
Sudah beberapa hari ini, Mia merasakan keanehan pada tubuhnya. Emosi yang naik turun, rasa lelah yang tiba-tiba datang dan nafsu makan yang semakin menurun. Sungguh dia berharap bahwa itu adalah pertanda jika dirinya tengah berbadan dua. Namun, baru tiga minggu yang lalu Mia selesai menjalani masa haid, sehingga hal itu membuatnya sedikit ragu.
Dirinya sempat bercerita kepada Daniella. Ibu dua anak itu menyarankan agar Mia membeli alat pengetes kehamilan. Setelah merenung beberapa saat lamanya di dalam kamar, Mia pun memutuskan untuk menyuruh salah seorang pelayan. “Belikan aku beberapa alat di apotik, tapi jangan sampai tuan D’Angelo tahu. Aku ingin memberikan kejutan padanya,” pesan Mia pada pelayan itu dengan suara pelan, meskipun dia tahu jika Adriano tak akan mungkin bisa mendengarnya. Saat itu, sang suami tengah berada di kolam renang bersama Miabella. Adriano sedang mengajari gadis kecil itu berenang.
Mia memutuskan untuk menghampiri suami dan putrinya di sana. Dari kejauhan dia dapat melihat wajah bahagia mereka berdua. Wanita cantik itu tersenyum simpul. Seandainya dia benar-benar hamil, pasti bertambahlah rasa bahagia yang akan Adriano rasakan. “Bagaimana, Bella? Apa kau sudah merasa lelah?” seru Mia setelah dirinya tiba di tepi kolam renang.
“Sedikit lagi aku akan bisa terbang, Bu,” celoteh Miabella seraya tak berhenti menggerakkan kaki. Pelampung berbentuk bebek melingkar di perutnya. Sedangkan Adriano telaten memegangi, agar tubuh mungil itu tetap mengambang di atas air.
Mia tertawa geli melihat wajah Miabella yang sesekali meringis. Tawanya sedikit memudar, saat ponsel Adriano yang tergeletak begitu saja di atas meja dekat kursi santai pinggir kolam berbunyi. “Adriano, sepertinya ada pesan masuk di ponselmu,” Mia mengangkat benda pipih itu dan menunjukkannya pada sang suami.
“Buka saja, Sayang. Bacakan untukku,” sahut Adriano dengan santainya. Sesekali dia tergelak melihat tingkah lucu Miabella, yang hampir tenggelam saat dirinya mencoba melepaskan tangan dari perut putri kesayangannya itu.
Mia mengusap layar dan bersiap membaca pesan yang terpampang di sana. Namun, seketika mulutnya terkunci. Dia hanya bisa ternganga saat membaca deretan kata yang mengisi kotak pesan.
“Dari siapa, Sayang?” tanya Adriano yang keheranan melihat mimik wajah Mia yang berubah tiba-tiba. Namun, wanita cantik itu tak menjawab. Dia terdiam, mencoba meresapi setiap baris yang tertulis.
Apa kabar, Adriano? Maaf jika aku menghubungimu lagi. Aku hanya ingin mengatakan bahwa diriku sangat merindukanmu, dan juga kebersamaan kita beberapa waktu silam. Sulit untuk melupakan semua itu.
Air mata menetes begitu saja di pipi mulus Mia. Makin lama semakin deras. “Dasar hormon bodoh,” umpat Mia pada diri sendiri. Perubahan emosi yang dia rasakan dalam beberapa hari terakhir juga semakin membuat dirinya merasa sedih saat itu. Mia melempar ponsel Adriano ke tempatnya semula, lalu berlalu pergi begitu saja.
“Mia!” Adriano semakin keheranan melihat sikap istrinya yang dirasa aneh.
“Principessa, kita lanjutkan besok saja latihan renangnya,” ujar Adriano.
MIabella mengangguk cepat dan menurut saja, ketika Adriano mengangkatnya ke tepian kolam. Dengan telaten, dia mengelap seluruh tubuh balita cantik itu menggunakan handuk dan memakaikan jubah mandi berwarna putih pada Miabella. Setelah itu, dia mengeringkan dirinya sendiri, lalu melilitkan handuk di pinggang. “Ayo, kita susul ibumu,” ajaknya sambil meraih ponsel di atas meja.
Sejuta tanya menggelayut di benak Adriano, ketika dirinya menuntun Miabella menuju kamar. Dibukanya pintu dengan perlahan. Tampak Mia tengah berbaring meringkuk ke samping di atas ranjang. Adriano sudah hendak membuka mulut, ketika Miabella menarik-narik ujung handuknya. “Apakah ibu sakit, Daddy Zio?” tanyanya polos.
__ADS_1
“Entahlah, Principessa. Kita ganti dulu pakaian,” jawab Adriano. Dia memilih untuk meletakkan ponsel ke atas laci. Adriano kemudian beranjak ke kamar mandi terlebih dulu untuk membersihkan tubuh Miabella. Dia juga memakaikan baju ganti kepada putrinya, lalu membawa gadis kecil itu kembali ke tempat Mia berada.
“Ibu, lihat! Aku sudah cantik!” seru Miabella.
Mau tak mau, Mia menoleh dan memaksakan untuk tersenyum demi sang putri. “Kau cantik sekali, Sayang,” pujinya sambil menahan tangis.
“Katakan, ada apa sebenarnya?” Adriano mulai tak sabar melihat sikap aneh Mia. Sungguh dirinya tak pernah tega melihat Mia seperti itu.
Mia mengalihkan pandangan pada Adriano dengan sorot mata tajam. “Kenapa tidak kau cari tahu sendiri? Lihat siapa yang mengirim pesan cinta untukmu!” jawab Mia ketus.
Adriano menanggapinya dengan mengembuskan napas pelan. Sedikit malas, dia meraih ponselnya lalu mulai membaca pesan masuk yang ternyata berasal dari Christiabel. “Astaga,” Adriano menggeleng pelan, kemudian memijit tengkuk. “Aku bisa menjelaskan ini, tapi tidak di dekat Miabella,” ucapnya.
“Sejujurnya, aku tak ingin mendengar penjelasan apapun darimu,” balas Mia dengan nada datar. Dia masih pada posisi meringkuk dan berbalik membelakangi Adriano.
Adriano tetap berusaha untuk tenang. Dia menyejajarkan tubuhnya dengan Miabella. “Bella, maukah kau meunggu di kamarmu? Aku akan menyuruh pelayan untuk menemanimu di sana. Sebentar saja karena aku harus berbicara dengan ibumu,” bujuknya.
“Baiklah,” Adriano tertawa geli mendengar permintaan putri kesayangannya. Masih dengan handuk yang melilit di pinggang, dia mengantarkan Miabella ke kamarnya sekaligus meminta seorang pelayan untuk membawakan kue seperti yang diminta sang putri. Setelah pesanan Miabella datang, barulah Adriano meninggalkan gadis kecil itu bersama seorang pelayan.
Adriano tergesa-gesa kembali ke kamar dan mendapati Mia belum mengubah posisinya. “Mia, dengarkan aku.” Dia mendekati ranjang perlahan dan duduk di tepian. Tubuhnya menghadap pada Mia yang masih terisak sambil menutup wajah.
“Sayang, ayolah. Ini tidak seperti yang kau kira,” ucap Adriano sambil berusaha menyingkirkan tangan Mia dari wajah cantiknya.
“Oh, ya? Lalu, apa yang terjadi di antara kalian berdua? Ada apa sebenarnya, Adriano? Apakah ini semacam permainanmu saja? Apa kau tahu jika aku sangat marah padamu?” Mia tak dapat menahan lonjakan emosi yang meluap-luap saat itu. “Kau membohongiku, Adriano!” tudingnya. Tubuh ramping yang semula berbaring itu, kini duduk sambil melipat tangan di dada.
“Aku tak pernah berbohong padamu tentang perasaanku, Mia,” sahut Adriano dengan sikap yang tetap terlihat tenang.
“Lalu, apa maksud pesan dari Christiabel tadi? Dari awal aku sudah mencurigai sikapnya padamu! Dia pasti salah satu pacar gelapmu. Iya, kan? Ah, bukan! Aku tahu sekarang. Dia kekasih masa lalumu!” nada suara Mia semakin meninggi.
__ADS_1
Adriano menyunggingkan senyum samar, lalu menyentuh pipi Mia yang basah oleh air mata, “Berapa kali kukatakan padamu, Sayang? Aku tak pernah memiliki kekasih, apalagi jatuh cinta pada wanita manapun selain dirimu.” Mia melotot, seakan hendak menyanggah kalimat Adriano. Namun, tak sepatah kata pun yang bisa keluar dari bibir indah itu.
“Christiabel hanyalah ….” Adriano ragu melanjutkan penjelasannya. Namun, wajah penasaran Mia memaksanya untuk melanjutkan penjelasan. “Jauh sebelum bertemu dengan dirimu lagi, aku tengah berada di puncak dunia. Bisnisku sukses, jaringanku berkembang pesat. Aku seakan memiliki segalanya,” sambung Adriano.
“Setiap kali aku berniat menjalin hubungan serius dengan seorang wanita. Setiap kali pula aku teringat pada gadis kecil yang memberikan bekalnya padaku. Sehingga, aku selalu mengurungkan niat untuk mencari kekasih. Jadi, untuk menyalurkan hasratku, aku .…” Adriano menjeda kalimatnya dan memperhatikan mimik muka Mia. Dirasa istrinya tak lagi bersikap histeris seperti tadi, maka Adriano melanjutkan ceritanya.
“Untuk menyalurkan hasratku, aku memakai jasa wanita panggilan kelas atas. Siapa pun wanita itu, haruslah terjaga kebersihan dan kesehatannya. Lalu, Pierre menemukan Christiabel. Dia merupakan salah satu wanita pemuas dari kalangan atas. Aku suka profesionalismenya dalam bekerja, karena dari awal aku sudah menekankan untuk tidak melibatkan perasaan dalam hubungan ini,” jelas Adriano.
“Lalu?” Mia mengangkat satu alisnya.
“Dia setuju. Kami pun sering bertemu. Aku semakin mengenalnya dengan baik. Ternyata dia adalah pribadi yang hangat, ramah, dan menyenangkan. Dari sanalah aku mengetahui jika Belle sangat berbakat dalam merancang busana. Aku membantu untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.Dia pun berhasil mendirikan butik yang semakin maju dan terkenal bahkan hingga saat ini. Aku benar-benar bangga padanya,” tutur Adriano.
“Lalu?”
“Suatu hari, datanglah undangan pesta dari Damiano. Kau pasti mengetahui jalan cerita setelahnya. Aku memenuhi undangan ke pulau Elba. Di sanalah, aku bertemu kembali denganmu untuk pertama kalinya setelah empat belas tahun. Setelah aku yakin bahwa kaulah gadis kecil pembawa bekal itu, aku memutuskan untuk menjauh dari wanita manapun dan hanya fokus padamu. Walaupun saat itu, kau sama sekali tak menganggapku ada,” Adriano mengakhiri ceritanya dengan tawa yang terdengar getir.
“Kau sangat tergila-gila pada suamimu, sementara aku tergila-gila padamu. Alangkah lucunya hidup ini, Sayang.”
“Ternyata Christiabel menaruh perasaan lebih padamu,” ucap Mia lirih.
“Itu sama sekali di luar kuasaku. Nyatanya, hati ini hanya milik Florecita Mia,” tegas Adriano. Sayu matanya menatap Mia yang juga memandang lembut ke arahnya. Air mata yang berderai di wajah cantik tadi sudah tergantikan oleh raut yang lebih ceria, hanya dalam hitungan beberapa menit saja.
“Kenapa aku merasa jika sikapmu sangat aneh?” Adriano mengernyitkan kening, saat melihat Mia yang tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat dalam waktu singkat. Belum sempat pertanyaannya itu terjawab, pria yang masih bertelanjang dada dengan pinggang terlilit handuk itu berjalan ke arah pintu dan membukanya lebar-lebar. Tampaklah seorang pelayan membawa kantong belanja berukuran kecil di tangannya.
“Ma-maaf, Tuan. Aku hanya ingin memberikan pesanan nyonya,” ujar pelayan itu terbata. Dia terlihat gugup.
“Pesanan apa?” Adriano menerima kantong belanja tadi, lalu mengintip ke dalamnya. Seketika mata biru pria itu terbelalak. Dia mengalihkan pandangan kepada Mia dengan sorot tak percaya. “Mia? Benarkah ini?” tanyanya setengah tak percaya.
__ADS_1
“Temani aku untuk memakai alat pendeteksi kehamilan itu,” jawab Mia seraya tersenyum lebar.