalu paham tentang dunia bisnis," sahut Mia seraya menyunggingkan sebuah senyuman lembut kepada Juan Pablo.
"Baiklah. Aku senang mendengarnya," balas Juan Pablo tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari paras cantik Mia. Tampak sedikit lengkungan dari bibirnya, yang selalu terlihat datar dan tanpa ekspresi.
Sementara Bianca berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan rasa geli dalam hatinya atas sikap tak biasa yang diperlihatkan oleh Juan Pablo. Sebagai seorang wanita, dia jelas dapat memaknai tatapan dan senyuman samar tersebut. "Baiklah, Juan. Lagi pula, tidak ada yang bisa kulakukan lagi jika berlama-lama di sini," sahut Bianca yang menanggapi ajakan Juan Pablo. Setelah itu, mereka berdua pun segera berpamitan.
Sepeninggal Juan Pablo dan juga Bianca, Coco kembali mengalihkan perhatiannya kepada Mia. "Aku rasa ... mungkin sebaiknya kau ikut saja denganku, Mia," cetus pria itu tiba-tiba, membuat Mia segera menoleh.
"Ikut denganmu? Ke mana?" tanya Mia.
"Ajaklah Miabella. Kita akan berjalan-jalan sebentar untuk mencari udara segar. Kau dan putrimu pasti akan menyukainya," Coco tersenyum kalem seraya memainkan alisnya. Seperti biasa, dia selalu terlihat konyol dengan segala sikap dan ucapannya.
Mia menoleh kepada Miabella yang tengah asyik bermain. "Baiklah. Aku akan mengambil tas dan jaket untuk putriku dulu," putus wanita itu. Mia menerima tawaran dari Coco, meskipun dia tidak tahu akan diajak ke mana oleh calon adik iparnya tersebut.
Beberapa menit kemudian, ibu dan anak itu telah siap. Mereka menghampiri Coco yang sudah berdiri di teras.
__ADS_1
“Aku sudah memesan taksi online,” tunjuk Coco pada kendaraan sedan yang terparkir di depan halaman. “Ayo,” ajaknya. Setelah berpamitan pada anak buah Adriano, mereka bertiga segera memasuki mobil. Coco menyebutkan nama sebuah kawasan wisata yang juga terkenal sebagai cagar alam terbesar di Birmingham dan bahkan juga Inggris.
“Anda ingin taksiku berhenti di mana?” tanya sang sopir, ketika mereka sudah memasuki area hutan lindung.
Coco tampak berpikir untuk beberapa lama. Dia mencoba mengingat-ingat nama yang diutarakan oleh Adriano. “Sepertinya pos satu,” jawab Coco ragu.
“Baiklah,” sopir itu memutar kemudinya dan melaju pelan sampai tiba di sebuah gerbang kayu yang tampak alami. Ada sebuah bangunan kecil tak berpenghuni di samping gerbang. “Di sini adalah pos satu,” sopir itu menoleh ke arah Coco.
“Kalau begitu, kita turun di sini,” Coco mengalihkan perhatiannya kepada Mia dan Miabella yang duduk pada kursi penumpang di belakang. Sopir taksi online itu tampak keheranan. Namun, dia tak berkata apapun, terlebih karena Coco sudah memberinya uang. “Ambil saja kembaliannya,” ujar Coco sembari turun dari mobil. Dia lalu membukakan pintu untuk ibu dan anak tersebut.
“Kita akan ke mana, Paman?” tanya Miabella seraya turun dari kendaraan.
Mata abu-abu Miabella berbinar ketika Coco menyebut ayah sambungnya. “Ajak aku ke sana!” gadis kecil itu melompat kegirangan.
“Aku bisa menggendongmu,” Coco sudah siap mengulurkan tangannya untuk Miabella. Akan tetapi, putri Mia itu menolak dan menggeleng kuat-kuat. Senyuman lebar pria berambut ikal itu pun sirna. Harapannya agar dapat lebih dekat dengan putri Matteo tampaknya tak akan semudah bayangannya.
“Bene, Miabella. Jual mahal sekali kau,” gerutunya pelan. “Ikuti aku,” ajak Coco pada akhirnya, lalu melangkah mendahului Mia dan putrinya.
__ADS_1
“Gendong aku, Bu,” Miabella merapatkan tubuh mungilnya pada Mia. Sambil tertawa geli, Mia merengkuh putri semata wayangnya dan mulai berjalan sesuai petunjuk Coco. Cukup lama mereka melewati jalan setapak. Kiri kanan mereka adalah pohon pinus yang tumbuh rapat, hingga kaki Coco berhenti ketika terlihat sebuah danau yang sangat indah, beberapa meter di depannya. Di sisi danau tersebut, terdapat rumah yang terbuat dari kayu.
“Daddy Zio!” seru Miabella. Gadis kecil itu merosot turun dari gendongan Mia dan segera berlari ke arah teras rumah. Sementara Mia hanya dapat membeku memperhatikan sosok yang selama beberapa hari terakhir menghilang dari sisinya. Sosok itu berdiri gagah dan tersenyum lebar menyambut Miabella, meskipun terlihat perban berwarna putih melilit di beberapa bagian tubuhnya.
“Adriano,” gumam Mia lirih. Mata yang penuh dengan sorot kerinduan itu mulai berkaca-kaca. Padahal mereka hanya berpisah selama beberapa hari saja, tapi terasa begitu berat bagi Mia. Dia hanya tertegun menatap pria yang kini menurunkan tubuhnya saat menyambut Miabella. Senyum lebar tampak jelas di wajah rupawan itu.
"Apa kabar, Prinsipessa?" sapa Adriano seraya memeluk putri sambung yang sangat dia rindukan.
"Daddy Zio, kenapa kau tidak pulang?" tanya Miabella seraya menangkup wajah sang ayah.
"Aku sedang sakit, Sayang. Aku tidak ingin merepotkan ibumu," jawab Adriano tanpa melepas senyumannya. Sementara tatapannya kini tertuju kepada Mia yang sudah berdiri tak jauh darinya. Adriano kembali menegakkan tubuh dan menyambut Mia yang tiba-tiba memeluknya, sehingga membuat Adriano meringis pelan karena menahan sakit.
Menyadari hal itu, Mia segera melepaskan pelukannya dan mengamati tubuh sang suami yang sebagian masih dibalut perban. "Maaf," sesalnya. "Mana yang sakit?" tanyanya sambil memeriksa bagian yang berbalut perban itu. "Astaga. Seharusnya aku yang merawatmu, bukanlah orang lain," sesal Mia lagi. Dia lalu menatap Adriano seraya menangkup paras rupawan itu.
"Mia ...." Adriano menyebut nama sang istri dengan begitu dalam, ketika tiba-tiba Mia menangis dalam dekapannya. "Kenapa kau menangis?" tanyanya setengah berbisik. "Sudahlah. Lihat, Miabella memperhatikanmu," bujuk Adriano lembut.
Sementara Coco hanya terpaku saat menyaksikan adegan yang tersaji di hadapannya. Di satu sisi, dia teringat akan mendiang Matteo. Kata 'tergantikan' entah pantas atau tidak untuk diberikan kepada mantan ketua dari Klan de Luca itu. Akan tetapi, di sisi lain Coco juga merasa bahagia sebab Mia sudah kembali menemukan gairah hidupnya. "Theo ...." gumam Coco pelan. Segera ditepiskan segala pemikiran aneh dan macam-macam yang ada dalam kepalanya. Coco kemudian melangkah maju dan mendekat kepada Adriano. "Hai, Adriano," sapanya.
__ADS_1
Adriano menoleh. "Syukurlah kau tidak tersesat," ujar Adriano hangat.
"Daya ingatku masih bagus," sahut Coco. "Apa Mia tahu jika kau juga mengenal Imelda Jones?" celetuknya enteng.