Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Unexpected Guest


__ADS_3

Setelah berhasil membujuk Mia, Adriano berpindah ke ruang kerja yang terdapat di lantai dua rumah sewaan itu. Di sana, ternyata Coco sudah lebih dulu menguasai ruangan tersebut. “Sedang apa kau di sini?” tanya Adriano saat melihat pria berambut ikal itu tengah sibuk melakukan sesuatu. Coco terlihat sedang membuka setiap laci meja kerja dan juga memeriksa rak buku yang menempel di tembok.


“Sekadar memastikan bahwa tak ada alat penyadap lain yang disembunyikan di sini,” ujar Coco sambil tetap serius menggeledah tiap sudut ruangan.


Adriano tampak berpikir sejenak. Setelah itu, dia lalu beranjak ke meja kerja. Adriano membuka laci yang baru saja ditutup oleh Coco. Diambilnya sebuah ponsel yang masih tampak seperti baru, kemudian dinyalakannya.


“Ponsel siapa itu?” Coco memperhatikan setiap hal yang Adriano lakukan.


“Ponsel cadangan milikku,” Adriano tersenyum kalem, lalu menghubungi salah seorang anak buah yang berjaga di teras depan. “Jules, hubungi teman-temanmu di Monaco. Suruh mereka agar bersiap-siap untuk berangkat ke Inggris. Oh, ya satu lagi. Aku juga membutuhkan bantuanmu dan yang lainnya untuk menggeledah seisi rumah ini. Temukan alat pelacak ataupun penyadap yang mungkin saja terselip di antara barang-barang,” titahnya setelah panggilan tersambung. Seaaat kemudian, dia segera mengakhiri panggilannya dengan begitu saja.


Adriano lalu menghadap ke arah jendela dan memandang ke taman belakang. “Seandainya memang ada alat pelacak maupun penyadap selain yang berada di dalam tas Mia, menurutmu bagaimana caranya mereka memasukkan benda itu ke dalam sini?” tanya Adriano sambil termangu.


“Semua orang yang masuk kemari akan tertangkap oleh kamera CCTV. Akan tetapi, selama kita tinggal di sini, aku tak menemukan keanehan apapun yang tertangkap monitor,” jelas Coco setelah menghentikan aktivitasnya.


“Berarti ... seandainya memang ada alat pelacak ataupun penyadap yang tersembunyi di rumah ini, apakah mungkin orang itu menaruhnya sebelum kita pindah kemari?” pikir Adriano dengan sorot mata mengira-ngira.


“Bisa saja terjadi,” sahut Coco. “Bukankah kolegamu yang menyiapkan rumah ini?” giliran pria berambut ikal itu yang berkata dengan nada bertanya.


“Ya, dan yang mengetahui bahwa aku akan tinggal di sini hanyalah mereka,” gumam Adriano dengan tangan terkepal. “Lekas cari benda apapun yang mencurigakan di dalam rumah ini. Jika memang ada, aku akan membuat perhitungan dengan Don Vargas!”


Pria rupawan itu kemudian memainkan ponsel yang berada di tangan kirinya. Dia termenung sejenak, lalu kembali menghubungi seseorang. Butuh waktu yang agak lama, sampai panggilan itu tersambung. “Arsen,” ujarnya beberapa saat kemudian. “Aku membutuhkan bantuanmu.”


Sedangkan Coco terus memperhatikan Adriano sembari mendengarkan dengan siapa pria itu berbicara.


“Aku membutuhkan bantuanmu. Tolong wakili aku di proyek bersama Don Vargas kali ini. Ya, ke Inggris. Kutunggu di mansionku besok. Aku akan segera pulang ke Monaco,” ujar Adriano kemudian menutup teleponnya. Setelah itu, dia mengalihkan pandangan kepada Coco yang sejak tadi tengah memperhatkannya. “Aku sudah meminta Arsen untuk menggantikanku di sini,” ucap Adriano.


“Kita pasti pulang ke Monaco?” Coco meyakinkan pria di hadapannya.


“Ya, kita lanjutkan penyelidikan kasus Matteo dari sana. Sudah dua orang yang tumbang, itu artinya tinggal dua orang lagi ….” kalimat Adriano berhenti tatkala pintu ruang kerjanya diketuk oleh seseorang. Adriano menoleh dan mendapati anak buahnya berdiri gagah di ambang pintu. “Ada apa, Jules?” tanyanya.

__ADS_1


“Rekan bisnis Anda datang lagi. Tuan Herrera sudah menunggu di ruang tamu, Bos,” lapor Jules.


“Sekalian saja, Adriano. Habisi dia kalau ternyata memang pria itu yang berada di balik semua kekacauan ini!” geram Coco seraya berjalan mengikuti langkah Adriano yang tengah berjalan menuruni tangga.


“Aku tahu apa yang harus kulakukan, Ricci. Tenang saja,” tersungging senyuman kalem dari bibir Adriano. Namun, senyuman itu memudar ketika dia melihat Juan Pablo berdiri gagah di tengah ruang tamu.


“Kenapa Anda tidak langsung duduk saja, Tuan Herrera?” ujar Adriano seraya mengarahkan tangan ke arah sofa, lalu duduk tak jauh dari Juan Pablo berada. Sementara Coco terus mengikuti apa yang Adriano lakukan.


“Terima kasih,” wajah Juan Pablo terlihat datar seperti biasanya. Dia duduk dengan melipat kaki. “Aku mendapat kabar dari pihak kepolisian bahwa tidak ditemukan jasad atau apapun di sekitar lokasi kecelakaan. Setelah itu, aku langsung menuju kemari, karena aku yakin jika Anda pasti selamat, Tuan D’Angelo. Akan tetapi, ternyata tak ada seorang pun di sini waktu itu,” terang pria dingin itu.


“Terima kasih telah mengkhawatirkan keadaanku, Tuan Herrera. Walaupun aku tak tahu kekhawatiran itu tulus atau tidak,” sindir Adriano halus.


“Berharap saja dia tulus, Amico,” timpal Coco dengan santainya.


“Ada apa ini? Aku sama sekali tak mengerti,” Juan Pablo mencondongkan badan ke depan. Sikunya bertumpu pada ujung paha.


“Apa kau yang telah merencanakan penculikan terhadap sahabat baruku ini?” Coco melingkarkan tangannya di bahu Adriano sambil menepuknya pelan. Adriano melirik sekilas pada Coco lalu kembali memperhatikan ekspresi Juan Pablo.


“Beberapa hari yang lalu, seorang pria yang mengaku sebagai Timothy Dixon, datang ke lokasi proyek. Dia mengeluarkan semua bukti-bukti bahwa dirinya adalah arsitek asli dari perusahaan yang sudah kami sewa untuk menangani proyek,” lanjutnya.


“Aneh sekali. Bagaimana bisa Anda dan Don Vargas kecolongan seperti itu?” Adriano menyandarkan tubuh tegapnya pada sandaran sofa.


“Kami sudah menghubungi perusahaan tempat Timothy Dixon bekerja waktu itu. Mereka memberikan nomor telepon dan alamat rumah pria tersebut. Pegawai kami meneleponnya, tapi ternyata nomor tersebut tidak aktif. Pegawai kami juga mendatangi rumahnya. Di rumah itu, seorang wanita tua mengatakan bahwa Timothy Dixon sudah pindah dan dia memberikan alamat yang baru. Dari sanalah, kami bertemu Timothy palsu,” jelas Juan Pablo panjang lebar.


“Hm, masuk akal juga,” Coco manggut-manggut. Sementara, Adriano lebih memilih untuk diam dan membenarkan ucapan pria berambut ikal itu.


“Tuan Herrera,” Adriano kembali menegakkan badan dan menatap tajam pada Juan Pablo. “Banyak hal yang terjadi selama aku berada di Inggris. Mulai dari penculikan yang terjadi padaku, hingga ada seseorang yang memasukan alat pelacak di dalam tas istriku,” terangnya membuat Juan Pablo tampak sedikit terkejut mendengarnya. Namun, dia tak mengucapkan sepatah kata pun. Juan Pablo memilih untuk menunggu penuturan dari Adriano dengan lebih lanjut.


“Aku curiga, ada alat penyadap juga yang disimpan di sini,” timpal Coco.

__ADS_1


“Apa Anda berdua menuduhku yang melakukan itu? Atas dasar apa aku harus melakukan hal demikian?” nada suara Juan Pablo terdengar cukup meninggi dengan penekanan yang sangat kuat.


“Tidak ada yang menuduh Anda, Tuan Herrera,” sahut Adriano dengan tenang. “Aku hanya menyampaikan bahwa kami tidak aman di sini. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk kembali ke Monaco secepatnya,” ujar pria bermata biru tersebut penuh ketegasan.


“Kembali ke Monaco?” ulang Juan Pablo seraya menautkan alis. “Lalu, bagaimana dengan kerja sama kita? Anda sudah menandatangani kontrak kerja sama. Tidak mungkin Anda mundur dari proyek besar ini, kan?” Juan Pablo menehaskan kepada Adriano.


“Aku tidak mengatakan hendak mundur dari kerja sama ini. Aku sangat paham tentang hukum, Tuan Herrera. Jangan khawatir,” Adriano kembali memamerkan senyum kalem. "Untuk urusan proyek di sini, aku akan menugaskan seorang perwakilan sekadar mengawasi jalannya proyek. Jika ada sesuatu yang teramat penting, Anda bisa menghubungiku lewat email. Mudah sekali, kan? Aku rasa hal itu tidak akan menjadi masalah. Apalagi sampai melanggar perjanjian kontrak, meskipun aku tidak berada di sini,” tegasnya.


Juan Pablo mengembuskan napas pelan. Melihat bahasa tubuh Adriano, terlihat jelas bahwa pria bermata biru itu telah mengambil keputusan yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun. “Aku mengerti. Bagaimanapun juga, keselamatan serta kenyamanan keluarga kecil Anda pastilah menjadi hal yang paling utama," ucap pria bermata cokelat madu itu menanggapi keputusan yang telah Adriano ambil.


“Betul sekali,” Adriano tersenyum lebar, lalu mengulurkan tangannya kepada Juan Pablo. “Terima kasih atas pengertian Anda, Tuan Herrera. Sampaikan salamku pada Don Vargas,” secara tidak langsung, dia berusaha mengusir Juan Pablo dengan halus.


“Don Vargas tidak akan menyukai keputusan yang Anda ambil secara sepihak, tapi aku rasa dia akan mengerti,” Juan Pablo berdiri setelah membalas jabat tangan Adriano dengan erat. “Kapan rencana Anda akan bertolak ke Monaco?” tanyanya kemudian.


“Secepatnya. Aku rasa mungkin antara nanti sore atau besok pagi,” jawab Adriano yakin.


“Baiklah. Aku harap semoga lancar dalam perjalanan,” Juan Pablo mengangguk dan berpamitan. Wajahnya tanpa ekspresi sama sekali saat itu. Dia berjalan menuju pintu keluar. Namun, langkahnya segera melambat ketika sayup-sayup dirinya mendengar suara Mia yang memanggil Adriano. Akan tetapi, Juan Pablo tak berani menoleh. Dia kembali melangkah dengan gagah menuju


halaman dan memasuki mobilnya. Setelah itu, pria latin tersebut lalu melajukan kendaraan tersebut dengan pelan dan meninggalkan rumah sewaan. Juan Pablo mungkin tidak tahu jika Adriano mengawasi itu semua selagi dia menyambut Mia yang sejak tadi memanggilnya.


"Apa kau sudah selesai berkemas, Mia?" tanya Adriano kepada sang istri yang saat itu menautkan alisnya. "Kau lupa jika kita akan kembali ke Monaco?" Adriano kembali mengingatkan.


"Ah, iya," Mia menepuk keningnya. "Aku baru selesai menidurkan Miabella dan lupa dengan rencana kita," ujarnya diakhiri tawa geli.


"Apa kau sedang tidak berkonsentrasi?" goda Adriano dengan tatapannya yang selalu membuat Mia salah tingkah. Namun, Mia tidak menanggapinya dan segera berlalu.


“Kau percaya Juan Pablo?” tanya Coco setelah Mia kembali ke kamar.


“Aku selalu memberikan sedikit ruang ketidakpercayaan pada siapa pun, kecuali Miaku,” jawab Adriano. Dia hendak meninggalkan Coco, ketika pintu utama kembali diketuk oleh seseorang.

__ADS_1


“Untuk apa Juan Pablo datang lagi?” gumamnya pelan. Dia berjalan ke arah pintu dan membukanya. “Marcus Bolt?” raut Adriano berubah tegang, saat mendapati sosok yang kini berdiri di hadapannya.


__ADS_2